NovelToon NovelToon
Bangkitnya Menantu Terhina

Bangkitnya Menantu Terhina

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: megga kaeng

Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 9 Tumbal yang Dipilih**

Matahari terbit, tetapi sinarnya seperti tertahan oleh sesuatu yang tak kasatmata. Defit berdiri di depan sumur tua di samping rumah, menatap ke dalam lubang gelap itu. Air di dasar sumur tak memantulkan wajahnya dengan jelas hanya bayangan yang bergerak pelan, seperti sedang bernapas.

Sejak malam itu, ia merasa ada detak lain di dalam dadanya.

Bukan jantungnya.

Lebih lambat. Lebih berat.

Dan selalu berdetak saat ia mengingat rasa hina yang pernah ia telan.

Di dapur, Ratna memarahi Maya tanpa alasan yang jelas.

“Kamu itu istri, bukan pelayan bodoh!” bentaknya, matanya merah, suaranya bergetar. “Kalau masakan saja tidak becus, apa gunanya kamu di rumah ini?!”

Maya menunduk. Tangannya gemetar memegang sendok kayu. Ia ingin membela diri, ingin menangis, tapi suara itu tercekik di tenggorokan.

Defit berdiri di ambang pintu dapur.

Biasanya, ia akan diam. Menunduk. Membiarkan semua kata itu menghantam istrinya seperti hujan batu.

Namun hari ini…

sesuatu di dalam dirinya bergerak.

“Cukup.”

Satu kata.

Namun dapur itu seketika sunyi.

Ratna menoleh perlahan, menatap Defit dengan mata yang membelalak. Bukan karena kata itu, melainkan karena cara Defit mengucapkannya dingin, dalam, dan tanpa keraguan.

“Kamu… berani membantah aku?” suara Ratna bergetar, bukan karena marah, tapi karena sesuatu yang tidak ingin ia akui.

Defit melangkah maju satu langkah. Tidak mendekatkan wajah. Tidak mengancam.

Namun lantai kayu berderit panjang, seolah rumah itu sendiri ikut merasakan tekanan yang keluar dari tubuhnya.

“Dia istriku,” kata Defit pelan. “Kalau kau menyakitinya… kau menyakitiku.”

Ratna tertawa pendek, tapi tawanya kosong.

“Laki-laki tak berguna sepertimu berani bicara soal harga diri?”

Kalimat itu…

adalah pemicu.

Defit merasakan dunia di sekitarnya memudar. Suara Ratna seperti datang dari kejauhan. Yang ia dengar hanyalah bisikan berat dari dalam dadanya.

Sekarang.

Inilah saatnya.

Tiba-tiba, cangkir di meja dapur retak sendiri. Rambut Ratna berdiri, napasnya tercekik. Ia merasakan tekanan kuat di dadanya, seolah ada tangan tak terlihat mencengkeram jantungnya.

Defit terkejut.

“Aku tidak”

Ia mundur selangkah, dan tekanan itu lenyap seketika.

Ratna terhuyung, memegangi meja, napasnya tersengal.

Untuk pertama kalinya…

ia menatap Defit dengan takut yang murni.

Siang harinya, Defit pergi ke pemakaman desa.

Langkahnya membawanya ke makam tua tanpa nama makam yang tanahnya lebih hitam dari sekitarnya. Angin berhenti berhembus saat ia berdiri di sana.

“Kau memanggilku,” bisik suara itu dari balik kesadarannya.

“Apa maksudmu dengan tumbal?” tanya Defit, suaranya nyaris putus asa. “Aku tidak ingin melukai siapa pun.”

Tawa rendah bergema di kepalanya.

“Setiap kebangkitan butuh bayaran,” jawab suara itu. “Dan kau sudah mulai merasakannya.”

Tanah di depan Defit bergerak pelan.

“Ada orang-orang yang hidup dari merendahkanmu,” lanjut suara itu. “Mereka menguatkan segel kami dengan penghinaan.”

Defit mengepalkan tangan.

“Kalau aku menolak?”

Sunyi.

Lalu suara itu berbisik sangat dekat.

“Maka yang kau cintai… akan kami ambil sebagai gantinya.”

Defit tersentak, matanya memerah.

“Jangan sentuh Maya.”

“Pilihan selalu milikmu,” jawab suara itu dingin. “Kami hanya… menagih.”

Malam turun membawa kabut tebal.

Di rumah, Maya terbangun dengan perasaan aneh. Ia melihat Defit duduk di tepi ranjang, membelakanginya.

“Defit?” panggilnya pelan.

Ia menoleh.

Wajah suaminya basah oleh air mata tapi matanya tenang, terlalu tenang.

“Kalau suatu hari aku berubah,” kata Defit lirih, “kamu harus percaya satu hal.”

Maya mendekat, jantungnya mencelos.

“Apa?”

Defit menggenggam tangannya erat.

“Aku melakukan semuanya… supaya kamu tidak lagi diinjak.”

Di luar kamar, bayangan di dinding bergerak sendiri.

Dan suara itu berbisik, puas:

“Tumbal pertama sudah ditandai.”

1
kurnia
up thor
grandi
awal yang menarik semoga,
terus menarik ceritanya 👍
megga kaeng: trimakasih🙏
total 1 replies
grandi
jangan gantung ya thor🙏
megga kaeng: siap🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!