Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian di balik kanvas
Pagi itu, suasana di kediaman Ardiansyah terasa sedikit lebih tegang dari biasanya. Meskipun makan malam romantis semalam memberikan ketenangan bagi Gia, kehadiran Nyonya Besar di ruang makan selalu memiliki cara untuk membawa kembali realitas yang kaku. Gia duduk di hadapan mertuanya, sementara Ares berada di sampingnya, sedang menyesap kopi hitam tanpa gula.
Nyonya Besar meletakkan cangkir porselennya dengan denting halus yang memecah kesunyian. Matanya yang tajam menatap Gia, seolah sedang memindai setiap inci perubahan pada menantunya itu.
"Mama dengar dari Profesor Handoko, kamu cukup menonjol di hari pertama, Gia. Itu bagus untuk nama keluarga kita. Namun ingat, universitas bukan hanya tempat untuk pamer bakat, tapi juga tempat di mana integritasmu diuji"
"Iya, Ma. Saya akan selalu menjaga sikap" Jawab Gia sedikit menunduk.
"Bagus" Lanjut Nyonya Besar.
"Karena hari ini, Mama ingin kamu membuktikan sesuatu. Mama sudah mengatur agar salah satu kolega bisnis Papa, seorang kolektor seni ternama, datang ke pameran kecil kampusmu bulan depan. Kamu harus memastikan bahwa karyamu adalah yang terbaik di sana. Jangan biarkan investasi Ares pada pendidikanmu berakhir sia-sia"
Ares sedikit mengernyit, tangannya bergerak di bawah meja untuk menggenggam jemari Gia yang mulai dingin.
"Ma, ini baru minggu pertama Gia kuliah. Jangan terlalu menekan dia"
"Tekanan adalah apa yang membentuk berlian, Ares" Balas Nyonya Besar dingin sebelum bangkit dan meninggalkan ruangan.
Perasaan tertekan itu terbawa hingga Gia sampai di kampus. Namun, ujian sesungguhnya bukan datang dari Nyonya Besar, melainkan dari kurikulum fakultas seni itu sendiri. Di jam pertama, Profesor Handoko mengumumkan bahwa proyek besar bulan ini adalah Proyek Kolaborasi.
"Seni memang ekspresi pribadi, tapi di dunia profesional, kalian harus bisa berinteraksi" Tegas sang Profesor.
"Saya sudah membagi kalian ke dalam kelompok-kelompok kecil. Masing-masing kelompok terdiri dari dua orang, dan kalian harus menghasilkan satu karya besar yang memadukan dua teknik berbeda."
Jantung Gia berdegup kencang saat namanya dipanggil.
"Gia Ardiansyah, kamu akan berpasangan dengan, Satria."
Seketika, ruangan itu dipenuhi bisikan. Satria, mahasiswa tingkat akhir yang sempat ditepis oleh Gia kemarin, kini berdiri dan berjalan menuju meja Gia dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Ia adalah salah satu mahasiswa paling berbakat, namun juga dikenal memiliki reputasi sebagai pria yang cukup gigih mendekati wanita.
"Sepertinya kita harus bekerja sama, Gia" Ucap Satria sambil menarik kursi di sampingnya.
"Jangan khawatir, aku profesional seni" Lanjut Satria.
Gia teringat pesan Ares semalam. Jangan terlalu ramah pada pria lain. Ia merasa terjepit di antara kewajiban akademis dan janji pada suaminya.
"Baik, Satria. Mari kita bahas konsepnya secepat mungkin agar kita bisa mengerjakannya di studio secara efisien."
Sepanjang siang itu, Gia dan Satria terpaksa menghabiskan waktu berjam-jam di sudut studio. Mereka mulai berdiskusi tentang komposisi warna. Satria, meskipun terlihat santai, ternyata memiliki pemikiran seni yang sangat mendalam, yang terkadang membuat Gia tanpa sadar terbawa dalam diskusi yang seru.
Namun, tanpa sepengetahuan Gia, di luar gedung studio, sebuah mobil hitam sudah terparkir sejak lima menit yang lalu. Ares, yang sengaja datang lebih awal untuk memberi kejutan karena rapatnya selesai lebih cepat, sedang berdiri di balik pilar besar, tidak jauh dari jendela studio yang terbuka.
Rahang Ares mengeras saat ia melihat melalui kaca studio: Gia sedang duduk berdekatan dengan Satria, keduanya sedang menunduk di atas selembar kertas sketsa besar. Dari sudut pandang Ares, wajah mereka terlihat terlalu dekat. Ia melihat Gia sesekali tersenyum, senyum tulus yang biasanya hanya ditujukan padanya, saat mendengarkan penjelasan Satria tentang teknik chiaroscuro.
Ares tidak langsung masuk dan mengamuk. Ia adalah pria yang terdidik untuk mengendalikan emosinya di depan publik. Namun, rasa posesif yang membakar di dadanya membuat setiap napas yang ia hirup terasa panas. Ia mengeluarkan ponselnya, mengetik pesan singkat dengan jemari yang menegang.
“Mas sudah di depan studio. Keluar sekarang!”
Gia yang sedang memegang pensil sketsa merasakan ponselnya bergetar. Begitu membaca pesan itu, wajahnya seketika pucat. Ia segera merapikan barang-barangnya.
"Maaf, Satria. Sepertinya kita lanjut besok. Suami saya sudah menjemput" Ucap Gia dengan nada terburu-buru.
"Eh? Tapi kita belum selesai menentukan palet warnanya, Gia" Protes Satria, mencoba menahan lengan baju Gia sejenak untuk menunjuk sebuah garis di kertas.
Tepat saat itu, langkah kaki yang berat dan mantap menggema di lantai kayu studio. Semua mahasiswa menoleh, termasuk Gia. Ares melangkah masuk dengan aura yang begitu mendominasi hingga ruangan yang tadinya bising menjadi sunyi senyap. Ia tidak memakai jasnya, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, namun kharismanya tetap mengintimidasi siapa pun.
Ares berhenti tepat di samping meja Gia. Matanya menatap Satria dengan tatapan yang seolah bisa menembus dinding beton.
"Waktu belajarnya sudah habis" Ucap Ares dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Satria berdeham, mencoba tetap tenang di bawah tekanan mental sang CEO.
"Maaf, Pak. Kami sedang mengerjakan proyek kelompok yang wajib dari Profesor"
Ares tidak membalas ucapan Satria. Ia justru beralih pada Gia, mengambil tas istrinya dan menyandarkannya di bahunya sendiri.
"Ayo pulang. Mas tidak suka menunggu lama, apalagi melihatmu bekerja terlalu keras di bawah bimbingan yang...." Ares melirik ke arah Satria dengan tatapan meremehkan.
"Tidak perlu" Lanjut Ares dengan lirikannya.
Ares merangkul pinggang Gia dengan sangat protektif, seolah sedang menegaskan pada seluruh penghuni studio bahwa wanita ini adalah wilayah terlarangnya. Ia membawa Gia keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Satria dan mahasiswa lainnya yang hanya bisa terpaku dalam diam.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat dingin. Ares tidak bicara sepatah kata pun. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan wajah yang kaku. Gia tahu suaminya sedang menahan amarah, atau mungkin lebih tepatnya, menahan rasa cemburu yang besar.
"Mas... itu tadi tugas kelompok dari Profesor Handoko. Gia tidak bisa memilih pasangan sendiri" Gia mencoba menjelaskan dengan suara lembut, tangannya memberanikan diri menyentuh lengan Ares.
Ares tetap diam selama beberapa detik sebelum akhirnya ia mengarahkan mobil ke pinggir jalan dan berhenti di bawah pohon yang sepi. Ia menoleh ke arah Gia, matanya memancarkan kegelisahan yang ia sembunyikan sejak tadi pagi.
"Mas tahu itu tugas, Gia. Mas tahu kamu tidak bermaksud apa-apa" Suara Ares terdengar serak.
"Tapi melihat pria itu menatapmu, melihat dia mencoba menyentuh lengan bajumu, Mas merasa seolah-olah ada yang mencoba mencuri bagian dari hidup Mas. Mas tidak ingin menjadi penjara bagimu, tapi Mas juga tidak bisa berbohong kalau Mas benci berbagi waktumu dengan pria lain"
Gia tertegun. Ia melihat sisi rentan dari seorang Ares Ardiansyah. Pria ini begitu kuat di dunia bisnis, namun di hadapannya, Ares hanyalah seorang suami yang takut kehilangan perhatian istrinya.
"Mas Ares," Gia meraih kedua tangan Ares dan mencium punggung tangannya.
"Tidak ada yang bisa mencuri Gia dari Mas. Satria hanya teman satu kelompok, dan pembicaraan kami murni soal seni. Di mata Gia, hanya ada satu pria yang berhak memiliki perhatian Gia sepenuhnya, dan itu Mas"
Ares menghela napas panjang, ia menarik Gia ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di leher istrinya, menghirup aroma vanila yang menenangkan.
"Maafkan Mas. Mas akan mencoba lebih bersabar. Tapi tolong, jangan pernah berikan senyum itu pada pria lain lagi. Mas tidak sanggup melihatnya"
Gia tersenyum di dalam pelukan Ares. Ia menyadari bahwa kuliah ini memang akan menjadi ujian bukan hanya bagi bakat lukisnya, tapi juga bagi kedewasaan hubungan mereka. Namun, selama mereka bisa saling terbuka seperti ini, Gia yakin badai cemburu Ares akan selalu bisa diredam oleh rasa sayangnya.
"Sekarang, mari kita pulang" Bisik Ares, mengecup puncak kepala Gia.
"Dan Mas akan memastikan Mama tidak mengganggumu dengan tuntutan pameran itu malam ini. Mas ingin kamu fokus pada dirimu sendiri"
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus