NovelToon NovelToon
Sang Penguasa Dan Pelayan Jelata

Sang Penguasa Dan Pelayan Jelata

Status: tamat
Genre:Raja Tentara/Dewa Perang / Obsesi / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: Alzahraira Nur

Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

harum jasmani di kamar yang naga

Malam jatuh di Istana Timur dengan keheningan yang mencekam. Bagi Mei Lin, cahaya rembulan yang masuk melalui celah jendela Paviliun Pelayan Khusus terasa seperti jeruji penjara. Ia telah dibersihkan, mengenakan pakaian pelayan dari sutra tipis yang lebih layak—namun terasa jauh lebih berbahaya daripada kain kasarnya yang dulu. Aroma jasmine yang alami dari tubuhnya kini diperkuat dengan minyak esensial yang diberikan oleh kepala pelayan.

​"Ingat, Mei Lin," bisik kepala pelayan tua itu dengan nada memperingatkan. "Kaisar tidak suka penolakan. Jika kau ingin selamat, jadilah air yang mengikuti arusnya."

​Dengan langkah yang berat, Mei Lin berjalan menuju kamar pribadi Kaisar. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan kapan saja. Saat pintu raksasa itu terbuka, ia melihat Jian Feng tidak lagi berada di meja kerja. Sang Kaisar sedang bersandar di kursi panjang dekat perapian, hanya mengenakan jubah tidur sutra hitam yang longgar, memperlihatkan dadanya yang berotot dan kuat.

​"Kau terlambat satu menit, Pelayan Kecil," suara Jian Feng berat dan bergema, membuat bulu kuduk Mei Lin berdiri.

​Mei Lin segera berlutut, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lantai dingin. "Mohon ampun, Tuan yang Agung. Hamba... hamba sedang menyiapkan teh untuk Tuan."

​"Bawa ke sini," perintah Jian Feng singkat.

​Mei Lin mendekat dengan nampan gemetar. Saat ia mulai menuangkan teh ke dalam cangkir porselen, Jian Feng tidak memperhatikan tehnya sama sekali. Matanya yang tajam seperti elang terus terpaku pada leher jenjang Mei Lin dan jemarinya yang halus.

​"Kenapa tanganmu gemetar?" Jian Feng tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Mei Lin, membuat sedikit teh tumpah mengenai jari gadis itu.

​Mei Lin tersentak kaget. "Maafkan hamba, Tuan! Hamba ceroboh!" Ia mencoba menyeka tumpahan itu dengan kain, namun Jian Feng justru menarik tangannya lebih dekat. Tanpa diduga, Jian Feng menyesap jari Mei Lin yang terkena teh hangat, matanya tetap menatap tajam ke dalam mata Mei Lin yang membelalak ketakutan.

​Sentuhan lidah kaisar yang hangat di jemarinya membuat Mei Lin merasa seluruh tubuhnya lemas. "Kau sangat manis, Mei Lin. Jauh lebih manis dari teh mana pun di negeri ini," gumam Jian Feng dengan suara yang penuh hasrat.

​Jian Feng berdiri, tubuhnya yang tinggi besar membayangi Mei Lin yang mungil. Ia menarik pinggang Mei Lin, memaksa gadis itu berdiri tegak tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Mei Lin bisa merasakan hembusan napas hangat Jian Feng di keningnya.

​"Katakan padaku," Jian Feng membelai rambut hitam Mei Lin yang terurai. "Mengapa kau selalu terlihat seolah-olah aku akan memakanmu hidup-hidup? Bukankah banyak pria yang menginginkanmu di luar sana? Apa yang mereka lakukan padamu hingga kau ketakutan seperti ini?"

​Mei Lin menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangis. Bayangan pria-pria di desanya yang kasar kembali muncul. "Bagi mereka... hamba hanyalah benda, Tuan. Sebuah mainan untuk memuaskan nafsu sesaat."

​Seringai Jian Feng memudar, digantikan oleh ekspresi gelap yang lebih dalam. Ia mencengkeram rahang Mei Lin dengan lembut namun posesif. "Mereka salah. Kau bukan sekadar mainan. Kau adalah milikku sekarang. Dan tak ada yang boleh menyentuh milik Kaisar Jian Feng selain dirinya sendiri."

​Jian Feng kemudian membimbing Mei Lin menuju tempat tidurnya yang luas. Ketakutan Mei Lin memuncak; ia mulai memberontak kecil, tangannya mendorong dada bidang kaisar yang keras. "Tuan... mohon jangan... hamba tidak bisa..."

​"Diamlah," desis Jian Feng, tidak marah, namun penuh otoritas yang tak terbantahkan. Ia tidak langsung memaksa Mei Lin, melainkan merebahkannya di atas seprai sutra dan ikut berbaring di sampingnya, memeluk tubuh mungil itu dengan posesif. "Malam ini, kau hanya perlu menemaniku tidur. Aku ingin tahu apakah kehadiranmu bisa menghilangkan kegelisahan yang menyiksaku selama ini."

​Di pelukan sang naga yang ditakuti, Mei Lin hanya bisa memejamkan mata, menghirup aroma cendana yang kuat sementara kepalanya tenggelam dalam wangi jasmine-nya sendiri. Ia tahu, ini hanyalah awal dari badai yang akan menghancurkan hidupnya—atau mungkin, justru mengubah takdirnya selamanya.

bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!