"Manut yo, nek gak manut koe mau jadi anak durhaka!?"
"Perempuan iku musti ayu! musti lues! musti biso sekabehane! Koe ndak perlu berpendidikan tinggi, cukup jadi perempuan yang cantik, semua materi datang padamu, nduk."
Lahir dari keluarga miskin, tinggal di rumah gubuk, tapi memiliki orang tua yang berambisi tinggi untuk menjadi kaya. Rukmini, di tempa menjadi anak yang serba bisa. Dia anak satu - satunya tapi tercekik oleh ke egoisan orang tuanya, sehingga tumbuh dendam dan kebencian pada orang tua nya.
Dia melawan aturan, melawan takdir bahkan melawan Tuhan nya, dengan membuat ikatan perjanjian darah dengan yang gelap hanya agar dia bebas dari orang tua nya, tidak peduli apa konsekunsinya..
"WANI TEKO WANI MATI!"
[Novel RUKMINI ini adalah kisah lengkap tentang Rukmini, Sosok ibu yang ada di novel SUARA]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.5. Keanehan pertama. [RUKMINI]
Rukmini kecil bangun saat jam 5 pagi karena itu rutinitas nya, dia membantu ibunya masak dan kemudian dia akan menyapu seluruh halaman dan pekarangan rumah.
"Dadi wong wedok musti rajin, jangan males - malesan. Belajar masak kan bumbunya gampang, brambang abang, brambang putih.." Ibunya mengoceh, Rukmini kecil sedang mengaduk nasi.
"Iyo bu." Sahut Rukmini.
"Nanti ibu ke ladang duluan, bapakmu bilangin nanti kalo nyusul ke ladang bawa tampah. Koe jangan lupa nyuci pakean." Ucap ibunya, sambil mengaduk masakan nya.
Masak nya tidak mewah, hanya tumisan kangkung tapi sewajan besar, ada juga tempe goreng dan tahu goreng, lalu sambal.
"Iyo bu." Sahut Rukmini lagi, dia lalu membawa nasi nya ke meja.
Setelah selesai masak, Ibunya bersiap dan peralatan kotor nya Rukmini yang cuci. Tak lama lalu ibunya keluar dari kamar dan memperingati Rukmini.
"Awas koe yo, iki tempe tahu nya ngepas buat bapakmu. Koe boleh makan nek bapakmu wes makan." Ucap ibunya, Rukmini manggut - manggut.
"Iya." Sahut Rukmini.
Saat ibunya ke ladang, Rukmini bersiap pergi ke kali untuk mencuci Dia membawa se keranjang besar pakaian kotor miliknya dan milik orang tua nya. Jarak dari rumah ke kali itu lumayan jauh, tapi bagi Rukmini tidak.. Dia sudah terbiasa.
Hanya saja.. Jalan nya harus melewati jalan menuju ke rumah wak Parto, Rukmini takut berpapasan dengan orang itu. Akhir nya Rukmini memutar jalan dan lewat jalan lain yang meski agak sedikit lebih kauh lagi. Sial nya..
"Eh, Mini.."
DEG!
Rukmini malah bertemu dengan orang yang dia hindari, Rukmini bertemu wak Parto. Rukmini langsung gemetar dan pias melihat dia berdiri di depan nya.
"Mau kemana?" Tanya nya, dengan senyum yang entah kenapa tampak mengerikan di mata Rukmini.
"Ny- nyuci, wak." Sahut Rukmini, wak Parto lalu mendekat dan Rukmini mundur.
"Kok lewat sini? Kan jalan nya lewat sana." Ucap wak Parto, Rukmini makin gemetar dan mundur.
"Nd- ndak apa - apa." Ucap Rukmini, wak Parto terkekeh. Sial nya lagi, pagi itu masih sangat sepi.
"Sudah sembuh, haid nya?" Tanya wak Parto, Rukmini menggeleng.
"Aduh! Padahal wak kangen kamu." Ucap nya, entah kenapa laki - laki tua itu tidak tahu malu bicara demikian dengan anak kecil.
Rukmini lemas, dia ketakutan setengah mati sampai keranjang pakaian nya jatuh dan berserakan. Rukmini buru - buru memunguti baju kotor nya dan kembali memasukan nya kedalam keranjang bambu nya, tiba - tiba wak Parto jongkok juga di depan nya.
"Karena kamu belum sembuh, wak ndak ganggu kamu dulu. Ndak usah nangis toh.." Ucap wak Parto lalu tangan nya malah meraba bagian dada Rukmini kecil.
"Eh, sudah tumbuh.. Tapi masih rata, nanti lama - lama gede kok, wak bantuin." Ucap nya, entah apa maksud nya, jantung Rukmini rasanya sudah mau copot karena ketakutan.
Wak Parto bangun dan pergi dari sana meninggalkan Rukmini yang kamudian menangis, padahal tadi dia ketakutan setengah mati sampai tidak bisa menangis, setelah orang itu pergi baru Rukmini menangis sesenggukan.
"Hiks.. Hiks.." Rukmini menghapus air matanya dan mencoba bangun.
Rukmini lalu pergi dari sana. Dia aman kali ini karena masih dalam keadaan haid, tapi entah apa dia bisa selamat lain kali atau tidak.
Rukmini sampai di kali, dia mencuci pakaian di sana. Banyak orang di kali, yang seumuran Rukmini pun banyak. Ada juga ibu - ibu yang menyanjung Rukmini karena Rukmini anak yang rajin, setiap hari pasti Rukmini ada di kali..
Hanya saja.. Rukmini tidak tau bahwa saat sedang dalam keadaan haid, tidak boleh mendekati tempat - tempat keramat atau angker dan wingit, salah satu nya kali. Ibunya bahkan tidak memberi tahu nya.. Di sana Rukmini melihat orang - orang lebih banyak dari biasanya, tapi aneh nya kebanyakan dari yang Rukmini lihat wajah nya pucat.
"Mini, koe masih lama?" Tanya salah satu orang di sana, dia bukan teman Rukmini tapi sering ketemu disana.
"Masih, iki masih ada yang belum di cuci." Sahut Rukmini..
"Koe mau tak temani opo berani sendiri?" Tanya nya, Rukmini kebingungan, padahal masih banyak orang di sana.
"Koe muleh duluan aja, aku ndak opo - opo." Ucap Rukmini, teman nya itu sedikit khawatir karena langit tiba - tiba mendung.
"Yakin? Iki sudah mau hujan lho." Ucap gadis itu, Rukmini tersenyum dan mengangguk.
"Yakin, makasih yo.." Ucap Rukmini.
Akhir nya gadis itu pun pergi dari sana, di mata gadis itu.. Rukmini sejak tadi terus tersenyum ke arah lain yang jelas - jelas tidak ada orang sama sekali selain mereka berdua, itulah mengapa gadis itu khawatir dengan Rukmini. Tapi dia juga takut karena langit sangat gelap, sebentar lagi mungin hujan besar.
"Rukmini kok aneh.. Dia senyum - senyun sama siapa?" Gumam gadis itu selagi melangkah dan menoleh kebelakang ke arah Rukmini.
Sementara Rukmini, di mata Rukmini di sana masih ramai, dan sejak tadi dia tersenyum pada nenek - nenek yang sedang mencuci baju juga. Sampai tiba - tiba Rukmini di kejutkan dengan kemunculan anak laki - laki yang wajah nya sangat tampan itu.
"Rukmini." Panggil nya, Rukmini menoleh dan terkejut.
Tapi Rukmini tidak ingat anak laki - laki itu yang muncul di mimpi nya semalam, dia tersenyum pada Rukmini tapi Rukmini jelas heran karena dia tidak mengenal anak itu sebelum nya.
"Ini cucu simbok, namanya Bagus. Seumuran sama koe toh, cah ayu.." Ucap nenek - nenek yang hanya Rukmini yang bisa melihat nya.
Rukmini tersenyum saja, dia tidak berani dekat - dekat dengan laki - laki. Dia ingat dengan ucapan ibunya, bahwa jika tidak mau hamil maka jangan dekat - dekat dengan anak laki - laki.
"Mulai saiki, den Bagus jadi koncomu yo, nduk." Ucap nenek itu, Rukmini bingung bagaimana menolak nya, dia tidak enak hati.
Akhir nya Rukmini mengangguk saja, toh berteman juga tidak melulu ketemu pikir nya. Hujan tiba - tiba turun, Rukmini buru - buru mengangkat keranjang cucian nya.. anak laki - laki bernama Bagus tadi juga membantu nenek nya.
"Cah ayu, ayo ke rumah nenek dulu saja. Hujan nya bakal besar, sebentar lagi banjir." Ucap nenek itu, Rukmini yang ngeri melihat penampakan langit yang begitu gelap nya pun mengangguk.
Mereka berjalan menyusuri jalanan setapak di pinggiran kali, hanya saja Rukmini tidak ingat ada rumah warga di sekitaran sana sebelum nya, tapi sekarang ada satu rumah tua yang berdiri di sana. Cuma satu, dan itu lebih reot dari rumah Rukmini sendiri..
"Bapak sama ibuku nanti nyari aku, mbok. Aku mulih saja." Ucap Rukmini, tapi tangan nya di cekal Bagus.
"Jangan, sebentar lagi banjir. Nanti aku antar kamu pulang kalau hujan sudah reda." Ucap Bagus, dan benar.. Hujan nya makin deras dan kali itu meluap.
Air kali semakin naik dan jalan menuju ke jembatan juga tertutup air, akhir nya Rukmini menurut dan duduk di sana.
"Cah ayu, kamu wangi sekali." Ucap nenek - nenek itu, Rukmini heran..
"Aku ndak wangi mbok." Ucap Rukmini, karena dia memang tidak merasa wangi.
"Koe wangi nduk, wangi sekali. Simbok boleh minta?" Tanya nya, Rukmini heran.. Tapi juga merasa takut dengan tatapan nenek itu yang seperti orang lapar.
Nenek itu hanya diam masih sambil menatap Rukmini dan tangan nya mengusap - usap kepala Rukmini, tak lama Rukmini merasakan kantuk berat dan dia akhir nya tertidur di atas amben bambu. Saat Rukmini tidur itulah tiba - tiba nenek - nenek itu menyeringai dan menjulurkan lidah nya yang berwarna hitam, dia menjilat kaki Rukmini yang mengalir darah menstruasi karena basah kehujanan dengan sangat rakus.
"Darah.. Manis.."
...BERSAMBUNG!...
menarik dan makin penasaran...🤔🤔