Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Salju Pertama Jin Bi
Jin Bi lahir di tengah badai salju terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.
Para tetua bilang itu pertanda—anak yang lahir di tengah badai akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mampu bertahan dalam situasi tersulit. Aku tidak tahu apakah itu benar, tapi melihatnya sekarang, tiga bulan setelah kelahirannya, aku cenderung percaya.
Dia berbeda dari Hyun.
Hyun bayi yang tenang, jarang menangis, lebih suka mengamati. Jin Bi? Dia menangis keras setiap minta sesuatu, dan hanya diam kalau digendong. Dia sudah bisa tersenyum, dan senyumnya bisa meluluhkan hati siapa pun—termasuk para prajurit paling keras sekalipun.
Hyerin sering bercanda, "Dia akan jadi pemimpin yang hebat. Atau perusak yang hebat."
Aku tertawa. "Mungkin dua-duanya."
---
Musim dingin tahun itu panjang dan berat.
Salju turun hampir setiap hari, menumpuk hingga selutut orang dewasa. Aktivitas di luar berkurang drastis. Para pendekar hanya berlatih di ruangan tertutup. Anak-anak sekolah libur lebih awal. Penduduk desa menghabiskan waktu di dalam rumah, bercerita di dekat perapian.
Aku memanfaatkan waktu ini untuk menulis.
Bukan novel, tapi catatan. Semua pengetahuanku tentang sains, teknologi, dan strategi kutulis dalam sebuah buku besar. Dengan tinta dan kertas kualitas terbaik, perlahan-lahan. Ini akan jadi warisanku untuk Hyun dan Bi kelak.
Hyerin kadang mengintip, bertanya tentang ini itu. Aku jelaskan dengan sabar. Dia pintar, cepat mengerti. Kadang dia memberi masukan—dari sudut pandang pendekar, tentang apa yang berguna dan apa yang tidak.
"Oppa, kau yakin anak-anak kita nanti bisa memahami semua ini?"
"Tidak harus sekarang. Tapi suatu hari, saat mereka dewasa, mereka akan buka buku ini dan tahu: ayah mereka bukan orang bodoh."
Dia tersenyum. "Kau jauh dari bodoh, Oppa. Kau jenius."
"Aku hanya beruntung. Lahir di dunia yang lebih maju."
---
Suatu malam, saat badai salju mereda, Jin-wook datang berkunjung.
Dia membawa kabar dari utara—bukan dari Klan Utara, tapi dari klan-klan kecil di perbatasan. Mereka mulai gelisah. Tanpa Dae-ho, Klan Utara menjadi tidak stabil. Adiknya, Kang Dae-sung, masih muda dan belum berpengalaman. Para tetua mulai berebut pengaruh.
"Mereka takut perang saudara," kata Jin-wook. "Dan kalau Utara pecah, klan-klan kecil di sekitarnya akan ikut terseret."
Aku diam, memikirkan.
"Dae-ho titip pesan padaku. Dia minta aku jaga klannya kalau terjadi apa-apa."
"Kau mau ke Utara?"
"Mungkin. Tapi tidak sekarang. Masih ada Hyun dan Bi. Mereka butuh aku di sini."
Jin-wook mengangguk. "Aku bisa mewakilimu. Kirim utusan, jalin komunikasi dengan Dae-sung. Tawarkan bantuan."
"Lakukan."
---
Minggu berikutnya, surat-surat dikirim.
Kang Dae-sung membalas dengan cepat. Dia menceritakan situasi di Utara: para tetua terpecah jadi tiga faksi. Satu faksi mendukungnya penuh. Satu faksi ingin merebut kekuasaan. Satu faksi lagi netral—menunggu siapa yang menang.
Dia butuh bantuan. Bukan pasukan, tapi nasihat.
Aku menulis balasan panjang. Tentang bagaimana mengelola faksi yang berseberangan. Tentang pentingnya aliansi. Tentang kapan harus kompromi dan kapan harus bertindak tegas. Tentang—ironisnya—apa yang kupelajari dari ayah Hyerin dulu.
"Kadang, menjadi pemimpin bukan tentang selalu benar. Tapi tentang membuat orang lain percaya bahwa kau benar."
Hyerin membaca surat itu sebelum dikirim. Dia diam lama.
"Ayahku dulu bilang hal serupa," bisiknya. "Tepat sebelum dia mati."
Aku memeluknya. "Dia akan bangga padamu. Pada kita."
---
Musim dingin berlalu. Musim semi tiba.
Salju mencair, sungai-sungai mengalir deras, bunga-bunga bermekaran. Hyun mulai belajar berjalan—terhuyung-huyung, jatuh bangun, tapi terus mencoba. Jin Bi mulai bisa tengkurap dan berguling.
Aku menghabiskan banyak waktu di taman bersama mereka. Hyun suka mengejar kupu-kupu. Jin Bi suka digendong sambil melihat dedaunan.
Hyerin sering bergabung, meskipun kesibukannya sebagai pemimpin klan terus bertambah. Tapi dia selalu luangkan waktu. "Keluarga pertama," katanya. "Klan kedua."
Suatu sore, saat Hyun tertidur di pangkuanku dan Jin Bi menyusu di dada Hyerin, aku berkata, "Kita harus adakan upacara."
"Upacara apa?"
"Untuk Hyun. Dia sudah setahun lebih. Saatnya perkenalkan dia secara resmi sebagai putra mahkota."
Hyerin diam. Lalu mengangguk. "Kau benar. Tapi... apa kau yakin? Di dunia ini, jadi putra mahkota berarti jadi target."
"Aku tahu. Tapi kalau tidak sekarang, dia akan tetap jadi target. Setidaknya dengan status resmi, dia punya perlindungan klan."
---
Upacara diadakan sebulan kemudian.
Di Aula Utama yang sudah dibangun ulang—lebih megah dari sebelumnya—Hyun duduk di pangkuanku, mengenakan pakaian upacara mini. Dia bingung melihat begitu banyak orang, tapi tidak menangis. Hanya menatap dengan mata besarnya.
Para tetua dan tamu undangan berkumpul. Jin-wook memimpin ritual. Doa-doa dibacakan. Sumpah diucapkan.
Dan Jin Hyun resmi menjadi Putra Mahkota Klan Gong.
Setelah upacara, Hyerin bertanya, "Oppa, kau tidak sedih?"
"Sedih kenapa?"
"Kau melepasnya. Membiarkannya jadi bagian dari dunia ini."
Aku tersenyum. "Dia sudah jadi bagian dari dunia ini sejak lahir. Aku hanya mengakuinya."
---
Tapi malam itu, saat semua tidur, aku duduk di beranda sendiri.
Di sampingku, segelas arak—pemberian Jin-wook, katanya untuk perayaan. Aku tidak minum, hanya menatap bulan.
Pikiranku melayang ke Hyun Moo. Ke Dae-ho. Ke Patriark Gong. Ke semua yang telah pergi.
Mereka tidak melihat ini. Tidak melihat Hyun tumbuh. Tidak melihat klan ini bangkit. Tapi tanpa mereka, semua ini tidak mungkin terjadi.
"Aku tidak akan lupa," bisikku pada angin malam. "Kalian selalu ada di sini."
Tanganku menunjuk dada.
---
Keesokan paginya, Jin-wook datang dengan kabar baru.
"Klan Selatan sudah benar-benar bubar. Yang tersisa hanya kelompok-kelompok bandit. Tapi ada satu yang menarik."
"Apa?"
"Pemimpin salah satu kelompok bandit itu mengaku sebagai keturunan Selatan. Dia kumpulkan pengikut dan membangun benteng kecil di pegunungan. Mungkin dia ingin membangkitkan kembali klannya."
Aku mengerutkan kening. "Ini bisa jadi ancaman."
"Atau kesempatan."
"Kesempatan apa?"
"Kalau dia benar-benar keturunan sah, kita bisa akui dia sebagai pemimpin baru Selatan. Dengan syarat dia tunduk pada kita."
Aku diam, memikirkan. Ini diplomasi tingkat tinggi.
"Kirim utusan. Selidiki dulu. Jangan ambil keputusan tergesa."
---
Minggu-minggu berikutnya, intelijen bekerja.
Ternyata pria itu memang keturunan sah—cucu dari Patriark Selatan sebelumnya, yang tersingkir dalam kudeta. Dia melarikan diri waktu kecil, tumbuh di kalangan perampok, dan sekarang kembali untuk merebut haknya.
Dia tidak punya hubungan dengan faksi yang menyerang kita. Bahkan, dia benci mereka karena telah membunuh keluarganya.
Aku memutuskan bertemu langsung.
---
Pertemuan diadakan di tempat netral—sebuah lembah di perbatasan.
Dia datang dengan pengawal lima orang. Muda, mungkin dua puluhan. Wajahnya keras, tapi matanya... matanya seperti orang yang sudah melihat terlalu banyak penderitaan.
"Jin Tae-kyung," sapanya. "Aku Park Jin-ho."
"Kau ingin membangkitkan Klan Selatan?"
"Iya."
"Bagaimana caramu?"
"Dengan membangun ulang dari nol. Dengan pengikut yang setia. Dengan..." dia menatapku, "...bantuanmu."
"Kenapa aku harus bantu?"
"Karena kau tahu rasanya membangun dari nol. Karena kau tidak seperti klan lain yang hanya ingin menindas. Karena..." dia berhenti, "...karena kalau kau bantu, Selatan akan jadi sekutumu selamanya."
Aku diam. Menilai.
"Kalau aku tolak?"
Dia tersenyum getir. "Maka aku akan tetap coba. Mungkin gagal. Tapi aku akan coba."
---
Aku butuh waktu semalam untuk memutuskan.
Hyerin mendengarkan penjelasanku dengan saksama. Lalu bertanya, "Oppa, apa kau percaya padanya?"
"Tidak sepenuhnya. Tapi aku percaya pada ambisinya. Orang yang punya ambisi besar biasanya bisa dipercaya—selama ambisi itu sejalan dengan kita."
"Kau mau bantu dia?"
"Aku mau coba. Dengan pengawasan ketat."
Dia mengangguk. "Lakukan. Tapi ingat, Oppa. Jangan terlalu cepat percaya."
---
Perjanjian ditandatangani seminggu kemudian.
Klan Gong akan membantu Park Jin-ho membangun kembali Klan Selatan—dengan syarat: Selatan akan menjadi sekutu setia, tidak akan menyerang Gong atau sekutunya, dan akan membayar upeti tahunan selama sepuluh tahun pertama.
Jin-ho setuju. Matanya berbinar—bukan karena upeti, tapi karena harapan.
Sebelum pergi, dia berkata, "Jin Tae-kyung, kau tidak hanya menyelamatkan klanku. Kau menyelamatkanku."
Aku menepuk pundaknya. "Jangan kecewakan aku."
"Tidak akan. Janji."
---
Setahun kemudian, Jin-ho berhasil.
Dengan bantuan pelatihan dan persenjataan dari Gong, dia mengalahkan kelompok-kelompok bandit lain, menyatukan mereka, dan membangun benteng baru di lokasi yang lebih strategis. Pengikutnya bertambah dari lima puluh menjadi lima ratus.
Dia mengirim surat terima kasih, lengkap dengan hadiah—sepasang pedang kuno pusaka Selatan.
Aku berikan satu pada Hyerin, satu untuk Hyun kelak.
Hyerin memeriksa pedang itu dengan saksama. "Benda bagus. Lebih dari seratus tahun, tapi masih tajam."
"Simpan baik-baik. Untuk Hyun."
Dia tersenyum. "Oppa, kau yakin dia akan jadi pendekar?"
"Tidak tahu. Terserah dia nanti. Tapi setidaknya, dia punya pilihan."
---
Tahun-tahun berikutnya berlalu dalam damai yang relatif.
Hyun tumbuh menjadi anak yang cerdas dan pemberani. Di usia tiga tahun, dia sudah bisa berlari kencang dan memanjat pohon. Di usia empat, dia mulai belajar huruf dari buku-buku yang kutulis. Di usia lima, dia minta diajari pedang.
Hyerin yang mengajarinya. Aku hanya menonton dari jauh, bangga.
Jin Bi, di sisi lain, tumbuh jadi anak yang lebih kalem. Dia suka duduk di pangkuanku saat aku menulis, menatap huruf-huruf dengan rasa ingin tahu. Di usia tiga tahun, dia sudah bisa menyebut semua huruf. Di usia empat, dia mulai membaca kalimat sederhana.
"Oppa, dia seperti kau," kata Hyerin. "Otaknya encer."
"Semoga jadi ilmuwan hebat."
Atau jadi pemimpin. Atau jadi apa pun yang dia mau."
---
Suatu malam, saat Hyun dan Bi tidur, Hyerin bertanya.
"Oppa, apa kau bahagia?"
Pertanyaan yang sama. Tapi kali ini, jawabanku berbeda.
"Sangat bahagia."
"Benarkah? Tidak ada penyesalan?"
Aku merenung. Penyesalan? Tentu ada. Penyesalan karena Hyun Moo dan Dae-ho tidak bisa melihat ini. Tapi di luar itu...
"Tidak. Tidak ada penyesalan."
Dia tersenyum, lalu menyandarkan kepala di dadaku.
Di luar, bulan purnama bersinar. Di dalam, keluarga kecilku tidur nyenyak.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku—di dunia mana pun—aku merasa utuh.
---
[Bersambung ke Bab 32]