Gadis Bar-bar×Ustadz galak+Benci jadi Cinta+Cinta Manis,Komedi Romantis】Karakter Utama Namira Salsabila (Mira) Gadis mungil berusia 18 tahun yang baru saja menanggalkan seragam SMA-nya ini adalah definisi nyata dari kata "unik". Mira dikenal karena sifatnya yang sangat cerewet dan "bawel", namun di balik rentetan bicaranya, ia memiliki hati yang luar biasa penyayang, terutama jika sudah berhadapan dengan anak kecil. Secara fisik, Mira memiliki pesona baby face yang menggemaskan: Wajah & Kulit: Kulitnya putih bersih dengan wajah yang cenderung baby blues (sangat imut dan awet muda). Mata & Alis: Bulu matanya lentik alami layaknya memakai maskara, dipadukan dengan alis tebal yang konon katanya melambangkan sifat boros dalam keuangan—sebuah mitos yang ternyata menjadi kenyataan dalam gaya hidupnya. Hidung & Bibir: Memiliki bentuk bibir yang khas ("bibir terbalik") dan hidung yang proporsional (tidak mancung namun tidak pesek), menambah kesan imut pada wajahnya. Postur Tubuh: Tubuhnya san.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Begitu keluar dari pintu kedatangan bandara, suasana mendadak berubah menjadi sangat formal namun hangat. Di sana, sudah berdiri sekitar enam santri senior berpakaian rapi dengan baju koko putih, sarung, dan peci hitam. Mereka berdiri berjejer rapi di samping mobil jemputan pesantren yang sudah disiapkan.
Namun, formasi rapi para santri itu langsung goyah saat melihat pemandangan di depan mata mereka: Gus Ayyan, guru mereka yang paling disegani, paling dingin, dan paling disiplin se-pesantren, sedang berjalan tegap sambil menggendong seorang perempuan mungil yang menyembunyikan wajahnya.
"Assalamu’alaikum, Gus..." ucap para santri itu serempak, namun suara mereka terdengar sedikit ragu dan penuh rasa tidak percaya. Mata mereka membulat, saling lirik satu sama lain.
"Wa'alaikumussalam," jawab Ayyan singkat dengan nada yang tetap berwibawa, seolah menggendong istri di depan umum adalah hal yang biasa baginya.
Namira makin mempererat pelukannya di leher Ayyan, berbisik sangat pelan di balik dada suaminya, "Mas... turunin, Mas... itu anak buah Mas lihatin semua. Harga diri Mira sebagai Ibu Nyai masa depan jatuh ke lantai ini!"
Ayyan tidak menggubris. Ia terus berjalan menuju mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh salah satu santri bernama Kang santri paling senior, yaitu Kang Ali.
"Gus... Ning Namira kenapa? Apa sedang sakit?" tanya Kang Ali dengan nada khawatir sekaligus penasaran.
Umi Fatimah yang berjalan di samping mereka langsung menyambar dengan nada jenaka, "Biasa, Ali. Ning kamu ini kakinya kram gara-gara tidurnya terlalu nempel sama Gusmu di pesawat. Jadi Gus Ayyan terpaksa jadi pahlawan pagi-pagi begini."
Para santri langsung menunduk sambil menahan tawa. "Oh... nggih, nggih, Umi. Alhamdulillah kalau begitu," sahut mereka kompak sambil senyum-senyum tidak jelas.
Ayyan akhirnya mendudukkan Namira dengan perlahan di kursi tengah mobil. Begitu pantatnya menyentuh kursi, Namira langsung menarik napas lega, tapi wajahnya masih merah padam sampai ke leher.
"Duh, kalian jangan lihatin saya kayak gitu dong!" seru Namira tiba-tiba kepada para santri yang masih berdiri di luar mobil. Sifat aslinya mulai keluar karena merasa terlalu malu. "Ini tuh... ini tuh karena kecelakaan teknis! Besok-besok saya jalan sendiri, tenang aja!"
Para santri hanya bisa tersenyum sopan. "Nggih, Ning. Selamat datang di Jawa Timur."
Ayyan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Namira. Sebelum pintu ditutup, ia melirik para santrinya. "Ali, bawa mobilnya pelan-pelan. Istri saya ini sedang tidak enak badan."
"Siap, Gus!"
Begitu mobil mulai melaju, Namira langsung menyandarkan tubuhnya dan menatap Ayyan dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Mas Ayyan! Mas sengaja ya mau bikin aku malu di depan santri-santri tadi?"
Ayyan hanya membetulkan letak pecinya, lalu menoleh ke arah Namira dengan tatapan datar yang menyebalkan. "Daripada saya seret kamu di lantai bandara, kamu mau pilih yang mana?"
"Ya tapi nggak usah digendong kayak pengantin di film-film juga!"
"Kita memang pengantin, Namira. Apa salahnya?" tanya Ayyan enteng, yang sukses membuat Namira
langsung kicep dan gagal protes.
Mobil yang membawa Namira dan Ayyan melaju membelah jalanan Jawa Timur yang asri. Di belakang, mobil Abah dan Umi mengikuti. Suasana di dalam mobil agak hening karena Namira masih sibuk memulihkan harga dirinya yang sempat anjlok gara-gara insiden gendong tadi.
Namira menempelkan wajahnya ke jendela mobil, melihat pepohonan hijau dan sawah yang membentang. Namun, tiba-tiba matanya yang besar itu menangkap sebuah pemandangan yang seolah-olah mengeluarkan cahaya terang di matanya.
Sebuah spanduk kuning mencolok bertuliskan: "SEBLAK PRASMANAN TEH RATNA - AMBIL SEPUASNYA"
Namira langsung tegak berdiri dari sandarannya, matanya tidak berkedip melihat deretan panci berisi kerupuk warna-warni, sosis, bakso, dan ceker yang dipajang di pinggir jalan.
"MAS! MAS AYYAN! LIHAT!" teriak Namira sambil menepuk-nepuk lengan Ayyan dengan brutal.
Ayyan yang sedang berdzikir hampir saja menjatuhkan tasbihnya. "Astagfirullah, Namira... Ada apa? Ular?"
"Bukan ular! Itu! Surga dunia!" Namira menunjuk-nunjuk ke arah warung yang sudah lewat beberapa meter di belakang mereka. "Seblak prasmanan, Mas! Ada cekernya juga! Tadi tulisannya 'ambil sepuasnya', Mas!"
Ayyan menghela napas panjang, ia kembali tenang. "Kita baru saja mendarat, Namira. Perutmu belum diisi nasi, masa mau langsung diisi cabai?"
"Ih, tapi itu prasmanan, Mas! Di Jakarta ja
rang ada yang prasmanan kayak gitu!" Namira memutar badannya ke belakang, menatap warung itu sampai hilang dari pandangan dengan wajah penuh penyesalan seolah baru saja kehilangan harta karun.
Namira kembali duduk dengan lemas, wajahnya ditekuk sedalam mungkin. "Tuh kan... baru sampai sini aja udah dilarang. Padahal tadi di pesawat bilangnya kalau mau seblak bakal ditemenin."
Ayyan melirik jam tangannya, lalu melirik Kang Ali yang sedang menyetir. Kang Ali hanya bisa senyum-senyum tertahan lewat spion tengah.
"Ali, di depan ada pasar kan?" tanya Ayyan tiba-tiba.
"Wonten (ada), Gus. Sekitar lima menit lagi," jawab Kang Ali sigap.
"Berhenti di sana sebentar. Cari tempat parkir yang teduh," perintah Ayyan.
Namira menoleh cepat. "Lho? Mau ngapain, Mas? Mas mau beli sarung baru?"
Ayyan tidak menjawab. Begitu mobil berhenti di depan pasar, Ayyan membuka pintu. "Tunggu di sini. Jangan keluar, nanti kamu hilang di pasar. Ali, jaga Ning kamu."
Namira melongo melihat suaminya yang tinggi tegap itu berjalan membelah keramaian pasar dengan baju koko dan peci yang masih rapi. Sekitar sepuluh menit kemudian, Ayyan kembali dengan sebuah kantong plastik transparan di tangannya.
Begitu pintu mobil dibuka, aroma kencur dan pedas yang sangat khas langsung menyerbu kabin mobil.
"Tadi saya tanya Ali, di dalam pasar ada yang jualan seblak juga. Katanya ini yang paling laku," ucap Ayyan sambil menyerahkan kantong plastik berisi mangkuk plastik itu ke pangkuan Namira. "Makan sekarang. Tapi awas kalau sampai tumpah di kursi mobil."
Mata Namira berkaca-kaca. "Mas Ayyan... Mas beneran beliin? Mas nggak marah?"
Ayyan membuang muka ke arah jendela, mencoba menyembunyikan rasa pedulinya. "Daripada kamu cemberut sepanjang jalan dan bikin saya pusing, lebih baik perutmu kenyang. Sudah, cepat makan."
Namira langsung membuka bungkusnya dengan semangat. "Makasih, Mas Kulkas yang paling baik sedunia! Mas mau ceker nggak? Nih, satu buat Mas!"
"Tidak. Makan saja sendiri. Dan jangan panggil saya Kulkas di depan Ali," sahut Ayyan datar, meski sebenarnya ia senang melihat senyum istrinya kembali.
Kang Ali yang melihat dari spion hanya bisa batin, Gus Ayyan beneran sudah kena pelet cintanya Ning Namira ini mah...