NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi panjang Aira

Tak lama kemudian, Aira mengerjapkan matanya perlahan. Pandangannya mengelilingi seisi ruangan yang asing dengan orang-orang asing tengah menatapnya.

"Aira, apa kau merasakan sakit?". Tanya Magnitius.

Aira merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak sedikitpun. Matanya menangkap sesosok manusia tampan yang berdiri gagah di hadapannya. "Dia siapa, Magnitius? Dan kebapa aku tidak bisa bergerak?" Tanya Aira kesal.

Magnitius tersenyum, "Aira, ini adalah Tabib Elian, dia yang telah menyelamatkanmu. Dan kamu tidak bisa bergerak karena tubuhmu masih lemah setelah proses penyembuhan."

Aira memandang Tabib Elian, "Terima kasih... atas pertolonganmu. Tapi, bisakah kalian melepaskan ini? Aku pengap"

Tabib Elian mengangguk, "Nona Aira, kamu memiliki energi panas yang sangat tinggi di dalam tubuhmu. Kami harus melakukan proses detoksifikasi untuk menghilangkannya."

"Dan kmu membiarkanku kesusahan bernafas seperti ini?". Gerutu Aira memandang sekeliling, "Dan... di mana aku sekarang?"

"Kamu ada di Selini,Aira. Bertahanlah hanya memerlukan waktu sebentar lagi". Ujar Magnitius.

Aira menghela nafasnya berat. Namun tatapannya terus tertuju pada tabib Elian. "Dia sangat tampan. Dan lihatlah tubuhnya, sangat kekar dan gagah. Suatu saat nanti, aku harus memiliki pasangan setampan tabib Elian".

Menyadari arah tatapan Aira, Magnitius meradang. "Jangan berani memiliki fikiran yang membuatku murka, Aira". Ketusnya.

Aira memandang Magnitius dengan mata yang membesar, "Magnitius, apa yang kamu maksud?"

"apa dia tahu isi fikiranku atau hanya kebetulan?". Bain Aira

"Aira, kamu tidak boleh memiliki fikiran seperti itu. Tabib Elian adalah orang yang telah menyelamatkanmu, jangan berpikir yang lain tentangnya"

 "Mengapa tidak? Dia sangat tampan dan gagah, apa salahnya jika aku memiliki fikiran seperti itu?"

Magnitius memandang Aira dengan tajam "Aira, kamu adalah putri es, dan kamu harus memiliki pasangan yang sepadan denganmu."

Aira memandang Magnitius dengan sedikit marah, "Lantas,kamu yang akan memilih pasangan untukku?"

Magnitius menggertakkan giginya marah. "Tabib Elian, apakah pengobatannya telah selesai".

"Sudah yang Mulia". Jawab Elian

Magnitius mengangguk. "Kalau begitu pergilah! ". Ucapnya dingin

Tabib Elian dibantu tabib Klier melepaskan lilitan pada tubuh Aira. Setelah selesai, semua kain dan tungku Ryker kerahkan pada para maid untuk segera membersihkannya.

Mereka semua pergi keluar dari Selini, meninggalkan Magnitius dan Aira berdua di dalamnya. Aira mencoba turun dari ranjang kekuasaan Magnitius.

Magnitius membalikkan badannya menghadap Aira.

Magnitius memandang Aira dengan mata yang merah, suaranya yang dalam dan dingin, "Aira, kau adalah milikku. Tidak ada satupun yang bisa mencegahnya"

Aira memandang Magnitius dengan marah, "Aku bukan milikmu, Magnitius. Aku adalah milikku sendiri."

Magnitius memandang Aira dengan keras, gigi-giginya yang tajam terlihat, lalu dia mendekati Aira dengan cepat. Aira tidak bisa bergerak, Magnitius membuatnya terpojok pada dinding kamar dan dia terjebak dalam tatapan Magnitius.

Magnitius mendekati Aira, suaranya yang dingin dan dalam, "Kamu tidak bisa melawan, Aira. Kamu akan menjadi milikku, dan tidak ada yang bisa mengubahnya."

 "Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, Magnitius. Jangan berani menyentuhku!"

Magnitius tersenyum, gigi-giginya yang tajam terlihat, "Kamu tidak bisa menghentikanku"

Magnitius memandang Aira dengan mata pemburu, lalu dia mendekati Aira lebih dekat lagi. Aira bisa merasakan napas Magnitius yang dingin di wajahnya.

"Jangan seperti ini Magnitius, menyingkirlah". Ucap Aira sedikit gugup.

Magnitius mengendus leher sebelah kanan Aira, ia menikmati aroma darah segar dan berenergi dari tubuh Aira. "Kau akan menjadi milikki seutuhnya Aira". Bisiknya di telinga Aira

Hembusan angin saat Magnitius berbica membuat Aira bergidik ngeri. Magnitius menjilat ujung kedua taringnya yang siap menerkam leher mulus Aira. Matanya berubah menjadi merah saat berada dalam pelukan Aira. Namun, Saat ujung taringnya menyentuh kulit Aira.

"Magnitius, hentikan!". Pinta Aira.

Magnitius seketika tersadar. Ia lalu mengalihkan gairahnya pada pelukan erat untuk Aira. "Aku hanya mengkhawatirkanmu, Aira".

"Magnitius! Lepaskan aku!". Aira meronta. "Aku harus kembali ke kamarku".

"Tinggallah di Selini untuk malam ini". Ucap Magnitius dingin melepaskan pelukannya.

Magnitius memandang Aira dengan mata yang masih merah, tapi dia melepaskan pelukannya. Aira langsung menjauh dari Magnitius, napasnya yang tidak teratur menunjukkan bahwa dia masih tergugup

"Cih!..aku tak sudi satu kamar dengan vampir gila sepertimu?". Tolak Aira

Magnitius memandang Aira dengan mata yang menyipit, "Baiklah, Aira. Jika kamu ingin pergi, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi aku akan mengutus seseorang untuk mengantar kamu ke kamarmu."

Aira memandang Magnitius dengan skeptis, "Aku tidak butuh pengantar."

Magnitius tersenyum, "Aku tidak bertanya apa yang kamu butuhkan, Aira. Aku hanya memberitahu kamu apa yang akan terjadi."

Aira memandang Magnitius dengan marah, lalu dia berbalik dan pergi meninggalkan Selini. Aira pergi dengan hentakkan kaki yang sengaja ia buat. Sesampainya di kamar, Aira meminta maid yang mengantarnya untuk pergi.

Aira merebahkan tubuhnya pada ranjang kamarnya. Ia menghirup udara dalam-dalam. Pikirannya terbang melayang jauh ke atas sana. Suasana menjdi melankolis seketika.

"Kenapa aku berakhir sendirian?". Lirihnya.

"Ayahanda...ibunda...kakak..."

"Apa yang harus aku lakukan? Bolehkan aku menyerah? Ini sangat menyakitkan".

 Bulir air mata lolos terjatuh dari pelupuk mata indahnya. Ia menangis, membiarkan air matanya mengalir bebas. Dia merasa kesepian dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia merasa seperti tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini.

Nocturna tertegun mendengar isakan tangis Aira yang menyayat hati. Meskipun ia masih tergolong bangsa vampir, tapi ia memiliki secercah jiwa manusia. Tak seperti Magnitius yang benar-benar hanya memiliki jiwa vampir yang kejm dan berambisi.

Aira tak hentinya menangis sampai tertidur, saking lelahnya. Di alam bawah sadar, tubuh Aira di guncang-guncang oleh Ember.

"Aira bangunlah! Aira...".

Aira mengerjapkan matanya. "Kakak...". Gumamnya

"Ayahanda, Ibunda, kak Ember, kak Aviaria, kak Ventus, kak Avium, kak Corvus". Ucap Aira dengan pandangan yang teralih pada setiap anggota keluarganya yang telah lama tak jumpa.

"Kenapa kalian di sini? Kenapa kalian meninggalkanku?". Tanya Aira marah dengan air mata di pipinya.

Raja Skypia mendekati Aira, lalu memeluk putrinya lembut. "Putriku, maafkan aku yang gugur saat memepertahankan tahtaku. Dan aku sangat yakin kalau kamu yang akan memegang tahta selanjutnya".

"Putriku tersayang, Aira. Ibunda telah memberimu ilmu sihir yang terakhir. Apa kamu mengingatnya?". Tanya Ratu Avia.

Aira terdiam sejenak mengingatnya. "Iya ibunda, aku mengingatnya".

"Aira, kau memang luar biasa. Kamu bisa menguasai pusaka yang kakak berikan dalam waktu satu malam". Ucap Ember takjub. "Dan kini, kamu telah menguasai seluruh mantra sihir yang kakak miliki".

"Aira, hari esok adalah hari dimana kamu akan berlatih untuk membuka energi lain yang membuat seluruh mantra sihirku masuk kedalam tubuhmu". Timpal Aviaria.

"Selain langkah seribu bayang yang lebih cepat dari bangsa vampir, pedang es pemenggal jiwa yang Ember berikan, aku akan memberikanmu mantra sihir yang lebih sakti". Sambungnya.

"Aku tahu". Kata Aira

"Kakak pertama: Aviaria - Sihir Burung (dapat mengendalikan dan berubah menjadi berbagai jenis burung, serta memiliki kemampuan untuk terbang dan melihat dari ketinggian)

- Kemampuan khusus: "Penerbangan Burung" (dapat terbang dengan kecepatan tinggi dan melakukan manuver yang lincah)"

"Kakak kedua: Ventus - Sihir Angin (dapat mengendalikan dan memanipulasi angin, serta memiliki kemampuan untuk bergerak dengan cepat)

- Kemampuan khusus: "Badai Angin" (dapat menciptakan badai angin yang kuat dan menghancurkan)"

"Kakak ketiga: Avium - Sihir Langit (dapat mengendalikan dan memanipulasi cuaca, serta memiliki kemampuan untuk melihat ke masa depan)

- Kemampuan khusus: "Ramalan Langit" (dapat melihat ke masa depan dan memprediksi kejadian yang akan datang)"

"Kakak keempat: Corvus - Sihir Kegelapan (dapat mengendalikan dan memanipulasi kegelapan, serta memiliki kemampuan untuk menyembunyikan diri dan bergerak tanpa terdeteksi)

- Kemampuan khusus: "Bayang-Bayang Kegelapan" (dapat menyembunyikan diri dalam kegelapan dan bergerak tanpa terdeteksi)"

"Kakak kelima: Ember - Sihir Es (dapat mengendalikan dan memanipulasi es, serta memiliki kemampuan untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan)

- Kemampuan khusus: "Lambung Es" (dapat menciptakan perisai es yang kuat dan melindungi diri dari serangan)"

Aira menjelaskan semuanya secara rinci. Semuanya kembali terpukau oleh keahlian daya ingat Aira.

"Ayahanda...ibunda... Lihatlah ensiklopedia berjalan ini. Dia sudah besar". Ujar Corvus kakak ke empat.

"ayah yakin, di hari ketujuh nanti kamu akan mendapatkan semua ilmu sihir yang kakak kamu kuasai". Ucap raja Skypia.

"Lalu keahlianku? ". Tanya Aira berubah sendu.

Avium, kakak ketiga Aira tertawa. "Aira...Aira...kenapa kamu sangat polos?. Kamu hanya menerima kutukan. Dan setelah kamu menguasai keahlian kami maka kamu akan mendapatkan keahlianmu setelah kristal darah itu tertanam dalam dirimu".

" Kristal darah? ". Gumam Aira.

"- "Cryokinesis" - Dapat menciptakan dan mengendalikan es dari udara kosong, termasuk membuat struktur es yang kompleks dan menghancurkan es dengan kekuatan yang besar

- "Glacial Shield" - Dapat menciptakan perisai es yang kuat dan tidak dapat dihancurkan, melindungi dirinya dari serangan musuh

- "Frostbite" - Dapat membekukan musuh dengan sentuhan es yang mematikan, membuatnya tidak dapat bergerak

- "Ice Sculpture" - Dapat menciptakan patung es yang hidup dan dapat bergerak, membantu Aira dalam pertempuran

- "Frozen Time" - Dapat membekukan waktu, memungkinkan Aira untuk bergerak dengan kecepatan yang luar biasa dan menghindari serangan musuh."

Ratu Avia menjelaskan seluruh mantra sihir yang akan Aira kuasai. "Gunakan di saat yang tepat, putriku". Pungkasnya.

"Sepertinya tubuhku akan hancur dengan energi kuat dari semua mantra sihir itu". Lirih Aira.

"Bintang kerajaan tidak akan mati". Seru Ventus.

"Ventus!". Teriak Raja Skypia dan Ratu Avia

"Kak Ventus! ". Teriak Ketiga adiknya.

"Aira, kembalilah ke alam nyata, lanjutkan perjuanganmu". Ucap Aviaria dengan tangan mengusap wajah cantik Aira dari kening sampai dagu dengan perlahan.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!