*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Buku 1, Sekutu di Paleside) - Prolog
Geraman yang rendah dan dalam memecah keheningan, getarannya lebih kurasakan merambat melalui sol sepatuku yang tipis daripada terdengar di telinga.
Sekitar dua puluh meter di depanku, makhluk sebesar pinggang orang dewasa itu juga diam, membalas tatapanku. Cakar depannya yang panjang sedikit mencengkeram tanah, siap untuk menerjang kapan saja.
Dasar pedagang dungu, pikirku masam. Laporannya bilang makhluk ini "kadal cokelat besar" dengan Klasifikasi C atau D-predator yang cenderung mencari mangsa. Tapi spesimen di hadapanku ini? Luak tanah ini kategori B; hewan penakut yang lari ke sarangnya jika dilempar. Meskipun ukurannya jauh lebih besar untuk ukuran Luak Tanah, tapi buat apa mengirim Tarker hanya untuk hewan kategori B.
Hhhhh... Kukira akan menemukan spesies baru atau apalah. Kalau begini hanya menyusahkan saja.
Ada bunyi-bunyi renyah di sebelah kanan. Seekor Tupai Pendar sedang mengunyah biji pinus sambil menatapku seperti menonton sebuah latih tarung persahabatan. Memang di area hutan yang cukup terbuka ini, tempat ini cukup mirip dengan lapangan.
Perlahan, aku membuka kelima jari tangan kananku. Aku merasakan tarikan halus pada Sigil di dalam gagang batonku-sebuah koneksi yang terasa seperti senar tak kasat mata yang terhubung dengan telapak tanganku. Itulah Daya, energi yang menjadi bahan bakar setiap Crafter. Masalahnya, kolam energiku sedang tidak terlalu penuh siang ini. Makhluk ini muncul tepat sebelum waktu makan siang.
Aku mundur sangat pelan, lebih baik kembali ke Markas saja dan laporkan kalau hewan ini kategori B, bukan ancaman.
Mendadak, hewan itu maju menyerang. Ia menghentakkan kaki belakangnya yang kekar, menerjang maju dengan kecepatan yang membuat tanah di bawahku bergetar.
Apa?! Aku tidak akan menyerangmu bodoh! aku mau pulang!
Aku melompat mundur dengan sigap, membuka tangan dan menarik Sigil dengan Daya-ku. Baton perunggu itu melayang, meluncur dari sarungnya di sabuk, mendarat pas di telapak tanganku. Ibu jariku menekan tombol di permukaan logamnya secara refleks.
Ssh-klik!
Segmen-segmen logamnya meluncur keluar dan mengunci satu sama lain, memanjang menjadi tongkat tempur sepanjang satu meter.
Dengan cepat, aku membisikkan rapalan formula- sebuah dialog yang hanya dimengerti olehku dan alam, sesuai filosofi Suku Mien: Dengar, Rasa, Arahkan.
"Embun Pagi... Dua Jiwa..."
Sigil Air di pangkal batonku mulai memancarkan cahaya biru redup. Dari sana, dua bola air mengalir keluar, membesar di kedua sisi bahuku, permukaannya beriak membiaskan cahaya fajar yang pucat.
Ia masih memacu mengejarku. Tepat saat moncong makhluk itu berjarak beberapa meter, aku mengayunkan tangan kiriku ke atas.
"...BANGKITKAN PILAR!"
Syuuuh-!
Tanah merekah. Sebuah pilar air bertekanan tinggi melesat dari bawah, menghantam ulu hati si Luak Tanah dan melontarkannya ke udara seperti boneka kain. Sebelum gravitasi menariknya kembali, aku mengarahkan batonku lurus ke depan.
"TAHANAN AIR!"
Dua bola air di sisiku langsung melesat dan menangkapnya di udara. Keduanya menyatu, membentuk sebuah gelembung air raksasa yang memenjarakannya. Makhluk itu meronta, gerakannya melambat seolah berada dalam jeli yang padat, sementara kepalanya sengaja kusisakan di udara bebas.
Siapa suruh kau menyerangku.
Aku segera berlari ke arahnya, melompat tinggi, dan dari atas, aku mengayunkan batonku dengan seluruh kekuatan, menghantam kepalanya dengan hantaman tumpul yang presisi.
KRAK!
Itu adalah suara gelembung air yang pecah seketika, melepaskan gumpalan air dalam satu semburan besar. Tubuh Luak tanah itu mendarat dengan bunyi gedebuk yang keras di tanah yang kini becek, pingsan tak bergerak.
Aku mendarat dengan ringan beberapa meter darinya, menghela napas panjang. Mencoba bersandar pada pohon terdekat.
Selesai. Cepat dan efisien. Inilah salah satu keuntungan bekerja menjadi Tarker solo. Namun, aku juga sadar akan kerugiannya: jika aku membuat kesalahan bodoh dan terluka parah di sini, tidak ada rekan tim yang akan menyelamatkanku.
Aku mendekati makhluk pingsan itu, mengambil sedikit bulu dari kepala, badan, dan ekornya sebagai bukti laporanku. Sepertinya aku memukulnya terlalu kuat, sampai lidahnya terjulur keluar. Aku bisa membayangkan bintang-bintang berputar di atas kepalanya.
Aku menarik elemen air ku yang bertebaran, yang belum bercampur menjadi lumpur, kembali ke dalam Sigil sebelum mengambil buku catatan kecil.
Harus dicatat detailnya, selagi spesimen ini masih terpampang di depanku.
Saat aku membuka halaman depan buku itu, tertulis sebuah kata.
'Petunjuk tentang Serra'
Di bawahnya baru berisi satu nomor,
1. Kain baju robek → pinggir sungai Anellian
Catatan ini adalah pengingat yang konsisten, yang selalu mengembalikanku ke tujuan awal, mengapa aku memilih jalan menjadi seorang Tarker. Aku tak peduli apa yang terjadi di luar sana, apa yang diucapkan oleh orang di kampung dulu.
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭