NovelToon NovelToon
One Piece: Legenda Spider Fruit

One Piece: Legenda Spider Fruit

Status: sedang berlangsung
Genre:One Piece / Kelahiran kembali menjadi kuat / Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Transmigrasi
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Kota Awal dan Akhir

Loguetown menjulang di hadapanku seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kota tempat Gol D. Roger, Raja Bajak Laut, dieksekusi 22 tahun yang lalu. Kota tempat Great Pirate Era dimulai dengan kata-kata terakhirnya yang legendaris.

Aku berdiri di pelabuhan, basah kuyup karena hujan dan kelelahan dari pertarungan melawan Marine. Platform jaring yang kubuat akhirnya menghilang saat aku tiba di dermaga, dan aku hampir jatuh karena kaki ku sudah tidak kuat menopang berat tubuh.

"Hah... hah..." aku bersandar di tiang dermaga. "Akhirnya... sampai juga..."

Pelabuhan Loguetown ramai meski hujan baru saja reda. Pedagang berteriak menjual dagangan, pelaut mabuk berkelahi di depan bar, dan anak-anak berlarian mengejar satu sama lain. Tapi yang paling mencolok adalah jumlah Marine yang berpatroli—jauh lebih banyak dari pulau-pulau lain yang pernah kukunjungi.

"Kota ini dijaga ketat," pikirku sambil mengamati. "Pasti karena ini gerbang terakhir sebelum Grand Line. Marine tidak ingin bajak laut rookie masuk dengan mudah."

Aku berjalan perlahan menyusuri jalan utama kota, mencoba tidak menarik perhatian. Jaket laba-labaku yang basah menempel di tubuh, membuatku terlihat seperti anak jalanan yang kehujanan.

Beberapa orang menatapku dengan tatapan kasihan, tapi tidak ada yang mencegat.

"Pertama, aku butuh tempat untuk mengering dan istirahat," gumamku. "Lalu aku harus mencari informasi tentang Luffy."

Aku melihat sebuah kedai kecil di sudut jalan dengan tulisan "Makanan & Minuman Hangat - Buka 24 Jam". Sempurna.

Aku masuk ke kedai. Suasana di dalam hangat dan nyaman. Beberapa pelanggan duduk di meja, menikmati makanan mereka. Pemilik kedai—seorang wanita tua dengan kacamata—menatapku dari balik counter.

"Selamat datang, nak," katanya dengan suara lembut. "Kau kehujanan? Sini, duduk dulu. Aku buatkan teh hangat."

"Terima kasih, Bu," jawabku sambil duduk di kursi dekat jendela.

Wanita itu membawakan ku secangkir teh panas dan handuk kering. "Ini, keringkan dirimu dulu. Kau terlihat kelelahan, nak. Dari mana kau datang?"

"Dari Pulau Yotsuba, Bu," jawabku sambil mengeringkan rambut. "Perjalanan cukup... berat."

"Pulau Yotsuba? Itu cukup jauh," wanita itu duduk di seberangku dengan cangkir tehnya sendiri. "Kau sendiri? Tidak ada orang tua atau kru?"

"Sendiri, Bu," jawabku. "Aku... mencari seseorang."

"Mencari seseorang?" wanita itu tersenyum. "Siapa? Mungkin aku tahu. Aku sudah tinggal di Loguetown selama 40 tahun. Hampir semua orang yang datang ke kota ini pernah lewat kedaiku."

Aku ragu sejenak, tapi kemudian memutuskan untuk jujur. "Aku mencari Monkey D. Luffy dan Kru Topi Jerami. Apakah mereka sudah tiba di kota ini?"

Wanita itu terdiam sejenak, ekspresinya berubah serius. "Kru Topi Jerami... ya, mereka tiba kemarin sore. Anak-anak yang ramai itu. Kapten mereka, si bocah bertopi jerami, berkeliling kota dengan wajah ceria meski ada poster buronannya di mana-mana."

Jantungku berdebar kencang. "Mereka masih di sini?!"

"Seharusnya masih," wanita itu mengangguk. "Tapi hati-hati, nak. Kapten Smoker—pemimpin Marine base di kota ini—sudah memasang mata-mata di mana-mana untuk menangkap mereka. Kalau kau mencari mereka, kau juga akan jadi target."

"Itu tidak masalah," jawabku mantap. "Aku sudah bertekad."

Wanita itu menatapku lama, lalu tersenyum lembut. "Kau punya mata yang sama seperti mereka, nak. Mata yang penuh dengan impian dan tekad." Dia berdiri dan mengambil semangkuk sup dari dapur. "Makan dulu. Kau butuh energi kalau mau bertemu dengan mereka."

"Terima kasih banyak, Bu," kataku dengan tulus.

Aku menghabiskan sup dengan cepat—rasanya luar biasa setelah seharian tidak makan. Tubuhku mulai pulih, energi perlahan kembali.

Saat selesai makan, aku bertanya lagi. "Bu, apakah Ibu tahu di mana mereka biasa berkumpul?"

"Kalau bocah bertopi jerami itu, dia suka ke distrik belanja," jawab wanita itu. "Dia sering terlihat di toko senjata, toko makanan, dan... oh ya, dia pasti akan ke platform eksekusi."

Platform eksekusi. Tempat Gol D. Roger dieksekusi.

Tentu saja Luffy akan ke sana. Dalam cerita aslinya, Luffy memang pergi ke platform eksekusi dan hampir dieksekusi oleh Buggy dan Alvida sebelum diselamatkan oleh petir yang misterius.

"Bu, di mana platform eksekusinya?" tanyaku.

"Di tengah kota, alun-alun utama," jawab wanita itu. "Tapi hati-hati, nak. Tempat itu selalu dijaga ketat oleh Marine."

"Aku akan hati-hati. Terima kasih, Bu."

Aku meninggalkan beberapa koin di meja—sisa uang yang diberikan Pak Yamada—dan bergegas keluar dari kedai.

Langit sudah mulai gelap. Awan hitam berkumpul di atas kota, pertanda badai akan datang lagi. Angin bertiup kencang, membawa aroma laut dan petrichor.

Aku berlari menyusuri jalan-jalan Loguetown, mengikuti arah yang ditunjukkan wanita tua tadi. Jalanan semakin ramai saat aku mendekati pusat kota—pedagang mulai menutup toko mereka, orang-orang bergegas pulang sebelum hujan turun.

Dan kemudian, aku melihatnya.

Di tengah alun-alun besar, berdiri sebuah platform kayu tinggi dengan tangga menuju ke atas. Di puncaknya, ada guillotine tua yang berkarat—simbol dari eksekusi Gol D. Roger.

Platform Eksekusi.

Jantungku berdebar melihatnya. Ini adalah tempat bersejarah. Tempat di mana satu era berakhir dan era baru dimulai.

Tapi yang membuatku terkejut—ada seseorang di puncak platform itu.

Seorang pemuda dengan topi jerami.

"Luffy..." gumamku, hampir tidak percaya.

Dia berdiri di sana, menatap ke arah cakrawala dengan ekspresi yang sulit dibaca. Angin meniup topi jeraminya, tapi dia tidak peduli.

Aku ingin berlari ke sana, tapi Spider Sense ku tiba-tiba berdering.

Bahaya.

Aku menoleh ke kanan dan melihat dua sosok naik ke platform dari sisi yang berbeda. Salah satunya adalah badut dengan hidung merah besar—Buggy the Clown. Yang satunya lagi adalah wanita bertubuh besar dengan gada—Alvida.

"Tidak!" pikirku panik. "Ini saatnya!"

Dalam cerita asli, Buggy dan Alvida mencoba mengeksekusi Luffy di platform itu sebagai balas dendam. Dan Luffy... Luffy menerima nasibnya dengan senyuman, percaya pada takdirnya.

Aku harus menghentikannya!

Tapi sebelum aku bisa bergerak, aku melihat sesuatu yang lebih mengkhawatirkan—sekelompok Marine muncul dari segala arah, mengepung alun-alun. Dan di depan mereka, seorang pria dengan dua cerutu di mulut dan jaket putih dengan tulisan "JUSTICE" di punggungnya.

Kapten Smoker.

"Sial," gumamku. "Ini akan jadi kacau."

Di platform, Buggy sudah mencapai puncak. Dia menyeringai lebar sambil mengangkat pedangnya.

"MONKEY D. LUFFY!" teriak Buggy dengan suara yang bergema di alun-alun. "AKHIRNYA AKU BISA MEMBUNUHMU! DI TEMPAT YANG SAMA DI MANA RAJA BAJAK LAUT MATI! BETAPA IRONISNYA!"

Luffy menatap Buggy dengan tenang. Tidak ada ketakutan di wajahnya.

"Kalau aku mati di sini," kata Luffy dengan suara yang jelas meski angin bertiup kencang. "Itu berarti aku cuma sampai di sini. Tapi aku tidak akan menyesal!"

Buggy mengayunkan pedangnya ke bawah!

"LUFFY!" teriak suara dari bawah platform. Aku menoleh dan melihat Zoro, Sanji, dan kru Topi Jerami lainnya berlari menuju platform, tapi mereka dihalangi oleh Marine.

Semuanya terjadi dalam gerakan lambat.

Pedang Buggy turun.

Luffy tersenyum lebar.

"MAAF, SEMUA! AKU MATI!"

Dan tepat saat pedang itu akan memotong leher Luffy—

KRAKAAAAAAMMMM!

Petir menyambar platform dengan kekuatan yang mengerikan!

Cahaya putih menyilaukan memenuhi alun-alun. Ledakan energi membuat semua orang terpental ke belakang. Buggy dan Alvida terpental dari platform, jatuh ke tanah dengan keras.

Asap mengepul dari platform yang terbakar sebagian.

Dan saat asap mulai menghilang, aku melihat Luffy masih berdiri di sana—tidak terluka, topi jeraminya sedikit hangus, tapi dia masih hidup.

"Selamat..." gumam Luffy sambil menatap tangannya. "Aku... selamat?"

"LUFFY! CEPAT TURUN!" teriak Nami dari bawah.

Luffy tersadar dan langsung melompat dari platform. Dia mendarat di tengah krunya, dan mereka semua langsung berlari menuju pelabuhan.

"JANGAN BIARKAN MEREKA KABUR!" Smoker berteriak sambil mengubah tubuhnya menjadi asap. "KEJAR MEREKA!"

Kekacauan total terjadi di alun-alun. Marine berlarian mengejar Kru Topi Jerami. Bajak laut lain yang menonton menggunakan kesempatan untuk kabur juga.

Dan aku... aku berdiri di tengah kekacauan itu, tidak tahu harus melakukan apa.

Luffy dan krunya berlari melewati ku, hanya beberapa meter jaraknya. Aku bisa melihat wajah mereka dengan jelas—Luffy dengan senyum lebarnya, Zoro dengan tiga pedang di pinggangnya, Nami dengan rambut oranye panjangnya, Usopp dengan hidung panjangnya, Sanji dengan rokoknya.

Mereka... mereka benar-benar nyata.

"KENJI!" suara tiba-tiba memanggilku.

Aku menoleh dan melihat Kapten Drake dan Marcus berlari ke arahku.

"Syukurlah kau selamat!" kata Marcus sambil menepuk bahuku. "Kami khawatir kau tidak bisa lolos dari Marine!"

"Aku... aku baik-baik saja," jawabku, masih shock melihat Luffy.

"Ayo, kita harus pergi sekarang!" Kapten Drake menarik lenganku. "Smoker tidak main-main. Kalau dia melihat kita, kita akan jadi target juga!"

Tapi aku tidak bergerak. Mataku masih terpaku pada Luffy yang berlari menuju pelabuhan.

Ini saatnya.

Ini kesempatanku.

Kalau aku tidak bertindak sekarang, aku akan kehilangan mereka selamanya.

"Maaf, Kapten Drake," kataku sambil melepaskan tangannya. "Aku harus pergi."

"Apa? Kemana?!"

Aku tidak menjawab. Aku langsung berlari—berlari sekuat tenaga mengejar Kru Topi Jerami.

"LUFFY!" teriakku sekeras mungkin. "TUNGGU!"

Tapi suaraku hilang dalam kekacauan dan teriakan orang-orang.

Mereka terus berlari, tidak mendengarku.

Aku harus lebih cepat!

Aku menembakkan jaring ke atap bangunan di depan dan mengayunkan tubuhku, bergerak lebih cepat dari berlari. Aku melompat dari atap ke atap, mengejar mereka dari atas.

"LUFFY!" teriakku lagi.

Kali ini, Luffy mendengar. Dia menoleh ke belakang sambil terus berlari dan melihatku berayun di udara dengan jaring.

"Eh?! Ada orang laba-laba!" teriak Luffy dengan mata berbinar. "SUGOI!"

"Luffy, jangan berhenti!" Nami menarik lengan Luffy. "Kita harus cepat ke kapal!"

Mereka terus berlari menuju pelabuhan. Aku mengikuti dari atas, melompat dari atap ke atap.

Tapi kemudian, Spider Sense ku berdering keras!

Aku menoleh ke belakang dan melihat Smoker mengejar ku dengan kecepatan tinggi—tubuhnya berubah menjadi asap dan terbang di udara!

"Pengguna Buah Iblis lain!" teriak Smoker. "BERHENTI!"

"Sial!" gumamku.

Smoker melempar senjatanya—jitte dengan ujung seastone—ke arahku!

Aku menghindar dengan sulit, jitte itu melewati kepalaku hanya beberapa sentimeter. Kalau kena, kekuatanku akan hilang seketika!

"Kau tidak bisa lari!" Smoker sudah sangat dekat.

Aku tidak punya pilihan. Aku menembakkan jaring ke arah Smoker—bukan untuk menyerang, tapi untuk menghalangi pandangannya. Jaring membentuk dinding di antara kami.

Tapi Smoker hanya tertawa. Tubuhnya berubah menjadi asap dan menembus jaring dengan mudah!

"Buah Iblis Logia!" pikirku panik. "Aku tidak bisa menyentuhnya!"

Smoker sudah tepat di belakangku, tangannya yang berubah asap siap menangkapku.

"KENJI! LOMPAT KE SINI!"

Aku menoleh ke bawah dan melihat Luffy di atas atap bangunan, tangannya terentang ke arahku dengan senyum lebar.

Tanpa berpikir panjang, aku melompat.

Tangan Luffy menangkapku—dan kemudian merentang!

"Gomu Gomu no... ROCKET!"

Tubuh Luffy dan aku ditarik dengan kecepatan super menuju kapal mereka di pelabuhan!

Angin melesat di wajahku. Aku mendengar teriakan Smoker di belakang, tapi kami sudah terlalu jauh.

Kami mendarat di dek kapal Going Merry dengan keras.

"Ittai..." aku mengeluh sambil berdiri.

Luffy tertawa keras. "Shishishi! Kau oke?"

Aku menatapnya—Monkey D. Luffy, protagonis One Piece, berdiri tepat di depanku dengan senyum khasnya.

"A-aku..." aku tidak bisa berkata-kata.

"LUFFY! SIAPA DIA?!" Nami berteriak sambil mengarahkan Bo-staff ke arahku.

"Aku tidak tahu!" jawab Luffy dengan polos. "Tapi dia keren! Dia bisa menembakkan jaring seperti laba-laba!"

"Itu bukan alasan untuk membawanya ke kapal!" Nami menggebrak kepala Luffy.

Zoro menatapku dengan tajam, tangannya di gagang pedangnya. "Kau siapa? Marine? Bounty hunter?"

"Bukan," jawabku cepat, mengangkat tangan. "Aku... aku Kenji. Aku bukan musuh kalian."

"Lalu kenapa kau mengejar kami?" tanya Sanji sambil menyalakan rokok.

"Karena..." aku menarik napas dalam. "Karena aku ingin bergabung dengan kru kalian."

Semuanya terdiam.

Angin laut bertiup. Kapal mulai berlayar meninggalkan Loguetown. Di kejauhan, aku bisa melihat Smoker masih mengejar, tapi kapal sudah terlalu jauh.

Luffy menatapku dengan ekspresi serius—yang langka untuknya.

"Kau ingin jadi nakama ku?" tanyanya.

"Ya," jawabku dengan mantap. "Aku ingin berlayar bersama kalian. Aku ingin menjadi bagian dari Kru Topi Jerami."

Luffy tersenyum lebar—senyuman yang membuat jutaan fans jatuh cinta pada karakternya.

"Yosh! Kau diterima!"

1
Wahyu🐊
Semoga Kalian Suka Sama Karya ku ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!