NovelToon NovelToon
GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

GANTI MEMPELAI : MAHKOTA PELINDUNG TUAN ARDIANSYAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cintamanis
Popularitas:211.2k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.

Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.

Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.

Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.

"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"

Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kanvas rahasia dan debar yang tertahan

​Sinar rembulan menembus celah gorden kamar utama, memantul di atas lantai marmer yang dingin. Di dalam kemewahan itu, Gia terbangun di tengah malam. Ia menoleh ke samping, mendapati Ares tertidur lelap dengan napas yang teratur. Wajah suaminya tampak begitu damai saat tidur, keangkuhan dan garis tegas yang biasa menghiasi wajah sang CEO kini melunak, menyisakan sosok pria yang selama ini menjadi pelindung tunggal bagi Gia.

​Gia beranjak perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia melangkah menuju ruang kerja kecil yang berada di sudut kamarnya, tempat ia menyimpan peralatan lukis cadangan. Ada sebuah proyek yang tidak ia kerjakan di kampus, sebuah proyek yang tidak melibatkan Satria atau profesor mana pun. Ini adalah proyek hati.

​Di atas kanvas berukuran sedang yang masih tertutup kain beludru, Gia mulai menyapukan warna. Ia tidak menggunakan kuas besar, melainkan pisau palet kecil untuk menciptakan tekstur yang kuat. Warna yang ia pilih adalah perpaduan antara biru tua sedalam samudera dan semburat perak yang tajam. Ini adalah representasi Ares di matanya, dingin dan sulit ditembus di luar, namun memiliki kilau yang sangat berharga di dalamnya.

​Setiap goresan yang ia buat dilakukan dengan penuh perasaan. Gia sesekali tersenyum teringat bagaimana Ares mengeringkan rambutnya, atau bagaimana tangan kokoh itu menggenggamnya di depan banyak orang di kampus. Baginya, lukisan ini adalah caranya berkata terima kasih tanpa perlu suara. Ia ingin memberikan hadiah ini saat pameran kampus nanti, sebagai kejutan untuk suaminya.

​Keesokan harinya di kampus, suasana berubah menjadi lebih berat. Proyek kolaborasi dengan Satria memasuki tahap pengerjaan fisik di studio. Satria tampak lebih pendiam sejak kejadian penjemputan oleh Ares kemarin. Ia tidak lagi banyak menggoda, namun tatapannya tetap sering mencuri pandang ke arah Gia saat gadis itu sedang fokus mencampur warna.

​"Gia, bagian tengah ini menurutku lebih baik kita beri aksen merah menyala" Usul Satria sambil berdiri cukup dekat di samping Gia.

"Ini melambangkan gairah yang terpendam"

​Gia sedikit bergeser, menciptakan jarak aman yang sopan.

"Saya rasa biru tua lebih cocok, Satria. Itu melambangkan ketenangan dan otoritas. Merah terlalu kontras dengan konsep awal kita"

​Satria meletakkan kuasnya, menatap Gia dengan intensitas yang berbeda.

"Kamu selalu memilih warna-warna yang aman. Apa karena pengaruh suamimu? Sepertinya dia pria yang sangat mengatur hidupmu"

​Gia menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah Satria dengan tatapan yang tenang namun tegas.

"Suami saya tidak mengatur seni saya, Satria. Dia mendukung saya. Dan warna biru ini adalah pilihan estetika saya sendiri, bukan karena pengaruh siapa pun"

​"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung" Satria mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah.

"Hanya saja, aku merasa kamu punya potensi ledakan yang lebih besar jika kamu tidak terlalu terkekang"

​Kalimat Satria meninggalkan rasa tidak nyaman di hati Gia. Ia tahu Satria sedang mencoba memprovokasi pikirannya, namun ia memilih untuk tetap profesional. Mereka terus bekerja dalam keheningan yang canggung selama beberapa jam.

​Sore harinya, saat jam menunjukkan pukul empat, Gia tidak langsung keluar. Ia masih harus merapikan sisa cat pada proyek kelompoknya. Ia tidak menyadari bahwa Ares sudah sampai di lobi. Namun kali ini, Ares tidak langsung masuk. Ia berdiri di balik pintu kaca studio, mengamati dari kejauhan.

​Ares melihat Satria yang sedang membantu Gia mengangkat kanvas besar ke rak pengering. Tangan Satria sempat menyentuh jari Gia saat mereka memegang bingkai kayu tersebut. Ares merasakan rahangnya mengeras, namun ia mengingat janjinya semalam untuk lebih bersabar dan memberikan kepercayaan pada Gia.

​Ia menarik napas panjang, menenangkan gejolak di dadanya, lalu melangkah masuk dengan senyum tipis yang ia paksakan.

​"Sudah selesai, Gia?" suara Ares memecah suasana di studio.

​Gia menoleh dan matanya seketika berbinar. Ketegangan yang tadi ia rasakan saat bersama Satria langsung menguap begitu melihat sosok suaminya.

"Mas Ares! Sebentar lagi, tinggal merapikan kuas"

​Ares berjalan mendekat, ia melirik ke arah Satria dengan tatapan dingin yang singkat hanya sebagai peringatan formal lalu kembali fokus pada istrinya. Ia mengambil selembar tisu basah dari tasnya dan meraih tangan Gia yang terkena noda cat merah.

​"Ada noda di sini" Ucap Ares lembut, membersihkan jemari Gia dengan sangat telaten di depan mata Satria. Tindakan ini sangat sederhana, namun sangat posesif secara simbolis. Ia seolah ingin menghapus jejak apa pun dari pria lain di tangan istrinya.

​Satria hanya bisa menelan ludah dan segera berpamitan.

"Aku duluan, Gia. Pak Aresta"

​Begitu Satria pergi, Ares menarik napas lega. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Gia dan menariknya ke dalam pelukan singkat.

"Proyek ini kapan selesainya? Mas mulai tidak suka melihatmu menghabiskan waktu terlalu lama dengan pria itu!"

​Gia tertawa kecil sambil menyandarkan kepalanya di dada Ares.

"Hanya tinggal tiga hari lagi, Mas. Sabar ya. Oh iya Mas, nanti malam saya ada kejutan untuk Mas di rumah"

​"Kejutan?" Alis Ares terangkat.

"Apa itu?"

​"Rahasia. Mas harus menunggu sampai kita sampai di kamar" Goda Gia.

​Di dalam perjalanan pulang, Ares terus menebak-nebak kejutan apa yang disiapkan Gia. Rasa cemburunya tadi perlahan berganti dengan rasa penasaran yang manis. Sementara itu, Gia merasa sangat lega. Ia menyadari bahwa meski tantangan di kampus seperti Satria akan selalu ada, kejujuran dan perhatian Ares adalah tempat perlindungan yang paling nyaman baginya.

​Sesampainya di mansion, Gia langsung menarik Ares menuju ruang kerja kecilnya. Ia membuka kain beludru hitam yang menutupi kanvas rahasianya.

​Ares tertegun. Ia menatap lukisan abstrak dengan tekstur perak dan biru tua itu. Di pojok bawah, ada tulisan kecil.

“Untuk Pelindungku”

​Ruangan itu mendadak sunyi. Ares tidak mampu berkata-kata. Ia menyentuh permukaan lukisan yang masih sedikit basah itu, lalu beralih menatap Gia dengan tatapan yang penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan. Tidak ada kata cinta yang terucap malam itu, namun di bawah temaram lampu ruangan, Ares menarik Gia ke dalam pelukannya, sebuah pelukan yang jauh lebih dalam dan erat dari biasanya.

​"Ini adalah hal terindah yang pernah Mas terima" Bisik Ares di telinga Gia.

1
Herman Lim
akhir nya sweet happy ending
Esther
lho....sudah tamat saja.
semoga ada bonchap nya.

selamat Gia dan Ares
nesha
dah tamat ea thor 🤭 akhir yang bahagia ares n gia
MamDeyh
Wiiiih udah tamat aja gk kerasa..
MamDeyh: Gasssskeuuun kak /Determined/
total 2 replies
olyv
bonchap donk thor
Hanima
Rasa nya di padat kan ya.. tau2 dah habis saja padahal masih di tunggu 🤭🙏🙏
santi.santi: iya soalnya lebaran otor pasti sibuk banget, ganti yang baru duku yaaaa🙏
total 1 replies
vitrienoor99
ya kok tamat sie kak, ditunggu ektra chapter nya
aisyah
lah kok ntek😌
Sry C'cipit Tea
nunggu ekstra part nya kak
Ceu Markonah: ok kk
total 3 replies
I Love you,
🥰🥰🥰🥰🥰🙏orang yang baik dan tidak tau dendam🙏🙏🙏🥰🥰
Nar Sih
pertemuan yg bikin haru ,antara ayah dan ank,maaf kan segala slh ayah mu gia ,biar hti tenang walau msih ada rsa sakit hati
nesha
👍🏻👍🏻
Cahaya
lanjut
Maharani Rani
lanjuttt😭😭😭
imel
songong 🤣🤣
imel
harga siapa otooor🤣🤣🤣
Hanima
Lanjut Aresss
Nar Sih
papa mu sdh menyesal gia dgn apa yg terjdi temui papa mu bljar memaaf kan biar hti mu tenang
Cahaya
lanjut
Cahaya
manja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!