Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.
Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.
Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:
Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.
Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hari forum akhirnya tiba.
Gedung pusat komunitas yang biasanya dipakai untuk pameran kecil dan acara kota kini dipenuhi orang dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa, pekerja, jurnalis independen, bahkan beberapa pejabat kota yang biasanya menjaga jarak dari keramaian seperti ini.
Ruangan itu tidak terasa seperti ruang diskusi biasa.
Ia terasa seperti ruang penghakiman.
Lyra berdiri di belakang panggung kecil yang disiapkan sederhana tanpa dekorasi berlebihan. Tidak ada lambang besar. Tidak ada simbol kekuasaan.
Hanya meja panjang dan mikrofon.
Damian berdiri di sampingnya, mengenakan pakaian yang lebih sederhana dari biasanya. Bukan seragam taktis. Bukan jas resmi.
Hanya kemeja gelap dan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
“Kau gugup?” Lyra bertanya pelan sambil memperhatikan orang-orang yang terus masuk ke ruangan.
Damian menghembuskan napas panjang sebelum menjawab.
“Gugup bukan kata yang biasa kupakai,” katanya jujur. “Tapi ya, ada tekanan yang berbeda hari ini.”
Lyra tersenyum tipis.
“Aku lebih takut pada ruangan penuh pertanyaan daripada ruangan penuh senjata,” katanya pelan. “Setidaknya senjata jelas niatnya.”
Damian menoleh padanya, sudut bibirnya terangkat sedikit.
“Pertanyaan bisa lebih tajam daripada peluru,” jawabnya pelan.
Di sisi lain ruangan, Arsen masuk bersama beberapa rekannya. Wajahnya tidak terlihat agresif, tetapi juga tidak sepenuhnya santai.
Ia melihat ke arah panggung, lalu menatap Damian cukup lama sebelum akhirnya duduk di barisan tengah, bukan di depan, bukan di belakang.
Simbolik.
Kael berdiri di dekat pintu masuk, bukan untuk mengintimidasi, tetapi untuk memastikan semuanya aman. Lucian duduk di sisi ruangan dengan tablet di tangannya, memantau percakapan digital yang berlangsung secara langsung.
Ketika jam menunjukkan waktu yang telah ditentukan, Damian melangkah ke depan mikrofon.
Ruangan perlahan hening.
Ia tidak langsung berbicara. Ia menatap orang-orang di hadapannya sejenak, seolah benar-benar ingin melihat wajah mereka, bukan sekadar kerumunan.
“Kita tidak berkumpul di sini karena semuanya berjalan baik-baik saja,” katanya akhirnya dengan suara yang jelas namun tidak meninggi. “Kita berkumpul karena ada ketidakpercayaan, ada pertanyaan, dan ada kekhawatiran yang tidak bisa lagi diselesaikan dari balik layar.”
Suara kursi bergeser terdengar di beberapa sudut ruangan.
Damian melanjutkan.
“Aku tidak berdiri di sini untuk mengatakan bahwa sistem yang kita bangun sempurna. Ia tidak sempurna. Ia dibuat oleh manusia, dan manusia membuat kesalahan. Tapi daripada membiarkan ketidakpuasan tumbuh dalam bayangan, kita memilih membawanya ke ruang terbuka.”
Seorang pria di barisan depan mengangkat tangan tanpa menunggu giliran.
“Dan apa jaminannya ini bukan hanya pertunjukan?” tanyanya dengan suara lantang. “Kami sudah melihat banyak forum seperti ini yang berakhir tanpa perubahan nyata.”
Damian tidak terlihat tersinggung.
“Tidak ada jaminan yang bisa saya berikan hari ini,” jawabnya tenang. “Kepercayaan tidak lahir dari janji. Ia lahir dari konsistensi. Dan konsistensi hanya bisa diuji oleh waktu.”
Suara bisik-bisik terdengar di belakang.
Lyra melangkah maju sedikit, mengambil mikrofon kedua.
“Kami tidak meminta Anda percaya begitu saja,” katanya dengan nada yang lebih hangat. “Kami meminta Anda menguji kami. Tanyakan hal yang paling mengganggu pikiran Anda. Kritik keputusan kami. Tapi lakukan itu di sini, dengan wajah dan suara, bukan dengan ledakan di sistem publik.”
Kalimat terakhir itu membuat ruangan sedikit tegang.
Arsen akhirnya berdiri.
Ia tidak langsung berbicara. Ia memandang sekeliling, memastikan suaranya tidak hanya terdengar sebagai perwakilan kelompoknya, tetapi sebagai individu.
“Kalau begitu saya akan mulai dengan pertanyaan sederhana,” katanya pelan namun jelas. “Siapa yang menentukan batas antara tindakan yang dianggap kritik sah dan tindakan yang dianggap ancaman?”
Ruangan kembali sunyi.
Damian menjawab tanpa menghindar.
“Kami menentukan berdasarkan dampaknya terhadap keselamatan publik,” katanya. “Bukan berdasarkan apakah kritik itu menyakitkan atau tidak nyaman bagi kami.”
Arsen mengangguk pelan.
“Dan siapa yang mengawasi kalian saat kalian menentukan itu?” tanyanya lagi, kali ini lebih dalam.
Beberapa orang mulai mengangguk setuju.
Lyra menjawab sebelum Damian sempat berbicara.
“Itulah alasan forum ini ada,” katanya dengan nada serius. “Kami ingin membentuk dewan pengawas independen yang tidak berada di bawah struktur langsung kami. Anggotanya akan dipilih secara terbuka.”
Kata-kata itu langsung memicu reaksi.
“Apa itu benar-benar independen?” seseorang berseru dari belakang.
Lucian memperhatikan percakapan digital yang mulai memanas.
Damian mengangkat tangan sedikit, meminta ketenangan tanpa memaksa.
“Independen bukan berarti tanpa hubungan,” katanya pelan namun kuat. “Tapi berarti memiliki wewenang untuk mengkritik dan bahkan menghentikan keputusan kami jika terbukti melanggar batas yang disepakati bersama.”
Arsen terdiam beberapa detik.
Ia tidak terlihat puas, tetapi juga tidak bisa langsung menyerang jawaban itu.
“Dan kalau suatu hari keputusan darurat harus dibuat tanpa waktu untuk konsultasi?” tanyanya lagi.
Damian menatapnya langsung.
“Maka keputusan itu akan tetap diambil,” katanya jujur. “Tapi setelahnya akan ada audit terbuka. Tidak ada keputusan yang kebal dari evaluasi.”
Kejujuran itu membuat ruangan hening lebih lama dari sebelumnya.
Bukan karena semua setuju.
Tapi karena jawaban itu tidak mencoba menyenangkan semua orang.
Di sudut ruangan, pria yang sebelumnya berbicara dengan Arsen berdiri diam, memperhatikan reaksi massa dengan mata yang tidak menunjukkan emosi.
Ia tidak bertepuk tangan.
Ia tidak mengangguk.
Ia hanya mengamati.
Forum itu berlanjut selama hampir dua jam.
Ada pertanyaan tajam.
Ada tuduhan emosional.
Ada juga pengakuan bahwa beberapa keputusan tim memang telah mencegah bencana yang lebih besar.
Ketika acara hampir selesai, Arsen kembali mengambil mikrofon.
“Saya tidak bisa mengatakan bahwa semua kekhawatiran kami hilang,” katanya jujur. “Tapi untuk pertama kalinya, saya merasa tidak sedang berbicara dengan dinding.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti kemenangan.
Tapi juga bukan kekalahan.
Lyra menatap Damian sekilas.
Ia bisa melihat kelelahan di wajahnya.
Bukan kelelahan fisik.
Tapi kelelahan seseorang yang baru saja membuka dirinya pada kemungkinan dinilai dan disalahkan secara terbuka.
Ketika ruangan mulai kosong dan suara langkah kaki memudar, Lyra mendekat kepadanya.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.
Damian menghembuskan napas panjang yang terasa seperti ia menahannya sejak awal acara.
“Aku tidak tahu apakah kita baru saja memperkuat kepercayaan,” katanya jujur, “atau hanya menunda konflik yang lebih besar.”
Lyra berdiri di depannya, menatapnya dengan tatapan yang tidak ragu.
“Kita mungkin tidak menyelesaikan semuanya hari ini,” katanya pelan. “Tapi kita menunjukkan bahwa kita tidak takut pada cahaya.”
Damian terdiam.
Di kejauhan, pria misterius itu berjalan keluar gedung sambil mengetik sesuatu di perangkat kecil di tangannya.
Sebuah pesan terkirim.
“Langkah pertama berhasil. Mereka membuka pintu.”
Dan di sinilah ketegangan sebenarnya baru mulai.
---
seperti seru nih...