Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Kawin Lari yang Absurd
Malam itu, mansion keluarga Pratama dijaga lebih ketat dari pangkalan militer. Tapi mereka lupa satu hal, Zayden Abbey adalah seorang mekanik jenius yang biasa menjinakkan mesin paling rumit sekalipun.
Bagi Zayden, sistem keamanan laser dan pagar tinggi hanyalah teka-teki silang sebelum tidur.
Dengan bantuan Dio dan kawan-kawan yang mematikan aliran listrik area belakang (berpura-pura jadi petugas PLN gadungan yang tersesat), Zayden berhasil memanjat pohon kamboja besar dan melompat ke balkon kamar Amy.
Amy sedang duduk melamun di tepi tempat tidur saat jendela balkonnya diketuk perlahan. Ia hampir berteriak sebelum melihat wajah nyengir Zayden yang penuh coretan arang (ceritanya biar kayak ninja, tapi malah mirip tukang sate).
"Ssst! Jangan teriak, Tuan Putri! Ini gue, paket rindu kilat khusus jalur udara!" bisik Zayden sambil melompat masuk dengan kikuk.
"Zayden?! Kamu gila ya?!" Amy menghampirinya, antara panik dan ingin tertawa melihat penampilan Zayden yang memakai baju serba hitam kegedean. "Kalau Papa tahu, kamu bisa ditembak!"
"Tenang, Amy. Gue udah pake strategi stealth tingkat dewa. Tadi gue sempet lewat depan satpam sambil akting jadi patung taman, untung nggak dikencingin anjing," ucap Zayden asal sambil mengatur napas.
Zayden tiba-tiba memegang kedua pundak Amy dengan wajah sangat serius, tipe wajah yang biasanya ia gunakan saat mau memulai tawuran besar.
"Amy, dengerin gue. Gue nggak tahan liat lo dikurung begini, Gue punya rencana besar. Rencana paling brilian yang pernah keluar dari otak gue yang cuma kapasitas 2 GB ini."
"Apa?" tanya Amy cemas.
"Ayok kita kawin lari!"
Amy melongo. "Apa kamu bilang?!"
"Iya! Kita lari ke tempat yang jauh. Ke kaki gunung atau ke pinggir pantai. Gue bakal bangun rumah dari ban bekas, terus kita makan kerupuk tiap hari. Gue bakal jadi nelayan puitis, dan lo jadi... jadi apa ya? Jadi mandor gue aja biar gue semangat kerjanya!" Zayden mengangguk-angguk yakin.
"Nanti kita punya anak, namanya Vespa kalau cowok, kalau cewek namanya Karburator. Keren kan?"
Amy memukul lengan Zayden pelan. "Zayden! Itu namanya kita gelandangan, bukan kawin lari! Dan siapa juga yang mau kasih nama anak Karburator?!"
"Ya daripada Knalpot? Ntar dipanggilnya Pot. Kan kasihan Anak Kita," bela Zayden sambil nyengir. "Tapi serius, Amy. Gue rela kok hidup susah bareng lo, asal lo nggak kedinginan lagi di penjara mewah ini."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki di koridor. Tap... tap... tap...
"Anastasia? Belum tidur?" Suara Papa Amy terdengar mendekat.
"Gawat! Sembunyi, Zayden!" Amy panik.
Zayden dengan panik mencari tempat sembunyi. Ia mencoba masuk ke bawah tempat tidur, tapi pantatnya terlalu besar. Ia mencoba masuk ke lemari, tapi isinya penuh gaun.
Akhirnya, ia nekat berdiri di pojokan kamar, ditutupi oleh tirai jendela yang menjuntai.
Tuan Pratama membuka pintu, menyalakan lampu. Ia melihat Amy sedang memegang buku, tapi Amy tampak sangat tegang.
"Kenapa jendela balkon terbuka?" tanya Tuan Pratama curiga.
"Ah... itu, Amy butuh udara segar, Pa," jawab Amy gugup.
Tepat saat itu, Zayden yang berada di balik tirai merasa hidungnya gatal luar biasa karena debu kain. Ia mencoba sekuat tenaga menahan bersin, Mukanya sudah merah padam. Hatchiii.. hampir saja, tapi ia berhasil mengubahnya menjadi suara kucing yang sedang asma.
"Meooow... hukk... meooow..." suara Zayden sangat tidak meyakinkan.
Tuan Pratama mengernyitkan dahi. "Ada kucing di kamar kamu?"
"Iya, Pa! Tadi ada kucing liar masuk lewat balkon, sekarang udah lari kok!" Amy segera mendorong ayahnya keluar kamar.
"Amy ngantuk, Pa. Besok aja ya ngobrolnya!"
Setelah ayahnya pergi dan pintu dikunci kembali, Zayden keluar dari balik tirai sambil mengusap hidungnya. "Sumpah, itu suara kucing paling jelek yang pernah gue denger sendiri. Gue ngerasa gagal jadi ninja."
Zayden kembali mendekati Amy. Ia mengambil sebuah kalung sederhana dari sakunya, kalung perak dengan liontin kecil berbentuk kunci.
"Ini kunci duplikat hati gue. Gue nggak bisa bawa lo kawin lari sekarang karena gue sadar, masa depan lo jauh lebih berharga dari sekadar hidup di bengkel bareng gue," ucap Zayden, kali ini benar-benar tulus.
"Tapi janji sama gue, jangan pernah nyerah sama keadaan. Gue bakal cari cara yang legal buat bawa lo keluar dari sini. Cara yang bikin bokap lo sujud syukur dapet mantu seganteng gue."
Amy tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Zayden, kamu itu... dua orang paling aneh yang pernah aku kenal."
"Dan dua-duanya cinta mati sama lo," balas Zayden. Ia mengecup dahi Amy kilat, lalu bersiap terjun kembali lewat balkon. "Gue cabut dulu sebelum bokap lo balik lagi bawa detektif hewan!"
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰