Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 (BONUS) Sebelum Mereka Menyadari
Marcus tidak suka rasa tidak nyaman.
Dan malam itu, rasa itu menempel di kulitnya seperti bau besi.
Ia berdiri di depan jendela kamar kerja, ponsel di tangan. Pesan anonim yang diterima Selene sore tadi masih terngiang di kepalanya, meski Selene berusaha menutupinya dengan tawa palsu.
“Wanita yang kau anggap tak melihat apa-apa.”
“Konyol,” gumam Marcus. Namun dadanya terasa sempit.
Di bawah, Elena baru saja kembali. Langkahnya terdengar pelan di lorong. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Seperti seseorang yang tahu persis ke mana ia berjalan.
Marcus menoleh ketika pintu terbuka.
“Elena,” panggilnya.
Elena berhenti. Wajahnya menghadap lurus ke arahnya, mata tertutup, ekspresi lembut seperti biasa.
“Ya?”
“Kau ke mana hari ini?”
Keheningan menggantung sepersekian detik terlalu lama.
“Galeri,” jawab Elena. “Seperti yang kukatakan.”
Marcus menatapnya. Tidak ada getar di suara itu. Tidak ada celah. Elena masih terlihat sama—rapuh, tenang, mudah diatur.
Tapi entah kenapa, Marcus merasa ia sedang ditatap balik.
“Baik,” katanya akhirnya. “Istirahatlah.”
Elena mengangguk dan berbalik pergi.
Saat pintu menutup, Marcus baru sadar—ia lupa bernapas.
******
Di kamar lain, Selene menatap layar ponselnya yang kosong. Pesan itu sudah ia hapus, tapi rasa dinginnya masih menjalar di tulang belakang.
“Ini cuma kebetulan,” gumamnya pada diri sendiri.
Namun saat ia menoleh ke cermin, bayangan di sana tampak berbeda. Seolah ada sesuatu yang mengintai dari balik pantulannya sendiri.
******
Sementara itu, di tempat lain yang jauh dari rumah Marcus, Adrian menutup map terakhir di atas meja.
“Ini cukup untuk menjatuhkan mereka,” katanya.
Elena berdiri di sampingnya, wajahnya tanpa emosi.
“Belum,” jawabnya tenang. “Ini cukup untuk membuat mereka tak tidur.”
Adrian menatapnya. “Kau berubah.”
Elena tersenyum tipis.
“Tidak. Aku hanya berhenti berpura-pura lemah… di tempat yang salah.”
Ia mengambil tongkat putihnya, memegangnya seperti simbol—bukan kebutuhan.
“Kita biarkan mereka berpikir aku masih menunggu,” lanjutnya.
“Karena orang paling ceroboh adalah mereka yang yakin sedang menang.”
Di luar, malam bergerak pelan.
Dan di rumah Marcus, dua orang mulai menyadari satu hal yang sama—
sesuatu telah berubah.
Mereka hanya belum tahu sejak kapan.
Adrian melangkah lebih dekat, menurunkan suaranya. “Marcus mulai merasa ada yang tidak beres. Selene juga.”
“Itu wajar,” jawab Elena pelan. “Kebenaran selalu membuat orang gelisah sebelum terlihat.”
“Kau yakin ingin tetap melanjutkan sandiwara ini?” tanya Adrian. “Jika mereka tahu lebih cepat—”
“Mereka tidak akan tahu,” potong Elena. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi. “Karena mereka terlalu sibuk menjaga kebohongan mereka sendiri.”
Ia menoleh sedikit, seolah mendengarkan sesuatu yang tak bisa didengar oleh orang lain. Bukan suara—melainkan pola. Kebiasaan. Kesalahan yang berulang.
“Elena,” panggil Adrian lagi, kali ini lebih hati-hati. “Jika semuanya terbongkar… kau akan sendirian di depan mereka.”
Elena tersenyum kecil. Bukan senyum hangat. Bukan pula pahit.
“Seseorang harus berdiri paling depan,” katanya. “Dan aku sudah terlalu lama berada di belakang.”
Ia melangkah pergi, meninggalkan Adrian dalam diam.
Malam itu, tanpa mereka sadari, dua pihak sedang menyiapkan langkah yang sama—
namun hanya satu yang benar-benar tahu ke mana arah akhirnya.
Mereka belum tahu siapa yang sedang mereka hadapi.
Bab selanjutnya… rahasia lama akan menyebut nama Elena dengan cara berbeda.
...****************...
...Visualisasi Elena, Adrian, Marcus dan Selene...
Elena
Adrian
Marcus dan Selene