Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan Putri Mulai Terbuka
Mereka berhenti menjelang subuh.
Langit masih gelap kebiruan, udara dingin menusuk kulit. Rahman memilih tempat di pinggir kebun yang jarang dilewati orang. Ada bangunan kecil bekas gudang pupuk yang sudah lama tidak dipakai. Pintu kayunya miring, tapi masih bisa ditutup dari dalam.Putri masuk terakhir. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru semakin sadar.Aroel duduk di lantai semen, punggungnya bersandar ke dinding. Rahman berdiri dekat pintu, mengintip lewat celah kayu.
“Motor mereka nggak kedengaran lagi,” kata Rahman pelan.
Aroel mengangguk. “Mereka pasti lapor dulu.”
Putri duduk berhadapan dengan Aroel. Wajahnya tidak lagi setegang sebelumnya. Ada sesuatu yang berubah sejak kejadian di rumah kosong tadi. Bukan percaya. Tapi tidak lagi murni curiga.
“Aku dengar nama itu tadi,” kata Putri pelan.
Rahman menoleh cepat.Aroel tetap diam.
“Siapa dia?” lanjut Putri.Beberapa detik tidak ada jawaban. Hanya suara ayam mulai berkokok jauh di desa.“Orang lama,” jawab Aroel akhirnya.
“Orang lama itu apa? Teman? Musuh?”
“Dulu kerja bareng,” sahut Rahman singkat.
Putri menatap Rahman. “Kerja apa?”
Rahman tersenyum tipis. “Kamu pasti nggak mau tahu detailnya.”
“Aku sudah diserang orang bersenjata. Aku berhak tahu.”Suasana jadi hening.
Aroel menatap lantai sebentar, lalu mengangkat wajahnya. “Dulu kami Pernah kerjasama,Tapi Aku Keluar dari mereka,Mereka tidak setuju,Aku pergi ke kota dan beberapa tahun kemudian aku kembali kesini.Bukan hal kotor yang kamu pikir.Putri menyimak tanpa menyela.
“Orang yang disebut tadi,” lanjut Aroel, “nggak terima waktu aku keluar.” “Kamu keluar?” tanya Putri.iya,Kenapa ?”. Kali ini Aroel tidak langsung menjawab. Rahman yang bicara lebih dulu.
“Karena dia capek,” katanya.Putri mengernyit. “Capek ?” Rahman mengangguk. “Capek jadi tameng semua orang.”
Aroel menatap Rahman sekilas, seolah memperingatkan agar tidak terlalu jauh.
Putri memperhatikan keduanya. Hubungan mereka bukan sekadar kenalan. Ada sejarah panjang di antara mereka.“Jadi sekarang dia mau kamu balik?” tanya Putri.“Bukan,” jawab Aroel tenang. “Dia mau aku hilang.” Jawaban itu membuat udara terasa lebih berat.
Putri menarik napas pelan. “Dan karena itu, mereka nyari kamu ke mana-mana.”Aroel mengangguk.“Termasuk bikin teror ke aku?” suara Putri sedikit meninggi.
Rahman memandang Aroel.
Aroel menatap Putri lurus. “Kemungkinan besar iya.”
Putri tertawa pendek, tapi tanpa humor. “Hebat. Jadi semua ini memang karena kamu.”
“Aku nggak pernah bilang sebaliknya.”
Putri berdiri, berjalan beberapa langkah menjauh. Ia menatap keluar lewat celah dinding. Cahaya pagi mulai tipis masuk.
Ia mencoba mencerna semuanya.
Aroel bukan bos penjahat besar seperti yang ia bayangkan. Tapi jelas dia bukan orang biasa. Ada masa lalu keras yang belum sepenuhnya ia ceritakan. “Kenapa kamu nggak pergi jauh dari sini?” tanya Putri tanpa menoleh.
“Karena ini tempat terakhir yang mereka kira aku pilih,” jawab Aroel.
Putri menoleh cepat. “Maksudnya?”
“Aku sengaja muncul lagi di sini.” jawab Aroel,sejenak terlihat
Rahman menghela napas pelan. “Dia mau tarik mereka keluar.” ucap Rahman.
Putri menatap Aroel tajam. “Jadi kamu umpan?”
“Dan kamu pikir itu ide bagus?” cecar Putri.
Aroel berdiri menatap sekeliling. “Lebih baik mereka fokus ke aku daripada cari orang lain buat ditekan.” Putri langsung paham maksudnya.
Ia terdiam beberapa detik.
“Kamu sadar nggak,” katanya pelan, “cara kamu kerja itu tetap berbahaya buat orang sekitar?”
Aroel tidak membantah.
Rahman menyela, “Kalau dia lari terus, mereka bakal tekan siapa saja yang pernah dekat.”
Putri merasa dadanya sesak. Ia tidak suka berada di posisi ini. Tidak suka merasa terseret dalam urusan orang lain.Tapi ia juga tidak bodoh.
“Rencana kamu apa?” tanyanya. Aroel menatapnya. Kali ini lebih terbuka. “Aku harus ketemu dia.” Rahman langsung menoleh. “Serius?” “Iya.”jawab Aroel.
“Itu bunuh diri.”lanjut Rahman. “Kalau terus begini, korban bakal makin banyak Rahman ".Arul Menarik Nafas dalam.
Putri menatap Aroel lama. Ia mencoba membaca apakah ini keputusan emosional atau memang sudah dipikirkan matang.
“Kamu yakin bisa keluar hidup-hidup dari pertemuan itu?” tanya Putri.
Aroel tersenyum tipis. “Nggak ada yang pasti.”
Putri menggeleng pelan. “Kamu gila.”
“Mungkin.” jawab Aroel.
Rahman berjalan mendekat. “Kalau mau ketemu, kita atur. Nggak bisa dadakan.Aroel mengangguk.
Putri berdiri di antara mereka. “Kalau kamu ketemu dia, semua ini selesai?”
“Belum tentu,” jawab Aroel jujur. “Tapi setidaknya jelas.” Putri menarik napas dalam.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasa Aroel tidak sepenuhnya menyembunyikan sesuatu. Masih banyak yang tidak ia tahu, tapi arah ceritanya mulai terlihat.
“Kapan?” tanya Putri.
“Secepatnya,” jawab Aroel.
Rahman memijat pelipisnya. “Kita butuh tempat netral.Ucap Rahman.Aku tahu satu,” kata Aroel.
Putri menatapnya. “Tempat seperti apa?” Tanya Putri.
“Lapangan lama di perbatasan kebun. Sepi. Luas. Nggak banyak akses.”Jelas Aroel.
Rahman berpikir beberapa detik lalu mengangguk. “Masuk akal.”
Putri menyadari satu hal.
Ia sudah tidak lagi bertanya apakah ia akan ikut atau tidak.Ia sudah ada di dalam.
“Kalian sadar nggak,” katanya pelan, “kalau ini gagal, bukan cuma kamu yang hilang.”
Aroel menatapnya. “Aku tahu.”
Sunyi kembali turun di gudang kecil itu.
Cahaya pagi makin terang. Dunia luar akan segera bangun seperti biasa, tanpa tahu apa yang sedang bergerak diam-diam di baliknya.
Putri duduk lagi. Kali ini tidak gelisah. Hanya berpikir.Rahman membuka pintu sedikit, memastikan jalan aman.Aroel berdiri di tengah ruangan, wajahnya tenang, tapi matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda.Bukan takut.
juga Bukan marah.Tapi keputusan.
Putri menyadari sesuatu saat melihatnya.
Aroel bukan lari dari masa lalunya.
Ia memang sedang menunggu momen untuk menyelesaikannya.Dan sekarang momen itu semakin dekat.Di luar, matahari mulai muncul.
Bersambung.....