Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8—Menjual Motor
Langit masih berwarna biru gelap ketika Rahmat menyalakan mesin RX King itu. Subuh baru saja lewat. Sisa embun masih menggantung di pagar-pagar rumah. Udara dingin menusuk tipis di kulit, namun suara dua-tak yang meledak halus justru terasa hangat di telinganya.
Brraaaap.
Asap tipis keluar dari knalpot. Rahmat menunggu beberapa detik, membiarkan mesin mencapai suhu ideal. Tangannya refleks memeriksa getaran stang, suara idle, respons gas.
Normal.
Di sudut pandangnya, layar transparan sistem muncul tipis seperti kaca tak kasat mata.
[Objek: RX King Edisi Lama – Status: Siap Jual]
[Estimasi Penawaran Optimal: Rp15.800.000 – Rp18.000.000]
[Probabilitas Deal > Rp18.000.000: 76%]
Rahmat menarik napas pelan.
Hari ini bukan soal gaya. Bukan soal kebanggaan punya motor legendaris. Ini soal waktu.
Ia melaju menyusuri jalanan pinggiran kota. Lampu-lampu toko masih mati. Warung baru setengah buka. Seorang tukang sayur mendorong gerobak dengan langkah lambat.
Rahmat menambah gas sedikit.
Tujuannya jelas. Pemilik akun @kolektorpremium.id
Nama itu cukup dikenal di forum jual beli barang langka. Tidak banyak yang tahu identitas aslinya. Akunnya jarang aktif. Tapi setiap postingan selalu berisi barang mahal — kamera klasik, jam tangan Swiss edisi terbatas, bahkan mesin ketik era 70-an dalam kondisi nyaris sempurna.
Rahmat pernah bertransaksi sekali. Saat ia menjual jam tangan kuno seharga 18 juta. Transfer masuk dalam hitungan menit, tanpa negosiasi panjang, tanpa banyak drama, pria tua itu seperti mengetahui sebuah nilai sesungguhnya dari barang bahkan tanpa lama-lama
Orangnya dari luar memang aneh, tapi bayarannya tidak pernah aneh.
Beberapa menit kemudian, Rahmat berhenti di depan deretan ruko tua. Cat temboknya mengelupas. Kaca depannya sedikit buram. Papan kayu bertuliskan “Barang Antik & Koleksi” sudah pudar dimakan cuaca.
Ia mematikan mesin.
Suasana sunyi.
Saat pintu dibuka, bel kecil berbunyi nyaring.
Ting.
Aroma kayu tua dan logam memenuhi ruangan. Di dalamnya penuh radio jadul, kamera analog tersusun rapi, mesin tik, gramofon, hingga onderdil motor klasik yang tergantung di dinding.
Seorang pria tua duduk dibalik meja kayu.
Topi fedora abu-abu menutupi sebagian dahinya. Masker hitam menutup setengah wajahnya. Matanya tajam, penuh perhitungan.
“sudah datang rupanya, aku nunggu dari kemarin” katanya pelan.
Rahmat mengangguk. “banyak hal terjadi, mari kita mulai transaksi. Tuan.”
“hehe, aku suka anak muda sepertimu.”
Pria itu berdiri perlahan. Gerakannya tidak tergesa, tapi penuh perhatian. Begitu melihat motor di depan kios, tatapannya berubah.
Bukan sekadar tertarik.
Tapi… serius.
Ia mendekat, mengamati garis bodi. Mengusap tangki. Lalu berjongkok memeriksa blok mesin.
Tangannya mengetuk logam pelan.
Tok. Tok.
“Boleh dinyalakan?”
Rahmat mengangguk.
Mesin kembali meraung, suara dua-tak memenuhi ruangan setengah terbuka itu. Beberapa burung gereja yang bertengger di atap beterbangan.
Pria tua itu tersenyum tipis.
“Mesinnya masih sangat sehat seperti baru.”
Ia memeriksa karburator. Kabel gas. Baut-baut yang masih orisinil.
“Kamu tahu ini bukan RX King sembarangan, kan? Ini bukan hanya edisi petama, tapi mesinnya sangat langka dan terbatas.”
Rahmat diam. Tentu dia tahu.
“Blok mesin asli. Nomor rangka cocok. Jarang ada yang begini. Anak muda sekarang cuma tahu pakai, nggak tahu ngerawat.”
Ia berdiri, menatap Rahmat lebih dalam.
“Dapat dari mana?”
Pertanyaan itu melayang ringan, namun tajam. Penuh pertimbangan.
Rahmat menjawab singkat, “Koleksi lama.”
Pria itu tidak langsung menanggapi. Hanya mengangguk pelan, seolah menerima jawaban tanpa benar-benar mempercayainya.
Hening beberapa detik.
alu ia berkata, “delapan belas juta.”
Tanpa tawar-menawar. Rahmat tidak menunjukkan reaksi. Padahal jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Sistem muncul lagi.
[Penawaran dalam Range Optimal]
[Rekomendasi: Terima]
“Deal,” jawab Rahmat singkat.
Pria itu masuk ke dalam sebentar, kembali dengan ponsel di tangan. Beberapa sentuhan. Sunyi.
Ponsel Rahmat bergetar.
Saldo masuk: Rp18.000.000
Layar sistem menyala.
[Transaksi Sukses]
[Keuntungan Bersih: +Rp14.800.000]
[Saldo Saat Ini: Meningkat Signifikan]
Ia melirik jam di ponselnya
06.48.
Sekolah hampir masuk.
Pria tua itu ikut melihat jam.
“Kamu sekolah, ya?”
Rahmat mengangguk.
Pria itu berpikir sejenak, lalu berkata santai, “Sekalian saja. Saya antar pakai mobil.”
Rahmat mengernyit tipis. Ha apa-apaan tawaran mendadak ini?
“Putri saya satu sekolah denganmu,” lanjutnya. “Lagipula jalurnya searah.”