NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Menyatakan Perasaan

Bel istirahat pertama telah berbunyi di SMA Bhakti Wiratmadja. Vanya dan kedua sahabatnya langsung menuju ke kantin.

"Gw nitip dong" pinta Vanya.

"Traktir ya" balas Lea.

Vanya dengan santai duduk di salah satu bangku kantin. Tempat itu letaknya paling dekat dengan beberapa stand makanan.

"Beres. Beliin gw mie ayam bakso, ayam nya banyakin, minum nya jus jeruk" Vanya menyodorkan uang pecahan 100rb an kepada Lea sejumlah 3 lembar.

"Asekk gw bayarin juga ya" Rain ikut-ikutan saat melihat nominal yang Vanya berikan kepada Lea.

"Iya dah habisin tuh uangnya" ucap Vanya santai.

Rain dan Lea pun bergegas memesan makanan untuk mereka bertiga. Sekolah mahal seperti SMA Bhakti Wiratmadja ini pastilah memiliki fasilitas kantin yang bagus.

Para koki bintang lima dipekerjakan disana untuk memasak banyak menu yang mungkin di sukai para murid-muridnya. Namun harga makanan di kantin itu tidaklah mahal karena suplai bahan makanan di produksi sendiri dari perkebunan milik Wiratmadja Grub. Sebagai gantinya, biaya masuk dan uang bulanan di sekolah itu menjadi mahal karena fasilitas-fasilitas nya yang sangat terjamin.

Rain dan Lea pun ahirnya datang, di belakang mereka ada 2 pelayan yang membawakan semua pesanan mereka bertiga.

"Buset banyak amat ini" Vanya menatap makanan dan minuman di meja yang sudah pelayan tata.

Disana terdapat 1 mangkok jumbo mie ayam bakso ekstra ayam pesanan Vanya. Ada juga 1 piring ayam bakar, 1 piring nasi goreng, 1 mangkok baso sedang, dan terahir 1 piring chicken steak. Disana juga terdapat 4 gelas jus jeruk.

"Kalian berdua yakin bisa habisin ini semua?" tanya Vanya.

"Udah tenang aja. Gw nggak akan buang-buang makanan kok" jawab Rain dengan santai.

"Udah ah ayo makan" ajak Lea dengan semangat.

Mereka bertiga pun makan dengan tenang tanpa adanya obrolan. Setelah semua makanan dan minuman benar-benar habis, barulah mereka mulai mengobrol santai.

"Gilak ya kalian berdua, kesambet apaan coba sampe banyak makan begitu. Padahal biasanya juga nggak se banyak ini" cerocos Vanya. Kedua sahabatnya itu benar-benar menghabiskan pesanan mereka tanpa sisa. Kecuali tulang-tulang nya.

"Habis ini pelajaran kimia tauk, pasti menguras mental dan energi. Lagian kan mumpung lo bayarin deh jadi kita abisin aja uang lo" ucap Lea sambil tersenyum tipis.

"Lagian tiga ratus ribu mah receh buat lo" sambar Rain.

"Yaelah kasian bener sahabat gw kaya ga punya duit aja anjirrr" ucap Vanya dengan nada bercanda.

"Duit jajan lo kan lima kali lipat dari duit jajan kita" Rain menyampaikan fakta yang langsung Lea setujui.

"Nah bener tuh. Gilak ya enak banget lo anjir. Udah anak tunggal, orang tua kaya, ngga pelit, mau apa aja langsung di kasih. Kira-kira cobaan lo apa ya?"

"Enak aja lo bilang gw anak tunggal! Kak Fian juga anak mereka tauk" balas Vanya dengan ngegas.

"Nah itu lo tau Kak Fian itu kakak lo, terus kenapa masih aja lo sukain sih Maemunah!" Rain masih saja mencoba menyadarkan sepupu nya itu.

"Udah ah gw males bahas. Ayo masuk kelas, bentar lagi bel masuk. Pokoknya nanti malem gw mau nyatain perasaan gw! Titik" ucap Vanya keukeuh.

******

Kini jam sudah menunjukkan pukul 18.10, Vanya sudah berdandan cantik dengan dress selutut berwarna putih dengan motif polkadot. Jam makan malam biasanya pukul tujuh tepat, Vanya mencoba menghampiri kakaknya yang masih berada di dalam kamar.

Tok tok tok

Fian pun membuka pintu kamarnya saat mendengar suara ketukan. Matanya sedikit terpana dengan tampilan Vanya hari ini yang sangat cantik menurut nya.

"Ada apa Vanya?" tanya Fian setelah tersadar dari pikiran anehnya.

"Boleh Vanya masuk kak?" Fian pun dengan ragu mempersilahkan Vanya masuk ke kamarnya. Pintu kamar itu pun Fian tutup rapat tanpa di kunci.

"Kak, Vanya cinta sama kak Fian. Kak Fian mau nggak jadi pacar Vanya?" dengan tiba-tiba Vanya langsung menyatakan perasaan nya tanpa basa basi basi.

Kedua mata Fian langsung melotot karena terkejut. Ia tidak menyangka Vanya akan seberani ini. Fian masih terdiam di hadapan Vanya. Posisi mereka kini berdiri sambil berhadapan.

"Van, kakak... "

"Please kak, Vanya cinta sama kakak. Kita pacaran ya please" potong Vanya sambil memohon.

"Kakak nggak bisa Vanya. Kamu adik kakak. Dan akan seterusnya seperti itu" Fian mencoba memberi pengertian.

"Tapi kenapa kak? Kita bukan saudara kandung. Sah sah aja kalo kita menjalin hubungan" Vanya masih keukeuh dengan pemikiran nya.

"Nggak bisa Van! Kakak nggak cinta sama kamu!" Baru kali ini Fian berucap dengan nada tinggi padanya.

Vanya tersentak karena nada tinggi yang Fian layangkan itu. Aira matanya menetes begitu saja melewati pipi mulusnya.

Tok tok tok

Fian berjalan melewati Vanya yang masih terisak pelan di dalam kamarnya.

"Tuan muda, di bawah ada seorang wanita yang mencari anda. Namanya nona Lyora dari keluarga Alexia" ucap seorang maid setelah pintu di buka oleh Fian.

"Panggil mama dan papa juga ke meja makan. Bilang aja aku mau menyampaikan sesuatu" perintah Fian kepada maid itu.

Setelah maid itu pergi, Fian masuk ke kamarnya tanpa menutup pintu.

"Ada yang ingin kakak sampaikan Vanya. Ayo kita ke meja makan bersama" ajak Fian.

Tanpa berucap satu kata pun, Vanya berlalu begitu saja meninggalkan kamar Fian. Vanya menuju ke sebuah toilet yang masih satu lantai dengan kamarnya.

'Jadi? Gw di tolak?' tanya Vanya di dalam batin nya.

Vanya menyalakan keran di wastafel, di basuh nya wajah penuh air mata itu. Setelah pikiran nya sudah sedikit tenang, Vanya memberanikan diri untuk turun ke lantai 1.

Di meja makan sudah ramai. Di lihatnya seorang wanita seumuran kakaknya dengan wajah cantik seperti bukan darah Asia. Wanita itu langsung berdiri saat melihat kedatangan Vanya.

"Udah kamu duduk aja" perintah Fian. Wanita itupun tak jadi menghampiri Vanya.

Vanya duduk di sebelah mama nya. Setelah semua nya lengkap, Fian berdeham singkat tanda bahwa ia akan mengatakan sesuatu.

"Pa, Ma, Van, kenalin ini Lyora pacar aku" ucap Fian dengan mantap.

"Dia dari keluarga Alexia, rekan bisnis keluarga kita" lanjutnya untuk memperjelas.

'Gak mungkin! Sejak kapan kak Fian punya pacar' dalam hatinya Vanya masih berusaha menyangkal.

"Alexia ya? Wah sepertinya sebentar lagi kita akan besanan sama Pak Alex ya ma" canda Danu.

"Pintar sekali kamu cari pacar. Lyora ini sangat cantik loh. Sepertinya ada darah campuran juga ya dari keluarga mu" Sinta ikut menimpali.

"Iya tante, nenek saya asli spanyol" jawab Liora dengan sopan.

"Wah pantas kamu secantik ini" puji Sinta.

"Ly, kalau itu adik aku namanya Vanya. Dia emang cuek kalo sama orang baru. Tapi nanti kalau udah kenal baik kok aslinya" tunjuk Fian kepada Vanya yang hanya menampilkan raut wajah datar.

"Sayang, kamu kenapa kok tumben diem aja?" tanya Sinta dengan lembut.

"Iya loh. Nggak biasanya kamu diem gitu" Danu ikut menimpali. Takut putri nya sakit atau kenapa-kenapa.

"Em Vanya lagi kurang enak badan, boleh nggak Vanya makan di kamar aja?" jawab Vanya pelan.

"Yaudah ayo sayang mama antar ke kamar ya. Nanti biar makanan kamu di bawain ke kamar aja" Sinta pun memapah Vanya untuk membantu nya menuju ke kamar.

"Aku cuman gak enak badan aja ma bukan nya gabisa jalan" Vanya mencoba untuk berjalan sendiri. Namun Sinta tetap keukeuh untuk memapah nya.

"Nurut aja sayang. Mama khawatir tauk sama kamu" Vanya pun ahirnya menurut.

Setelah sampai di kamar, Sinta membantu membaringkan Vanya dengan pelan. Selimut dengan motif doraemon itu Sinta tarik sampai menutupi dada Vanya.

"Mama tinggal ngga papa ya sayang? Gak enak di bawah masih ada pacar kakak kamu. Habis ini mama suruh maid buat antar makanan" Sinta mencium kening Vanya. Setelah itu ia pun keluar dari kamar putrinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!