NovelToon NovelToon
Di Ulang Tahun Ke-35

Di Ulang Tahun Ke-35

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ama Apr

Di malam ulang tahun suaminya yang ke tiga puluh lima, Zhea datang ke kantor Zavier untuk memberikan kejutan.

Kue di tangan. Senyum di bibir. Cinta memenuhi dadanya.

Tapi saat pintu ruangan itu terbuka perlahan, semua runtuh dalam sekejap mata.

Suaminya ... lelaki yang ia percaya dan ia cintai selama ini, sedang meniduri sekretarisnya sendiri di atas meja kerja.

Kue itu jatuh. Hati Zhea porak-poranda.

Malam itu, Zhea tak hanya kehilangan suami. Tapi kehilangan separuh dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Begitu mobil Zhea berhenti di halaman rumah, Arin langsung keluar dari dalam sambil menggendong Zheza yang tampak baru bangun tidur. Wajahnya selalu ceria.

"Horee! Mama udah pulang!" seru Arin sambil mendekat dan menirukan suara bayi.

Zhea tersenyum lembut, mengambil bayi mungil itu dari pelukan Arin. "Makasih ya, Rin. Putri cantik Mama." Ia menciumi dahi putrinya sebentar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

Arin mengikutinya, masih semangat. "Tadi aku udah mikir-mikir, Kak. Kalau mau bikin pesta kejutan buat Kak Zavi, gimana kalau temanya putih dan emas aja? Biar elegan, tapi tetap simpel."

Zhea menoleh sambil menaruh tasnya di meja. "Putih dan emas?" Ia berpura-pura mempertimbangkan, lalu tersenyum samar. "Boleh juga. Klasik, tapi tetap kelihatan mewah."

Arin mengangguk antusias. "Iya! Terus aku kepikiran, kita bisa hias taman belakang, kan luas banget. Tambahin lampu gantung, meja buffet kecil, sama banner tulisan Happy Birthday, Kak Zavier!"

Zhea tertawa kecil, menatap Arin dengan tatapan penuh kasih. "Kamu emang paling bisa bikin suasana jadi hidup. Tapi rencananya ... Kakak mau buat acaranya di dalam rumah saja. Soalnya sekarang kan musim hujan."

Arin mengangguk pelan. "Iya juga sih. Kan nggak seru ya, Kak. Kalau lagi tiup lilin tiba-tiba hujan turun." Dia terkekeh di akhir ucapan.

Zhea menjentikkan jarinya. "Nah itu!"

"Oh, ya, Kak. Siapa aja yang mau diundang?" tanya Arin lagi sambil mengikuti langkah Zhea menaiki tangga.

"Siapa ya, palingan keluarga aja. Sama Elara ..." Zhea mengedikkan bahunya.

Arin menatap bingung. "Elara? Sekretaris Kak Zavi itu?"

"Iya." Zhea meletakkan Zheza ke boksnya dan membenahi selimutnya perlahan. "Itung-itung perwakilan dari para karyawan kantor," jawabnya asal. Nada suaranya datar, tapi penuh makna.

Arin menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Oke, Kak."

Zhea tersenyum lagi, kali ini lebih hangat di permukaan, meski sorot matanya dingin dan terukur. "Kita buat pesta itu jadi tak terlupakan," ucapnya seraya menyeringai samar.

Sementara Arin mencatat ide-ide dekorasi di ponselnya dengan semangat, Zhea menatap kosong ke arah jendela kamarnya.

Di kepalanya, pesta ulang tahun itu bukan lagi sekadar perayaan ... melainkan panggung kebenaran.

_____

Zhea tengah mengusap kening Zheza ketika Arin tiba-tiba bersuara lagi, nada bicaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Kak ..." katanya ragu, "Aku mau ngomong sesuatu ..."

Zhea menoleh, menarik tangannya dari kening sang putri. "Hm? Tentang apa?"

Arin memainkan jemarinya di atas meja, wajah cerianya tadi berubah sedikit serius. "Tentang Elara."

Zhea hanya menatap, menunggu.

"Aku tuh ... nggak tahu kenapa ya, Kak, tapi aku nggak begitu suka sama dia," ujar Arin akhirnya, nada suaranya penuh kejujuran polos. "Waktu aku, Mama dan Papa mampir ke kantor  beberapa bulan lalu ... aku melihat cara Elara ngomong sama Kak Zavi tuh kelihatan beda banget, rasanya ... terlalu akrab. Nggak kayak bawahan sama atasan."

Zhea tetap diam, tapi matanya memancarkan ketenangan yang nyaris menyeramkan. Ia menghampiri Arin, dan duduk perlahan di sebelahnya. "Terus?" tanyanya lembut, seolah hanya sekadar menanggapi obrolan ringan.

Arin menatap kakak iparnya hati-hati. "Ya ... aku cuma takut aja, Kak. Soalnya, aku tahu Kak Zavi itu ramah banget ke siapa pun. Tapi perempuan kayak Elara tuh ... matanya lain."

Senyum tipis muncul di bibir Zhea. "Mata yang seperti apa, Rin?"

Arin terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, "Mata yang kayak selalu mengincar sesuatu yang bukan miliknya."

Zhea menatap ke arah langit-langit kamar, senyum di bibirnya tak berubah, tapi sorot matanya menajam sesaat. "Insting kamu bagus, Rin," ujarnya pelan. "Kadang perempuan memang bisa lebih peka dari siapa pun."

Arin menatapnya penasaran. "Kakak juga ngerasain hal yang sama kan?"

Zhea menoleh, senyum lembutnya kembali. "Ya, begitulah, Rin. Tapi Kakak percaya kok, sama Zavier." Namun dalam hati, Zhea berbisik lirih, "Sebentar lagi, kamu akan tahu siapa sebenarnya Elara."

_____

Siang mulai berganti sore ketika Arin duduk di kamar tamu yang ada di rumah kakaknya, memandangi layar ponselnya dengan ragu.

Sejak percakapannya dengan Zhea tadi, hatinya terasa gelisah. Nalurinya kuat sekali ... ada sesuatu yang tidak beres antara kakaknya dan sekretaris itu.

Akhirnya ia menekan nama Zavier di daftar kontak. Ponsel berdering beberapa kali sebelum suara berat kakak laki-lakinya terdengar di seberang.

"Halo, Rin, ada apa?" Nada suara Zavier terdengar tenang, tapi agak terburu-buru.

Di belakang samar-samar terdengar suara tawa lembut seorang wanita ... membuat dada Arin langsung menegang. "Kakak lagi di kantor atau di luar?" tanyanya pelan.

"Di kantor. Mau ada rapat kecil bentar lagi," jawab Zavier cepat. "Kenapa? Apa ada masalah?"

Arin menarik napas panjang. "Nggak, nggak ada apa-apa. Aku cuma ... ingin ngomong sedikit."

Hening sejenak. Lalu suaranya terdengar lebih serius. "Kak, aku tahu ini mungkin bukan urusanku, tapi ... hati-hati sama Elara."

Zavier terdiam beberapa detik, menatap Elara yang duduk tak jauh darinya dengan senyum menggoda, lalu menjawab datar, "Kenapa emangnya?"

Arin menggigit bibirnya. "Aku cuma ngerasa dia bukan perempuan baik, Kak. Dari cara dia ngobrol sama Kakak aja udah keliatan kalau niatnya bukan cuma soal kerja."

Zavier mendengus pelan, berusaha menutupi ketegangan yang tiba-tiba muncul. "Rin, jangan asal menuduh orang, ya. Elara cuma sekretarisku. Dia sangat profesional. Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak lah!"

Arin menutup matanya sesaat. Ia tahu nada datar itu ... nada defensif, sekaligus menyembunyikan sesuatu. "Kak ..." Suaranya melembut tapi tegas, "Aku tahu Kak Zhea nggak pernah cerita apa pun ke Kakak tentang kekhawatirannya. Tapi sebagai sesama perempuan ... aku bisa melihat kecemburuan di mata Kak Zhea."

Ia berhenti sejenak, lalu berkata dengan suara bergetar pelan, "Jangan pernah mengkhianati Kak Zhea. Kalau sampai itu terjadi ... Kakak bakal nyesel seumur hidup. Karena nggak akan ada lagi perempuan sesempurna dia di dunia ini."

Di seberang, Zavier hanya diam. Pandangannya sempat bergeser ke arah Elara yang kini menatapnya penuh arti, seolah menanyakan siapa yang menelepon.

Ia menjawab Arin dengan nada datar, tanpa emosi. "Udah, Rin. Jangan mikir yang aneh-aneh. Kakak lagi sibuk, nanti kita ngobrol lagi."

Sambungan terputus.

Zavier meletakkan ponselnya di meja, menghela napas panjang.

Elara menatapnya lembut. "Siapa yang nelepon, Babe?" tanyanya manja.

"Adikku," jawab Zavier singkat.

Elara tersenyum kecil, mendekat. "Dia ngomongin apa?"

"Bukan apa-apa. Nggak penting juga," jawab Zavier. Tapi peringatan Arin barusan menggaung di telinganya.

'Kalau Kakak mengkhianati Kak Zhea ... Kakak akan kehilangan wanita paling sempurna di dunia.'

Namun bukannya menyesal, Zavier justru menatap Elara dan berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya masih bisa ia kendalikan.

Tanpa sadar, saat itulah ia mulai melangkah lebih jauh ke jurang yang Zhea sudah siapkan baginya.

"Sayang, duduk sini!" Zavier menepuk pahanya, membuat Elara tersenyum nakal.

"Kamu pengen lagi ya?" Bau parfum khas Elara tercium begitu ia menjatuhkan tubuh di pangkuan Zavier. Ia menyentuh rahang pria itu dengan jemarinya yang halus.

Zavier menatapnya lekat. "Aku memang pengen." Akhirnya ia mengakui.

Elara tertawa pelan penuh kemenangan. Ia memajukan wajah dan mencumbu bibir Zavier penuh gairah.

Sekejap kemudian, ruangan itu kembali memanas. Dipenuhi suara-suara syahdu yang terlarang.

Di luar, beberapa karyawan yang lewat ruangan itu hanya saling berpandangan, tak ada yang berani mengetuk pintu ruang direktur itu. Semua sudah paham, dan semua memilih diam.

Beberapa jam kemudian, ruangan Zavier sudah kembali sunyi.

Elara berdiri di depan cermin kecil di sudut ruangan, merapikan rambutnya yang sempat berantakan. Di bibirnya terukir senyum puas ... senyum seorang wanita yang baru saja memenangkan permainan berbahaya.

Ia melirik ke arah Zavier yang sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya, tampak termenung dengan dada naik turun. Kemejanya masih sedikit kusut, dasinya terlepas begitu saja di meja.

"Babe," Elara memanggil lembut sambil menatapnya lewat pantulan kaca, "Gimana service-ku, memuaskan tidak?"

Zavier menoleh sekilas, tersenyum hangat. "Selalu. Permainanmu selalu memuaskan, Sayang. Aku ke kamar mandi dulu ya?" Zavier bangkit dari kursi dan masuk ke kamar mandi.

Begitu Zavier meninggalkannya sendirian di ruangan itu, Elara menatap bayangannya sendiri di kaca jendela besar. Pandangannya tajam, penuh keyakinan. "Kamu pikir kamu menang, Zhea?" desisnya lirih, tapi mengandung racun. "Kamu cuma punya nama dan status. Tapi aku ..." Senyumnya merekah dingin. "Aku punya hatinya. Dan tak lama lagi, semuanya akan jadi milikku."

Ia menegakkan tubuhnya, membenarkan kancing blusnya satu per satu. Setiap gerakan tampak seperti persiapan menuju pertempuran besar. "Tunggu saja, Zhea. Waktu kehancuranmu akan segera tiba. Sebentar lagi ... Zavier akan menjadi milikku, dan kamu ... akan ditendang menjauh dari hidupnya."

1
Ralin Hartati
aku berharap Revan menerima hukuman yg setimpal. dia disiksa para napi tapi aku kok nggak tega ya bacanya seperti nyata ikut merinding, ituu blm seberapa siksaan yg pernah dirasakan korban2 ya, semoga Revan nggak mati klo mati keenakan dong blm merasakan siksaan yg pernah dilakukan pada korban2ya yg lebih parah
nunik rahyuni
jgn mati dlu vsn..masih bnyk yg perlu kmu pertanggungjwb kn
Diny Julianti (Dy)
coba klo masih jadi presdir pasti ngga akan menyesali
Ama Apr: sesal sllu terakhir🥹
total 1 replies
@Mita🥰
udah thor Revan kontrak nya di habisin
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
wita salira
kayaknya Zhea hamil deh..🤔
Ama Apr: hihihi
total 1 replies
zahrahaifa
pasti hamil tuh si zhea
Ama Apr: semoga ya bukan kbr buruk
total 1 replies
Diny Julianti (Dy)
bukanny mnta maaf malah kaya bgtu
Ama Apr: huhu iya kk
total 1 replies
Diny Julianti (Dy)
rasain lu berdua
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
Diny Julianti (Dy)
keren ceritany
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Fauziah
Bowo lagi yaaa
Ama Apr: bowo haha
total 1 replies
Diny Julianti (Dy)
keren zhea, ngga lemah jadi istri mskpn hanya irt
Ama Apr: badass 🤗
total 1 replies
suratmi sihab
iya ihhh kasian juga
Ama Apr: 🥲🥲🥲huhu
total 1 replies
Endang Mulyawati
semoga pasangan Zhea dan Nathan bahagia juga Rafli dan gantari
Ama Apr: Aamiin🤗
total 1 replies
nunik rahyuni
yaaa....harus merasakan yg lebih lebih gila
Ama Apr: dia bkl stress kayaknya
total 1 replies
Ralin Hartati
selamat menikmati karmamu Van /Panic/itu belum seberapa orang2 yg kau siksa,dibunuh akan menghantuimu sampai tersiksa batinmu dan ketakutan sepanjang hidupmu /Skull/
Ama Apr: iya, sampai mati nggak akn tenang
total 1 replies
wita salira
selamat menikmati karma kamu Revan..
Ama Apr: betull
total 1 replies
Les Tary
karma itu memang ada revan
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
@Mita🥰
udah thor matiin si revan
Ama Apr: heh iya kk, biarin sajalah dia menderita
total 1 replies
Asphia fia
si Revan sudah gk waras ya Thor
sudah menjelma menjadi menjadi iblis
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
wita salira
mudah²an Zhea bisa secepatnya nyusul tari dan memberikan adik buat zheza
Ama Apr: aamiin🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!