NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Labirin Kesetiaan yang Berdarah

BAB 30: Labirin Kesetiaan yang Berdarah

Hujan badai mengguyur Jakarta seolah-olah langit ikut berduka atas apa yang menimpa Arini. Di lantai paling atas Rumah Sakit Adiguna, kesunyian koridor terasa seperti cekikan yang dingin. Rangga berdiri di depan jendela kaca besar, menatap butiran air yang menghantam kaca dengan keras. Di belakangnya, di atas ranjang medis yang paling canggih, Arini terbaring diam.

Ia tidak lagi butuh ventilator untuk bernapas, namun tubuhnya tidak lebih dari sebuah patung porselen yang indah namun rapuh. Lumpuh total. Sebuah kata yang bagi Rangga terdengar lebih buruk daripada hukuman gantung. Ia melihat tangan istrinya—tangan yang dulu sering mengusap pipinya saat ia lelah bekerja di gudang—kini terkulai lemas tanpa daya gerak sedikit pun.

Rangga berbalik, melangkah mendekat dan duduk di kursi setianya. Ia mengambil jemari Arini, lalu menciumnya satu per satu. Ia merasakan kehangatan di sana, namun tidak ada respons balik. Tidak ada remasan kecil, tidak ada kedutan.

"Rin... kamu bisa dengar aku?" bisik Rangga, suaranya parau.

Kelopak mata Arini perlahan terbuka. Matanya yang kosong masih tidak bisa melihat cahaya, namun ia menggerakkan kepalanya sedikit ke arah suara Rangga.

"Ga...?" bisik Arini. Suaranya sangat tipis, nyaris hilang tertelan bunyi detak jantung dari monitor.

"Iya, Sayang. Ini aku. Aku di sini," Rangga mendekatkan wajahnya ke telinga Arini.

"Aku... tidak bisa merasakan... kakiku. Aku... tidak bisa menggerakkan tanganku," Arini mulai terisak tanpa suara. Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi bantal putih itu. "Ga... apakah aku sudah mati?"

Hati Rangga seolah diiris sembilu. "Nggak, Rin. Kamu hidup. Kamu selamat dari operasi itu. Kita hanya... kita hanya butuh waktu untuk pulih."

"Jangan bohong... aku tahu," Arini memejamkan matanya rapat-rapat. "Aku buta... dan sekarang aku lumpuh. Untuk apa aku hidup, Ga? Aku hanya akan menjadi bangkai yang kamu bawa ke mana-mana. Kamu pria yang hebat... kamu punya perusahaan besar. Jangan buang waktumu untuk merawat sepotong daging tak berguna ini."

Rangga terdiam. Amarah dan kepedihan bercampur menjadi satu di dadanya. Ia tidak marah pada Arini, tapi ia marah pada takdir yang begitu kejam. Ia memegang wajah Arini dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu merasakan kehadirannya.

"Dengarkan aku, Arini Adiguna," ujar Rangga dengan nada yang sangat tegas dan berwibawa. "Kamu bukan sepotong daging. Kamu adalah istriku. Kamu adalah alasan aku tetap bernapas setiap hari. Jika kamu tidak bisa bergerak, maka aku akan menjadi ototmu. Jika kamu tidak bisa melihat, aku akan menjadi matamu. Aku akan tetap mencintaimu meskipun kamu hanya bisa berkedip seumur hidupmu. Jangan pernah meminta aku untuk pergi, karena itu sama saja memintaku untuk mati."

Arini terisak lebih keras dalam diamnya. Ia merasa sangat tidak pantas menerima pengabdian sebesar itu, namun di sisi lain, cinta Rangga adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam samudera kegelapan.

Setelah Arini tenang dan tertidur karena pengaruh obat, Rangga melangkah keluar kamar. Wajahnya yang lembut seketika berubah menjadi sedingin es. Maya sudah menunggunya dengan wajah tegang.

"Sudah ketemu?" tanya Rangga singkat.

"Sudah, Pak. Tim keamanan berhasil menangkap perawat penyusup itu saat dia mencoba melarikan diri ke luar kota. Kami menahannya di gudang logistik lama di pelabuhan, sesuai perintah Anda," lapor Maya.

"Siapkan mobil. Sekarang," perintah Rangga.

Maya sempat ragu. "Pak, apakah tidak sebaiknya kita hubungi polisi? Jika Anda turun tangan sendiri, itu bisa menjadi masalah hukum baru."

Rangga menoleh ke arah Maya dengan tatapan yang membuat sekretaris setianya itu merinding. "Hukum tidak bisa mengembalikan penglihatan istriku. Hukum tidak bisa membuat kakinya melangkah lagi. Malam ini, aku akan membuat hukumku sendiri."

Perjalanan menuju pelabuhan terasa sangat panjang. Di dalam mobil, Rangga hanya diam, namun aura kemarahan yang ia pancarkan begitu pekat. Sesampainya di sebuah gudang tua yang berbau karat dan air laut, Rangga disambut oleh tiga pria bertubuh tegap yang merupakan mantan anggota pasukan khusus yang ia sewa sebagai keamanan pribadi.

Di tengah gudang, di bawah lampu bohlam yang berayun, seorang wanita muda terikat di kursi. Wajahnya penuh luka memar, tanda bahwa ia telah melalui "interogasi" awal oleh para penjaga.

Rangga melangkah mendekat. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di depan wanita itu.

"Siapa yang memerintahkanmu?" tanya Rangga, suaranya sangat rendah namun mengandung ancaman yang mematikan.

Wanita itu meludah ke samping, darah keluar dari mulutnya. "Aku tidak tahu apa maksudmu. Aku hanya perawat yang menjalankan tugas."

Rangga tidak membalas dengan kata-kata. Ia berdiri, mengambil sebuah botol kecil berisi zat cair yang ia bawa dari laboratorium rumah sakit. Zat yang sama yang disuntikkan wanita ini ke tubuh Arini—zat pemicu agresivitas sel kanker.

"Kamu tahu apa ini?" tanya Rangga sambil memutar-mutar botol itu. "Ini adalah racun yang hampir membunuh istriku. Bagaimana jika aku menyuntikkan ini ke lehermu sekarang? Kita lihat, apakah bosmu akan datang menyelamatkanmu saat sel kankermu mulai memakan otakmu sendiri."

Wanita itu mulai gemetar hebat. Matanya membelalak ketakutan saat melihat jarum suntik yang disiapkan Rangga. "Tunggu! Jangan! Aku... aku hanya disuruh!"

"Oleh siapa?"

"Paman Hendrawan! Dan... dan Ibu Sarah dari dalam penjara. Mereka menjanjikan aku uang lima miliar dan biaya pengobatan ibuku di luar negeri jika aku berhasil membuat Nona Arini meninggal karena 'komplikasi alami'!" teriak wanita itu histeris.

Rangga tertegun. Jadi benar, pamannya sendiri bekerja sama dengan ibunya untuk menghabisi Arini. Mereka tidak ingin membiarkan ada satu pun kebahagiaan yang tersisa bagi Rangga.

"Rekam semuanya," perintah Rangga pada Maya yang berdiri di belakang. "Pastikan semua pengakuannya masuk ke dalam berkas. Dan untukmu..." Rangga menatap wanita itu dengan jijik. "Kamu akan membusuk di sel yang paling gelap di negeri ini."

Rangga kembali ke rumah sakit saat fajar mulai menyingsing. Ia merasa sangat lelah, tapi jiwanya belum bisa tenang. Ia masuk ke kamar Arini dan menemukan Dokter Bram sedang memeriksa monitor saraf.

"Ada perkembangan, Bram?" tanya Rangga.

Bram menghela napas panjang, ia mematikan layar monitor sejenak. "Rangga, aku baru saja berkonsultasi dengan kolega saya di Zurich, Swiss. Ada sebuah prosedur eksperimental yang disebut Neural-Link Interface. Mereka bisa menanamkan mikrokontroler di saraf tulang belakang Arini untuk menjembatani bagian yang rusak."

Mata Rangga berbinar penuh harapan. "Lakukan! Berapa pun harganya, aku akan bayar!"

"Tunggu dulu," Bram memegang bahu Rangga. "Prosedur ini sangat berisiko. Mikrokontroler itu akan memanipulasi sinyal listrik di otaknya. Efek sampingnya adalah... kehilangan memori jangka panjang. Ada kemungkinan besar Arini akan terbangun, bisa berjalan, bisa bergerak, tapi dia tidak akan tahu siapa kamu. Dia akan melupakan semua kenangan pahit... termasuk kenangan manis bersamamu."

Langkah kaki Rangga terhenti. Ia menatap Arini yang sedang terlelap.

Memilih antara Arini yang lumpuh tapi mencintainya, atau Arini yang bisa berjalan tapi tidak mengenalnya. Sebuah dilema yang sangat kejam.

"Apakah ada jaminan dia akan bisa melihat lagi dengan prosedur itu?" tanya Rangga lagi.

"Tidak ada jaminan untuk matanya. Tapi untuk gerak tubuhnya, peluangnya 70 persen. Bayangkan, Rangga, dia bisa berjalan lagi. Dia bisa memeluk ibunya lagi. Dia bisa hidup mandiri tanpa harus tergantung padamu seumur hidupnya. Tapi harganya adalah... kamu akan menjadi orang asing di matanya."

Rangga duduk di lantai, menyembunyikan wajahnya di balik tangannya. Ini adalah ujian kesetiaan yang sesungguhnya. Selama ini ia berjuang untuk memiliki Arini, tapi kini ia harus memilih untuk membebaskan Arini dengan risiko kehilangan dirinya dari ingatan wanita itu.

Seminggu berlalu dalam kebimbangan. Selama waktu itu, Rangga merawat Arini dengan ketulusan yang luar biasa. Ia menyuapinya, memandikannya dengan air hangat, membacakan buku, dan setiap malam ia tidur di lantai sambil memegang tangan Arini.

Suatu malam, Arini berbisik dalam kegelapannya. "Ga... kamu tahu tidak apa yang paling aku sukai dari suaramu?"

"Apa, Rin?"

"Suaramu terdengar seperti rumah. Saat aku mendengar suaramu, aku tidak lagi takut pada kegelapan ini. Aku merasa aman."

Rangga menahan tangisnya. Bagaimana jika nanti dia tidak lagi merasa aman saat mendengar suaraku? Bagaimana jika dia menatapku dengan tatapan takut karena aku adalah orang asing baginya?

"Rin," panggil Rangga. "Jika ada cara untuk membuatmu bisa berjalan lagi, tapi kamu harus kehilangan semua kenangan tentang masa-masa sulit kita... apakah kamu mau?"

Arini terdiam cukup lama. Ia meraba wajah Rangga dengan jarinya yang masih belum bisa digerakkan secara sempurna, hanya bisa sedikit bergeser. "Ga... kalau aku kehilangan kenanganku tentang masa sulit kita, berarti aku juga kehilangan kenanganku tentang bagaimana kamu mencintaiku di gudang itu, kan? Aku akan kehilangan memori tentang pernikahan kita di rumah sakit ini?"

"Mungkin," jawab Rangga lirih.

"Maka aku lebih baik lumpuh selamanya, Ga. Aku lebih baik terjebak di tubuh ini daripada harus melupakan bahwa aku pernah dicintai sedalam ini oleh seorang pria sepertimu."

Rangga memeluk Arini erat-erat. Ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan memaksa Arini melakukan prosedur itu. Ia akan mencari cara lain. Ia akan menggunakan seluruh kekayaannya untuk mencari teknologi yang lebih aman, atau ia akan dengan senang hati menjadi pelayan istrinya seumur hidup.

Namun, musuh tidak memberikan mereka waktu untuk bernapas. Esok paginya, Maya masuk dengan berita bahwa Pak Hendrawan telah mengajukan mosi tidak percaya di dewan komisaris dan menuntut pemeriksaan kesehatan mental terhadap Rangga. Mereka menggunakan fakta bahwa Rangga menculik perawat dan melakukan interogasi ilegal sebagai senjata untuk menjatuhkannya.

"Mereka ingin menyatakan Anda tidak cakap secara hukum untuk mengelola aset Adiguna, Pak," ujar Maya cemas.

Rangga berdiri tegak, merapikan kemejanya. "Bagus. Biarkan mereka mencoba. Aku sudah menyiapkan serangan balik yang akan menghancurkan mereka semua secara serentak. Besok adalah hari pembersihan, Maya. Siapkan tim hukum dan tim media kita. Aku akan mengakhiri sandiwara ini di depan publik."

Rangga mencium kening Arini sebelum pergi. "Tunggu aku, Sayang. Besok, aku akan membersihkan dunia ini untukmu. Tidak akan ada lagi orang jahat yang bisa mengusik tidurmu."

Perang terakhir baru saja dimulai. Dari kamar rumah sakit yang sunyi, ke ruang sidang dewan komisaris yang dingin. Rangga Adiguna siap mempertaruhkan segalanya untuk satu senyum dari wanita yang bahkan tidak bisa membalas genggaman tangannya.

1
falea sezi
ya uda end aja
falea sezi
lanjut
falea sezi
berasa baca trailer
falea sezi
astaga/Sob//Sob//Scowl//Scowl/ Thor g da apa keajaiban misal arini pindah jiwa ke tubuh lain
falea sezi
nyesek baca kisah ini beri keajaiban donk thor/Sob//Sob//Sob//Sob/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!