NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nanti Rumah Ini Jadi Gelap

"Untung si Lastri masih kecil ya, Mbak Kinar. Jadi nggak bakal ganggu pasaran kalau Mbak mau nikah lagi."

"Lagian, Mbak Mira kan mandul, nggak bisa kasih keturunan buat Kang Jaka. Gimana kalau Lastri diangkat anak saja sama Mbak Mira?"

"Itung-itung pancingan, biar Mbak Kinar juga tenang nggak bawa 'buntut' ke pelaminan baru."

Siska bicara dengan senyum manis yang dibuat-buat, merasa idenya barusan adalah solusi paling jenius sedunia. Dia pikir dia sedang berbaik hati.

Dia tidak sadar, begitu kalimat itu meluncur, udara di teras rumah sederhana itu mendadak terasa berat.

Wajah Mira, Kinar, dan bahkan Lastri kecil langsung berubah keruh.

"Ngomong apa kamu barusan?" Mira menyentak. Dadanya sesak.

Kebiasaan Siska yang mulutnya tidak ada saringannya ini benar-benar membuat darah naik ke ubun-ubun.

Di sudut teras, Lastri yang tadinya asyik mengunyah kue putu mendadak berhenti. Dia tidak lagi tertarik pada barisan semut merah di ubin.

Bocah itu berlari kecil, menubruk kaki ibunya.

"Ibu..." panggilnya lirih.

Saat Lastri memeluk kaki ibunya dengan gemetar, tanaman suplir hias yang merambat subur di tiang teras mendadak terkulai lemas.

Daun-daunnya yang tadi segar hijau, perlahan menguning dan rontok satu per satu ke lantai, seolah ikut merasakan kesedihan hati bocah itu.

Namun, karena semua orang sedang diselimuti emosi, tidak ada yang menyadari fenomena ganjil itu.

Hati Kinar mencelos. Dia mengelus kepala Lastri lembut, lalu menatap Siska dengan sorot mata sedingin es.

"Dik Siska, tolong jaga bicaramu. Aku tidak akan menikah lagi, dan aku tidak akan pernah membuang anakku sendiri."

"Lastri bukan barang yang bisa dioper sana-sini."

Siska terkesiap. Dia tidak menyangka reaksinya bakal sekeras ini.

Buru-buru dia memasang wajah memelas, gaya khasnya kalau sudah terpojok.

"Eh, aduh, maaf Mbak. Aku kan orangnya emang ceplas-ceplos, nggak ada maksud jahat kok. Mbak Kinar jangan baperan dong."

Dalam hati, Siska mendecih. Nggak mau nikah lagi? Apa mau bikin Kartu Keluarga sendiri sebagai janda?

Memangnya keluarga Hidayat bakal setuju nampung janda selamanya?

Kinar malas meladeni. Tanpa bicara lagi, dia menggandeng Lastri masuk ke dalam rumah.

Mira menghela napas panjang, kepalanya pening.

Dia menarik lengan sepupunya itu, menyeretnya masuk ke kamar agar omongan ngawurnya tidak didengar tetangga.

Begitu pintu kamar tertutup, mata Siska langsung jelalatan memindai seisi ruangan.

Dia menatap sinis ke arah tumpukan baju Mira yang sederhana.

"Mbak Mira, si Kinar itu nggak ngasih oleh-oleh baju bagus atau tas branded buat kamu?"

"Pelit amat, padahal katanya dapat gono-gini gede. Mbak Mira tuh terlalu lembek, sih."

"Kalau begini terus, nanti si Kinar malah ngelunjak."

"Kamu ke sini mau ngapain sebenarnya?" potong Mira, mengabaikan hasutan murahan itu.

"Ya nengokin Mbak lah! Ibuku yang nyuruh," Siska duduk di tepi ranjang tanpa permisi, menatap Mira dengan tatapan iba yang palsu.

"Ibuku mau nanya, soal 'rencana itu' gimana? Udah dipikirin belum?"

Siska menggeser duduknya lebih dekat. "Mbak, sadar diri dong. Kamu kan nggak bisa hamil. Cepat atau lambat Kang Jaka pasti butuh penerus."

"Daripada dia nikah sama orang lain atau jajan sembarangan, mending sama aku. Kita kan sepupu, ada ikatan darah."

"Aku nggak bakal jahatin kamu kok kalau nanti aku jadi yang kedua."

Siska mengatakannya dengan nada enteng, seolah sedang meminta gula ke tetangga.

Tangannya mulai lancang mengaduk-aduk lemari pakaian Mira, mencari-cari kalau ada barang berharga.

"Lagian kalau aku masuk sini, aku bisa bantu kelola duitnya Kinar. Sayang lho duit ratusan juta kalau cuma didiemin."

Mira terpaku. Otaknya butuh beberapa detik untuk mencerna kekurangajaran sepupunya itu. Darahnya mendidih.

Dia menyambar tangan Siska yang sedang mengacak-acak lemarinya.

"Siska! Keluar! Keluar kamu dari rumahku sekarang!"

Siska menepis tangan Mira kasar, wajah manisnya berubah judes seketika.

"Heh, Mira! Jangan mentang-mentang aku panggil kamu 'Mbak', kamu jadi sok kuasa ya!"

"Aku ini nawarin solusi buat kebaikanmu! Kamu mandul, sadar nggak sih? Kalau orang lain yang masuk gantiin kamu, bisa-bisa kamu dibuang atau diracun sekalian biar warisannya jatuh ke anak barunya!"

Siska mendengus, matanya menatap perut rata Mira dengan jijik. "Perempuan kalau nggak bisa beranak itu nggak ada harganya di mata mertua."

Mata Mira memerah, air mata kemarahan menggenang di pelupuknya. Hatinya perih bukan main.

Sejak orang tuanya meninggal, Paklik dan Buliknya, orang tua Siska, menguasai sawah dan rumah peninggalan orang tuanya, dan sekarang mereka masih mau menghisap darahnya lagi lewat pernikahan gila ini.

"Aku nggak butuh kebaikan palsumu! Biarpun aku nggak punya anak, biarpun Mas Jaka cari perempuan lain, atau aku mati sekalipun,"

"Aku nggak sudi nerima belas kasihan busuk dari kalian! Pergi!"

"Kamu gila ya? Ngusir aku?" Siska menatap Mira seperti menatap pembantu yang membangkang.

"Aku nggak mau pergi. Ini bukan rumahmu. Kamu di keluarga Hidayat cuma menantu, orang luar."

"Kamu nggak punya hak ngatur-ngatur."

Melihat Mira gemetar menahan tangis dan tak berkutik, Siska tersenyum penuh kemenangan lalu melenggang keluar kamar.

Dia tidak pergi dari rumah, cuma pindah duduk santai di teras lagi, melanjutkan makan kuenya.

Mira ambruk di tepi ranjang, menangis tergugu.

Beberapa saat kemudian, Mira keluar dengan mata sembab. Di teras, Kinar sedang menemani Lastri bermain.

"Aku tahu, aku tahu!" Lastri tiba-tiba berseru sambil mengangkat tangan mungilnya.

Kinar dan Mira menoleh kaget. "Tahu apa, Sayang?"

"Tante itu jahat. Dia mau uang kita. Dia bikin Budhe Mira sedih. Lastri nggak suka," ucap bocah itu tegas.

Meskipun masih kecil, Lastri punya kepekaan luar biasa. Dia bisa melihat 'aura' orang.

Aura Siska tadi berkilat-kilat serakah, persis seperti aura Ayah dan Paman-pamannya yang jahat sebelum Lastri dan ibunya diusir.

Setiap kali orang-orang itu mendapat apa yang mereka mau, tubuh Lastri yang akan sakit. Energinya tersedot habis.

Lastri menatap Mira dengan mata bulatnya yang jernih. "Budhe jangan bolehin Tante itu masuk sini lagi."

"Nanti Budhe sakit. Nanti rumah ini jadi gelap."

Saat Lastri mengatakan itu, angin berdesir aneh di ruang tamu.

Vas bunga di atas meja yang berisi mawar potong, tiba-tiba kelopaknya rontok serentak, menyisakan tangkai berduri yang tajam.

Seakan alam memberi peringatan keras.

Tangis Mira pecah lagi. Dia mendekap Lastri erat-erat. "Makasih ya, Nduk. Budhe janji nggak akan setuju."

Melihat kakak iparnya hancur, Kinar mendekat. Ada nyala api di matanya.

Dulu dia juga penakut, tapi demi Lastri, dia belajar jadi singa.

"Mbak Mira, dengerin aku. Siska itu lintah. Kamu itu menantu sah, kamu nyonya di rumah ini."

"Jangan takut! Mas Jaka itu laki-laki baik, aku yakin seratus persen dia bakal belain Mbak Mira, bukan perempuan gatal itu."

"Tapi aku..."

"Nggak ada tapi-tapian! Kita perempuan jangan mau diinjak-injak!"

"Nanti kalau dia balik lagi, biar aku yang bantu usir!"

Dukungan Kinar membuat senyum Mira sedikit terbit. Mereka pun bergegas ke dapur, mencoba menyibukkan diri sebelum para lelaki pulang dari sawah.

Sementara itu, Siska sedang beraksi di kebun sayur.

Dia melihat Mak Sari, ibunda Kinar dan Jaka, sedang menggendong bakul berisi bayam dan kangkung.

Dengan sigap, Siska berlari dan menyambar bakul itu.

"Eh, Budhe Sari! Sini, sini biar Siska aja yang bawa. Budhe kan udah sepuh, nggak boleh capek-capek."

"Duduk manis aja, biar Siska yang kerja."

Mak Sari mengernyit. Dia paling anti dibilang 'sepuh' dalam artian lemah. "Nggak usah, Nduk. Kamu itu tamu."

"Ah Budhe ini, anggep aja Siska anak sendiri. Mbak Mira kan kurang peka, nggak kasihan sama orang tua."

"Kalau Siska sih nggak tega liat Budhe kerja keras begini."

Siska terus merepet, memuji diri sendiri sambil menjatuhkan Mira secara halus.

Saat berpapasan dengan tetangga, dia langsung pasang aksi.

"Eh, Bu Yati! Iya nih, lagi bantuin Budhe Sari. Kasihan lho udah tua masih harus ke ladang, padahal kan mestinya istirahat."

"Untung ada saya yang rajin," sapanya sok akrab pada tetangga yang lewat, sambil menyeka keringat palsu.

Mak Sari hanya diam menahan muak, mempercepat langkahnya meninggalkan Siska yang sibuk tebar pesona.

Sesampainya di rumah, Siska langsung menghempaskan tubuhnya di kursi kayu ruang tamu, mengibas-ngibaskan kerah bajunya.

"Mbak Mira! Aduh, ambilin air dingin dong! Haus banget nih! Sekalian buat Budhe Sari juga!" teriaknya lantang dari ruang depan.

"Aku ini habis bantuin Budhe di ladang, capeknya minta ampun. Kamu enak-enakan di rumah ngadem."

"Cepetan dong airnya!" perintahnya lagi, nadanya sudah seperti majikan memarahi pembantu yang lelet.

Di dapur, Mira mengepalkan tangannya sampai buku-buku jarinya memutih.

Mak Sari menggelengkan kepala, hendak mengambil gelas sendiri, tapi Kinar menahannya.

Kinar menatap Mira, memberi isyarat mata. Sekarang saatnya.

Mira menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, lalu melangkah ke ruang tamu diikuti Kinar.

Melihat Mira datang tanpa membawa air, Siska mendelik. "Mana airnya? Lama banget sih?"

"Siska," suara Mira bergetar tapi jelas. "Di sini ada sumur, ada gelas. Kalau haus, ambil sendiri."

"Dan satu lagi... mulai detik ini, aku nggak mau lihat mukamu di rumahku. Pulang."

Siska melongo, tak menyangka Mira yang biasanya penurut bisa bicara begitu.

Dia hendak menyembur marah, tapi Kinar sudah maju selangkah, berdiri di samping Mira dengan tatapan mengintimidasi.

"Dengar kan apa kata yang punya rumah?" Kinar menambahkan dengan nada rendah namun tajam.

"Atau perlu aku seret biar kamu ngerti bahasa manusia?"

1
mom SRA
mengikuti alur nya dr awal upah segitu untuk buruh tani kemahalan Thor..itu upah buruh tani di desaku sekarang
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!