NovelToon NovelToon
Jejak Cinta Nirmala

Jejak Cinta Nirmala

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Percintaan Konglomerat / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Berondong
Popularitas:420
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fitnah Baru Dan Tawa yang Makin Histeris

Rini mengambil botol parfum mahal dan menyemprotkannya ke udara, menghirup aromanya dengan rakus seolah itu adalah aroma kemenangan. "Buat jalanan ke Sukabumi menjadi neraka bagi Januar. Dan untuk keponakanku tersayang... biarkan dia ketakutan dalam persembunyiannya sampai dia memohon untuk mati."

****

Jauh di Sukabumi, udara pegunungan yang segar tidak mampu mengusir firasat buruk yang menghantui Nirmala. Ia sedang membantu ibu Ale memetik sayuran di kebun belakang ketika ia mendengar deru mesin mobil dari kejauhan—suara yang tidak lazim di desa yang tenang itu.

Jantungnya berdegup kencang. Ia teringat kata-kata Ale sebelum pemuda itu pergi ke Jakarta: “Jangan percaya pada siapa pun yang datang mencarimu.”

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari desa, rombongan mobil Januar Suteja terhambat oleh sebuah truk besar yang sengaja digulingkan di tengah jalan setapak yang sempit. Dari balik pepohonan, tembakan peringatan dilepaskan oleh orang-orang suruhan Rini.

"Tuan! Kita diserang!" teriak Malkom sambil merunduk di dalam mobil.

Januar menggeram, ia mengeluarkan pistol dari laci dasbor. "Rini benar-benar sudah gila! Dia ingin perang terbuka di tengah hutan?! Maju terus! Jangan biarkan mereka menghentikan kita. Nirmala harus ada di tanganku malam ini!"

Pertempuran pecah di jalur pendakian menuju desa. Di tengah kekacauan itu, Rini Susilowati di Jakarta terus tertawa di dalam kantornya yang megah. Ia menari-nari kecil dengan selendang sutranya yang melambai-lambai, menikmati simfoni kehancuran yang ia ciptakan dari jauh.

Bagi Rini, dunia ini adalah panggung sandiwara, dan ia adalah sutradaranya. Ia tidak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah, selama ia bisa mendengar suara palu saham yang runtuh dan melihat musuh-musuhnya merangkak di bawah kakinya.

Di desa, Nirmala menjatuhkan keranjang sayurnya. Ia melihat asap hitam membumbung dari arah jalan masuk desa. Ia tahu, para iblis telah menemukannya.

"Ale... tolong aku..." bisiknya lirih, sementara air mata ketakutan mulai mengalir di pipinya.

****

Kegelapan malam di Sukabumi menjadi saksi kegagalan Januar Suteja. Di jalur pendakian yang sempit dan berlumpur, sisa-sisa ban yang terbakar dan pecahan kaca mobil mewahnya berserakan seperti harga dirinya yang hancur. Orang-orang suruhan Rini yang terlatih dengan taktik gerilya kota berhasil memukul mundur rombongan Januar. Pria itu terpaksa berbalik arah dengan amarah yang membakar dada, meninggalkan asap hitam yang membumbung di lereng bukit.

Kabar kegagalan Januar sampai ke telinga Rini Susilowati bagaikan asupan morfin yang membuatnya melayang.

Di mansion utamanya yang bergaya gotik modern, Rini berdiri di balkon lantai dua. Angin malam yang dingin membuat selendang sutra hitamnya berkibar-kibar liar, menyerupai sayap gagak yang sedang merayakan kematian. Ia tidak lagi mampu menahan gejolak di dalam perutnya.

"Hahahaha! Tikus itu lari! Sang singa Suteja lari terbirit-birit karena segelintir preman!" Rini tertawa hingga tubuhnya terguncang hebat.

Ia merogoh saku gaun tidurnya, mengambil selembar tisu dan menyeka ingus yang tumpah ruah akibat tawa histeris yang bercampur dengan air mata kemenangan. Suaranya serak, parau, namun penuh dengan nada kepuasan yang mengerikan.

"Marwan... kau lihat?" Rini mendongak ke langit yang kelam, berbicara pada bayangan kakaknya yang sudah tiada. "Calon menantu pilihanmu itu hanya pecundang berbaju mahal! Sebentar lagi, aku akan menyapu bersih sisa-sisa namamu dari dunia ini!"

****

Keesokan harinya, Jakarta dikejutkan oleh langkah hukum balasan yang dramatis. Suteja Group, yang sudah di ambang kebangkrutan, melayangkan gugatan raksasa terhadap Dizan Holding. Mereka menuduh adanya manipulasi pasar secara masif dan permainan kotor di bursa saham yang dilakukan oleh Rini Susilowati.

Namun, Rini tidak gentar. Di ruang rapat Dizan Holding yang dingin, ia duduk dengan tenang sementara para pengacaranya gemetar.

"Kalian takut?" tanya Rini sambil memainkan ujung selendangnya. "Telepon Jaksa Agung. Kirimkan dokumen tentang keterlibatan Suteja Group dalam pencucian uang yang sudah kita 'siapkan' minggu lalu. Katakan pada media bahwa gugatan ini hanyalah upaya pengalihan isu dari kebangkrutan mereka sendiri."

Hanya dalam hitungan jam, narasi berubah total. Dengan koneksi gelapnya dan ancaman pada beberapa pejabat bank, Rini berhasil membalikkan keadaan. Bukannya Dizan Holding yang diperiksa, justru Suteja Group yang dijatuhi denda triliunan rupiah karena dianggap menyebarkan berita bohong dan melakukan pencemaran nama baik yang merusak stabilitas pasar modal.

Januar Suteja, yang baru saja tiba di Jakarta dengan luka di pelipisnya, hanya bisa menatap layar televisi di lobi kantornya dengan tatapan kosong. Ia telah kehilangan segalanya: kekuasaan, martabat, dan kini ia terancam penjara karena permainan licin wanita yang ia remehkan.

****

Sementara itu, jauh dari hingar-bingar lantai bursa Jakarta, sebuah badai lain sedang menerjang Nirmala di desa. Ketenangan yang ia cari mulai terkoyak oleh senjata yang lebih tajam dari peluru: Fitnah.

Pagi itu, Nirmala sedang membantu Ibu Ale menjemur pakaian di samping rumah. Dari balik pagar tanaman, muncul seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bunga dan wajah yang selalu tampak curiga. Dia adalah Bu Endang, tetangga yang dikenal sebagai sumber segala berita miring di desa tersebut.

Bu Endang berdiri dengan tangan di pinggang, suaranya yang cempreng membelah keheningan pagi.

"Wah, wah... rajin sekali 'tamu' kita ini ya, Bu Nurdin?" sindir Bu Endang dengan nada yang dibuat-buat.

Ibu Ale tersenyum canggung. "Iya, Bu Endang. Kasihan Neng Nirmala, masih butuh istirahat."

Bu Endang mendekat, matanya yang kecil menyelidik tubuh Nirmala dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Istirahat atau sembunyi, Bu? Saya dengar dari orang-orang pasar, ada mobil-mobil mewah kemarin cari perempuan yang mirip dia. Jangan-jangan, perempuan ini istri gelapnya si Ale ya? Atau malah simpanan orang kota yang kabur karena ketahuan?"

Nirmala membeku. Tangannya yang sedang memegang baju basah gemetar hebat. "Itu tidak benar, Bu. Saya hanya..."

"Alah! Jangan banyak alasan!" potong Bu Endang, suaranya makin melengking, menarik perhatian beberapa tetangga lain yang mulai berkerumun. "Si Ale itu mahasiswa, nggak mungkin bawa perempuan cantik kalau nggak ada apa-apanya. Di desa ini kita menjunjung norma, Bu Nurdin! Jangan sampai desa kita kena sial gara-gara menampung perempuan pembawa masalah yang entah datang dari mana ini!"

"Jaga bicara kamu, Endang!" Ibu Ale mencoba membela, namun suaranya yang lembut kalah telak oleh teriakan cempreng Bu Endang.

"Bicara apa? Seluruh desa sudah bisik-bisik! Lihat mukanya, pucat begitu, pasti banyak rahasia kotor! Dia itu cuma beban buat keluarga kamu, Bu Nurdin. Kasihan si Ale, kuliah jauh-jauh malah ngurusin istri gelap begini!"

Nirmala merasakan dadanya sesak. Fitnah itu terasa lebih menyakitkan daripada ancaman Januar. Di dunia barunya ini, ia berharap menemukan kedamaian, namun ternyata kebencian bisa tumbuh di mana saja—bahkan di sela-sela rimbunnya pohon bambu.

"Saya bukan istri gelap siapa pun..." bisik Nirmala, air mata mulai jatuh di pipinya yang bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!