Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cuma Cleaning Servicemu, Tuan!
...୨ৎ──── E V A ────જ⁀➴...
Aku sedang bermain api. Naluri bertahan hidupku berteriak menyuruhku keluar dari studio dan balik bekerja, tapi aku enggak berhenti karena cara Tuan Delaney memperhatikanku, membuat badanku panas dan gelisah.
Gairah yang kuat terus tumbuh di antara kami, sampai aku mulai kepikiran buat buang kehati-hatianku dan genit sama dia.
Mungkin aku bisa ambil risiko, hubungan One Night Stand dengan dia?
Enggak.
Aku enggak mau mengorbankan kerjaan aku.
Aku berhenti menari dan jalan ke meja tempat HPku berada. Aku lepas sambungannya dari speaker, dan keheningan mengudara di sekitarku.
Aku bisa merasakan tatapan Tuan Delaney membakar punggungku, dan itu membuat panas di sekitar selangkanganku makin menjadi.
Aku tarik napas dalam beberapa kali sebelum berbalik dan jalan ke arah pintu. Dia berdiri tegak dari tempatnya bersandar di kusen pintu, dan senyum nakal muncul di sudut bibirnya.
“Kamu mau ngasih tahu nama kamu malam ini?” tanyanya, suaranya dalam dan serak.
Aku berhenti cuma beberapa senti dari dia, aku perlahan menengadah, dan senyum menggoda pun melengkung di bibirku.
“Enggak.” Satu kata itu terengah dari mulutku.
Mata Tuan Delaney terkunci di wajahku. “Oke. Aku suka tantangan.”
Aku maju. Saat aku lewat di sampingnya, bahuku menyentuh lengannya, “Bagus.”
Saat aku jalan menyusuri koridor, aku dengar dia bilang, “Jam yang sama, studio yang sama, besok malam.”
“Kita lihat nanti,” jawabku.
Begitu aku menghilang di tikungan, aku menekan tangan ke dada dan menarik napas dalam.
Apaan sih yang aku lakukan?
Mengancam pekerjaanku kayak begini itu bodoh.
Tapi tetap saja, mendapatkan perhatian Tuan Delaney itu terlalu menyenangkan buat ditolak.
Huft.
Sekarang aku malah ngiler sama dia, sama kayak balerina lain di perusahaan ini.
Bedanya, aku bukan salah satu balerina dia. Aku cuma tukang bersih-bersihnya.
Sampai di loker, aku ganti celana pendek dan kaus, pakai baju biasa dan celemek. Setelah mengikat rambut dan pakai penutup kepala dengan logo perusahaan, aku mengecek troli kebersihan sambil kasih waktu buat Tuan Delaney pergi.
Merasa harus menunggu sepuluh menit lagi, aku ambil kantong kertas berisi makanan yang aku bawa dari Burger Bangor. Aku sudah muak sama makanan restoran, tapi aku enggak punya waktu buat masak dan enggak punya uang buat beli yang lebih sehat.
Makanan gratis, tetap makanan gratis.
Aku buka wadahnya, keluarkan garpu plastik dari kantong, lalu masukkan sedikit spageti dan bakso ke mulut aku.
Sambil makan, pikiranku memutar terus soal Tuan Delaney.
Farris.
Delaney.
Aku suka namanya.
Dan cara dia memakai setelan jas.
Rambutnya yang berantakan bikin jari-jari aku gatal ingin tahu apakah helainya setebal itu.
Dan matanya.
Gila, mata itu punya daya tarik yang susah dilawan.
Aku jadi mikir bagaimana reaksinya kalau dia tahu aku cuma tukang bersih-bersih, bukan balerina profesional.
Dia terlalu jauh di luar jangkauanku sampai rasanya kami berasal dari tata surya yang berbeda. Fakta itu saja seharusnya cukup, buat bikin aku enggak menyenggol dia lagi.
Aku pakai garpu buat memecah satu bakso jadi dua lalu memasukkan sepotong ke mulut.
Tobias kebanyakan pasta tomat di sausnya lagi. Ini terakhir kalinya aku makan spageti bakso. Cowok itu, satu-satunya koki di kedai, jago bikin burger keju bacon, tapi aku enggak bisa makan itu tiap hari.
Sambil menyimpan sisa makanan, aku minum air langsung dari keran wastafel, sebelum dorong troli kebersihan menyusuri koridor. Aku mengepel semua area, lalu ambil mesin poles lantai di gudang.
Aku pasang earphone dan tekan play di playlist sebelum menyalakan mesinnya. Pegangannya bergetar di tanganku, dan pikiranku terus melenceng sampai aku kebanyakan mikir soal Farris Delaney.
Aku yakin dia juga merasa tertarik sama aku. Setidaknya, versi aku yang dia lihat di studio tadi.
Aku menghela napas, betapa cepatnya dia bakal kehilangan minat itu kalau harus melihatku sekarang.
Pikiran itu enggak membuatku hancur, karena aku enggak akan buang-buang waktu untuk mengharapkan hal-hal yang enggak bisa aku miliki.
Aku fokus sama kenyataan, aku bisa bayar tagihan, itu lah yang paling penting.
Aku mungkin miskin, tapi selalu bisa lebih parah.
Ngomongin yang lebih parah, sudah lama banget aku enggak lihat Sahara, perempuan yang melahirkan aku. Tapi sejujurnya aku enggak peduli sama dia.
Sebuah gerakan, menarik perhatianku. Saat aku lihat Tuan Delaney keluar dari salah satu kantor, aku langsung panik, melihat sekeliling cari tempat buat ngumpet.
Enggak mau menarik perhatiannya, aku menundukkan kepala dan berharap supaya dia enggak sadar sama aku.
Dia jalan ke arahku, tapi keberuntungan lagi di pihak aku saat dia belok ke koridor lain menuju pintu masuk gedung.
Syukurlah Tuhan, atas belas kasihan ini.
Sambil dorong mesin poles lantai ke depan, aku mengintip koridor dan melihat pemandangan bahu lebar Tuan Delaney.
Lupakan dia, Eva.
Buang-buang waktu.
JD penasaran Endingnya