Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Masa Lalu
Sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan pagar kayu rumah sederhana mereka. Sosok wanita tua dengan aura bangsawan yang masih sangat kental keluar dengan angkuh.
Nenek Vandermere.
"Hediva, Odelyn... kalian sungguh betah hidup di tempat sepi ini?" tanya Nenek saat memasuki ruang tamu yang sederhana.
Hediva menyambutnya dengan sopan namun tetap menjaga jarak.
"Di sini tenang, Nek. Tidak ada intrik saham, hanya ada suara burung dan anak-anak yang tumbuh dengan jujur."
Namun, Nenek tidak datang untuk berbasa-basi. Ia menatap si kembar yang sedang belajar di sudut ruangan.
"Aku semakin tua. Kerajaan Vandermere di London butuh darah segar. Aku memohon, ijinkan aku membawa salah satu dari mereka untuk ku didik sebagai ahli waris."
Odelyn sudah akan menolak dengan tegas, namun Gavin Junior yang memiliki insting predator langsung menangkap peluang. Ia mendekat, mencium tangan Neneknya dengan sangat elegan—gerakan yang tidak pernah ia tunjukkan pada Hediva dan Odelyn.
"Nek, aku selalu bermimpi melihat London. Ayah dan Bunda terlalu mencintai tempat ini, tapi aku... aku merasa ada darah petualang yang memanggilku ke sana," ucap Gavin Junior dengan mata yang berbinar penuh kepalsuan.
Nenek Vandermere langsung terpikat. Ia melihat sosok Hediva muda yang ambisius dalam diri Gavin Junior.
Tanpa diskusi panjang, Nenek terus menekan Hediva dan Odelyn dengan berbagai janji masa depan.
...
"Mas Hedi, apa kita nggak salah?" tanya odelyn malam itu di kamar.
Hatinya sangat berat.
Hediva menghela napas panjang. "Kita sudah mencoba menahannya, Dek. Tapi kalau dia tetap di sini dengan hati yang memberontak, dia justru akan menghancurkan kita semua. Mungkin... dia harus melihat 'dunia luar' agar tahu apa yang selama ini kita coba lindungi darinya."
Dengan air mata yang tertahan, odelyn melepas Gavin Junior.
"Pergilah, Gavin. Tapi ingat pesan Bunda, sekali kamu masuk ke dunia itu, kamu tidak akan pernah bisa kembali menjadi orang yang sama."
Gavin Junior hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat mirip dengan Gavin Danu saat memenangkan tender besar.
Di London, tanpa pengawasan ketat dari hediva dan strategi monitoring odelyn, Gavin Junior benar-benar lepas kendali.
Ia menjadi bintang di kampusnya, namun juga menjadi playboy yang manipulatif. Ia menggunakan nama besar Vandermere untuk menaklukkan siapa pun yang ia mau.
Satu tahun kemudian, sebuah berita buruk meledak secara diam-diam.
Gavin Junior menghamili Elise, salah satu teman kampusnya yang merupakan putri dari seorang diplomat. Gavin mencoba menutupi hal itu dengan uang Neneknya, namun ia lupa pada satu orang: saudaranya sendiri.
Di Indonesia, Zaidan sedang duduk di toko buku milik Odelyn saat sebuah surat elektronik masuk ke laptopnya.
Wajahnya memucat.
Selama ini, Zaidan memiliki sahabat pena bernama Elise—seorang gadis cerdas yang sering bertukar pikiran tentang filsafat dan buku.
“Zaidan, aku hancur. Kakakmu... dia tidak seperti yang kamu ceritakan. Dia menghancurkanku, dan sekarang dia memintaku untuk melenyapkan anak ini. Aku tidak tahu harus ke mana lagi.”
Zaidan mengepalkan tangannya. Ia langsung berlari mencari orang tuanya yang sedang berkebun di belakang rumah.
Zaidan menunjukkan surat Elise pada mereka. Odelyn hampir jatuh pingsan.
Ini adalah mimpi buruknya yang jadi kenyataan: anaknya mengulang dosa yang sama persis seperti yang dilakukannya dengan Gavin Danu dulu.
"Mas Hedi..." bisik Odelyn,
tangannya gemetar hebat.
Wajah Hediva yang biasanya teduh kini berubah menjadi sangat gelap. Ia melepaskan cangkulnya.
"Sayang, siapkan koper. Kita berangkat ke London sekarang juga."
"Mas, apa yang mau kamu lakukan?" tanya Odelyn cemas.
"Aku akan menjemput anakku, dan aku akan memastikan dia bertanggung jawab sebagai seorang laki-laki. Darah Vandermere tidak pernah lari dari tanggung jawab, dan aku tidak akan membiarkan dia menjadi pengecut seperti orang yang namanya dia pakai!"