NovelToon NovelToon
Lembayung Senja

Lembayung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia / Romantis / Teen
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: PapaBian

"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aerodinamika Rindu: Antara Barisan Kaki dan Fajar yang Memantul

Aku selalu berpikir bahwa upacara bendera hari Senin adalah sebuah ritus penyerahan diri yang paling purba sekaligus paling sia-sia dalam sejarah peradaban remaja. Kita dipaksa berdiri tegak di atas lapangan panas yang mulai memuai, menghirup aroma keringat dari punggung kawan di depan, dan berpura-pura khidmat mendengarkan wejangan yang melayang-layang seperti kabut di atas kepala. Di bawah langit kelabu yang seolah sedang menahan napas ini, aku merasa kami semua hanyalah bidak-bidak catur yang sedang disusun dalam formasi yang kaku, sementara jiwa kami masing-masing sedang mengembara entah ke mana—mungkin ke bilik warnet yang pengap atau ke depan radio tape, menunggu lagu favorit diputar untuk kemudian direkam dalam kaset pita,. Aku merasa kami adalah dua pulau yang terpisah lautan; aku di barisan belakang yang bising, dan dia di atas podium yang terhormat.

Bagiku, jarak antara barisan kelas 12 IPA dengan podium pembina upacara bukan sekadar ukuran meter, melainkan sebuah jurang eksistensial yang tak terukur oleh rumus fisika mana pun,. Di atas sana, Senja Permata Sari berdiri dengan kewibawaan yang lembut. Ia mengenakan seragam dinas yang rapi, namun bagiku, ia tetaplah manifestasi dari puisi yang belum sempat kutuntaskan. Angin sepoi-sepoi memainkan ujung rambutnya, dan dari kejauhan, kacamata bulatnya tampak memantulkan cahaya redup dari balik awan mendung,. Ia sedang membacakan sambutan, suaranya yang tenang merambat melalui pengeras suara yang sesekali mengeluarkan bunyi dengung statis, seolah-olah semesta pun sedang berusaha mengganggu frekuensi komunikasiku dengannya,.

"Woi, Ka! Jangan bengong bae lo, ntar kesambet penghuni tiang bendera baru tahu rasa," bisik Bimo yang berdiri di sampingku. Ia sedang sibuk menyembunyikan HP Nokia nya di balik ikat pinggang seragam, jempolnya bergerak lincah mengetik SMS, mungkin sedang berbalas pesan dengan anak kelas sebelah,.

"Dunia ini terlalu bising untuk sekadar berdiri diam, Bim. Gue butuh cara untuk menyeberangi lautan ini," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari podium.

Bimo menyeringai, sebuah ekspresi yang selalu menandakan bahwa ia menganggapku sedang mengalami gangguan hormonal tingkat dewa. "Gaya lo gokil, puitis amat. Tapi mending lo simpen dulu deh 'dukun' lo itu, ntar Pak Guruh liat, kelar idup lo."

Aku tidak memedulikan peringatan Bimo. Di dalam saku celanaku, aku sudah menyiapkan sebuah pesan rahasia. Bukan lewat SMS dengan karakter terbatas yang membosankan, melainkan sebuah pesan yang memiliki sayap,. Aku mengeluarkan secarik kertas yang sudah kutulisi semalam dengan tinta pena paling hitam. Dengan ketelitian seorang insinyur kedirgantaraan yang sedang patah hati, aku mulai melipat kertas itu menjadi sebuah pesawat kertas. Aku membayangkan pesawat ini adalah pembawa risalah rindu, sebuah benda kecil yang akan membelah gravitasi demi mendarat di pelabuhan hatinya.

Setiap lipatan adalah sebuah doa, setiap sudut adalah sebuah harapan. Aku menuliskan judul singkat di sayapnya: Senjaku. Dan di dalamnya, sebuah bait yang kususun dengan air mata imajiner: "Wajahmu adalah fajar yang menyilaukan mataku, Senjaku...".

"Lo beneran mau lempar itu? Gila lo, Ka!" Bimo berbisik dengan nada panik sekaligus antusias. "Kalo meleset, lo bisa disuruh hormat tiang bendera sampe magrib!"

"Cinta butuh keberanian, Bim," balasku mantap.

Saat pembina upacara sedang berada di tengah kalimat panjang tentang kedisiplinan, aku mengambil ancang-ancang. Aku menunggu momentum ketika angin berembus cukup kuat untuk membawa pesanku melintasi lapangan. Dengan satu gerakan yang kuharap terlihat heroik seperti pahlawan tragis dalam novel literary fiction, aku melontarkan pesawat kertas itu ke angkasa,.

Pesawat itu meluncur mulus. Ia membelah udara kelabu, menari di antara topi-topi seragam yang berbaris rapi. Untuk beberapa detik, aku merasa waktu melambat. Aku melihat pesawat itu menuju podium, menuju Bu Senja yang sedang menunduk. Jantungku berdegup dengan ritme yang lebih cepat dari detak jam dinding di ruang BP.

Namun, semesta memang selalu punya selera humor yang sarkastik terhadap orang-orang ceroboh sepertiku.

Tepat saat pesawat itu hampir mencapai podium, sebuah embusan angin kencang yang mendadak—sebuah konspirasi alam yang nyata—membelokkan arah terbangnya. Pesawat kertas itu tidak mendarat di tangan lembut Bu Senja. Alih-alih, ia melakukan manuver tajam dan mendarat dengan sangat mulus, seolah-olah memang itu tujuannya, tepat di atas kepala Pak Guruh yang sedang berdiri tegak di samping podium.

Pak Guruh adalah sebuah nama, Nama dari seorang guru Pendidikan Kewarganegaraan yang terkenal memiliki temperamen setajam silet dan kepala yang botak mengilap, terperanjat,. Pesawat kertas itu bertengger di sana, di atas kulit kepalanya yang licin, memantulkan sedikit cahaya dari langit yang mendung.

Seluruh lapangan upacara mendadak senyap. Ribuan pasang mata tertuju pada objek putih kecil di atas kepala Pak Guruh. Aku merasa seluruh aliran darahku membeku, lebih dingin dari es mambo di kantin sekolah.

Pak Guruh dengan perlahan mengambil pesawat itu. Wajahnya yang biasanya sangar kini memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang mulai mendidih. Ia membuka lipatan kertas itu dengan gerakan kasar. Sialnya, ia sedang berdiri tepat di depan mikrofon yang masih menyala.

Dengan suara lantang yang menggema di seluruh penjuru SMA Harapan Bangsa, ia membaca tulisan di dalamnya: "Wajahmu adalah fajar yang menyilaukan mataku, Senjaku...".

Keheningan yang mencekam itu pecah seketika. Ledakan tawa meledak dari barisan siswa, mulai dari kelas 10 hingga kelas 12. Bimo di sampingku sudah hampir terjungkal karena tertawa terlalu keras, sementara Rian di depan terus-menerus memukul pahanya sendiri.

"Gokil! Arka nembak Pak Guruh!" teriak seseorang dari barisan sebelah.

"Wajah fajar! Hahaha! Emang silau banget sih kepalanya Pak Guruh!" sahut yang lain diiringi tawa yang memekakkan telinga.

Aku ingin rasanya bumi terbelah saat itu juga dan menelanku bulat-bulat. Aku menunduk sedalam mungkin, membetulkan kacamata tebal yang melorot karena keringat dingin,. Aku melirik ke arah podium. Pak Guruh tampak siap untuk meledakkan seluruh sekolah dengan kemarahannya. Namun, sebelum ia sempat mengeluarkan makian, sebuah suara lembut menginterupsi lewat mikrofon.

Bu Senja tertawa terbahak-bahak. Itu adalah tawa paling jujur yang pernah kudengar darinya, sebuah tawa yang sejenak menghilangkan kesan intelektual dan kaku yang selalu ia bawa. Ia mengambil alih mikrofon dengan tenang, mencoba mencairkan suasana yang hampir meledak itu.

"Wah, Pak Guruh," ucap Bu Senja di sela tawanya, suaranya bergema hangat di antara suara tawa siswa. "Rupanya Arka sangat mengagumi kepala botak Bapak yang bersinar seperti mentari itu. Puisi yang bagus, Arka! Kreativitasmu memang tidak ada habisnya, bahkan di tengah upacara sekalipun.".

Pak Guruh terdiam. Kemarahannya seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa bingung karena rekan sejawatnya justru menganggap hal itu sebagai lelucon yang segar. Ia berdehem keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah runtuh berkeping-keping di atas aspal lapangan.

"Sudah! Diam semuanya! Arka, setelah upacara, kamu ikut saya ke ruang guru!" perintah Pak Guruh, meski nada suaranya sudah tidak segarang sebelumnya.

Upacara dilanjutkan dengan sisa-sisa cekikikan yang masih terdengar di sana-sini. Aku berdiri mematung, merasakan debaran jantung yang mulai melambat namun meninggalkan rasa pahit di pangkal lidah. Aku menatap Bu Senja yang kini kembali serius, seolah-olah tawa tadi hanyalah sebuah glitch dalam simulasi kehidupan sekolahnya yang tertata.

Ia tidak menyadari bahwa kata "Senjaku" di sana bukan merujuk pada waktu di penghujung hari, melainkan pada dirinya. Baginya, aku hanyalah siswa yang memiliki "semangat belajar berlebihan" atau mungkin hanya seorang pembuat onar yang kebetulan puitis.

Aku menyadari bahwa meski pesawat kertasku telah mendarat, ia jatuh di koordinat yang salah. Dan meski ia tertawa, tawa itu adalah dinding pembatas yang paling kuat—sebuah pengingat bahwa aku hanyalah sebuah prosa pendek yang sedang mencoba menjadi epik, namun berakhir sebagai anekdot di hari Senin yang gerah.

"Nyok, Ka. Siap-siap dapet 'wejangan' khusus dari Pak Guruh," bisik Bimo sambil menepuk bahuku saat barisan mulai dibubarkan. "Tapi beneran, lo gokil. Baru kali ini ada yang berani bilang kepala Pak Guruh kayak fajar."

Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan penderitaan paling indah yang bisa dirasakan oleh seorang remaja berusia delapan belas tahun. Aku berjalan menuju ruang guru, menyadari bahwa terkadang cinta memang harus berakhir di atas kepala botak seorang guru agar kita tahu betapa jauhnya jarak antara imajinasi dan realitas,.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!