Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2# Penghuni terakhir
Padang rumput perak itu terasa jauh lebih dingin daripada hutan hitam yang baru saja mereka tinggalkan. Rumput-rumput di sini tidak tajam, namun setiap helainya memancarkan cahaya redup yang membuat wajah ketujuh remaja itu tampak pucat seperti mayat. Di depan mereka, menara logam raksasa itu masih berdiri tegak, namun Arlo memutuskan untuk tidak langsung menuju ke sana. Instingnya mengatakan bahwa mereka butuh perlindungan sebelum malam benar-benar jatuh dan "Pohon-Pohon yang Tertidur" itu benar-benar bangun sepenuhnya.
"Lihat itu," Naya menunjuk ke arah gundukan tanah di sisi kiri padang. Di balik reruntuhan beton yang sudah ditumbuhi lumut, terlihat sebuah struktur yang berbeda. Itu bukan pohon, bukan juga menara. Itu adalah sebuah perkemahan darurat yang dibangun dengan cukup kokoh beberapa tenda berbahan terpal tebal, pagar kayu runcing yang mengelilingi area kecil, dan sebuah perapian yang masih menyisakan abu hangat.
"Tempat tinggal? Jadi ada manusia lain di sini?" Rayden bertanya dengan suara yang bergetar antara lega dan takut. Ia masih memegangi ujung jaketnya sendiri, matanya melirik ke arah Lira yang berdiri tidak jauh darinya. "Kalau ada orang di sana, apa menurutmu mereka punya makanan? Perutku sudah mulai berbunyi lebih keras daripada getaran hutan tadi."
"Atau mungkin mereka yang akan menjadikanmu makanan, Rayden," sahut Finn pendek. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat tanda-tanda kehidupan di dalam camp tersebut. "Tempat ini terlalu rapi untuk sebuah hutan mati. Ada yang merawatnya."
Zephyr tidak menunggu perintah. Ia melangkah maju dengan kayu tajamnya yang masih digenggam erat. Arlo mengikutinya dari belakang, memberikan kode agar yang lain tetap waspada. Mereka memasuki area camp dengan langkah pelan. Di sana terdapat beberapa kursi kayu buatan tangan dan tumpukan kaleng bekas yang disusun rapi. Ada kesan bahwa tempat ini dulunya menampung banyak orang, namun kini terasa sunyi dan sepi.
"Kosong?" gumam Lira. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba merasakan sisa-sisa emosi di tempat itu. "Aku merasakan kesedihan yang sangat dalam... dan kesepian."
Baru saja Lira menyelesaikan kalimatnya, suara gemerisik keras terdengar dari arah balik pepohonan di sisi lain camp. Sontak, ketujuh remaja itu berbalik. Zephyr langsung memasang posisi kuda-kuda bertarung, sementara Rayden secara refleks melompat ke belakang punggung Finn, membuat Finn hampir terjungkal.
Dari balik bayang-bayang pohon, muncul seorang pria.
Langkah pria itu terhenti seketika saat melihat tujuh pasang mata menatapnya. Pria itu tampak berusia sekitar 50-an. Rambutnya sudah memutih di beberapa bagian, kulit wajahnya kasar dan dipenuhi garis-garis keriput akibat cuaca ekstrem. Ia mengenakan jaket kulit yang sudah sangat usang dan memikul sebuah tas besar yang berisi bongkahan kayu kering serta botol-botol plastik berisi cairan gelap bahan bakar.
Pria itu mematung. Botol-botol di dalam tasnya beradu, menciptakan suara denting yang memecah keheningan. Mata pria itu melotot, menatap Arlo dan yang lainnya dengan ekspresi yang sulit diartikan antara terkejut, tidak percaya, dan ketakutan yang murni.
"Kalian..." Suara pria itu serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak menggunakan pita suaranya. "Bagaimana mungkin... kalian ada di sini?"
"Siapa kau?!" Zephyr membentak, ujung kayunya diarahkan tepat ke dada pria tua itu. "Apa kau yang membawa kami ke sini?!"
Pria itu tidak menjawab. Ia justru melepaskan tas beratnya ke tanah dengan suara debukan keras. Ia mundur satu langkah, tangannya meraba sebuah pisau besar di pinggangnya, menunjukkan kewaspadaan yang sama besarnya dengan mereka. "Jangan mendekat! Siapa yang mengirim kalian? Apakah mereka yang di Menara itu?"
"Kami tidak tahu siapa yang mengirim kami!" Arlo maju satu langkah, mencoba menenangkan situasi meskipun ia sendiri sangat waspada. "Kami terbangun di hutan. Kami tidak ingat apa-apa kecuali nama kami. Aku Arlo. Dan ini... teman-temanku."
Mendengar nama "Arlo", pria itu tampak sedikit tersentak. Matanya menyipit, menatap gelang logam di tangan Arlo. Ketegangan di bahunya perlahan mengendur, namun kewaspadaan itu tidak hilang sepenuhnya. Ia melepaskan pegangannya pada pisau di pinggangnya.
"Nama... kalian punya gelang itu," bisik pria itu. Ia menghela napas panjang, sebuah napas yang terdengar penuh dengan beban masa lalu. "Namaku Harry. Dan ini adalah tempatku. Sebaiknya kalian simpan senjata kalian sebelum aku berubah pikiran untuk tidak mengusir kalian ke tengah hutan malam-malam begini."
Harry berjalan melewati mereka menuju perapian, mengabaikan tatapan curiga dari Zephyr. Ia mulai menyusun kayu bakar yang baru saja dibawanya. Arlo memberikan tanda agar yang lain menurunkan senjata. Mereka mengikuti Harry dengan ragu, duduk di sekitar perapian yang mulai menyala merah.
"Kau tinggal sendiri di sini?" tanya Naya sambil memperhatikan beberapa tenda kosong di sekitar mereka.
Harry terdiam sejenak, matanya menatap api yang mulai menjilat kayu kering. "Dulu tidak. Kami adalah tim. Dua puluh orang... sama seperti kalian. Kami membangun camp ini bertahun-tahun yang lalu. Kami pikir kami bisa menaklukkan hutan ini, menemukan jalan keluar melewati Menara itu." Harry berhenti bicara, wajahnya tampak semakin tua di bawah cahaya api. "Tapi hutan ini tidak suka ditaklukkan. Satu per satu dari mereka hilang. Ada yang diambil oleh Pohon-Pohon, ada yang tidak kuat menahan kegilaan. Kini, hanya aku yang tersisa."
Rayden, yang tadinya ketakutan, kini merasa iba. "Jadi kau sendirian di sini selama bertahun-tahun? Tanpa burger? Tanpa internet? Tanpa... siapapun?"
Harry menoleh ke arah Rayden, menatapnya dengan tatapan aneh. "Apa itu burger? Internet?" Harry menggelengkan kepala. "Di sini hanya ada bertahan hidup atau mati, Nak. Dan melihat kalian muncul dengan gelang perak itu... aku tahu masa tenangku sudah berakhir."
"Apa maksudmu?" tanya Arlo cepat. "Kenapa kehadiran kami berarti masa tenangmu berakhir?"
Harry berdiri, ia menunjuk ke arah Menara yang bersinar merah di kejauhan. "Siklusnya telah dimulai kembali. Hutan ini tidak memberikan 'subjek' baru kecuali ada sesuatu yang harus diselesaikan. Kalian bukan sekadar tersesat. Kalian dikirim untuk menggantikan kami yang gagal."
Lira merasakan gelombang emosi yang sangat kuat dari Harry rasa bersalah. Pria ini merasa bersalah karena dia adalah satu-satunya yang selamat dari timnya dulu.
"Harry," Selene bicara untuk pertama kalinya sejak pertemuan itu. Suaranya yang tenang membuat Harry menoleh padanya dengan kening berkerut. "Di mana timmu yang lain? Maksudku... di mana jasad mereka?"
Harry menatap Selene lama, seolah mencoba mencari tahu siapa gadis misterius ini. "Hutan ini tidak meninggalkan jasad, Gadis Kecil. Hutan ini memakan segalanya. Jika kau mati di bawah pohon itu, kau akan menjadi bagian dari akar mereka."
Rayden langsung bergidik ngeri, mendekat ke arah Finn yang hanya bisa terdiam membisu. Malam mulai semakin gelap, dan suara rintihan pohon-pohon dari arah hutan mulai terdengar kembali.
"Malam ini kalian bisa tinggal di sini," ucap Harry sambil mengambil sebuah panci tua. "Tapi besok, kalian harus memutuskan. Ingin membusuk bersamaku di sini, atau mati mencoba mencapai Menara itu seperti yang dilakukan teman-temanku dulu."
Arlo menatap teman-temannya satu per satu. Mereka semua asing bagi satu sama lain, namun di bawah naungan camp milik Harry, mereka menyadari bahwa Harry adalah cerminan masa depan mereka jika mereka tidak berhasil keluar dari tempat ini.
"Kami akan ke Menara," ucap Arlo mantap.
Harry tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat getir. "Itulah yang dikatakan pemimpin timku dulu sebelum kepalanya dipelintir oleh dahan pohon. Makanlah, kalian butuh tenaga untuk menghadapi mimpi buruk pertama kalian malam ini."
Saat Harry membagikan jatah makanan kaleng yang sudah sangat lama, Arlo melihat gelang Harry. Di sana tidak ada nama. Hanya ada bekas goresan dalam yang disengaja, seolah Harry mencoba menghapus identitasnya sendiri dari sistem hutan ini.