NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pagi itu, gedung pencakar langit Baskoro Group tampak lebih sibuk dari biasanya.

Sebuah mobil Mercedes-Benz hitam berhenti tepat di depan lobi utama.

Pak Indra dengan sigap turun dan membukakan pintu belakang.

Rizal keluar dari mobil dengan gerakan yang tenang dan penuh wibawa.

Setelan jas abu-abu gelapnya tampak sangat kontras dengan tongkat kayu yang ia genggam, namun hal itu justru memberikan kesan misterius sekaligus elegan.

Di sampingnya, Aisyah melangkah dengan blazer merah marun, memancarkan aura pemimpin yang tak tertandingi.

Begitu mereka melintasi lobi, suasana yang tadinya bising mendadak senyap. Namun, kesunyian itu hanya bertahan sesaat sebelum bisik-bisik sinis mulai menjalar di antara para karyawan dan jajaran direksi yang sedang berkumpul di area kafe lobi.

"Lihat itu. Jadi itu pria yang beruntung ditarik dari selokan oleh Bu Aisyah?" sindir seorang manajer pemasaran dengan suara yang sengaja dikeraskan.

"Paling juga cuma jadi pajangan. Modalnya cuma tampang dan nasib baik. Menumpang hidup pada janda kaya itu memang strategi paling cepat untuk jadi bos," sahut salah satu direktur divisi operasional sambil tertawa meremehkan.

"Kasihan sekali Bu Aisyah, perusahaan sebesar ini mau dikelola oleh orang yang memegang garpu saja mungkin masih gemetar," timpal yang lain.

Rizal mendengar semuanya. Telinganya yang tajam menangkap setiap hinaan yang dilontarkan.

Ia sempat menghentikan langkahnya sejenak, membuat pegangan tangannya pada tongkat mengeras. Namun, sebelum ia sempat menoleh, ia merasakan jemari lembut Aisyah menyentuh lengannya.

"Jangan dengarkan mereka, Mas," bisik Aisyah tanpa mengalihkan pandangannya dari lift.

"Biarkan mereka tertawa sekarang. Nanti, saat kamu membuka mulut di ruang rapat, pastikan tawa mereka berubah menjadi rasa malu."

Rizal menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis.

"Aku tidak marah, Sayang. Aku hanya sedang menghafal wajah-wajah mereka. Agar nanti aku tahu siapa yang harus kuberikan surat pemecatan pertama kali jika mereka tidak bisa membuktikan kinerja mereka."

Aisyah sedikit terkejut, lalu tersenyum bangga. Ia tidak menyangka suaminya akan seberani itu.

Mereka pun memasuki lift menuju lantai paling atas, tempat ruang rapat utama berada.

Di sana, sudah menunggu para pemegang saham yang skeptis dan siap menyerang Rizal dengan berbagai pertanyaan sulit tentang strategi bisnis global.

Begitu pintu lift terbuka di lantai 40, Rizal melangkah keluar dengan kepala tegak. Ia tidak lagi merasa sebagai pria malang.

Di matanya kini hanya ada satu tujuan: membuktikan bahwa singa tetaplah singa, meskipun ia sempat terluka dan terpuruk di jalanan.

Pintu ruang rapat yang megah itu terbuka. Aisyah melangkah masuk dengan penuh keyakinan, diikuti oleh Rizal yang berjalan tenang di sampingnya.

Di dalam, dua belas direksi dan pemegang saham utama sudah menunggu dengan raut wajah skeptis.

Aisyah berdiri di kepala meja, lalu berdehem pelan.

"Selamat pagi semuanya. Hari ini saya ingin mengumumkan keputusan penting. Mulai hari ini, posisi saya sebagai pemimpin operasional harian Baskoro Group akan saya serahkan sepenuhnya kepada suami saya, Rizal."

Seketika, ruangan itu riuh dengan tawa tertahan dan bisik-bisik yang sangat tajam.

"Bu Aisyah, apa Anda sedang bercanda? Menyerahkan perusahaan raksasa ini kepada orang yang latar belakangnya saja tidak jelas?" sindir Pak Bram, Direktur Keuangan yang paling senior.

"Mungkin dia punya keahlian khusus, seperti membersihkan kebun atau menyetir mobil?" celetuk direktur lain yang disambut tawa meremehkan dari seisi ruangan.

"Hati-hati, Mas Rizal, jangan sampai salah pencet tombol di proyektor ya. Itu barang mahal, bukan cangkul."

Rizal hanya terdiam. Ia meletakkan tongkatnya di samping kursi, lalu berdiri perlahan.

Ia tidak membalas sindiran itu dengan amarah. Sebaliknya, ia membuka laptopnya dan menghubungkannya ke layar besar.

"Terima kasih atas sambutan hangatnya, Bapak-Bapak," ucap Rizal dengan suara bariton yang stabil.

"Saya tahu kalian ragu. Jadi, mari kita bahas rencana ekspansi kita ke Eropa yang selama ini tertunda karena kendala komunikasi dan negosiasi."

Rizal menekan tombol slide pertama. Judul presentasinya tertulis dalam tiga bahasa: Indonesia, Prancis, dan Jerman.

Tanpa peringatan, Rizal mulai berbicara dalam bahasa Prancis yang sangat fasih dan elegan saat menjelaskan rencana kerja sama dengan mitra di Lyon.

Pelafalannya begitu sempurna, jauh lebih baik daripada penerjemah manapun yang pernah disewa perusahaan.

Para direksi terdiam. Pak Bram yang tadinya bersandar angkuh, kini memajukan duduknya dengan wajah pucat.

Tak berhenti di situ, saat beralih ke slide teknis mengenai manufaktur mesin dari Berlin, Rizal mengganti bahasanya menjadi bahasa Jerman.

Ia menjelaskan struktur biaya dan efisiensi produksi dengan istilah-istilah teknis yang sangat rumit, semua dilakukan dengan daya ingat fotografisnya yang luar biasa.

Ruang rapat mendadak sunyi senyap. Hanya suara Rizal yang menggema, membedah strategi bisnis global dengan kecerdasan yang sangat tajam.

Tidak ada lagi pria malang di depan mereka; yang ada adalah seorang pemimpin yang jenius.

Setelah tiga puluh menit, Rizal menutup presentasinya.

"Jadi, Pak Bram, apakah menurut Anda 'orang miskin' ini cukup layak untuk memimpin rapat koordinasi dengan mitra Berlin minggu depan? Atau saya perlu mengulanginya dalam bahasa lain?"

Aisyah yang duduk di sampingnya hanya tersenyum tipis sambil melipat tangan.

Ia melihat wajah para direksi yang tadinya penuh hinaan kini berubah menjadi penuh ketakutan dan rasa malu.

Mereka tertunduk, tak berani menatap mata Rizal.

"Luar biasa..." gumam Pak Bram lirih, keringat dingin mengucur di dahinya.

"Saya minta maaf, Pak Rizal."

Rizal duduk kembali dengan tenang. "Mari kita mulai bekerja. Saya tidak suka membuang waktu untuk hal-hal yang tidak produktif."

Aisyah menggandeng lengan Rizal dengan lembut, menuntunnya melewati lorong eksklusif lantai paling atas menuju sebuah pintu kayu jati besar yang tampak sangat kokoh.

Begitu pintu terbuka, sebuah ruang kerja mewah dengan pemandangan langsung ke seluruh penjuru kota tersaji di depan mata.

Meja kerja yang besar, kursi kulit yang nyaman, dan deretan buku bisnis internasional tertata rapi di sana.

"Ini ruangan kamu, Mas. Ruangan ini sekarang menjadi milikmu sepenuhnya," ucap Aisyah sambil tersenyum bangga.

Rizal melangkah masuk, menyentuh permukaan meja kayu yang halus itu.

Ia masih merasa seperti sedang bermimpi. Dari seorang pria yang diinjak-injak di jalanan, kini ia berada di puncak tertinggi sebuah gedung pencakar langit. Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatinya.

Rizal berbalik menatap istrinya. "Sayang, terima kasih. Tapi, kalau kamu menyerahkan posisi sepenting ini kepadaku, lalu kamu sendiri kerja apa? Aku tidak mau mengambil semua yang sudah kamu bangun dengan susah payah."

Aisyah tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat ringan dan tulus, seolah beban berat di pundaknya baru saja terangkat.

Ia melangkah mendekati Rizal dan merapikan dasi suaminya yang sedikit miring.

"Mas, selama bertahun-tahun aku memegang kendali perusahaan ini sendirian. Aku lelah menjadi wanita karir yang harus bertempur setiap hari di ruang rapat," bisik Aisyah sambil menatap mata Rizal.

"Sekarang, aku memiliki kamu. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi istri sepenuhnya. Aku ingin mengabdi sebagai seorang istri, menyiapkan sarapan untukmu tanpa harus terburu-buru, dan menyambutmu pulang kerja dengan senyuman."

Aisyah menjeda sejenak, matanya berbinar menceritakan impian sederhananya.

"Dan soal pekerjaan, aku ingin membuka usaha kue kering. Itu hobi lamaku yang sempat terkubur karena urusan kantor. Aku ingin punya toko roti kecil yang hangat, sementara kamu yang menjaga kerajaan besar ini."

Rizal sedikit terkejut ketika mendengar perkataan dari istrinya.

Ia tidak menyangka bahwa wanita sekuat Aisyah justru mendambakan kesederhanaan seperti itu.

Ia menarik Aisyah ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh rasa hormat.

"Aku berjanji akan menjaga perusahaan ini sekuat tenaga, agar kamu bisa mewujudkan impianmu itu, Sayang," janji Rizal.

Di sebuah sudut kota yang kumuh, jauh dari kemewahan rumah Baskoro, Intan duduk meringkuk di atas kasur tipis yang berbau apek.

Ruangan kontrakan itu sempit, panas, dan hanya diterangi satu lampu bohlam kuning yang berkedip-kedip.

Perutnya melilit perih; sejak pagi ia hanya meminum air keran karena tidak ada sepeser pun uang di kantongnya.

"Ma, kenapa mama tega sekali membuang aku ke sini," isaknya pelan, menatap dinding yang berjamur.

Tiba-tiba, pintu kontrakan ditendang kasar dari luar.

Hadi masuk dengan wajah masam dan napas yang bau rokok.

Ia menatap Intan dengan pandangan meremehkan, sangat berbeda dengan tatapan manisnya saat Intan masih memegang kartu kredit tanpa batas.

PLAK!

Hadi melempar sebuah bungkusan plastik berminyak ke arah wajah Intan. Bungkusan itu jatuh di lantai yang kotor.

"Makan itu! Berisik sekali mengeluh lapar terus!" bentak Hadi kasar.

I

ntan tersentak, ia membuka bungkusan itu dengan tangan gemetar.

Ternyata hanya nasi bungkus sisa yang isinya sudah berantakan. Namun, karena rasa lapar yang tak tertahankan, Intan tetap memakannya dengan lahap sambil terisak.

"Hadi, kapan kita bisa balik ke rumah Mama? Kamu bilang rencana kemarin bakal berhasil," tanya Intan di sela kunyahannya.

"Aku nggak tahan di sini, badanku gatal-gatal, panas..."

Hadi tertawa sinis sambil menyalakan rokoknya.

"Rencana? Rencana itu hancur gara-gara kamu kurang pintar akting! Sekarang si Rizal itu malah jadi bos di kantor. Tadi aku lewat depan gedung, fotonya ada di layar besar sebagai pimpinan baru."

Intan tersedak. "Apa?! Pria pincang itu jadi pimpinan?"

"Iya! Dan kamu sekarang cuma babu di kontrakan ini," ucap Hadi sambil mendekat, lalu mencengkeram rahang Intan dengan keras.

"Dengar ya, kalau kamu nggak bisa cari cara buat ambil uang dari Mama kamu lagi, jangan harap aku mau mengurus kamu. Aku nggak butuh perempuan miskin yang cuma jadi beban!"

Hadi menghempaskan wajah Intan hingga gadis itu tersungkur di lantai.

Intan menangis sejadi-jadinya, menyadari bahwa pria yang ia puja ternyata jauh lebih kejam daripada Rizal yang dulu ia sia-siakan.

Di saat ia terpuruk, tidak ada lagi pelukan hangat, yang ada hanya cacian dan nasi sisa.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!