NovelToon NovelToon
ENIGMA

ENIGMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Manusia Serigala / Dokter Genius / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Transformasi Hewan Peliharaan / Pengasuh
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ceye Paradise

Di sebuah fasilitas penelitian bawah tanah yang terisolasi dari peradaban, seorang peneliti jenius bernama Esmeralda Aramoa terjebak dalam dilema moral dan ancaman nyawa. Demi bayaran besar untuk kelangsungan hidupnya, ia setuju memimpin Proyek Enigma, sebuah eksperimen ilegal untuk menyatukan gen serigala purba ke dalam tubuh seorang pria bernama AL. Selama satu bulan, Esme menyaksikan transformasi mengerikan sekaligus memikat pada diri AL, yang kini bukan lagi manusia biasa, melainkan predator puncak dengan insting Enigma yang jauh lebih buas dari Alpha mana pun. Hubungan antara pencipta dan subjek ini menjadi permainan kucing dan tikus yang berbahaya, di mana batas antara benci, obsesi, dan insting liar mulai memudar saat AL mulai menunjukkan tanda-tanda perlawanan terhadap kurungan kacanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Jejak yang Terhapus

Fajar menyingsing dengan warna abu-abu yang suram, seolah langit ikut merasakan kehampaan yang melanda pondok di lereng bukit itu. Esme sama sekali tidak memejamkan mata. Gaun tidurnya yang tipis kini kotor terkena debu dan sisa serpihan kayu pintu yang dihancurkan AL semalam. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mengambil tas medisnya, memasukkan botol penawar yang belum teruji sepenuhnya, dan sebuah senter besar.

Ocan duduk di ambang pintu, menatap Esme dengan mata tembaga yang sayu. Kucing itu tidak mencoba menghentikannya, namun ia juga tidak berani mendekati hutan yang semalam mengeluarkan aroma kematian yang begitu pekat.

"Tetap di sini, Ocan. Jika dia pulang... meonglah sekeras mungkin agar aku mendengarmu," bisik Esme dengan suara serak.

Esme melangkah masuk ke dalam rimbunnya hutan pinus. Jejak kehancuran yang ditinggalkan AL sangat mudah diikuti pada awalnya. Batang pohon yang tumbang, semak-semak yang tercabut hingga akarnya, dan bekas cakaran sedalam lima senti pada kulit pohon ek tua. Esme mengikuti jejak itu dengan jantung yang berdegup kencang, berharap menemukan suaminya sedang terduduk lemas di bawah pohon.

Namun, semakin jauh ia melangkah, jejak itu semakin menghilang.

"Aleksander! AL!" teriak Esme, suaranya memantul di antara tebing-tebing batu. "Ini aku, Moa! Pulanglah!"

Nihil. Tidak ada jawaban selain suara angin yang mendesir di antara dedaunan. Esme terus berjalan hingga ia sampai di sebuah sungai kecil di jantung hutan. Di sana, ia menemukan kemeja biru yang ia kancingkan dengan penuh kasih sayang kemarin pagi. Kemeja itu kini robek menjadi potongan-potongan kain kecil, berserakan di atas batu sungai yang berlumut.

Esme jatuh berlutut, memeluk sisa kemeja itu dan menghirup aromanya. Masih ada sisa bau lavender dan keringat AL di sana, namun bau itu perlahan memudar, digantikan oleh bau anyir darah hewan hutan.

Di seberang sungai, Esme melihat sesosok makhluk yang berdiri di balik kabut tipis. Makhluk itu bertubuh besar, berotot luar biasa, dan kulitnya terlihat pucat di bawah sinar matahari pagi. Makhluk itu sedang berdiri di atas bangkai rusa besar. Namun, saat makhluk itu menoleh, Esme merasakan seluruh dunianya runtuh.

Itu adalah AL. Tapi bukan AL yang ia kenal.

Mata kuning itu tidak lagi menunjukkan kepolosan atau rasa ingin tahu. Mata itu kosong, dingin, dan murni berisi insting predator. Tidak ada pengenalan di sana. Saat AL menatap Esme, dia tidak melihat istrinya, dia tidak melihat Moa. Dia hanya melihat organisme lain yang memasuki wilayah kekuasaannya.

"AL... ini aku," bisik Esme sambil melangkah maju dengan tangan terulur. "Ini Moa. Mari kita pulang. Ocan menunggumu."

AL mengeluarkan geraman rendah yang sangat dalam. Tubuhnya merendah, bersiap untuk menerkam. Tidak ada sedikit pun getaran kemanusiaan dalam gerakannya. Ingatannya tentang tiga bulan terakhir, tentang rumah tangga mereka, tentang rasa cinta, telah dihapus total oleh lonjakan hormon Enigma yang merusak jalur sinapsis manusianya. Baginya sekarang, memori tentang Esme hanyalah sisa-sisa mimpi yang tidak relevan.

AL melompat, namun bukan ke arah Esme. Dia melompat ke atas tebing batu yang tinggi dengan kelincahan yang mustahil bagi manusia biasa. Dari atas sana, dia menatap Esme sekali lagi dengan tatapan predator puncak yang mengintimidasi, lalu berbalik dan menghilang ke dalam hutan yang lebih dalam, meninggalkan Esme yang mematung di pinggir sungai.

"Dia benar-benar melupakanku..." isak Esme. Air matanya jatuh ke atas kain kemeja biru yang ia pegang. "Dia bukan lagi suamiku. Dia telah menjadi Enigma sepenuhnya."

Esme menangis sejadi-jadinya di tengah hutan yang sunyi. Ia menyadari konsekuensi dari eksperimennya. Ia telah menciptakan sesuatu yang terlalu kuat untuk dijinakkan oleh cinta. Ingatan AL bukan hanya hilang, tapi telah melekat pada insting predatornya. Sekarang, AL adalah penguasa hutan ini, makhluk yang tidak lagi memiliki nama, tidak lagi memiliki rumah, dan tidak lagi memiliki "Moa".

Esme pulang ke pondok dengan langkah gontai saat matahari sudah tinggi. Paman Silas dan Bang Togar sudah berdiri di depan rumahnya yang pintunya hancur, wajah mereka penuh kecemasan.

"Esme! Apa yang terjadi? Di mana Aleksander?" tanya Paman Silas panik.

Esme menatap mereka dengan mata sembab dan kosong. "Dia... dia pergi. Dia tidak akan kembali."

"Apa maksudmu pergi? Dia sedang sakit?" Bang Togar mendekat, melihat kehancuran di dalam rumah. "Apa ada beruang yang menyerang kalian?"

"Iya," bohong Esme, suaranya terdengar mati. "Beruang besar. Aleksander mengejarnya ke hutan untuk melindungiku, dan... dan dia tidak kembali. Jangan cari dia, Bang. Hutan itu terlalu berbahaya sekarang."

Bang Togar terdiam, melihat sisa kemeja biru di tangan Esme. Dia merasa sangat bersalah karena telah memberikan ramuan gila itu kemarin, meskipun ia tidak tahu bahwa penyebab aslinya adalah bulan purnama.

Malam itu, Esme duduk sendirian di sofa tempat mereka biasa berpelukan. Ocan duduk di pangkuannya, menjilati tangan Esme yang kasar. Pondok itu terasa sangat luas dan sangat dingin. Esme melihat botol penawar di atas meja, lalu ia membantingnya ke dinding hingga pecah.

"Untuk apa aku menyembuhkannya jika dia bahkan tidak tahu siapa aku?!" teriak Esme dalam keputusasaan.

Namun, jauh di dalam hutan, di sebuah gua tersembunyi, AL sedang meringkuk di atas tanah dingin. Di tangannya yang bersimbah darah, ia menggenggam sesuatu yang entah bagaimana tidak ia buang saat ia merobek pakaiannya semalam.

Sebuah pita rambut berwarna merah yang sudah kusam.

AL menatap pita itu dengan tatapan bingung. Dia tidak tahu apa itu, dia tidak tahu milik siapa itu. Tapi setiap kali dia melihat warna merah itu, ada denyut kecil di dadanya yang membuatnya tidak bisa tidur. Ada sebuah rasa sakit yang bukan berasal dari luka fisik, sebuah kerinduan yang tidak bisa dijelaskan oleh insting pemangsa.

Sang predator puncak itu mendongak ke arah bulan yang mulai memudar, mengeluarkan raungan panjang yang terdengar sangat kesepian, seolah memanggil nama yang jiwanya sendiri sudah lupa cara mengucapkannya.

Akankah insting AL kembali terkalahkan oleh sisa-sisa cinta yang tertinggal di pita merah itu, ataukah Esme harus melakukan tindakan ekstrem untuk menjemput kembali suaminya dari kegelapan hutan?

1
Ceye Paradise
🫶😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!