Desa ujung pandang kembali di hebohkan dengan mayat yang hilang dari dalam kuburan, namun sebagian orang menyangkal bahwa itu karena sudah lama di kuburkan sehingga jasad mereka sudah habis di makan tanah.
Namun sebagian lagi mengatakan bahwa itu memang di curi orang, semua ini berawal karena secara tidak sengaja seekor anjing menggali kuburan dan mereka melihat bahwa di dalam itu sudah tidak ada lagi mayat nya.
Kemana kah mayat itu pergi?
mungkin kah mayat itu memang di curi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Melahirkan
"Jadi emang bener ya kalau mayat nya Tofa hilang?" Sintia bertanya kepada sang suami karena tadi juga sudah mendengar tentang kabar itu.
"Iya, tapi kami semua masih ragu karena masih belum tentu apa itu ulah anjing atau ada seseorang yang sedang menuntut ilmu hitam." ujar Yose.
"Mungkin bisa jadi itu memang ulah anjing karena mencium aroma yang tidak sedap dari dalam kuburan." Sintia masih berusaha untuk berpikir normal.
"Tapi tulang yang ada di dalam sana sama sekali tidak ada, kalau di makan anjing maka pasti ada yang tersisa." Yose juga mulai berpikir tentang hal itu.
"Kalau manusia yang mengambil mayat Tofa memang mau di jadikan apa?" Sintia bertanya sambil mengelus perut dia yang mulai terasa keram.
"Kenapa, Sayang?" Yose tidak sempat menjawab karena sudah panik melihat wajah sang istri meringis kesakitan.
"Aduh!" Sintia memang sudah mulai merasakan keram beberapa hari terakhir ini karena mendekati masa kelahiran dari sang jabang bayi.
Terbukti sekarang malah air ketuban itu sudah pecah dan merembes sampai di kaki putih bersih milik wanita cantik itu, Yose tentu saja jadi panik bukan main dan segera mencari tas yang telah mereka siapkan untuk menuju rumah sakit atau bahkan klinik terdekat untuk mengecek keadaan Sintia terlebih dahulu agar tidak terjadi masalah nanti nya.
Bukan hanya darah saja yang mulai keluar dari jalan lahir itu tapi sudah bercampur dengan darah sehingga Sintia merasa sangat yakin bahwa dia akan segera melahirkan malam ini, namun dia agak takut karena kepala terasa sangat berat dan kemungkinan besar tensi wanita ini tengah naik Karena rasa panik yang begitu tinggi.
Namun sekuat tenaga dia tetap bilang tidak masalah, agar Yose juga tidak merasa panik dan mereka bisa menuju klinik dengan perasaan anteng sehingga menjamin keselamatan bayi yang sedang ada di dalam kandungan dia sekarang karena bila panik maka yang ada suasana semakin tidak terkendali saja.
"Aduh sakit sekali, Ya Allah." Sintia meremas tangan Yose.
"Ayo masuk mobil, kita berangkat sekarang." ajak Yose memapah sang istri.
"Kenapa pandangan ku buram seperti ini, Ya Allah tolong selamatkan aku dan juga anak ku." batin Sintia mulai takut.
"Hati hati, kita berangkat sekarang ya." Yose sudah gemetar sekarang karena melihat air bercampur darah.
Melihat suami dia yang sudah panik seperti itu sehingga membuat Sintia semakin yakin agar tidak mengatakan bahwa sekarang kepala dia terasa begitu sakit berdenyut, bahkan untuk melihat keadaan sekitar saja mulai terasa buram akibat kepala yang seakan mau pecah karena tekanan darah yang begitu tinggi ini.
Ini bilang sakit karena mau melahirkan saja sudah membuat Yose panik bukan main, bagaimana bila Sintia nanti mengatakan juga bahwa sekarang kepala dia terasa begitu sakit sekali seakan ingin meledak, jadi lebih baik dia memilih untuk bungkam agar nanti rasa sakit itu bisa hilang dan kemudian bisa melahirkan sang anak dengan selamat.
Walau di dalam hati Sintia saat ini juga panik bukan main karena dia takut nanti tidak bisa menyelamatkan sang jabang bayi ini, sedangkan mereka sudah menunggu dengan waktu yang cukup lama agar bisa memiliki keturunan karena kesuburan Sintia memang agak terganggu sehingga sulit untuk memberikan keturunan kepada sang suami.
"Kenapa darah nya banyak sekali yang keluar?" Yose melihat kaki sang istri.
"Wajar saja karena aku mau melahirkan jadi banyak darah." jawab Sintia walau dia juga bingung.
"Ya Allah lindungi istri dan anak ku, semoga dia bisa selamat." Yose ngebut menuju klinik terdekat.
"Aduuh, ssssh sakit nya." rintih Sintia sambil mengelus perut yang sangat buncit itu.
Walau pandangan Dia sangat buram dan tidak tentu arah seperti itu namun dia tetap saja berusaha untuk melihat keadaan sekitar, bisa di katakan sekarang bahwa darah semakin deras yang mengalir sehingga tidak bisa untuk di kontrol lagi dan mulai membasahi bagian mobil juga.
...****************...
Yose panik ketika melihat dokter yang sibuk menyiapkan segala keperluan untuk melakukan operasi saat ini juga, karena pendarahan yang hebat sehingga Sintia tidak mungkin bisa melahirkan dengan cara normal dan mau tidak mau harus segera melakukan operasi agar bayi yang ada di dalam kandungan dia bisa selamat tanpa ada yang cacat.
Namun motor juga masih bingung dan berusaha untuk memberikan obat yang tepat agar tensi di tubuh Sintia segera turun, bila sedang tinggi seperti ini maka mereka juga tidak mungkin bisa melakukan operasi karena resiko yang akan mereka hadapi tentu sangat tinggi sekali di antara Ibu dan juga anak.
"Apa emang harus melakukan operasi saat ini juga, Dok?" Yose gemetar karena ketakutan.
"Tidak bisa sekarang juga karena keadaan Ibu Sintia sedang tekanan tensi yang begitu tinggi." jelas dokter.
"Ya Allah jadi bagaimana dengan istri saya, Dok?!" Yose yang gemetar karena dia ketakutan.
"Kami pasti akan berusaha keras untuk menyelamatkan Ibu Sintia ya, Pak." janji dokter.
Namun tetap saja sebagai suami maka dia tidak bisa menerima ini dengan sangat mudah, terlebih lagi para dokter juga terlihat panik seperti itu sehingga Yose tidak mungkin bisa santai dan tetap diam di tengah keadaan yang semakin rumit serta Sintia juga sudah mulai merasa lemah dengan keadaan saat ini.
"Mas, ak..aku kesakitan." Sintia sudah sangat lemah dengan rasa sakit tersebut.
"Sayang, kamu harus kuat demi anak kita ya." Yose menggenggam erat tangan sang istri.
"Kalau memang nanti akan ada pilihan tolong kamu pilih anak kita saja." Sintia memang sudah memiliki firasat yang tidak enak.
"Tidak, aku mohon jangan berbicara seperti itu karena aku tidak akan memberikan pilihan!" Yose menggeleng cepat karena dia tidak sanggup.
Sintia menarik nafas dengan susah payah karena mulai terasa sesak pada bagian dada, sudah banyak selang yang mulai masuk ke dalam tubuh wanita cantik ini karena dia membutuhkan banyak bantuan agar bisa tetap bertahan dan melahirkan bayi yang ada di dalam perutnya sekarang.
"Detak jantung bayi mulai melemah." dokter mulai panik juga.
"Tolong selamatkan anak saya, keluarkan anak saya sekarang." pinta Sintia karena dia tau Yose sangat ingin punya anak.
"Sayang tolong lah jangan bicara seperti ini." Yose ingin menangis.
Tentu saja Yose ingin menangis karena ini bukan pilihan yang tepat untuk mengambil keputusan seperti itu, sebab dia ingin kedua nya selamat dan bisa menikmati hari bahagia itu bersama-sama hingga nanti telah mencapai masa tua dan kemudian baru meninggal dunia saat anak mereka telah dewasa.
Selamat malam Besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
musuh licik tp purnama bisa lebih licik👻
takut bgt aku klo musuhnya adalah orang yg di kenal ky Nino dulu🙁
semoga aja Bara bisa melumpuhkan semua harimau2 itu