NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 13. Kembali Seperti Dulu Lagi

Sejak malam itu, segalanya berubah tanpa perlu kesepakatan.

Kami masih tinggal di rumah yang sama.

Masih menyapa seperlunya.

Masih tahu jadwal satu sama lain.

Namun ada jarak baru yang tumbuh—tak kasat mata, tapi terasa di setiap sudut.

Di kampus, aku mulai benar-benar sibuk.

Tugas menumpuk. Presentasi berganti satu sama lain. Malam-malam panjang di perpustakaan menjadi rutinitas. Aku tertawa bersama teman-temanku, berdiskusi, berpura-pura bahwa kepalaku penuh oleh akademik.

Padahal sebenarnya, yang penuh hanya satu nama.

Haruka Sakura.

Ia tak pernah muncul lagi di gerbang kampus. Tak ada pesan menanyakan apakah aku sudah makan. Tak ada panggilan singkat saat malam terlalu larut.

Ia menghilang dengan cara yang paling kejam— tetap ada, tapi tidak lagi menjangkau.

Di rumah pun sama.

Kami pulang dengan jam yang berbeda. Jika aku di dapur, ia di kamar. Jika aku di ruang tamu, ia sudah pergi.

Kadang kami berpapasan di lorong.

“Hari ini capek?” tanyaku sekali waktu.

“Biasa,” jawabnya singkat.

Tidak ada lanjutan. Tidak ada pertanyaan balik.

Aku berhenti bertanya setelah itu.

Malam-malam kembali sunyi.

Lampu kamar Haruka sering mati sebelum tengah malam. Atau justru menyala hingga subuh, tapi pintunya tetap tertutup.

Aku tidak lagi mendengar batuknya. Tidak lagi melihatnya berdiri di balkon. Tidak lagi tahu apakah paru-parunya baik-baik saja.

Dan ketidaktahuan itu— lebih menyakitkan daripada kabar buruk apa pun.

Aku sibuk dengan duniamu, Alya, kataku pada diri sendiri. Kamu punya masa depan.

Namun setiap kali aku membuka buku, pikiranku justru berakhir pada satu pertanyaan yang sama:

Apakah ia baik-baik saja… atau hanya kembali pura-pura kuat?

Haruka pun sibuk dengan dunianya sendiri.

Telepon-telepon yang ia jawab singkat. Berkas-berkas yang kembali memenuhi meja. Nama-nama universitas luar negeri yang kadang kudengar tanpa sengaja saat ia berbicara di balik pintu.

Ia kembali menjadi Haruka yang kukenal pertama kali— dingin, terkontrol, nyaris sempurna.

Dan justru itu yang membuatku takut.

Karena aku tahu, kesempurnaan itu dibangun di atas tubuh yang pernah hampir menyerah. Di atas napas yang masih dipinjam dari dunia.

Suatu sore, aku pulang lebih awal dari biasanya.

Rumah sepi.

Di meja makan, ada secangkir kopi yang sudah dingin. Tidak tersentuh. Seperti dibuat… lalu ditinggalkan.

Aku berdiri lama di sana.

Menyadari satu hal yang menyesakkan:

Kami tidak bertengkar. Tidak saling melukai dengan kata-kata.

Kami hanya… perlahan berhenti saling menjangkau.

Dan terkadang, itulah bentuk perpisahan yang paling sunyi.

Aku duduk sendiri di ruang tamu, menatap jam dinding yang berdetak pelan.

Jika jarak ini terus dibiarkan, aku takut suatu hari nanti.....

Hari itu di kampus terasa biasa saja.

Terlalu biasa, sampai aku sadar betapa anehnya perasaan ini.

aku menjalani hari tanpa menunggu siapa pun.

Pagi dimulai dengan kelas pagi yang membosankan. Dosen berbicara tentang teori, proyektor menyala terlalu terang, dan aku mencatat tanpa benar-benar membaca ulang tulisanku sendiri.

Di sela kelas, aku mendengar dua mahasiswa di barisan belakang berbicara.

“Kamu tahu nggak, dosen tamu yang bakal datang minggu depan?”

“Katanya jenius muda dari luar negeri. Pernah ngajar di London.”

Tanganku berhenti menulis.

Aku menoleh perlahan, pura-pura tidak peduli.

“Umurnya masih muda banget,” lanjut yang satu. “Katanya pernah sakit parah, tapi sekarang aktif lagi. Gila sih.”

Dadaku mendadak terasa sempit.

London.

Sakit.

Jenius muda.

Aku memaksa diriku untuk tidak menyimpulkan apa-apa. Terlalu banyak orang hebat di dunia ini—tidak semuanya Haruka Sakura.

Tapi tubuhku mengingat lebih cepat daripada pikiranku.

Jam makan siang, aku duduk sendirian di kantin. Biasanya aku akan membuka ponsel, berharap ada satu pesan pendek.

Hari ini tidak.

Di meja seberang, seorang mahasiswa batuk keras. Teman-temannya langsung panik, menepuk punggungnya, memberi air minum.

Aku membeku.

Bukan karena suara batuk itu, tapi karena ingatan tentang pagi-pagi di balkon lantai tiga. Tentang dada yang terangkat terlalu berat. Tentang napas yang selalu terdengar seperti dipaksa.

Tanganku gemetar saat menggenggam sendok.

Aku berdiri tiba-tiba, meninggalkan makananku setengah habis.

Di lorong kampus, aku berjalan tanpa tujuan. Kakiku membawaku ke taman kecil di belakang gedung fakultas—tempat yang jarang dilewati orang.

Aku duduk di bangku kayu yang lembap oleh embun pagi yang belum sepenuhnya kering.

Dan di sanalah aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku perih:

Aku menunggu Haruka. Bukan kehadirannya. Tapi penjelasannya.

Dan aku tidak mendapat apa pun.

Aku menutup mata.

Selama ini aku membiarkannya menjauh karena kupikir itu caranya bertahan. Aku menghormati jaraknya karena aku takut kehilangannya.

Tapi bagaimana jika diamku justru membantunya pergi?

Bagaimana jika aku sedang menyaksikan seseorang yang perlahan bersiap menghilang— dan aku memilih tidak memanggil namanya?

Aku mengeluarkan ponsel.

Jariku berhenti di atas namanya cukup lama.

Haruka Sakura.

Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab.

Hanya keheningan yang terlalu rapi.

Aku menarik napas dalam-dalam.

Jika napasnya adalah pinjaman dari dunia, maka aku tidak mau menjadi orang yang diam saat dunia perlahan menariknya kembali.

Aku menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar satu kali. Dua kali.

Tidak diangkat.

Aku menatap layar ponsel yang kembali gelap.

Bukan marah yang kurasakan. Bukan kecewa.

Tapi takut.

Takut bahwa jika aku terus diam, suatu hari nanti aku tidak lagi punya kesempatan untuk mengatakan apa pun.

Aku berdiri dari bangku taman.

Hari itu aku pulang lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena tugasku selesai, melainkan karena untuk pertama kalinya, aku tahu—

Jika aku tidak bergerak sekarang, jarak ini tidak akan lagi menjadi jarak.

Ia akan menjadi akhir.

Haruka tidak berubah.

Bahkan… ia menjadi lebih dingin dari sebelumnya.

Di rumah, langkahnya tetap teratur. Suaranya tetap tenang. Wajahnya tetap sama—tampan, rapi, tak terbaca. Tapi ada sesuatu yang hilang, dan aku merasakannya di setiap sudut rumah.

Ia tidak lagi menungguku pulang di ruang tengah.

Tidak lagi duduk di sampingku saat aku belajar.

Tidak lagi bertanya apakah aku sudah makan.

Kami berbicara seperlunya.

“Aku pulang.”

“Iya.”

“Makan malam?”

“Nanti.”

Pendek. Datar. Aman.

Dan justru itu yang paling menyakitkan.

Malam-malamku kembali sunyi. Aku belajar sendirian di meja kecil, ditemani lampu meja yang cahayanya terlalu putih. Kadang aku menoleh ke arah pintu, berharap ia muncul begitu saja—seperti dulu.

Tapi yang datang hanya bayanganku sendiri di kaca jendela.

Aku mulai mengulang-ulang kejadian di kepalaku.

Pelukan itu.

Tangisku.

Caraku menahannya saat ia ingin melepaskan diri.

Apa aku terlalu jauh?

Apa aku terlalu ikut campur?

Apa aku membuatnya merasa tercekik?

Aku menggigit bibir, menahan rasa sesak yang datang tanpa izin.

Mungkin… aku salah.

Di kampus, aku jadi lebih pendiam. Teman-temanku mengira aku lelah dengan tugas. Tidak ada yang tahu bahwa pikiranku sibuk menimbang sesuatu yang tidak bisa kutulis di kertas mana pun.

Suatu sore, aku pulang lebih awal.

Rumah sunyi. Terlalu sunyi.

Aku menemukan Haruka di ruang kerja kecil di lantai bawah. Punggungnya menghadap pintu. Di layar laptopnya, deretan data dan grafik yang tidak kumengerti bergerak cepat.

Aku berdiri cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Haruka.”

Ia menoleh sebentar. Hanya sebentar.

“Ada apa?”

Nada suaranya sopan. Terlalu sopan.

“Aku…” kata-kataku menggantung. “Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

Tangannya berhenti di keyboard.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu ia kembali mengetik.

“Tidak,” jawabnya singkat.

Jawaban itu seharusnya melegakan.

Tapi entah kenapa, justru membuat dadaku semakin berat.

“Kalau begitu,” suaraku mengecil, “kenapa kamu menjauh?”

Ia menghela napas pelan. Bukan napas lelah. Bukan napas sakit. Tapi napas seseorang yang sedang menahan sesuatu terlalu lama.

“Alya,” katanya tanpa menatapku, “kita kembali ke posisi awal saja.”

Kalimat itu terasa seperti air dingin yang disiramkan ke dadaku.

“Posisi… awal?”

“Iya.” Ia akhirnya menoleh. Tatapannya tenang, tapi kosong. “Ini yang paling aman.”

Aman.

Kata itu menghancurkanku lebih pelan daripada kata apa pun.

“Aman untuk siapa?” tanyaku lirih.

Ia tidak menjawab.

Aku tertawa kecil. Suara yang bahkan terdengar asing di telingaku sendiri.

“Jadi… semua ini,” aku menunjuk ke arah kami berdua, “hanya kesalahanku karena aku lupa batas?”

Ia berdiri. Jarak di antara kami hanya satu langkah, tapi rasanya seperti dunia yang berbeda.

“Kau tidak salah,” katanya datar. “Kau hanya terlalu dekat dengan sesuatu yang seharusnya tidak kau sentuh.”

Mataku panas.

“Dan kamu?” tanyaku. “Apa kamu tidak apa-apa?”

Ia menatapku lama. Terlalu lama.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya akhirnya. “Seperti dulu.”

Itu bohong.

Dan kami berdua tahu.

Malam itu, aku mengurung diri di kamar.

Aku duduk di tepi ranjang, memeluk lutut sendiri. Untuk pertama kalinya sejak lama, aku menangis tanpa suara. Tangisku bukan karena ia pergi—karena ia tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya mengunci dirinya kembali.

Dan aku mulai takut…

Bukan kehilangan Haruka Sakura.

Tapi kehilangan kesempatan untuk pernah benar-benar mengenalnya.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!