NovelToon NovelToon
Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Jawara Pasar : Cicit Dua Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ottoy Lembayung

SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Hati kecil Yuliana Dewi sang super star part 2

"Loe siih Er... terlalu kencang congor loe jadi kedengaran deh sama telinganya si Jhon! Sekarang kita kena hukuman karena kamu," ucap kesel Yuli dengan suara pelan, berdiri dari bangkunya bersama Erna.

"Sorry deh Yul, gue gak bermaksud jahat ama loe. Aku juga tidak menyangka kalau suaraku bisa terdengar begitu jelas. Sekarang jadi kita berdua kena hukuman dengan mengerjakan soal ke depan," ucap Erna dengan rasa minta maaf, ikut berdiri dan mengikuti langkah Yuli menuju depan kelas.

"Kalian berdua diam!!! Kerjakan cepat dan maju ke depan untuk mengambil spidolnya. Jangan sampai kalian membuat bapak semakin marah," ucap Pak Jhon dengan suara yang semakin tinggi, menunjukkan bahwa dia sudah tidak sabar lagi.

"Jika salah jawaban, kalian akan aku berikan hukuman—terutama kamu Yuli," ucap tegas Pak Jhon dengan tatapan yang hanya menyasar pada Yuli, membuatnya merasa sedikit tidak adil.

"Kok aku aja pak yang di beri hukuman khusus? Kenapa Erna tidak dikasih hukuman juga pak?" tanya Yuli dengan suara pelan, merasa tidak puas dengan perlakuan guru tersebut.

"Karena kamu cantik seperti bidadari jadi harus di beri hukuman khusus agar kamu bisa lebih ingat dan tidak mengulangi kesalahan lagi," ucap Pak Jhon dengan tatapan yang sedikit mencurigakan dan penuh dengan nada nakal, terus menatap Yuli dengan cara yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Bapak gak adil dong kalau begitu Pak! Kami berdua saja yang berbicara, jadi seharusnya hukuman juga sama saja," ucap Yuli dengan suara yang sedikit lebih keras, memohon agar diperlakukan dengan adil.

"Cukup Yuli! Kamu kerjakan saja soal itu tanpa banyak omongan lagi! Jangan membuat bapak semakin marah padamu," ucap marah pak Jhon dengan suara yang cukup keras, membuat Yuli langsung terdiam dan tidak berani berkata apa-apa lagi.

"Ba...ba...baik pak Jhon," ucap Yuli dengan suara gemetar sedikit, kemudian mengambil spidol putih dari atas meja guru dan akan mulai mengerjakannya. Namun dirinya terkejut melihat Erna sudah dengan cepat mengambil spidol lain dan mulai mengerjakan soal nomor 3 di sisi lain papan tulis—soal yang terlihat sangat mudah dibandingkan dengan nomor 2 yang akan dikerjakan Yuli.

"Sialan banget loe Er... pintar dan licik banget dia langsung mencuri soal mengerjakan nomor 3 yang gampang, sementara aku harus mengerjakan nomor 2 yang sangat sulit sekali," ucap Yuli dalam hati dengan rasa kesal, melihat soal yang tertera di papan tulis dengan angka dan rumus yang sangat rumit.

Lama berdiri di depan papan tulis dan mencoba memahami soal yang diberikan, akhirnya Yuli menyerah dan berbalik menghadap Pak Jhon dengan wajah yang penuh rasa tidak berdaya.

"Maaf pak... soalnya terlalu sulit jadi saya tidak bisa mengerjakannya. Harap maklum aja pak," ucap Yuli dengan nada datar, sudah tidak berharap lagi akan mendapatkan pengertian dari gurunya.

"Hukuman tetap berlaku Yuli! Nanti sepulang sekolah kamu menghadap bapak di ruangan guru matematika. Jangan sampai kamu tidak datang ya," ucap tegas pak Jhon tanpa rasa iba, kemudian menoleh ke arah kelas dan meminta semua siswa untuk melanjutkan belajar.

Yuli tertunduk sedih, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia merasa sangat tidak adil dan ingin berteriak keras-keras karena banyak hal yang tidak adil yang terjadi di sekolah ini—baik terhadap Romi yang selalu dipermalukan karena keadaan ekonominya, maupun terhadap dirinya sendiri yang seringkali diperlakukan tidak benar oleh beberapa guru laki-laki.

Terhadap Romi dan terhadap dirinya, dia merasa ada beberapa guru laki-laki bahkan separuhnya yang seringkali melecehkan para siswi yang cantik dan menarik di sekolah Harapan Bangsa, menjadikan mereka sebagai objek perhatian yang tidak pantas.

"Brengsek banget emang tuh si Jhon... pasti dia mau merayu gue lagi seperti waktu itu," gumam Yuli dalam hati dengan rasa jijik yang mendalam, mengingat kejadian yang pernah dialaminya beberapa minggu yang lalu.

"Seperti waktu itu saat gue tidak mengerjakan pekerjaan rumah dan di panggil ke ruangannya—malah gue di lecehkan walaupun hanya sebatas kata-kata saja. Dia memuji parfum wangi gue, merayu-rayu dan mengatakan akan memberikan nilai baik jika aku mau menuruti keinginannya. Mengajak jalan-jalan, mengajak berenang, dan mengajak ke berbagai tempat rekreasi," ucap Yuli dalam hati dengan suara yang semakin marah.

"Jijik banget klo gue inget-inget lagi peristiwa itu... bagaimana si Jhon itu mengendus-endus menikmati aroma parfum yang gue pakai dengan mendekatkan hidungnya ke badan gue. Reflek gue langsung dorong jidatnya yang sedikit botak dengan telunjuk gue agar dia kapok dan tidak berani melakukan hal serupa lagi," tambahnya dalam hati, merasakan bahwa tubuhnya kembali merasa tidak nyaman hanya dengan mengingat kejadian itu.

"Sampai sekarang gue benci dan sebel banget sama guru matematika itu," ucap bathin Yuli dengan penuh kebencian, masih berdiri di depan kelas sebelum akhirnya kembali ke bangkunya dengan langkah yang lambat dan penuh kesedihan.

"Yul..Yul..Yuliii!!! Teriak Erna dengan suara tinggi memanggil-manggil namanya, bahkan sampai menggoyangkan bahu Yuli yang sedang duduk dengan wajah murung.

"Gila apa loe Mangil gue dengan teriak-teriak di kuping gue? Dasar loe Erna gak punya adab sama sekali!" ucap kesel Yuli dengan suara yang cukup keras, merasa sedikit terganggu oleh kegembiraan temannya yang sudah selesai mengerjakan soal dengan benar.

"Lagian loe juga sih Yul... kuping loe harus dibersihkan ama CottonBud biar kuping loe gak budeg dan bisa denger suara orang dengan jelas!" canda Erna dengan wajah yang penuh senyum—siswi berwajah hitam manis yang selalu bisa membuat suasana menjadi lebih ringan dengan candaan nya.

"Gimana Yul, loe udah maafin gue belum ya? Aku benar-benar tidak sengaja membuat kamu kena hukuman Pak Jhon lho," tanya Erna dengan kata-kata yang lembut dan penuh rasa minta maaf, mendekati Yuli dengan wajah yang menunjukkan bahwa dia sungguh menyesal.

"Siapa yang marah sama loe Er? Aku kan bukan orang yang suka menyimpan dendam kok," ucap Yuli dengan suara yang sedikit lebih lembut sekarang, mulai merasa tidak bisa marah lama-lama dengan temannya yang sudah ak...rab sejak lama.

Erna terpukau dengan kalimat yang baru saja didengarnya, mata nya membesar dengan kejutan. "Beneran loe gak marah sama gue!!!? Aku kira kamu bakal benci sama aku sampe tua deh," ucap penasaran Erna sambil duduk di bangku sebelah Yuli.

"Kuping loe tuh yang harus di CottonBud, baru bisa denger jelas apa yang aku bilang!" ucap Yuli kepada Erna dengan sedikit tersenyum, mulai merasa lebih lega setelah melihat wajah khawatir temannya.

"Ya udah mana sini CottonBud nya! Gue ikhlas dah ngebersihin kuping gue sendiri, walaupun gue yakin banget 100% telinga gue bersih dan tidak ada kotoran sama sekali," ucap Erna dengan semangat tinggi, bahkan mulai mencari di dalam tasnya seolah benar-benar akan membersihkan kupingnya.

"Ngacoo loe Er!" teriak Yuli sambil tertawa, kemudian mendekati Erna sampai sampai kedua wajah mereka hampir bersentuhan. Napas hangatnya menyentuh wajah Erna saat dia berkata, "Er gue pengen curhat sama loe, boleh gak?"

"Heem boleh siih Yul no problem! Tapi ngomong-ngomong gue gak pede nih Yul ngomong sama loe sedeket dan seintim ini, gue kuatir malah kita berdua digosipin jeruk makan jeruk sama teman-teman lain," ucap Erna dengan suara pelan, sedikit mundur karena merasa sedikit canggung dengan kedekatan mereka berdua.

"Sialan loe Er!" ucap Yuli sambil menarik wajahnya kembali menjauh dari Erna, wajahnya sedikit memerah. Tiba-tiba dia merasa khawatir dan bertanya, "Mulut gue bau ya Er?" celetuk Yuli dengan suara penuh kekhawatiran.

"Gak siih! Bau wangi malah karena kamu selalu pakai parfum yang enak. Tapi justru gue yang gak pede, takut mulut gue bau petai karena kemarin sore gue makan sambal petai sama ayam bakar," canda Erna lagi kepada Yuli dengan senyum lebar.

"Serius nih Er, loe suka sama Petai? Bikin mulut bau lho kalau terlalu sering makan," tanya Yuli kepada Erna dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu, sudah mulai merasa lebih rileks dengan obrolan mereka berdua.

"Kadang-kadang sih saat liburan sekolah aja, kalau lagi ada acara makan bersama sama keluarga. Kalau sekolah ya jelas gak berani makan, takut teman-teman males ngomong sama gue," ucap Erna dengan suara jujur, menggaruk-garuk kepalanya.

"Pantesan Congor loe Er terkadang bau petai! Hahaha lucu banget kamu tuh Er," canda Yuli sambil tertawa terbahak-bahak, akhirnya merasa lega setelah sekian lama merasa tertekan dengan masalahnya.

"Puas...puaaaas...puaaaas ketawa aja loe Yul selama-lamanya dan sekalian aja gak usah berhenti! Dasar kamu suka banget ngejek aku," ucap sebel Erna dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak suka tapi tetap tersenyum.

Keduanya akhirnya tertawa bareng di tempat duduk mereka, suasana yang tadinya tegang menjadi kembali riang. Mereka emang sudah akrab sebelum masuk SMA Harapan Bangsa—mereka sudah berteman dan akrab saat duduk di bangku sekolah SMP, bahkan pernah menjadi teman satu kelompok belajar.

"Tadi loe bilang mau curhat, curhat tentang apa Yul? Loe kan dari jaman kuda gigit besi gak pernah pacaran alias cewek dingin 4 pintu yang jarang cerita masalah cinta," ucap Erna dengan suara penuh rasa ingin tahu, sudah siap menjadi tempat curhatan bagi temannya yang dia anggap seperti saudara sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!