NovelToon NovelToon
JODOH PILIHAN AYAH BUNDA

JODOH PILIHAN AYAH BUNDA

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:6.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Binti Ulfa

Nabila Asofi telah dijodohkan orangtuanya, Tapi sebuah kecelakaan merenggut nyawa suaminya disaat pernikahan mereka belum genap satu tahun ,dan Sofi sedang hamil tua. Disaat itu mantan kekasih yang ditinggalkannya mencoba mendekatinya lagi, akankah Sofi berpaling dan kembali pada kekasihnya setelah menyandang status janda dengan dua anak kembar?
SELAMAT MEMBACA SEMOGA TERHIBUR...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binti Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Yang Sama

👩‍👦‍👦Selamat membaca👩‍👦‍👦

Mentari pagi yang hangat semakin panas, hari sudah semakin siang, kabar meninggalnya Faiz sudah menyebar di kalangan teman temannya, dan juga teman kantor dan rekan bisnis Mama Sarah dan Papa Hendra.

Para pelayat datang silih berganti. Mengucapkan rasa prihatin dan bela sungkawa. Ayah, Ibu dan Nisa juga segera datang setelah mendengar kabar suami anaknya telah tiada. Kebetulan Nisa juga sedang libur kuliah. Semua prihatin dengan keadaan Sofi yang harus kehilangan suami saat hamil tua, bahkan kembar bayinya. Apalagi keluarga Faiz juga dikenal sangat baik dan dermawan di kalangan rekan rekannya, sehingga banyak yang merasa kehilangan.

Entah berapa lama Sofi pingsan, mungkin juga terlalu capek dan juga karena efek kurang tidur membuat pingsannya lama. Ia membuka mata dengan pelan dan terlihat bingung.

"Ada apa ini?" batin Sofi sembari bangun lalu memegang kepalanya. Ia melihat ibu dan adiknya, Nisa juga dikamar ini.

"Ibu, Nisa! kapan kalian kemari? " Sofi masih terlihat linglung, saat ibu mendekatinya sambil berusaha menahan tangisnya. Baru kemudian ingatannya pulih, air mata kembali menetes dan ibu segera memeluk Sofi.

" Sudah sedari tadi, Nak. Kamu aja yang tidurnya lama banget." Ibu mengusap bahu Sofi lembut.

"Yang sabar ya, Nak! Setiap mahkluk hidup itu pasti akan mengalami mati, Alloh lebih mencintai suamimu. Sehingga Dia memanggilnya terlebih dulu.

Insha Alloh, kau termasuk orang yang sabar. Alloh pasti punya rencana yang lebih indah untuk kalian kelak."

"Ibuuuu.... hiks hiks, Mas Faiz, Bu! Bagaimana aku melalui semua ini tanpa dia. Keadaanku seperti ini malah dia meninggalkan akuuuu, hiks... huuuu." air mata Sofi mengalir deras. Ia memeluk ibunya, dan terhalang oleh perut besarnya. Ia bahkan mencengkeram bahu sang ibu.

Nisa pun mendekat, mengelus punggung sang kakak untuk meringankan bebannya.

"Niss...apa aku sanggup membesarkan anakku sendiriaaaan huuuuuuw," Sofi ambruk di pelukan ibunya. Rasanya ia sudah tak punya tenaga. Tangisnya semakin menjadi hingga bahunya terguncang hebat.

Diluar kamar juga terdengar lamat lamat suara orang menangis.

"Nak, sabar nak! Alloh mengujimu seperti ini, karena Alloh melihat engkau mampu menghadapinya. Alloh tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan kita sebagai umat Nya, Percaya sama ibu!" hibur ibu pada Sofi.

"Alloh memberi ujian seperti ini kepadamu. Karena Dia Maha Tahu, bahwa engkau akan sanggup melaluinya. Percaya pada ibu ya, nak, Kau tidak sendiri. Ada kita semua yang akan selalu mendukungmu, bertawakkal lah saja pada Alloh. Ikhlaskan kepergiannya. Jadikan anak yang ada dalam kandunganmu sebagai kekuatan untuk bertahan." Entah mendengar atau tidak, yang jelas Sofi masih sesenggukan. Air mata Sofi keluar seperti tiada habisnya.

" Ibu... apa aku boleh. Aku ingin melihatnya untuk terakhir kali bu!"

" Bawa saya ke sana bu."rengek Sofi mengguncang lengan Ibu dan adiknya.

Ibu mengangguk lalu bersama Nisa menuntun Sofi keluar dari kamar. Mengapit disebelah kiri dan kanannya. Mata Sofi sudah kelihatan bengkak. Melihat Sofi keluar kamar, sang ayah yang berdiri diluar segera menghambur, menggantikan istrinya memapah Sofi. Isak tangis Sofi makin menjadi, namun ia menahannya dengan menggigit bibir bawahnya.

Sesampainya diruang dimana jenazah disemayamkan, Mama Sarah yang juga terisak pun ikut berdiri menyambut Sofi, dan mendudukkannya di kursi. Sambil mengelus lengan kakaknya agar diberi kekuatan dan ketenangan, Nisa berdiri disampingnya.

Sorot mata Sofi tak berpindah dari menatap keranda jenazah Faiz, hampir semua mata menatap iba padanya.

Ibu menyerahkan buku Yasin kecil pada Sofi, Lalu mereka ikut larut membacakan Yasin untuk almarhum. Banyak pelayat yang menitikkan air mata melihat keadaan Sofi, sembari tangan Sofi terus saja mengelus perut buncitnya.

Dari situ kekuatannya tumbuh karena ingat sebentar lagi dia akan menjadi ibu, walaupun air matanya tak juga surut. Sebentar Iagi ia akan menjadi ibu dari dua orang bayi sekaligus. Beberapa tisu bekasnya mengusap air mata dikumpulkan oleh Nisa didekatnya.

Dari banyak pelayat yang datang, ada sepasang mata yang tak henti memperhatikan Sofi dari jarak yang agak jauh. Ia merasa prihatin karena wanita yang pernah mengisi hatinya begitu pilu dan tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mengurangi kesedihannya. Dia berharap suatu hari nanti dia bisa memenangkan hati Sofi kembali.

Saat waktunya jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatannya, Sofi menjerit pilu. Ia histeris memanggil nama Faiz langsung dipeluk oleh ibunya.

Sofi :" Mas Faiiizz, aku ikut maaas, jangan tinggalin aku sendiri mas Faiiiz, huuu huuuaa." Sambil tangannya melambai ingin menggapai keranda yang yang diusung pelayat. Jeritannya pilu menyayat hati, tubuhnya pun merosot ke lantai. Dan terus menjerit dan menangis. Beberapa saat setelah pelayat sepi, seseorang yang memperhatikan Sofi dari tadi ingin menghampiri untuk menyatakan rasa duka citanya. Tapi sebelum dia dekat, Sofi kelihatan seperti kesakitan. Sesuatu terjadi pada Sofi.

Sofi :" Awww ibu, perutku sakit sekali bu! aaaaah!" rintih Sofi memegangi perutnya. Semua orang yang masih ada ditempat itu merasa kaget. Sofi mengerang kesakitan. Keringat dan air matanya bercampur diwajahnya yang memerah, karena terlalu banyak menangis.

" Ada apa ini mbak Sofi kok kesakitan, sepertinya mau melahirkan?" Tanya seorang ibu yang berdiri tak jauh dari mereka. Banyak ibu yang merubung Sofi.

Nisa :"Bu, sebaiknya kakak dibawa ke rumah sakit, sepertinya dia kontraksi."

Ibu :"Tapi, para pria semua ikut ke pemakaman, bagaimana ini?" Ibu Sofi dan Nisa panik melihat Sofi kesakitan. Papa mama Faiz dan juga Izzah ikut pergi ke pemakaman, begitu juga pak Bayu sopir pa Hendra. Membuat mereka bingung minta tolong pada siapa?

" Bu, biar saya yang bawa Sofi ke rumah sakit bu, mobil saya ada di sana!" Seru seseorang di dekat mereka, ibu Sofi langsung menoleh padanya.

Ibu :" Nak Farhan!"

Farhan :" Iya saya bu, saya datang kesini untuk ta'ziah, sebenarnya saya mau berpamitan untuk pulang dan saya melihat Sofi kesakitan makanya saya mendekat kesini bu. Sepertinya benar kata Nisa, Sofi mau melahirkan." rupanya laki laki itu adalah Farhan. Laki laki yang pernah mengisi hati Sofi.

"Kita harus bawa ke rumah sakit sekarang juga, bu! " Ibu mengangguk. " Sof, maaf! Biar aku menggendongmu ke mobil ya?" Farhan meminta izin. Sofi tak menjawab. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi, seperti ada yang menekan mau keluar. Perutnya semakin sakit.

Farhan benar benar menggendong Sofi dengan hati hati yang terus merintih kesakitan menuju mobilnya. Dia hanya pasrah, yang ia pikirkan adalah bagaimana rasa sakitnya bisa menghilang. segera Farhan melajukan mobil nya ke rumah sakit bersama ibu dan Nisa. Selama perjalanan ke rumah sakit, Sofi tak berhenti merintih dan memegangi perutnya.

"Mas Faizzz, tolong aku mass! huuua, aku gak tahan sakitnya!" ia berteriak. Semua yang didalam mobil menahan nafas. Ibu juga menyuruh Sofi untuk menarik nafas dalam dalam lalu membuangnya perlahan lahan. Katanya untuk meringankan rasa sakit.

Farhan " Bertahan ya Sof, sebentar lagi sampai kok." Sambil menyetir Farhan sesekali melihat ke belakang lewat kaca spion, melihat Sofi agak tenang membuatnya lega.

Beberapa menit kemudian sampailah mereka di rumah sakit, Farhan memanggil seorang perawat untuk membawa brankar buat Sofi.

Farhan :"Suster, mbaknya ini sepertinya mau melahirkan tolong segera sus," panik Farhan.

Perawat :" Iya pak. Tunggu sebentar. " Perawat dengan cekatan mendorong brankar yang ditiduri Sofi menuju ruang observasi, dan Ibu dan Nisa mengekor di belakangnya. Mereka berjalan dengan cepat. Sedangkan Farhan, ditahan oleh suster untuk mengisi data pasien beserta administrasi lainnya.

Setelah administrasi selesai, dengan tergesa Farhan pergi ke ruang dimana Sofi di bawa. Beberapa saat kemudian perawat keluar dari ruangan dan mengatakan pasien segera dibawa ke ruang bersalin karena sudah pembukaan 8 artinya sudah hampir waktunya bayi dilahirkan. Ibu, Nisa dan Farhan menunggu diluar ruangan dengan gelisah.

"Semoga dimudahkan, Sof. " gumam Farhan. Mereka lalu duduk di depan ruang instalasi maternal.

Ibu:" Kami mengucapkan banyak rasa terima kasih, Nak Farhan sudah membawa Sofi sampai kesini." Farhan menoleh dan tersenyum. Lalu duduk di samping Bu Halimah, ibu Sofi dan Nisa.

Farhan, "Sama sama Bu, tak usah sungkan pada saya. Saya ikhlas membantu ibu. Secara kebetulan saja saya tadi ada di sana." ucap Farhan.

"Maaf, atas apa yang pernah ibu dan Ayah Sofi perbuat padamu. Kami tahu, kami keterlaluan padamu." Ibu merasa bersalah. Farhan hanya menunduk.

Nisa :"Bu, Ayah belum tahu ya kalau tadi kita kesini? Tadi sepertinya ayah ikut ke pemakaman Bang Faiz," tiba tiba Nisa menyela.

Ibu :"Orang rumah pasti memberitahu mereka Nis, tidak usah khawatir. Lagian hp tadi ada di tas yang ibu bawa ini!"

Seorang perawat keluar, "Maaf pak, silakan bapak bisa menemani istrinya melahirkan di dalam,"

Farhan :" Maaf sus, saya saudaranya, bukan suaminya." ucap Farhan membuat suster agak terkejut.

Perawat :" Oh maaf, kalau begitu siapa yang akan menemani ibu Sofi, silakan masuk!"

Ibu :" Saya ibunya sus, biar saya yang menemaninya."

Akhirnya ibu masuk menemani Sofi, walaupun ia sudah berpengalaman melahirkan, melihat anaknya yang berjuang melahirkan anak kembar di saat sang suami baru saja dikebumikan, benar benar gak bisa dibayangkan.

Ya Alloh, Sofi anakku! Semoga engkau jadi wanita yang kuat. Dan anak anakmu nanti me jadi anak Soleh Solehah.

Ibu bergetar hatinya. Karena air ketuban udah pecah, pembukaan juga telah lengkap. Tak berapa lama, sang dokter memberi aba aba untuk mengejan. Ibu menguatkan hati untuk melihat Sofi mengerang kesakitan.

"Ayo Bu Sofi, kepala bayi sudah kelihatan. Kalau yang didalam mendorong, Bu sofi mengejan ya?"

"Ayo tarik nafas dulu, Bu!" dalam kesakitan ya Sofi menuruti instruksi sang dokter.

"Dorong, Bu!"

Aaaaaa!

"Bagus Bu, ayo sekali lagi mengejannya." Sebagian badan bayi sudah diluar, dan Sofi mengejan sekali lagi.

"Alllahhuu Akbaaar!"

Terdengarlah suara tangis seorang bayi yang pertama. Ibu mengucap syukur, begitu juga Sofi. Suster mengelap keringat dan air mata Sofi.

"Alhamdulillah. Bayi pertama lahir laki laki, berat 2,5 kilogram panjang badan 50 centimeter." Seorang suster melaporkan hasil timbangan dan ukuran panjang bayi.

"Persiapan untuk bayi yang kedua ya, Bu!" Sofi mengangguk. Ia meminta minum pada sang ibu, dan langsung meminum segelas penuh air putih untuk mengisi tenaganya yang terkuras untuk melahirkan bayinya.

"Yang kuat Sof, kamu pasti bisa. Kita semua bersamamu." Sofi menggenggam erat tangan sang ibu. Ia menangis.

Mas Faiz. Lihat anakmu mas! Kenapa kamu pergi saat anak anakmu baru datang.

Selang lima menit kemudian, kembali ada dorongan dari dalam. dokter telah siaga bersama seorang bidan dan seorang suster.

"Allahu Akbar. Mas Faiiiizzzz!" teriak Sofi dan langsung di sambut tangis bayi. Dan lahirlah bayi kedua. Diluar ruangan Farhan dan juga Nisa mengusap syukur karena telah mendengar tangis bayi.

Kedua bayi telah lahir dengan selamat. Rupanya Alloh memudahkan Sofi dalam melahirkan anak anaknya. Dan kini dalam masa IMD.

Farhan " Sus, apa boleh saya masuk melihat keponakan saya?"

Perawat " Sebentar ya pak, bayinya sedang dibersihkan, setelah itu saatnya IMD. Apa bapak yakin mau melihat bayi sedang menyusu pada ibunya?"

Farhan diam cengo. IMD.

"Sus, IMD itu apa kalau boleh saya tahu?" suster menjawab dengan senang hati.

"IMD itu adalah inisiasi Menyusu Dini. Prosesnya itu bayi akan diletakkan di dada ibunya, dan ia akan bergerak dengan intuisinya mencari pu ting susu ibunya." Farhan mengangguk paham. Itu artinya Sofi sedang membuka auratnya, dan berarti ia tak boleh masuk.

Farhan kembali duduk di kursi besi. Sedang Nisa tadi permisi pergi ke toilet. Sang kakak yang melahirkan, tapi Nisa yang merasa gelisah dan rasa mualnya.

Setelah beberapa saat Farhan tak sabar menunggu aba aba apakah boleh masuk atau tidak.

Perawat :" Sabar ya pak, sebentar lagi ibu dibawa ke ruang perawatan. Tapi karena tidak ada ayah dari bayi, bapak bisa mengadzani sekarang. Tapi tentu dengan persetujuan ibu bayi ya, pak!"

"Duhh, sus! Saya itu masih perjaka ting ting loh. Belum pernah kejamah dan belum pernah menjamah. Kok udah di panggil bapak aja." Gurau Farhan. Suster yang masih muda itupun tersenyum kikuk.

"Ya udah, mas. Kalau begitu silakan masuk." Suster pun berlalu dengan malu. Tanpa menjawab Farhan langsung masuk, ia melihat Sofi telah selesai dibersihkan. Dia mendekati Sofi dan ibunya.

Farhan :"Bu. Sofia, izinkan saya yang mengadzani bayi bayi ini. Boleh kan?" Sofi memandang Farhan sendu, lalu mengangguk dengan ragu ragu setelah sebelumnya memandang ibunya meminta persetujuan.

Farhan mendekati box bayi, lalu suster tadi memberitahu bayi yang lahir lebih dulu. Diangkatnya bayi itu kemudian mengadzaninya ditelinga kanan lalu mengucapkan iqamah di telinga kiri. Setelah selesai kemudian dia menyerahkan pada suster dan mengambil bayi yang satunya lagi. Didekapnya sang bayi dengan penuh perasaan. "Ya Alloh, Izinkanlah aku menyayangi bayi ini seperti anakku sendiri!" batin Farhan, sambil mencium bayi itu.

"Waah, walaupun masih ting ting, tapi udah pantas kok jadi bapak dengan dua bayi ini." Suster tadi ganti meledek Farhan dan tersenyum.

"Benarkah Sus, doakan saja ya? biar saya benar benar jadi anak saya."

1
Rahma Lia
Luar biasa
Adi Nugroho
sofi sama kayak aq kalau ngjdam nyiun bau ketiak gk mau makan nasi
Yeni Eka
mungkin Nisa salah paham aja x
Yeni Eka
selamat ya Sof, akhirnya hamil lagi
Yeni Eka
kayaknya sih iya Farhan lagi ngidam 😂
Yeni Eka
kaget ya Sof ternyata pak Dani ayah mertua mu. Awas jgn sampe kesedak baco merson ya Sof
Yeni Eka
Iya X Nad, nyalain kompor aja gak bisa. Nyalain yg lain bisa ga tuh?
Yeni Eka
Izah izah semoga kamu gak hamidun
Yeni Eka
Farhan enggak usah teriak-teriak kali
Yeni Eka
pelakor tiba
Yeni Eka
Alhamdulillah Akhirnya sah juga. Beruntung banget deh Sofi dpt bujangan
Yeni Eka
Batu sandungan menghampiri calon pengantin nih
Yeni Eka
Itu Jihan mantan nya Faiz kan
Yeni Eka
kok Farhan nyosor gtu sih org blm halal
Yeni Eka
mungkin ditolak dulu nanti ujung2nya diterima
Yeni Eka
luar biasa nih cowok kayak Farhan mau menyayangi anak mantannya
Yeni Eka
cerita nya beda. baru kali ini baca tokoh utamanya dibikin meninggal. Sayang banget padahal sama Faiz yg lagi mesra2 nya
Yeni Eka
akhirnya Farhan sama Sofi lagi ya
Yeni Eka
😭😭
Yeni Eka
Sofi yang kuat ya 😭. Baca sinopsisnya Faiz meninggal ya 😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!