Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Frekuensi yang Sama
Dua hari berlalu tanpa kehadiran Aksa, dan Alea mendapati dirinya terjebak dalam sebuah kontradiksi yang aneh. Ia sesekali melirik ke arah pintu setiap kali lonceng kecil di atas sana berdenting, hanya untuk menemukan pelanggan lain yang masuk. Bukan karena ia merindukan pria itu, tentu saja tidak, ia hanya merasa sedang dalam mode waspada yang akut. Kehadiran Aksa selama ini terasa seperti gangguan sinyal pada siaran televisi yang tenang; statis, berisik, dan membuat gambar damai yang ia bangun susah payah di kepalanya menjadi buram.
Alea berpikir bahwa setelah konfrontasi tajam kemarin, Aksa mungkin sudah bosan. Mungkin pria itu sudah menemukan subjek lain untuk dikuliti harga dirinya. Namun, sore ini, saat hujan gerimis mulai membasahi aspal di depan toko dan aroma tanah basah menyeruak masuk, sinyal itu kembali muncul.
Langkah sepatu kulit yang berat dan mantap. Langkah yang memiliki ritme tersendiri, yang seolah mampu membungkam kebisingan suara kendaraan di luar.
Aksa Pratama masuk dengan mantel parit berwarna pasir yang masih sedikit lembap di bagian bahu. Ia tidak langsung menuju rak buku sejarah seperti biasanya. Pria itu berdiri sejenak di depan pintu, memejamkan mata, dan menghirup aroma kopi serta kertas lama yang memenuhi Litera & Latte. Ia tampak sejenak melepaskan topeng pengusaha kerasnya, seolah-olah tempat ini adalah satu-satunya tabung oksigen di tengah kota Jakarta yang menyesakkan.
“Kamu tidak sedang berjongkok di lantai hari ini,” sapa Aksa sambil berjalan mendekati meja kasir.
Suaranya rendah, namun memiliki bariton yang sanggup memenuhi ruangan yang sunyi.
Alea mengangkat wajahnya dari tumpukan slip pesanan buku. Ia merapikan sedikit helaian rambut yang jatuh ke dahinya, mencoba memasang ekspresi paling profesional yang ia miliki.
”Rak hobi sudah rapi, Aksa. Lagipula, tugasku bukan hanya menata buku. Aku punya banyak laporan inventaris yang harus diselesaikan di sini.”
Aksa berhenti tepat di depan meja konter, hanya terpisahkan oleh pembatas kayu yang sudah mulai memudar warnanya. Ia tidak membawa buku untuk ditanyakan, juga tidak membawa kritik pedas di ujung lidahnya kali ini. Pria itu justru diam, memperhatikan deretan pulpen bermerek dan buku catatan eksklusif yang dipajang di dalam kaca etalase. Matanya menelusuri benda-benda itu dengan ketelitian yang sama seperti saat ia memeriksa laporan keuangan.
“Berikan aku satu buku catatan itu. Yang sampul kulit hitam,” ucap Aksa sambil menunjuk dengan jari telunjuknya yang kokoh.
Alea sedikit mengernyit. Ia mengambil kunci kecil di bawah meja, membungkuk untuk membuka etalase kaca tersebut. “Ini isinya kertas polos, Aksa. Tanpa garis sama sekali. Kamu yakin? Biasanya orang yang bekerja di bidangmu, angka, data, dan keteraturan—lebih suka yang bergaris agar semuanya tetap pada jalurnya.”
“Aku tahu apa yang aku beli,” sahut Aksa datar, matanya menatap mata Alea dengan intensitas yang seolah bisa menembus kulit.
“Kertas polos memberikan ruang untuk kekacauan yang terukur. Garis hanya membatasi pikiran, dan aku sedang tidak ingin dibatasi oleh apa pun hari ini. Terlalu banyak garis di luar sana yang harus aku ikuti.”
Alea tidak membantah lagi. Ia mengeluarkan buku catatan berat itu, meletakkannya di atas meja konter, lalu mulai membungkusnya dengan kertas cokelat khas toko. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati, melipat setiap sudut dengan presisi, seolah-olah ia sedang menangani sesuatu yang sangat rapuh.
Keheningan segera menyergap di antara mereka. Namun, anehnya, keheningan kali ini tidak terasa tajam atau intimidatif seperti kemarin. Ada jeda yang netral, sebuah ruang kosong di mana tidak ada metafora kasar tentang harga diri yang dilemparkan. Hanya ada suara gesekan kertas cokelat dan deru pelan mesin espresso di kejauhan.
Aksa memperhatikan tangan Alea yang bergerak dengan tenang. Ia menyadari sesuatu; tangan itu tidak lagi gemetar seperti pertemuan-pertemuan awal mereka.
“Toko ini selalu sesunyi ini saat jam segini?” tanya Aksa.
“Tergantung cuaca,” jawab Alea pelan tanpa menoleh dari kegiatannya. “Kalau hujan, orang lebih suka berteduh di sini daripada terjebak macet. Tapi biasanya mereka hanya menumpang duduk di pojokan, pura-pura membaca tanpa benar-benar berniat membeli apa-apa.”
“Dan kamu membiarkannya?” tanya Aksa kembali, kali ini nada suaranya terdengar sedikit lebih lunak, hampir seperti sebuah rasa ingin tahu yang murni.
“Selama mereka tidak merusak buku atau mengganggu kenyamanan, aku tidak punya alasan untuk mengusir mereka. Kadang orang hanya butuh tempat untuk diam sebentar tanpa harus merasa terbebani untuk membayar sebuah kursi.”
Aksa terdiam. Ia memandangi sudut-sudut toko buku yang remang dengan cahaya lampu kuning yang hangat. Kursi kayu di pojok dekat rak sastra klasik tampak mengundang di bawah bayangan lampu gantung. Ada rasa tenang yang ganjal merayap di pundaknya, sebuah perasaan yang jarang ia temukan di ruang rapat yang berdinding kaca atau di apartemennya yang terlalu rapi, terlalu sunyi, dan terlalu sepi.
“Tempat ini menenangkan,” ujar Aksa.
Itu adalah kalimat paling manusiawi, paling tanpa filter yang pernah Alea dengar dari mulut pria itu. Tidak ada sarkasme, tidak ada analisis dingin. Hanya pengakuan jujur dari seorang pria yang mungkin juga sedang merasa lelah dengan perannya di luar sana.
Alea berhenti sejenak dari kegiatannya merapikan pita bungkusan. Ia menatap Aksa, lalu menyerahkan buku catatan itu. “Kebanyakan orang memang menganggap toko buku sebagai tempat persembunyian, bukan sekadar tempat belanja. Mungkin itu sebabnya kamu terus kembali ke sini, meski kamu selalu bilang aku menyedihkan.”
Aksa menerima bungkusan itu. Jemarinya bersentuhan dengan jemari Alea saat transaksi berlangsung. Kali ini, Alea tidak menarik tangannya dengan sentakan kaget. Ia membiarkan kontak singkat itu terjadi secara alami, merasakan panas tubuh Aksa yang kontras dengan udara dingin di dalam toko.
“Seratus lima puluh ribu,” ucap Alea.
Aksa membayar dengan uang tunai, sebuah lembaran biru yang rapi. Ia membiarkan uang kembaliannya tetap berada di atas meja sejenak, menatap tumpukan koin itu seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu, sebelum akhirnya mengambilnya perlahan.
“Aku akan memakainya untuk mencatat hal-hal yang tidak penting,” ucap Aksa sambil mengangkat sedikit bungkusan itu ke arah Alea.
Alea menatapnya datar, mencoba menahan diri untuk tidak terpengaruh oleh tatapan tajam pria itu.
“Membeli barang semahal itu hanya untuk hal yang tidak penting? Itu terdengar sangat boros bagi seseorang yang sangat menghargai investasi.”
“Kadang, hal yang paling tidak penting adalah hal yang paling jujur, Alea. Karena kamu tidak perlu berpura-pura saat melakukannya,” sahut Aksa. Ia menatap Alea sekali lagi, seolah memastikan bahwa wanita di depannya ini masih berdiri tegak, lalu ia berbalik.
Alea memperhatikan punggung Aksa yang menjauh menuju pintu. Pria itu tidak terburu-buru seperti hari-hari sebelumnya. Ia berjalan santai, berhenti sejenak untuk sekadar menyentuh punggung buku di rak depan dengan ujung jarinya, lalu menghilang di balik pintu yang berdenting pelan.
Alea menghela napas panjang, dan tanpa ia sadari, bahunya terasa sedikit lebih ringan. Baginya, Aksa kini bukan lagi ancaman yang harus ia hindari dengan napas tertahan. Pria itu mulai bergeser menjadi sebuah frekuensi yang mulai ia kenali, frekuensi yang keras namun stabil. Seseorang yang datang bukan hanya untuk barang, tapi mungkin untuk sedikit keheningan yang ia tawarkan di balik meja kasir ini.
Selama Aksa hanya menjadi pelanggan yang diam, Alea merasa ia bisa mengatasinya. Ia mulai terbiasa berada dalam frekuensi yang sama, tanpa tahu bahwa Aksa baru saja mulai membuka lembaran pertama dalam buku catatan polosnya, dan nama pertama yang tertulis di sana adalah namanya.