Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ratih
Dua hari menjelang pernikahan, Arga sedang merapikan ruang tamu yang akan digunakan untuk akad nikah ketika terdengar suara mobil berhenti di depan gerbang. Suara yang tidak asing. Suara mesin mobil Honda Jazz putih yang dulu sering ia dengar setiap pagi.
Jantungnya berhenti sedetik.
Tidak mungkin.
Ia berjalan ke jendela, mengintip keluar. Dan dunianya seolah berhenti berputar.
Ratih.
Mantan istrinya turun dari mobil dengan dress cream yang sederhana tapi tetap membuatnya terlihat cantik. Rambutnya yang dulu ia cintai dikuncir kuda, wajahnya terlihat lelah tapi tetap rupawan.
"Tidak... tidak, tidak, tidak..." gumam Arga panik. "Kenapa dia di sini? Kenapa sekarang?"
Ratih sudah berjalan menuju gerbang, tangannya menekan bel berkali-kali.
Ting tong. Ting tong. Ting tong.
"Arga! Arga, aku tahu kamu di dalam! Buka pintunya!" suara Ratih terdengar dari luar.
Arga membeku di tempat. Kakinya tidak bisa bergerak. Otaknya blank total. Dari semua waktu, kenapa Ratih harus datang sekarang? Dua hari sebelum pernikahannya dengan Safira?
"Arga! Kumohon! Aku perlu bicara denganmu!" Ratih terus mengetuk gerbang.
Dengan kaki yang gemetar, Arga akhirnya berjalan keluar. Membuka gerbang dengan wajah yang berusaha terlihat datar meski jantungnya berdegup kencang.
Dan saat gerbang terbuka, ia berhadapan langsung dengan wanita yang pernah menghancurkan hidupnya.
Ratih.
Mata mereka bertemu. Dan Arga melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat di mata Ratih sebelumnya.
Penyesalan.
"Arga..." suara Ratih bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Akhirnya... akhirnya aku ketemu kamu."
"Apa maumu di sini?" Arga bertanya dingin. Sangat dingin. Suara yang bahkan ia sendiri kaget bisa keluar dari mulutnya.
Ratih tersentak mendengar nada dingin itu. Tapi ia tidak menyerah. "Aku... aku perlu bicara denganmu. Boleh aku masuk?"
"Tidak."
"Arga, kumohon. Hanya sebentar. Aku... aku datang jauh-jauh dari Jakarta."
"Aku tidak peduli. Pergi."
"Arga!" Ratih mulai menangis sekarang. Air matanya mengalir deras. "Kumohon dengarin aku dulu! Aku... aku menyesal, Arga. Aku sangat menyesal!"
Arga tertawa. Tertawa pahit yang membuat Ratih terdiam. "Menyesal? Sekarang kamu menyesal? Setelah apa yang kamu lakukan?"
"Aku tahu aku salah! Aku tahu aku bodoh!" Ratih melangkah maju, berusaha meraih tangan Arga tapi Arga mundur. "Dimas... Dimas itu bajingan, Arga. Dia cuma manfaatin aku. Setelah kamu pergi, dia... dia ninggalin aku. Ternyata dia punya pacar lain. Aku... aku cuma mainan buat dia."
"Dan itu harusnya bikin aku kasihan padamu?" Arga menatap Ratih dengan tatapan tajam. "Kamu pikir aku akan terima kamu kembali setelah kamu selingkuh dengan sahabatku sendiri? Setelah kamu bilang kamu tidak pernah bahagia sama aku?"
"Aku bohong!" Ratih berteriak dengan frustasi. Air matanya semakin deras. "Aku bohong waktu itu! Aku cuma... aku cuma marah! Aku sebel karena kamu jarang di rumah! Tapi itu bukan berarti aku nggak bahagia! Aku bahagia, Arga! Sangat bahagia sama kamu!"
"Kalau bahagia kenapa selingkuh?" Arga membalas dengan teriakan yang lebih keras. "Kalau bahagia kenapa tidur dengan pria lain di ranjang kita?!"
Ratih menangis sejadi-jadinya sekarang. Tubuhnya gemetar hebat. "Karena aku bodoh! Karena aku lemah! Karena aku kesepian dan Dimas ada di saat aku butuh perhatian! Tapi aku sadar sekarang, Arga! Aku sadar yang aku butuh itu kamu! Cuma kamu!"
"Terlambat," Arga berkata dengan suara yang dingin tapi gemetar. "Sudah terlambat, Ratih."
"Belum!" Ratih melangkah maju lagi, kali ini berhasil meraih tangan Arga. "Belum terlambat! Kita... kita bisa mulai lagi, Arga! Kita bisa perbaiki semuanya! Aku janji nggak akan selingkuh lagi! Aku janji akan jadi istri yang baik! Kumohon... kumohon kasih aku kesempatan sekali lagi..."
Arga menatap Ratih yang menangis sambil memegang tangannya. Lima bulan yang lalu, mungkin ia akan langsung memaafkan. Lima bulan yang lalu, mungkin ia akan memeluk Ratih dan bilang semuanya akan baik-baik saja.
Tapi sekarang?
Sekarang ia sudah punya Safira.
Dengan lembut tapi tegas, Arga melepaskan tangannya dari genggaman Ratih. "Sudah terlambat, Ratih. Aku sudah menemukan seseorang yang benar-benar mencintaiku. Seseorang yang menerimaku apa adanya. Seseorang yang tidak pernah mengkhianatiku."
Ratih membeku. Matanya melebar. "Se... seseorang? Kamu... kamu punya orang lain?"
"Ya."
"Siapa?!" Ratih langsung berubah marah. "Siapa dia?! Aku... aku mau lihat! Mana orangnya?!"
"Kamu tidak perlu tahu."
"AKU MAU TAHU!" Ratih mendorong Arga, masuk ke dalam halaman tanpa izin. "Mana dia?! Mana perebut suamiku?!"
"Aku bukan suamimu lagi!" Arga berteriak frustasi. "Kita sudah cerai, Ratih!"
"Tapi aku masih mencintaimu!" Ratih membalas dengan teriakan yang lebih keras. Air matanya mengalir seperti air terjun. "Aku masih mencintaimu, Arga! Dan aku nggak akan biarkan wanita lain ngambil kamu dariku!"
Saat itu pintu rumah terbuka. Dan Safira keluar dengan gaun putih sederhana yang ia siapkan untuk latihan akad. Rambutnya tergerai indah, wajahnya yang cantik pucat terlihat tenang meski ada kekhawatiran di matanya.
Ratih langsung terdiam melihat Safira. Mulutnya terbuka, matanya melebar.
"Dia... cantik sekali..." gumam Ratih tanpa sadar.
Safira berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang anggun. Tapi saat ia semakin dekat, Ratih merasakan sesuatu yang aneh.
Dingin.
Sangat dingin.
Udara di sekitar Safira terasa seperti freezer. Dan tatapan matanya... Ya Tuhan, tatapan matanya seperti jurang yang dalam. Seperti kekosongan yang menakutkan.
"Arga, ada apa?" Safira bertanya dengan suara yang lembut tapi entah kenapa terdengar bergema di telinga Ratih.
"Ini... ini Ratih. Mantan istriku," Arga menjawab dengan kaku. "Dia... dia datang tiba-tiba."
Safira menatap Ratih dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada kebencian. Tidak ada kemarahan. Hanya... tatapan kosong yang membuat bulu kuduk Ratih berdiri.
"Jadi kamu Ratih," kata Safira pelan. "Wanita yang menyakiti Arga."
Ratih mundur selangkah. Ada sesuatu yang sangat salah dengan wanita ini. Auranya... auranya tidak normal. Tidak seperti manusia biasa.
"Siapa... siapa kamu?" tanya Ratih dengan suara gemetar.
"Aku Safira," jawab Safira sambil tersenyum. Tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. "Tunangan Arga. Dan dua hari lagi, aku akan jadi istrinya."
"Istri?" Ratih seperti ditampar. "Kamu... kamu mau nikah dengannya? Se... secepat itu?"
"Ya," Arga menjawab tegas. Ia berdiri di samping Safira, menggenggam tangannya yang dingin. "Aku mau nikah dengan Safira. Karena dia yang membuat aku hidup lagi setelah kamu menghancurkanku."
Ratih menatap mereka berdua dengan tatapan tidak percaya. Lalu ia tertawa. Tertawa yang terdengar histeris.
"Kamu gila, Arga! Kamu... kamu baru kenal dia berapa lama?! Dan kamu udah mau nikah?! Kamu pikir dia bener-bener mencintaimu atau cuma manfaatin kamu?!"
"Jangan samakan dia denganmu!" Arga membentak. "Safira tidak seperti kamu! Dia tulus! Dia tidak pernah bohong! Dia tidak pernah mengkhianatiku!"
"Tapi lihat dia, Arga!" Ratih menunjuk Safira dengan tangan gemetar. "Ada yang aneh! Ada yang salah sama dia! Tatapannya... auranya... dia... dia bukan manusia normal!"
Arga dan Safira sama-sama terdiam.
Ratih menatap mereka dengan mata yang mulai mengerti. "Dia... dia apa? Jin? Hantu? Apa?!"
"Pergi, Ratih," Arga berkata dengan suara yang sangat dingin. "Pergi dari sini sebelum aku panggil Pak RT."
"Arga, kumohon!" Ratih menangis lagi. "Jangan kayak gini! Dia... dia makhluk aneh! Dia bisa bahaya buat kamu!"
"Lebih bahaya dari kamu yang mengkhianatiku?" Arga menatap Ratih dengan tatapan yang sangat menyakitkan. "Tidak ada yang lebih berbahaya dari pengkhianat, Ratih. Dan kamu... kamu sudah membuktikan itu."
Ratih terdiam. Air matanya mengalir tapi ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Safira melangkah maju, berdiri tepat di depan Ratih. Dan dengan suara yang sangat pelan tapi terdengar sangat jelas, ia berkata, "Arga milikku sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun, termasuk kamu, merusaknya lagi. Jadi pergilah. Dan jangan pernah kembali."
Hawa dingin yang keluar dari tubuh Safira semakin kuat. Ratih merasakan tubuhnya menggigil hebat. Napasnya keluar seperti kabut. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan ketakutan yang luar biasa.
Ia mundur perlahan, tidak berani melepas tatapan dari Safira. Lalu ia berbalik dan berlari ke mobilnya.
Sebelum masuk mobil, ia menoleh sekali lagi. Menatap Arga dengan tatapan yang penuh penyesalan.
"Kamu akan menyesal, Arga," bisiknya pelan meski Arga masih bisa mendengar. "Kamu akan sangat menyesal memilih dia."
Lalu ia masuk mobil dan pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan jejak debu di jalan.
Arga berdiri diam menatap mobil Ratih yang menjauh. Dadanya terasa sesak. Tangannya gemetar.
Safira memeluknya dari belakang. "Kamu baik-baik saja?"
Arga berbalik, memeluk Safira dengan erat. "Aku... aku tidak tahu. Melihat dia lagi... rasanya seperti membuka luka lama."
"Aku tahu," Safira mengusap punggung Arga dengan lembut. "Tapi dia sudah pergi. Dan kamu punya aku sekarang."
"Ya," Arga mengangguk sambil menangis di bahu Safira. "Aku punya kamu. Dan itu sudah cukup. Lebih dari cukup."
Mereka berpelukan lama di halaman rumah, tidak tahu bahwa Ratih yang sudah jauh dari sana sedang menangis di dalam mobilnya sambil menelepon seseorang.
"Ustadz Hasyim? Ini Ratih, teman Bagas. Saya... saya perlu bantuan Ustadz. Ada sesuatu yang sangat tidak beres dengan mantan suami saya. Dia... dia sepertinya diganggu makhluk halus. Dan dia mau nikah sama makhluk itu dua hari lagi."
Dan di ujung telepon, Ustadz Hasyim yang mendengar itu langsung bangkit dengan wajah sangat serius.
"Di mana Arga sekarang?"