Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Aku dan Zora sudah menikah sebulan lalu," ucap Dimas to the point. Suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Apa?!" Bumi dan Kanaya berseru kompak. Ruang tamu itu seketika diselimuti keheningan yang tegang.
Dimas mengangguk tenang. "Tepatnya pernikahan siri. Ini terjadi saat aku mengantarnya pulang kampung bulan lalu. Ceritanya sangat panjang, Bum, Nay. Yang pasti, kedatangan kami ke sini selain untuk menengok Sasa, kami ingin kalian menjadi orang pertama yang tahu. Kami butuh doa dan restu kalian."
Bumi terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lebar. Ia meninju pelan bahu sahabatnya itu, lalu menariknya ke dalam pelukan hangat. Sementara itu, Kanaya mengembuskan napas lega. Beban di pundaknya luruh; sahabatnya akhirnya berlabuh pada pria mapan dan bertanggung jawab seperti Dimas.
"Selamat, Dim! Aku benar-benar ikut senang," ucap Bumi tulus.
"Alhamdulillah ya Allah. Selamat ya, Pak Dimas," sambung Kanaya dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nay."
"Tapi, kenapa harus siri dulu? Kenapa tidak langsung ke KUA?" tanya Bumi, sedikit heran.
"Aku dan Ibu sedang mempersiapkan segalanya untuk pendaftaran resmi, Bum. Doakan saja semuanya lancar," jawab Dimas, meski ada kilat kegelisahan yang ia sembunyikan dengan rapi.
Sementara itu di lantai atas, suasana terasa jauh lebih melankolis. Zora menggendong bayi mungil yang merupakan perpaduan sempurna wajah Bumi dan Kanaya. Menatap makhluk kecil itu selalu terasa seperti melihat keajaiban Tuhan yang nyata.
Pikiran Zora melayang. Ia dan Dimas sudah sah sebagai suami-istri. Mereka sudah berbagi ranah paling intim. Tentu saja, jauh di lubuk hatinya, ia pun mendamba kehadiran bayi mungil seperti ini. Namun, senyum itu mendadak luntur. Bayangan lembar akta kelahiran yang ia temukan di tas Dimas kembali muncul seperti hantu.
Rasa sakit itu kembali menyayat,tajam dan tak kasat mata.
"Dia lucu, kan?" Suara Kanaya tiba-tiba memecah lamunan Zora dari arah pintu.
Zora tersentak, lalu menoleh cepat sambil berusaha mengatur ekspresi wajahnya. "Dia... dia sangat cantik, Nay," balas Zora, suaranya sedikit bergetar.
"Lalu, kapan kamu akan memberi kami kabar gembira yang sama, Zor?" tanya Kanaya menggoda.
Zora mengerutkan dahi, butuh beberapa detik sampai ia menyadari arah pembicaraan sahabatnya itu. "Nay, maaf... aku benar-benar minta maaf belum sempat bercerita padamu."
Kanaya menggeleng cepat, lalu melangkah maju dan memeluk Zora dengan erat. Pelukan seorang sahabat yang selalu tahu kapan hati temannya sedang tidak baik-baik saja.
"Tak apa, Zor. Pak Dimas sudah menceritakan semuanya di bawah tadi. Aku hanya berharap pernikahan kalian samawa. Kamu bahagia, kan, Zor... menikah dengan Pak Dimas?"
Zora terdiam di dalam pelukan itu. Pertanyaan Kanaya terasa seperti sembilu. Bahagia? Ia ingin menjawab iya, tapi akta kelahiran itu seolah berteriak bahwa kebahagiaannya hanyalah istana pasir.
""Kenapa, Zor?" tanya Kanaya. Ia menangkap kilat redup di mata sahabatnya,sebuah sinyal bahaya yang hanya bisa dipahami oleh sesama wanita.
"Nay... apa aku terlalu terburu-buru, ya? Saat menyetujui lamaran Pak Dimas waktu itu?" suara Zora bergetar, nyaris hilang tertelan udara.
"Zora, tatap aku. Ada sesuatu yang kau sembunyikan, kan? Cerita padaku!" tuntut Kanaya, suaranya naik satu nada karena khawatir.
Kanaya tahu pembicaraan ini akan berat. Ia segera beralih pada Eza yang masih asyik di sana. "Sayang, temani Ayah sama Om Dimas di bawah dulu, ya? Bunda mau bicara sebentar dengan Tante Zora."
"Siap, Bunda!" jawab Eza riang. Bocah penurut itu segera berlari keluar tanpa curiga.
Begitu pintu tertutup, Kanaya langsung mengunci slotnya. Ia duduk di tepi ranjang, tepat di samping Zora yang bahunya mulai berguncang. "Katakan, Zor. Ada apa sebenarnya?"
"Nay... aku..."
Pertahanan Zora runtuh. Air mata yang sejak tadi ia bendung tumpah seketika di hadapan Kanaya. Isaknya terdengar perih, jenis tangisan yang keluar dari hati yang patah sebelum sempat benar-benar bahagia.
"Ada apa? Katakan padaku," bisik Kanaya cemas.
"Nay... Pak Dimas... dia sudah punya anak."
"Apa?!" Kanaya terperangah, dunianya seolah berhenti berputar sejenak.
Zora mengangguk lemah di sela tangisnya. Ia mulai menumpahkan semuanya. Tentang pertemuan canggung dengan teman-teman Dimas, tentang sosok Wulan yang dibisikkan oleh Siska, hingga puncaknya: selembar akta kelahiran bayi perempuan dengan nama Dimas tertera jelas sebagai sang ayah.
Kanaya mendengarkan dalam diam. Tangannya tak berhenti mengusap punggung Zora, mencoba menyalurkan kekuatan. Hatinya ikut perih. Ia tahu Zora bukan wanita yang mudah jatuh cinta, dan melihatnya hancur seperti ini karena pria yang baru saja menikahinya adalah sebuah ironi yang menyakitkan.
"Zor, dengarkan aku," ucap Kanaya lembut namun tegas setelah Zora sedikit tenang. "Menurutku, kamu harus bertanya langsung pada Pak Dimas. Jangan kau telan sendiri racun ini. Kalian sudah menikah, kejujuran itu bukan lagi pilihan, tapi kewajiban."
"Tapi aku canggung, Nay. Kamu tahu sendiri bagaimana hubungan kami bermula... Aku takut jawabannya justru akan benar-benar membunuhku," balas Zora dengan tatapan kosong.
Kanaya mengangguk paham, lalu menggenggam tangan Zora erat. "Aku mengerti rasanya takut akan kebenaran. Tapi aku ingin kamu belajar dari masa laluku dan Mas Bumi. Jangan sampai badai yang menghancurkan kami dulu, menghancurkanmu juga. Kamu ingat, kan, betapa hancurnya Mas Bumi karena melewatkan masa-masa emas kami hanya karena sebuah kesalahpahaman yang tidak dibicarakan?"
Zora tertegun. Kata-kata Kanaya seperti tamparan lembut yang menyadarkannya dari lamunan duka. Ia mulai mencerna kebenaran di balik kalimat itu.
"Lalu... aku harus bagaimana, Nay?"
"Bicaralah dengan Pak Dimas. Secepatnya. Tatap matanya, dan minta kebenaran itu. Oke?"
Zora menatap sepasang mata Kanaya yang memancarkan kesungguhan. Perlahan, meski ragu masih menggelayut, ia mengangguk pelan. Sebuah janji untuk memperjuangkan hatinya sendiri.
"Tapi, Zor... jika setelah kamu bertanya pun Pak Dimas tetap memilih bungkam... apa yang akan kamu lakukan?" tanya Kanaya dengan suara yang hampir berbisik, takut akan jawaban yang akan ia dengar.
Zora menyeka sisa air mata di pipinya dengan gerakan kasar. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa sesak dan hampa secara bersamaan.
"Aku akan meninggalkannya," ucap Zora.
Bersambung...
Apakah Wulan dan Dimas benar-benar pernah memiliki seorang anak? Tunggu jawabannya di bab berikutnya ya.Jangan lupa baca dari awal sampai akhir tanpa skip.
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍