Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERSEGEL MILIK MAHENDRA
Begitu lift sampai di penthouse, Dipta tidak lagi menahan diri. Ia menyambar tubuh Keyla, membawanya masuk dengan langkah besar yang penuh kemarahan dan gairah. Begitu pintu tertutup, Dipta menyudutkan Keyla ke dinding lorong.
"Kau ingin tahu apa bedanya aku dengan anak-anak ingusan itu?" Dipta berbisik parau, napasnya memburu di leher Keyla. "Mereka hanya bisa memimpikanmu. Aku? Aku memilikimu. Setiap inci dari dirimu adalah milikku karena aku telah membeli jiwamu."
Keyla merespons dengan menarik Dipta lebih dekat, mengabaikan rasa sakit saat punggungnya menempel pada dinding marmer yang dingin. "Kalau begitu, buktikan... Buktikan kalau uang Anda tidak sia-sia malam ini."
Dipta meraup bibir Keyla dalam ciuman yang sangat liar dan dominan. Tidak ada lagi kelembutan. Di bawah cahaya lampu apartemen yang remang, Keyla terus menggoda, memberikan setiap desahan dan gerakan yang memancing Dipta untuk bertindak lebih jauh. Ia menempatkan dirinya sebagai wanita yang telah dibeli, menyerahkan seluruh kendalinya pada sang predator yang kini telah sepenuhnya kehilangan akal sehatnya.
**
Lampu kamar yang temaram menjadi saksi bisu kehancuran harga diri Keyla. Di atas ranjang sutra yang dingin, ia terisak hebat, suara tangisnya teredam oleh bisingnya napas Dipta yang memburu. Takdir terasa begitu kejam; mahkota prestasi yang baru saja ia raih siang tadi seolah tak ada artinya sekarang. Ia hanyalah sebuah komoditas, sebuah aset yang telah berpindah tangan.
Dipta, yang biasanya terkendali, kini benar-benar gelap mata. Bayangan Keyla yang tertawa lepas dan meliuk liar di depan Rio serta pria-pria muda tadi terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak, membakar kewarasannya hingga menjadi abu.
"Tadi kau sangat berani, bukan?" Dipta berbisik parau, suaranya mengandung ancaman yang kental saat ia mengunci kedua tangan Keyla di atas kepala. "Ayo, lakukan lagi. Tunjukkan padaku bagaimana kau menggoda mereka. Tunjukkan bagaimana kau menawarkan dirimu pada anak-anak ingusan itu!"
"Cukup, Dipta... hiks... aku mohon, berhenti," isak Keyla, kepalanya menggeleng lemah di atas bantal.
"Kenapa? Apa aku tidak cukup muda untukmu? Apa karena aku membelimu, maka kau menolak untuk bersikap liar padaku?" Dipta mencium leher Keyla dengan rakus, gigitannya meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok. "Kau ingin bebas, kan? Ini kebebasanmu, Keyla. Menjadi jalang kecilku di kamar ini."
Tangan Dipta yang kasar bergerak naik, meremas dan memainkan gunung kembar Keyla dengan kekuatan yang membuat Keyla meringis. Ia menyesapnya dengan rakus, seolah ingin menghapus setiap jejak mata pria lain yang tadi sempat memandang tubuh gadis itu.
"Sakit, Dipta... hiks... lepaskan..." rintih Keyla. Rasa sakit fisik itu nyata, namun gai rah aneh yang mulai menjalar di pembuluh darahnya—akibat alkohol dan sentuhan ahli Dipta—terasa jauh lebih menyakitkan bagi batinnya.
"Kau menikmatinya, Keyla. Tubuhmu tidak bisa berbohong," desis Dipta saat ia merasakan tubuh Keyla mulai gemetar dan merespons. Ia tidak berhenti; ia justru semakin menuntut, memuaskan rasa haus posesifnya yang tak bertepi.
Tangisan Keyla semakin pecah saat ia merasakan tangan Dipta bergerak turun, menyusup ke bawah inti tubuhnya. Dipta menekan titik sensitif Keyla dengan gerakan yang liar dan tidak sabaran, memaksanya untuk mencapai puncak yang tidak ia inginkan.
"Inikah harga diri mu, Keyla?" tanya Dipta dengan nada menghina yang mematikan. "Ayahmu menukar masa depanmu dengan angka-angka di rekeningku. Dan sekarang, Kau milikku sepenuhnya."
"Aku membencimu... aku membenci kalian semua..." Keyla meratap di sela desahannya yang tak terkendali. Ia membayangkan semua buku yang ia pelajari, semua malam yang ia habiskan untuk belajar demi masa depan yang cerah, kini semuanya hancur. Ia tidak akan pernah menjadi sarjana di luar negeri; ia hanya akan menjadi objek pemuas nafsu seorang pria yang usianya hampir sama dengan ayahnya.
"Bencilah aku sesukamu," sahut Dipta, menatap mata Keyla yang penuh air mata dengan tatapan predator yang puas. "Tapi malam ini, dan malam-malam selanjutnya, kau akan selalu berakhir di bawahku, meratapi takdirmu sementara kau memanggil namaku."
Keyla hanya bisa memejamkan mata erat, membiarkan air matanya membasahi bantal, tenggelam dalam pusaran gairah dan penghinaan yang diciptakan oleh pria yang telah membeli hidupnya secara mutlak.
Suasana di dalam kamar itu mencapai titik nadir yang paling mencekam sekaligus memanas. Dipta benar-benar telah kehilangan seluruh nuraninya; yang tersisa hanyalah insting seorang pemilik yang ingin menanamkan segel kepemilikan mutlak pada aset berharganya.
Di bawah sorot lampu tidur yang remang, tubuh porselen Keyla yang polos tampak bergetar hebat di bawah bayangan tubuh kekar Dipta yang mendominasi.
Dipta memposisikan dirinya di antara kedua kaki Keyla yang ia paksa terbuka lebar. Matanya yang merah karena alkohol dan cemburu menatap tajam ke arah inti tubuh Keyla yang masih sangat murni—sebuah wilayah yang belum pernah terjamah oleh siapapun.
"Lihat aku, Keyla," perintah Dipta dengan suara serak yang mengerikan. "Lihat siapa yang benar-benar memilikimu sekarang. Bukan lelaki itu, bukan siapapun. Hanya aku."
Keyla hanya bisa menggelengkan kepala, tangannya mencengkeram sprei hingga jemarinya memutih. "Jangan... Dipta, aku mohon... sakit... jangan lakukan itu..."
Namun, Dipta sudah tidak bisa mendengar logika. Ia mendorong miliknya untuk menyatu dengan Keyla. Seketika, ia merasakan hambatan yang luar biasa. Tubuh Keyla begitu sempit, seolah menolak invasi paksa yang dilakukan Dipta.
Dipta menggeram frustrasi. Rasa sesak yang ia rasakan justru semakin memicu gairahnya yang liar. "Sial, Keyla... kenapa kau begitu sempit?" desisnya di sela napas yang memburu.
Ia mencoba mendorong lebih dalam, namun Keyla menjerit histeris. Suara jeritannya menyayat keheningan malam di penthouse itu. "SAKIT! BERHENTI! DIPTA, SAKIT!"
Keyla meronta, air matanya mengalir deras membasahi bantal. Rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya secara fisik yang seolah robek, tapi juga rasa sakit di jiwanya yang kini hancur berkeping-keping. Ia merasa tubuhnya sedang dihancurkan oleh pria yang seharusnya melindunginya.
"Diamlah! Jangan melawan!" bentak Dipta, keringat membanjiri pelipisnya. Ia mencengkeram pinggul Keyla dengan kuat, mengunci posisi gadis itu agar tidak bisa menghindar lagi. Dengan satu dorongan yang kuat dan penuh paksaan, ia akhirnya berhasil menembus pertahanan terakhir Keyla.
Keyla membelalak, napasnya seolah terhenti di tenggorokan. Rasa sakit yang tajam menghantam seluruh kesadarannya, mengalahkan efek alkohol yang tadi membuatnya liar. Ia merasa dunianya gelap seketika.
"Ahhh... Dipta... hiks... hentikan..." rintihnya dengan suara yang nyaris hilang.
Dipta tidak berhenti. Mengetahui bahwa ini adalah yang pertama, dan bahwa ia telah benar-benar menaklukkan Keyla, membuatnya merasa berada di puncak dunia.
Ia bergerak dengan ritme yang liar dan tanpa ampun, mengabaikan rintihan kesakitan Keyla yang perlahan berubah menjadi desahan pasrah yang menyedihkan.
"Sekarang kau benar-benar milikku, Keyla Atmadja," bisik Dipta parau, menciumi bahu Keyla yang gemetar. "Kau sudah tidak punya jalan kembali. Kau sudah tersegel sebagai milik Mahendra."
Malam itu, di tengah kemewahan yang menyesakkan, Keyla kehilangan segalanya. Ia meratapi takdirnya yang kini sah menjadi budak nafsu Dipta. Di setiap gerakan Dipta, Keyla hanya bisa melihat masa depannya yang terbakar habis, menyisakan dirinya yang kini tak lebih dari sekadar raga tanpa jiwa di bawah kuasa sang predator.
***
Bersambung...