Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 KONSEKUENSI DAN KEPUTUSAN
Malam setelah pertarungan dengan Bluejam, gubuk terasa sangat sunyi.
Semua orang terluka—tidak ada yang parah, tapi cukup untuk membuat mereka tidak bisa bergerak bebas. Dadan sibuk merawat anak buahnya yang terluka paling serius. Yamamoto duduk di luar dengan pedang di pangkuan, berjaga seandainya Bluejam benar-benar bodoh untuk kembali malam ini.
Aku dan Sabo duduk di kamar dengan Luffy yang sudah tertidur di antara kami.
"Ace... tanganmu gemetar," Sabo memperhatikan tanganku yang memang bergetar tidak terkendali.
"Efek samping pakai terlalu banyak energi. Akan hilang besok."
Tapi bukan cuma itu. Ini juga karena adrenalin—pertarungan tadi adalah pertama kalinya aku benar-benar melukai orang dengan niat membunuh. Di kehidupan lama sebagai Arya, aku arsitek. Paling brutal cuma debat dengan klien atau kontraktor.
Tapi tadi... aku membakar wajah orang. Melihat mereka berteriak kesakitan. Dan yang menakutkan—aku tidak merasa bersalah.
Apakah aku sudah berubah sejauh ini?
"Kau hebat tadi," Sabo berkata pelan. "Apimu... sangat kuat. Mereka semua takut padamu."
"Tapi tidak cukup kuat," aku menjawab dengan nada frustasi. "Kalau Yamamoto tidak ada, kita mungkin sudah mati. Atau lebih buruk—dijual ke pasar budak."
Sabo terdiam. Dia tahu aku benar.
"Kita harus lebih kuat," aku melanjutkan. "Jauh lebih kuat. Latihan selama ini tidak cukup. Kita butuh lebih."
"Lebih bagaimana?"
Aku menatap Luffy yang tidur dengan tenang—tidak tahu dunia berbahaya di luar sana sedang mengancam.
"Aku tidak tahu. Tapi aku akan temukan caranya."
Pintu terbuka. Dadan masuk dengan wajah lelah.
"Kalian belum tidur?"
"Tidak bisa tidur," Sabo menjawab jujur.
Dadan duduk di samping kami. Diam sejenak.
"Maaf," dia akhirnya berkata. "Maaf karena membiarkan kalian bertarung tadi. Seharusnya aku paksa kalian sembunyi—"
"Dadan-san," aku memotong. "Kalau kami sembunyi tadi, mungkin kau yang akan terluka lebih parah. Atau lebih buruk. Kami tidak menyesal bertarung."
"Tapi kalian masih anak-anak! Seharusnya tidak perlu melihat kekerasan seperti itu!"
"Dunia ini keras," aku berkata dengan nada terlalu dewasa untuk anak tiga tahun. "Dan kami tidak bisa selamanya dilindungi. Suatu hari kami harus berdiri sendiri. Lebih baik belajar sekarang daripada terlambat."
Dadan menatapku dengan tatapan rumit—campuran sedih, bangga, dan khawatir.
"Kau bicara seperti orang dewasa lagi, Ace. Kadang aku lupa kau baru tiga tahun."
Kalau dia tahu...
"Besok aku akan kirim surat ke Garp," Dadan melanjutkan. "Beritahu dia soal Bluejam. Minta bantuan."
"Tidak," aku langsung menolak. "Kalau Jii-chan tahu, dia akan pindahkan kita ke tempat lain. Atau lebih buruk—paksa kita jadi Marine muda atau sesuatu."
"Tapi Bluejam akan kembali! Dengan lebih banyak orang!"
"Maka kita harus siap. Yamamoto bisa ajari kita lebih cepat. Kita latihan lebih keras. Dan..." aku ragu sejenak. "Dan mungkin kita perlu aliansi."
"Aliansi? Dengan siapa?"
"Bandit lain di gunung ini. Atau nelayan di desa. Siapa pun yang tidak suka Bluejam."
Dadan menatapku seperti melihat alien. "Kau... benar-benar berpikir seperti strategist... darimana kau dapat ide itu?"
Dari ratusan manga, anime, dan film strategi perang yang kutonton di kehidupan lama.
"Cuma akal sehat," aku menjawab sambil mengangkat bahu. "Musuh kita banyak. Kita sedikit. Jadi tambah jumlah kita."
Dadan tertawa kecil—lelah tapi tulus. "Baiklah. Besok aku akan bicara dengan bandit lain. Tapi kalian tetap harus latihan lebih keras dengan Yamamoto. Setuju?"
"SETUJU!"
"Bagus. Sekarang tidur. Besok hari panjang."
Dia mengelus kepala kami sebelum pergi keluar—bergabung dengan Yamamoto berjaga.
Sabo berbaring di kasur. "Ace... apa kau takut?"
"Takut apa?"
"Takut mati. Tadi waktu dikelilingi lima orang... aku pikir kita akan mati."
Aku terdiam. Jujur? Ya, aku takut. Sangat takut. Tapi lebih dari takut mati—aku takut gagal melindungi orang yang kusayang.
"Aku takut," aku mengakui. "Tapi aku lebih takut kehilangan kalian. Jadi aku akan terus jadi lebih kuat. Sampai tidak ada yang bisa ambil kalian dariku."
Sabo tersenyum. "Aku juga. Aku akan kuat untuk melindungi kalian."
Kami saling mengangguk—janji tanpa kata.
Luffy tiba-tiba mengigau. "Daging... shishishi... banyak daging..."
Kami tertawa pelan. Bahkan dalam tidur, Luffy mikirin makanan.
"Suatu hari nanti, dia akan jadi orang hebat," Sabo berkata sambil menatap Luffy.
"Ya," aku setuju. "Raja Bajak Laut."
"Hah? Kenapa kau yakin?"
Karena aku tahu. Karena aku sudah lihat. Karena itu takdirnya.
"Cuma firasat," aku menjawab sambil tersenyum. "Tidur sana. Besok latihan pasti lebih berat."
Pagi berikutnya, Yamamoto membangunkan kami lebih awal dari biasanya.
"Bangun. Latihan khusus hari ini."
Kami keluar dengan mata masih mengantuk. Tapi yang kami lihat membuat kami langsung terjaga.
Di area latihan, ada berbagai macam senjata tergeletak—pedang kayu, tongkat, bahkan beberapa pedang besi sungguhan.
"Setelah pertarungan kemarin, aku sadar kalian butuh lebih dari sekedar tangan kosong dan Haki," Yamamoto menjelaskan. "Kalian butuh senjata. Dan kalian butuh tahu cara pakai dengan benar."
Dia mengambil dua pedang kayu dan melemparkannya pada kami.
"Mulai hari ini, latihan pedang akan ditambahkan ke rutinitas. Tidak wajib ahli—tapi setidaknya kalian harus bisa bertahan dengan pedang di tangan."
Aku menatap pedang kayu di tanganku. Dalam timeline asli, Ace tidak pernah fokus ke senjata—dia lebih mengandalkan Devil Fruit dan Haki. Tapi mungkin itu kesalahan.
Senjata bisa jadi backup. Bisa jadi kejutan. Bisa jadi penyelamat hidup.
"Stance pertama—kuda-kuda dasar. Kaki selebar bahu. Pedang di depan. Begini."
Yamamoto mendemonstrasikan. Kami mengikuti.
"Bagus. Sekarang swing dasar. Dari atas ke bawah. Fokus pada kontrol, bukan kekuatan."
Kami swing pedang. Berkali-kali. Ratusan kali sampai lengan terasa mau copot.
"Cukup. Sekarang sparring ringan. Sabo vs Ace. Aku akan koreksi gerakan kalian."
Aku dan Sabo berhadapan. Pedang kayu terangkat.
"Mulai!"
Sabo menyerang duluan—swing horizontal dari kanan. Aku block dengan pedang—CLACK!—getaran menjalar ke lengan.
Aku balas dengan thrust ke depan. Sabo sidestep dan swing dari atas. Aku roll ke samping—
"STOP!" Yamamoto berteriak. "Ace, jangan roll. Itu buang energi. Cukup sidestep kecil. Sabo, swing kau terlalu lebar. Musuh bisa counter sebelum kau selesai. Ulangi!"
Kami sparring lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap kali Yamamoto koreksi detail kecil—posisi kaki, sudut pedang, timing serangan.
Jam berlalu. Matahari naik tinggi. Keringat bercucuran.
"Cukup untuk pedang. Sekarang kembali ke Haki. Ace, coba manifestasi Armament selama sepuluh detik."
Sepuluh detik? Rekorku cuma tiga detik!
Tapi aku mencoba. Fokus. Energi mengalir ke tangan. Warna gelap muncul—
Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Empat detik—hilang.
"Empat detik. Lumayan. Besok target lima detik. Terus tambah setiap hari sampai bisa maintain satu menit penuh."
"Satu menit?!" itu terdengar mustahil.
"Itu baru dasar. Marine elite bisa maintain Armament berjam-jam dalam pertempuran. Kau mau jadi lebih kuat dari mereka? Maka latih sampai bisa lebih baik."
Motivasi yang kejam tapi efektif.
Latihan berlanjut sampai sore tanpa henti. Fisik, Haki, pedang, bahkan strategy pertarungan—semua diajarkan dengan intensitas gila.
Saat matahari mulai terbenam, kami kolaps total.
"Bagus. Kalian bertahan seharian penuh. Besok kita tambah intensitasnya."
"MASIH BISA DITAMBAH?!" Sabo berteriak putus asa.
"Tentu. Ini baru permulaan. Bluejam akan kembali dalam beberapa hari atau minggu. Saat itu, kalian harus bisa bertarung setara dengan bajak laut dewasa. Tidak ada waktu santai."
Dia pergi meninggalkan kami tergeletak di tanah seperti mayak hidup.
"Ace... aku tidak yakin bisa bangun besok..." Sabo mengeluh.
"Harus bisa. Kalau tidak... kita mati."
"Motivasi yang mengerikan..."
"Tapi jujur."
Kami tertawa—lelah tapi puas. Ada kepuasan aneh dari mendorong tubuh melewati batas.
Malam harinya, setelah makan malam besar untuk recovery, Dadan memanggil kami.
"Aku sudah bicara dengan dua kelompok bandit lain di gunung ini. Mereka setuju untuk aliansi sementara—khusus untuk hadapi Bluejam."
"Benaran?!" Sabo excited.
"Ya. Mereka juga tidak suka Bluejam—bajingan itu sudah ganggu banyak orang. Jadi kalau dia menyerang lagi, kita punya backup. Total sekitar empat puluh orang."
Empat puluh vs dua puluh (atau mungkin lebih kalau Bluejam bawa reinforcement). Odds lebih baik.
"Tapi jangan terlalu bergantung pada angka," Yamamoto mengingatkan. "Kualitas lebih penting dari kuantitas. Satu fighter kuat bisa kalahkan sepuluh fighter lemah."
"Makanya kami latihan keras," aku menjawab.
Yamamoto tersenyum—senyum tipis yang jarang dia tunjukkan. "Bagus. Itulah mental yang benar."
Malam itu, aku tidak bisa langsung tidur. Pikiran berputar tentang strategi, training plan, dan kemungkinan serangan balik Bluejam.
Tapi di tengah semua itu, satu pikiran menonjol:
Aku berubah. Dari Arya yang architect pendiam jadi Ace yang fighter. Dari orang yang hindari konflik jadi orang yang lari ke konflik.
Apakah ini baik? Apakah ini yang seharusnya?
Aku tidak tahu.
Yang kutahu—aku punya orang yang harus dilindungi. Dan untuk itu, aku akan jadi sekuat yang dibutuhkan.
Bahkan kalau harus jadi monster.
Api takdir tidak peduli moral.
Api hanya tahu satu hal: membakar semua yang menghalangi.
Dan aku adalah api itu.
BERSAMBUNG