Cerita ini adalah tentang Regenerasi Hidayah. Dari Zain yang Bertaubat Karna pergaulan yang Salah saat masa remaja, Dan dikaruniai Anak yang bernama Zavier yang Pintar dan Tegas, Hingga Putri Kemnarnya Zavier Bernama Ziana dan Ayana yang menyempurnakan warisan tersebut. Dan Ditutup Dengan Kisah Anak Ayana, Gus Abidzar.
Ini adalah bukti bahwa meski darah berandalan mengalir dalam tubuh, cahaya agama mampu mengubahnya menjadi kekuatan untuk melindungi dan mengayomi sesama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh Bulanan
Acara syukuran tujuh bulanan atau mitoni digelar dengan sangat megah di pendapa besar pesantren. Perpaduan adat Jawa yang kental dengan nuansa New York pilihan Abigail menciptakan suasana yang unik.
Zayn tampil luar biasa tampan mengenakan beskap hitam dengan sulaman emas, sementara Abigail tampak anggun dengan kebaya moderen yang membalut perut buncitnya.
Di tengah keramaian tamu, saat Abigail sedang beristirahat sebentar di ruang dalam, Zayn berdiri sendirian di dekat area prasmanan untuk memastikan pelayanan tamu berjalan lancar. Tiba-tiba, seorang wanita muda berpakaian cukup berani, mungkin kerabat jauh dari salah satu donatur pesantren yang datang dari kota, mendekat ke arah Zayn.
Wanita itu sengaja berdiri sangat dekat, hingga aroma parfumnya yang menyengat menusuk hidung Zayn. "Gus Zayn ternyata aslinya jauh lebih panas ya daripada di foto," bisiknya dengan nada yang sangat provokatif.
Zayn hanya menoleh sekilas dengan wajah datar, mencoba tetap sopan. "Terima kasih. Silakan dinikmati hidangannya."
Namun, wanita itu tidak menyerah. Ia justru menyentuh lengan Zayn dengan berani dan berbisik tepat di telinganya, "Istri Gus sedang hamil besar, pasti Gus merasa lapar kan? Aku tahu tempat yang bagus untuk kita bicara berdua... atau mungkin melakukan sesuatu yang lebih menggairahkan daripada sekadar bicara."
Darah Zayn mendidih. Sisi bad boy yang selama ini ia jinakkan seketika bergejolak melihat harga dirinya dan kesucian acaranya dinodai. Zayn menepis tangan wanita itu dengan kasar.
"Dengar ya, Brengsek!" desis Zayn dengan suara rendah namun sangat tajam. Matanya berkilat penuh amarah yang mengintimidasi. "Jangan pernah berani mengotori rumahku dengan mulut kotormu itu. Pergi dari sini sebelum aku sendiri yang menyeretmu keluar dengan cara yang tidak terhormat!"
Wanita itu tersentak, wajahnya pucat pasi melihat tatapan Zayn yang seperti ingin menerkamnya. Ia langsung berbalik dan menghilang di antara kerumunan tamu.
Seketika setelah wanita itu pergi, Zayn memejamkan mata rapat-rapat. Ia menarik napas dalam, bahunya yang tegang mulai meluruh. "Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullah," ucap Zayn berkali-kali dengan suara bergetar. Ia merasa menyesal karena lisan yang baru saja digunakan untuk membacakan doa-doa suci harus ternoda oleh kata kasar, meski itu ditujukan untuk membela kehormatannya.
Abigail, yang sedari tadi memperhatikan dari balik pilar, mendekat dengan langkah pelan. Ia sudah mendengar semuanya, termasuk kata kasar suaminya.
"Zayn..." panggil Abigail lembut.
Zayn menoleh, wajahnya penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, sayang. Aku... aku tidak bisa menahan diri. Lisanku kotor di hari syukuran anak kita."
Abigail justru menggenggam tangan Zayn dan menciumnya dengan penuh rasa bangga. "Tidak, Zayn. Aku justru bangga padamu. Kamu tidak hanya seorang Gus yang lembut, tapi kamu adalah suamiku yang punya taring untuk menjaga kesetiaan. Kata kasarmu tadi adalah bentuk perlindunganmu padaku dan anak kita."
Abigail mengelus dada Zayn yang masih naik-turun karena emosi. "Istigfarmu menunjukkan kamu tetap seorang hamba yang taat, tapi kemarahanmu menunjukkan kamu adalah pria sejati. Aku semakin mencintaimu karena itu."
Zayn menarik Abigail ke dalam pelukannya di tengah keramaian yang tidak memperhatikan mereka. Ia mengecup dahi istrinya lama. "Terima kasih, Zaujati. Aku hanya tidak ingin ada wanita lain yang berpikir mereka punya celah, karena hatiku sudah terkunci rapat untukmu."
.
.
Malam itu, pesantren sedang diselimuti kesunyian yang dalam. Zayn dan Abigail tertidur lelap setelah lelah menyambut tamu di acara syukuran. Namun, sekitar pukul dua dini hari, Abigail terbangun karena merasakan sesuatu yang aneh, sensasi basah dan dingin yang merembes di sela kakinya.
Awalnya ia mengira itu hanya ketuban pecah dini, namun saat ia menyalakan lampu tidur, Abigail menjerit tertahan. Di atas sprei putih yang mewah, terlihat noda merah pekat yang terus meluas.
"Mas Zayn! Mas Zayn, bangun!" teriak Abigail sambil gemetar hebat.
Zayn tersentak bangun. Begitu melihat warna merah di bawah tubuh istrinya, wajah Zayn seketika pucat pasi, lebih pucat dari saat ia difitnah media. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Sisi protektifnya langsung mengambil alih, tanpa banyak bicara, ia menyambar jubahnya, membungkus tubuh Abigail dengan selimut, dan membopongnya keluar kamar dengan langkah seribu.
"Tenang, Sayang... zikir, Sayang. Terus sebut nama Allah," bisik Zayn dengan suara yang bergetar hebat meskipun ia mencoba terlihat kuat.
Zayn melajukan mobilnya membelah kegelapan malam menuju rumah sakit terdekat. Di sepanjang jalan, satu tangannya memegang kemudi dengan erat, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Abigail yang dingin. Ia tak henti-hentinya merapal doa dan istigfar, memohon agar Tuhan tidak mengambil kebahagiaan yang baru saja mereka pupuk.
Suasana ruang IGD sangat tegang. Zayn tidak diizinkan masuk ke ruang pemeriksaan awal. Ia hanya bisa berdiri di koridor, menyandarkan keningnya ke dinding rumah sakit. Tubuhnya yang kokoh itu kini tampak rapuh, bahunya bergetar saat ia bersujud di lantai rumah sakit, memohon keselamatan bagi istri dan calon anaknya.
Setelah satu jam yang terasa seperti selamanya, dokter keluar dengan wajah yang lebih tenang.
"Gus Zayn, alhamdulillah... pendarahannya sudah berhenti," ujar dokter itu. "Itu terjadi karena kelelahan setelah acara syukuran kemarin. Beruntung Gus segera membawanya ke sini. Janinnya sangat kuat, detak jantungnya normal dan bayinya baik-baik saja."
Zayn terduduk lemas di kursi tunggu, mengusap wajahnya dengan rasa syukur yang tak terhingga. "Alhamdulillah... Ya Allah, terima kasih."
Zayn masuk ke kamar rawat inap dan menemukan Abigail sedang berbaring dengan infus di tangannya. Begitu melihat Zayn, air mata Abigail kembali tumpah.
"Mas Zayn... bayi kita..."
"Bayi kita kuat, Sayang. Dia pejuang, sama seperti ibunya," ucap Zayn sambil duduk di samping tempat tidur. Ia mencium tangan Abigail berulang kali, lalu menempelkan telinganya ke perut Abigail yang berusia 7 bulan itu. "Terima kasih sudah bertahan di dalam sana, Nak. Maafkan Ayah yang kurang menjagamu."
Abigail mengelus rambut Zayn yang kini terlihat berantakan karena panik tadi. "Aku sangat takut kehilangan dia, Mas."
Zayn mendongak, menatap mata Abigail dengan tatapan yang sangat dalam. "Aku juga, Sayang. Kehilangan dia berarti kehilangan separuh nyawaku. Mulai sekarang, tidak ada lagi aktivitas berat. Kamu hanya boleh istirahat, dan kalau perlu, untuk ke kamar mandi pun aku yang akan menggendongmu."
Sisi dominan Zayn kembali muncul, tapi kali ini murni karena rasa protektif yang luar biasa. Malam itu, di ruang rumah sakit yang tenang, gairah mereka berubah menjadi rasa kasih yang jauh lebih dewasa. Zayn tidak beranjak dari sisi Abigail, menjaga istrinya sepanjang malam seolah ia sedang menjaga harta paling berharga di seluruh dunia.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
happy reading😍😍😍😍