Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 6
Hari pun berlalu tanpa terasa. Karin sudah satu minggu berada di Pulau Jeju. Ia berlibur seorang diri, menghabiskan hari-harinya dengan menulis-menuliskan banyak ide untuk novel yang selama ini tertahan di kepalanya. Pulau Jeju terasa seperti ruang yang tepat untuk bernapas; udaranya sejuk, suasananya tenang, dan pikirannya bisa fokus. Meski sesekali bayangan Arka masih datang tanpa diminta, Karin tak lagi larut terlalu dalam.
Ia justru bersemangat. Novelnya akan dirilis menjadi film, dan itu membuatnya ingin menulis ulang ceritanya-lebih jujur, lebih realistis, lebih hidup.
Selama satu minggu itu, hari-hari Karin hampir selalu sama. Menulis di pagi hari, berjalan mengelilingi Pulau Jeju di siang atau sore hari, lalu kembali ke kamar hotel saat malam datang. Sejak pertemuan terakhirnya dengan pemuda asing itu, mereka tak pernah bertemu lagi. Bahkan nama masing-masing pun tak pernah sempat mereka tanyakan.
Karin sering berpikir-mungkin pemuda itu sudah kembali ke Seoul. Atau mungkin pemuda itu mengira Karin telah pulang ke Indonesia. Pikiran-pikiran itu datang sebentar, lalu pergi, seperti angin Jeju yang tak pernah menetap.
Sore itu, Karin berada di dalam kamar hotelnya. Ia sedang melakukan panggilan video dengan ibunya.
"Bagaimana di sana, Nak?" tanya sang ibu dari seberang telepon.
"Aku baik, Ma. Mama baik?" jawab Karin sambil tersenyum.
"Mama baik, sayang. Syukurlah kamu baik. Mama senang dengarnya."
Ibunya lalu bertanya tentang Pulau Jeju-tentang keindahannya, tentang suasananya.
"Di sini tempatnya indah banget, Ma," kata Karin. "Kalau Mama ke sini, Mama pasti nggak mau pulang."
"Masak sih?" ibunya tertawa. "Nggak mungkinlah Mama nggak pulang. Di Pulau Jeju kan nggak ada nasi Padang."
Karin tertawa mendengarnya. Tawa yang ringan, tanpa beban.
Tak lama kemudian, mereka menutup panggilan itu. Begitulah hari-hari Karin di Pulau Jeju-tenang, sederhana, dan perlahan menata ulang hatinya.
Setelah menutup telepon dengan ibunya, Karin memutuskan untuk keluar sebentar. Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas, hanya mengikuti langkah kakinya sendiri. Ia memotret apa pun yang menarik perhatiannya-langit Jeju yang biru pucat, pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin, jalanan kecil yang sunyi, dan laut yang tampak tenang seolah menyimpan banyak rahasia.
Menjelang sore, langkahnya berhenti di sebuah kafe kecil di sudut Pulau Jeju. Kafe itu sederhana, dengan jendela besar dan aroma kopi yang menenangkan. Karin masuk dan duduk di dekat jendela. Ia memesan minuman khas Pulau Jeju.
Saat tegukan pertama menyentuh lidahnya, Karin sedikit mengernyit. Rasanya asing-sedikit aneh, tidak seperti minuman yang biasa ia minum. Namun setelah beberapa teguk, ia mulai terbiasa. Bahkan, perlahan ia menyukainya. Rasanya segar, ringan, dan entah kenapa membuat pikirannya terasa lebih jernih.
Ia membuka laptop dan mulai menulis.
Waktu berjalan tanpa ia sadari. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik. Dalam beberapa jam, ia menulis hampir lima bab. Kadang ia berhenti, membaca ulang, lalu menghapus beberapa paragraf yang menurutnya kurang tepat. Kadang ia memperbaiki dialog, mengubah suasana, atau mengganti satu kata hanya demi mendapatkan rasa yang pas.
Pikirannya benar-benar tenggelam dalam tulisannya.
Begitu tenggelamnya, sampai ia hampir lupa pada Arka.
Atau mungkin... ia sudah mulai melupakannya.
Karena sejak ia fokus menulis, kenangan tentang momen-momen indah bersama Arka tak lagi datang menyela. Tidak ada rasa sesak di dada. Tidak ada air mata. Hanya cerita, kata-kata, dan ketenangan yang perlahan mengisi ruang kosong di dalam dirinya.
Jeju, dengan caranya yang sunyi, sedang menyembuhkan Karin tanpa banyak suara.
Saat Karin sedang asyik menulis, tiba-tiba seseorang datang dan duduk di kursi kosong tepat di hadapannya.
Karin terkejut. Jemarinya berhenti di atas papan ketik. Ia mendongak perlahan.
Dan seketika itu juga, pandangannya bertabrakan dengan wajah yang tidak asing.
Pemuda itu.
Mereka saling menatap beberapa detik, seolah memastikan bahwa pertemuan ini nyata, bukan sekadar imajinasi atau kebetulan yang terlalu dipaksakan. Lalu, senyum kecil muncul di wajah mereka hampir bersamaan-senyum yang canggung, hangat, dan penuh keterkejutan.
Karin dan pemuda itu membuka suara di waktu yang sama.
"Hi," ujar mereka bersamaan.
(Hai.)
Karin tertawa kecil lebih dulu, menurunkan bahunya yang sempat menegang.
Pemuda itu ikut tersenyum, lalu berkata, "We keep meeting like this. Isn't it strange?"
(Kita terus bertemu seperti ini. Aneh, ya?)
Karin mengangguk pelan. "Yes. Jeju is big, but somehow we keep running into each other."
(Iya. Jeju ini luas, tapi entah kenapa kita terus bertemu.)
Pemuda itu melirik laptop di depan Karin. "Are you staying around here?"
(Kamu menginap di sekitar sini?)
"Yes. Not too far from this café."
(Iya. Tidak jauh dari kafe ini.)
Pemuda itu tersenyum tipis. "Maybe that's why."
(Mungkin itu sebabnya.)
Karin kemudian bertanya, "What about you? Are you staying here too?"
(Kalau kamu? Kamu juga menginap di sini?)
Pemuda itu menggeleng ringan. "My grandmother lives here. I'm spending my holiday in Jeju. I'll go back to Seoul next week."
(Nenekku tinggal di sini. Aku liburan di Jeju. Minggu depan aku kembali ke Seoul.)
"Oh, I see."
(Ooh, begitu.)
Pemuda itu menatap Karin dengan rasa ingin tahu. "Do you like Jeju?"
(Kamu suka Jeju?)
"I really do," jawab Karin.
"I've been here for a week, traveling around and writing. Somehow, it's easier to focus here."
(Aku sangat suka. Aku sudah seminggu di sini, berkeliling dan menulis. Entah kenapa, aku bisa lebih fokus di sini.)
Pemuda itu tampak sedikit terkejut. "Writing?"
(Menulis?)
"Yes. I'm a writer."
(Iya. Aku seorang penulis.)
Matanya melebar sesaat, lalu tersenyum kagum. "That's impressive. What's your pen name?"
(Itu keren. Siapa nama penamu?)
Karin terdiam sejenak sebelum menjawab. "My pen name is A-K."
(Nama penaku A-K.)
"A-K?"
(A-K?)
"Yes."
(Iya.)
"What does it mean?"
(Artinya apa?)
Karin tersenyum kecil, menunduk sebentar. "It doesn't really mean anything. I just like it."
(Tidak ada arti khusus. Aku hanya menyukainya.)
Pemuda itu tertawa pelan. "I see. That makes it even more unique."
(Ooh, begitu. Itu malah membuatnya lebih unik.)
Ia lalu bertanya lagi, "Do you have Instagram?"
(Kamu punya Instagram?)
Karin menggeleng. "No, but I have Twitter. I post my stories there."
(Tidak, tapi aku punya Twitter. Aku sering mengunggah ceritaku di sana.)
"Can I have your username?"
(Boleh aku tahu nama akunmu?)
Karin menyebutkan akun Twitternya, dan pemuda itu pun melakukan hal yang sama.
Tak lama kemudian, mereka memesan minuman dan makanan ringan. Percakapan mengalir ringan, diselingi tawa kecil dan cerita-cerita sederhana. Di luar kafe, langit Jeju tampak sedikit mendung, seolah hujan akan turun kapan saja.
Namun di dalam kafe kecil itu, suasana terasa hangat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Karin menyadari bahwa ia tidak memikirkan Arka sama sekali