NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:884
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: GARIS PANTAI AMALFI

Milan yang membara kini hanya menjadi titik merah di kaca spion masa lalu kami. Perjalanan ke selatan terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda; dari neraka industri yang penuh dengan intrik biokimia, menuju pelukan hangat Mediterania yang abadi.

Kami memilih Amalfi bukan tanpa alasan. Di tebing-tebing curam yang menghadap ke Laut Tirrenia ini, rumah-rumah bercat pastel menempel seperti sarang burung yang tak terjangkau. Di sini, di sebuah vila kecil yang tersembunyi di balik perkebunan lemon di Positano, kami kembali menghilang. Identitas kami kini menetap sebagai Elena dan Marco Rossi, pasangan penulis dan pelukis yang mencari inspirasi di kesunyian pesisir.

Suara ombak yang menghantam tebing di bawah vila menjadi musik latar baru kami, menggantikan suara sirine dan detak mesin laboratorium. Aroma jeruk lemon yang segar dan garam laut meresap ke dalam setiap sudut ruangan, mencoba mencuci sisa-sisa bau ozon dan darah yang masih menghantui indra penciumanku.

Pagi itu, aku berdiri di balkon, menatap cakrawala di mana langit biru menyatu dengan laut yang berkilauan. Aku mengenakan gaun linen putih tipis yang tertiup angin laut yang hangat.

“Lihatlah kita sekarang, Dokter,” Zura berbisik, suaranya terdengar jauh lebih lembut, hampir seperti gumaman malas. “Tidak ada peluru, tidak ada gas saraf. Hanya matahari dan lemon. Kau mulai terbiasa dengan kemewahan ini, bukan? Raga ini... dia merasa sangat ringan.”

“Ringan?” aku membatin, sambil menyentuh perutku yang terasa aneh sejak kami meninggalkan Milan. “Aku merasa ada sesuatu yang tidak sinkron, Zura. Sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan.”

Sejak pelarian maut dari griya tawang Adrian Vane, tubuhku—raga asli Valerie—menunjukkan tanda-tanda yang membingungkan. Aku sering merasa mual di pagi hari, indra penciumanku menjadi sepuluh kali lebih tajam, dan ada kehangatan yang menetap di rahimku yang tidak bisa dijelaskan secara medis melalui terminologi inversi saraf.

Julian muncul dari dalam vila, hanya mengenakan celana kain ringan. Ia membawa dua cangkir kopi, namun saat aroma kafein itu mencapai hidungku, perutku bergejolak hebat. Aku menutup mulut dan berbalik, berusaha menahan rasa mual yang mendadak.

"Elena? Kau tidak apa-apa?" Julian meletakkan cangkir itu dan segera memegang bahuku. Matanya yang biru memancarkan kecemasan yang mendalam.

"Hanya... mabuk laut darat, mungkin," aku mencoba bercanda, namun wajahku pucat. "Aroma kopinya terlalu kuat hari ini."

Julian menatapku lama, jemarinya mengelus pipiku. "Kau sudah seperti ini selama seminggu. Kita harus mencari dokter, Elena. Aku tahu kau adalah seorang dokter, tapi kau tidak bisa mendiagnosis dirimu sendiri jika kau terlalu dekat dengan masalahnya."

Aku menggeleng. "Tidak ada dokter lokal. Terlalu berisiko. Biar aku yang menanganinya."

Malamnya, setelah Julian tertidur lelap akibat kelelahan mengurus sistem keamanan baru kami, aku mengunci diri di kamar mandi kecil yang berdinding keramik biru. Dengan tangan gemetar, aku menggunakan peralatan medis darurat yang berhasil kuselamatkan dari Milan. Aku melakukan tes darah mandiri—sebuah prosedur sederhana yang seharusnya memberikan jawaban logis.

Hasilnya muncul dalam hitungan menit.

Aku terduduk di lantai keramik yang dingin, menatap strip indikator itu dengan rasa tidak percaya yang melumpuhkan. Sebagai seorang ilmuwan, aku tahu ini hampir mustahil. Proses inversi saraf melibatkan radiasi tingkat rendah dan manipulasi kimiawi yang biasanya membuat sistem reproduksi menjadi dorman atau rusak sementara.

"Aku hamil," bisikku pada kesunyian malam.

“APA?!” Suara Zura meledak di kepalaku, kali ini penuh dengan keterkejutan yang murni. “Bagaimana mungkin? Kita dalam pelarian, kita menggunakan raga yang baru saja ditukar, dan sekarang ada... ada sesuatu yang tumbuh di dalam sini?”

“Ini raga asliku, Zura,” aku menjawab dalam hati, air mata mulai mengalir di pipiku. “Ini raga Valerie. Dan gairah yang kita bagikan dengan Julian... semua malam di Alpen, di Milan... secara biologis, raga ini merespons.”

Namun, ketakutan yang lebih besar menghantamku. Janin ini tumbuh di dalam raga yang otaknya dihuni oleh dua kesadaran. Apa yang akan terjadi pada sistem saraf bayi ini? Apakah ia akan memiliki satu jiwa, atau ia akan terlahir dengan keterbelahan yang sama denganku? Atau lebih buruk lagi, apakah zat inversi yang masih mengalir di darahku akan merusak perkembangannya?

“Valerie... Elena... kau harus memberitahunya,” Zura berkata, suaranya kini terdengar sangat manusiawi. “Pria itu berhak tahu kalau dia akan menjadi seorang ayah.”

Aku keluar dari kamar mandi dan melihat Julian sudah terbangun, duduk di tepi tempat tidur dengan wajah cemas. Ia menatapku, lalu menatap strip tes yang masih kugenggam.

"Katakan padaku," pintanya rendah.

Aku berjalan mendekat, duduk di depannya, dan meletakkan tangannya di atas perutku. "Ada kehidupan di sini, Julian. Kita tidak hanya membawa rahasia Vane. Kita membawa sesuatu yang baru."

Mata Julian membelalak. Ia menatap perutku, lalu menatapku, seolah-olah aku baru saja memberitahunya bahwa matahari telah terbit dari barat. "Hamil? Kau... kita..."

Ia menarikku ke dalam pelukannya, mencium rambutku dengan kelembutan yang membuat pertahananku runtuh. Julian menangis diam-diam, sebuah pemandangan yang tak pernah kubayangkan dari seorang detektif korup yang dulu sangat kubenci.

"Aku akan menjagamu," bisik Julian di telingaku. "Aku akan menjaga kalian berdua. Jika Vane menginginkan raga ini, dia harus melaluiku dan seluruh pasukan yang bisa kubeli dengan uang yang kita punya."

Malam itu, di bawah cahaya bulan Amalfi yang masuk melalui jendela, kami bercinta dengan cara yang berbeda. Tidak ada kegilaan adrenalin atau tuntutan liar Zura. Sentuhan Julian terasa seperti doa—penuh kehati-hatian, pemujaan, dan janji untuk melindungi. Setiap gesekan kulit terasa lebih bermakna, seolah kami sedang menyatukan tiga jiwa dalam satu ikatan suci di tengah dunia yang masih ingin menghancurkan kami.

Aku mulai terbiasa—dan sepenuhnya terbuai—oleh kenyataan ini. Kehidupan sebagai Elena Rossi bukan lagi sekadar pelarian. Ini adalah awal dari sesuatu yang permanen.

Beberapa hari kemudian, saat kami sedang menikmati sarapan di teras yang menghadap ke laut, Julian menerima sebuah sinyal di perangkat komunikasinya yang terenkripsi. Itu bukan dari Vane. Itu adalah pesan video dari sumber anonim.

Kami membukanya dengan waspada.

Di layar muncul gambar seorang pria paruh baya yang tampak sangat terhormat, duduk di sebuah perpustakaan mewah. "Dr. Valerie, Detektif Julian... atau siapa pun kalian sekarang. Namaku adalah Lorenzo de Luca, suami dari Alessandra."

Julian dan aku saling pandang.

"Kalian menghancurkan proyek Renaissance di Milan," lanjut Lorenzo dalam video itu. "Tapi kalian juga memberikan kebenaran padaku. Chiara—jiwa yang ada di raga istriku—telah menceritakan segalanya sebelum dia menghilang. Aku tidak mencari dendam. Aku mencari solusi."

Lorenzo membungkuk ke arah kamera. "Vane masih hidup. Dia berada di sebuah fasilitas lepas pantai di Laut Mediterania, tidak jauh dari tempat kalian berada sekarang. Dia sedang mencoba menyempurnakan 'Inversi Generasional'—proses untuk memindahkan kesadaran ke dalam janin yang belum lahir untuk menciptakan wadah yang sempurna sejak lahir."

Jantungku hampir berhenti berdetak. Aku mencengkeram lengan Julian hingga kukuku memutih.

"Aku memiliki koordinatnya," kata Lorenzo. "Jika kalian ingin hidup tenang tanpa takut anak kalian menjadi target eksperimen berikutnya, kalian harus menyelesaikan apa yang kalian mulai di Milan. Bantulah aku membebaskan raga istriku dari hantu-hantu Vane, dan aku akan memastikan kalian memiliki perlindungan diplomatik seumur hidup."

Video itu berakhir.

Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti teras vila kami. Suara ombak Amalfi yang tadinya menenangkan kini terdengar seperti ancaman yang mendekat.

“Dia tahu tentang bayinya, Valerie,” Zura berbisik dengan nada dingin. “Vane tahu. Dan dia menginginkan apa yang ada di dalam perutmu.”

Julian berdiri, matanya kembali memancarkan kilatan detektif yang siap berperang. "Kita tidak bisa bersembunyi lagi, Elena. Jika kita ingin bayi ini lahir di dunia yang aman, kita harus menghancurkan sumbernya."

Aku berdiri di sampingnya, menatap laut lepas di mana musuh kami bersembunyi. Kejeniusanku sebagai dokter dan keberanian Julian sebagai petarung kini memiliki alasan baru untuk bersatu. Kami bukan lagi sekadar buronan; kami adalah orang tua yang sedang mempertahankan masa depan mereka.

"Siapkan senjatanya, Julian," kataku, suaraku tajam dan tanpa ragu. "Elena Rossi akan menunjukkan pada Adrian Vane apa yang terjadi jika dia mencoba mencuri nyawa dari seorang ibu."

Di bawah sinar matahari Amalfi yang hangat, kami mulai merencanakan serangan terakhir. Garis pantai yang indah ini mungkin akan menjadi saksi kejatuhan terakhir para dewa palsu, atau menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi kami. Namun satu hal yang pasti: kami tidak akan menyerah tanpa pertempuran yang akan membakar seluruh Mediterania.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!