NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#13

“Ada apa? Kenapa malah kamu yang tidak ingin pergi? Orang tua kamu sudah mengijinkan padahal.”

“Entahlah, Mas. Aku hanya sedikit merasa takut dan cemas.”

“Takut kenapa?”

“Ya takut aja di sana gak bisa ngapa-ngapain. Malu aja kalau semisal merka tau aku ini dari kampung. Takut malah bikin malu di sana.”

“Kamu terlalu berlebihan. Di sini juga bukan kota yang modern banget yang segalanya memakain mesin. Banyak kok orang-orang dari kampung yang kuliah, kerja dan tinggal di kota.”

“Masa sih?”

“Kamu gak percaya sama aku? Begini saja, nanti kamu ikut saja dulu beberapa hari di sini, biar kamu merasakan suasana di kota itu bgaimana. Asal kamu tau aja ya, di sini tuh banyak yang ekonominya jauh di bawah kamu.”

Ada ketertarikan dalam hati Ayunda, namun dia pun tadi bisa memungkiri jika dalam hatinya pun ada rasa cemas dan takut tidak bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang di kota sana.

Ayunda takut jika nanti dirinya akan di cap ‘kampungan’.

Setelah sebulan lamanya Ayunda memikirkan tentang ajakan Elang, akhirnya dia menyetujui untuk pergi beberapa hari bersama Elang ke kota.

“Kamu hati-hati di sana. Dengerin apa yang Elang katakan. Jangan pernah pergi sendiri. Jangan lupa solat dan tetap sopan sama orang.”

Dengan tetesan air mata yang membawa hai pipinya, ayunda mengangguk pelan saat mendengar petuah dati ibunya.

“Aku pamit, Ma, Pa.”

Setelah merka berpamitan, Ayunda pun pergi bersama elang. Merek menuju kota, tempat di mana ayunda belum pernah menginjakkan kaki di sana.

Anak itu terlihat masih gusar. Tangannya terus saling meremas meski sesekali dia membuka kaca mobil untuk melihat pemandangan sekitar.

“Mau makan dulu?”

“Makan apa? Enak gak? Aneh gak makanannya?”

“Yunda, denger. Kita ini masih hidup di dunia. Di negara yang sama. Makanan nya masih sama, nasi. Minumnya masih sama, air.”

Meski begitu ayunda tetap merasa takut jika makanan nya nanti tidak sesuai dengan lidahnya dan dia muntah. Apa itu tidak akan membuat Elang malu?

Ayunda sudah sibuk dengan prasangkanya dan rasa takutnya sendiri.

‘’Gimana? Apa makanannya aneh menurutmu?”

Ayunda tersenyum malu.”nggak, Mas.”

“Ya, iya. Makanannya sama, hanya cara penyajiannya yang berbeda. Bumbunya berbeda tapi rasanya tetap sama, ya rasa ayam.”

Ayunda mencicipi satu demi satu makanan yang ada di piringnya. Dirasa tidak ada masalah, barulah dia makan dengan lahap.

Elang merasa senang sekaligus prihatin pada gadis yang ada di hadapannya saat ini. Dia merasa kasian pada ayunda yang terlahir dari keluarga kaya raya tapi terkurung oleh sebuah sangkar yang bernama tradisi dan prinsip kolot.

“Pokonya, kamu harus berbeda dai gadis0gadis yang ada di desa. Mungkin mereka juga ingin kuliah, tapi punya keterbatasan biaya, tapi kamu enggak.”

“Iya, Mas.”

Setelah selesai makan. Mereka melanjutkan perjalanan Karen masih butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke rumah Elang yang ada di kota.

Dalam perjalanan, elang sering berhenti untuk istirahat. Ini perjalanan jauh pertama untuk Ayunda, Elang takut gadis itu merasa lelah jika tidak istirahat.

Mereka kadang berhenti di mushola untuk buang air kecil kadang mampir ke mini market, atau sekedar jajan di pinggir jalan.

“Ini rumah yang akan kita tempati. Gak besar cuma lumayan lah.”

“Gak besar tapi bagus. Aku suka.”

“Syukurlah kalau kamu suka. Ayo kita masuk, biar aku yang bawa tas kamu.”

Mata ayunda masih terkagum kagum dengan design rumah dan suasana sekeliling rumah Elang. Sungguh berbeda dengan suasana di kampung.

“Panas ya, Mas.”

“Nanti ada ac biar kita gak kepanasan.”

Ayunda bukan tidak tahu, dia tau apa itu ac, hanya belum pernah merasakannya.

“Ini namanya smart key, bukanya pake kode.”

“Aku pernah lihat di film drakor. Hehehe.”

“Coba kamu buka,”

“Caranya?”

Elang mengajari Ayunda bagaimana cara membuka look door touchscreen rumahnya.

“Wah, begini ternyata rasanya.” Ayunda terlihat senang dengan pengalaman barunya membuka kunci enggan pasword.

“Kamar kamu ada di atas. Kalau kamar aku ada di bawah. Ayo kita ke kamar kamu dulu, rapikan pakaian, lalu kita keliling, melihat apa saja yang ada di rumah ini.”

“Iya, Mas.”

Sesampainya di kamar Ayunda, Elang memberitahu bagaimana cara menyalakan ac, tv dan juga gorden.

“Buka tutup nya pake remot juga? Wah, keren.”

Elang tertawa kecil melihat kepolosan ayunda.

“Yang paling penting adalah toilet. Kamu harus ngerti bagaiman cara menggunakan toilet.”

“Nah iya, kalau di film kan aku suka lihat tuh. Tapi ih, gimana cebok ya coba? Apa gak jijik cebok pake air seuprit?”

“Nanti juga terbiasa. Ayo aku ajarkan.”

Setelah lebih dua kali, akhirnya ayunda faham dan mengerti bagaimana cara menggunakan toilet duduk, cara bagaimana mengatur air Anas dan dingin.

Room tour dilanjutkan ke bagian bawah, yaitu dapur. Tidak butuh waktu lama untuk ayunda memahami bagaimana cara menggunakan lata-aklat dapur yang ada karena dia sering melihatnya lewat media sosial.

“Mandi, lau istirahat. Setelah salat magrib kita makan di luar sekalian kamu melihat bagaiman suasan kota malam hari.”

Ayunda mengangguk antusias. Dia berlari kecil menuju kamarnya.

Drrrrtttttt!

Ponsel Elang berdering.

“Halo, Pak.”

“Lang, kamu udah sampai?”

“Iya, ini mau istirahat.”

“Syukurlah. Gimana tadi ayunda di jalan?”

“Baik-baik aja, Pak.”

“Ya, bagus kalau gitu. Bapak cuma mau bilang, kamu hati-hati, jaga ayunda. Dia anak teman bapak. Jangan sampai kamu melakukan hal-hal tidak terpuji sama dia.”

“Bapak ngomong apa?”

“Ya kan gimanapun juga kalian cuma berdua di rumah itu. Bapak juga gak enak sama omongan segelintir orang di sini. Kalian pergi berdua padahal bukan muhrim.”

“Elang ngerti, Pak. Emang gak akan mengecewakan bapak atau pun pak Mul.”

“Iya, bapak percaya sama kamu. Ya sudah, kalian istirahatlah. Jangan lupa kabarin pak mul.”

“Iya, Pak.”

Panggilan terputus. Namun mata elang masih menatap layar ponselnya. Dia memikirkan ucapan bapaknya, jika dia dan Ayunda memang bukan muhrim dan merka hanya berdua di dalam rumah iu. Jika terjadi sesuatu atau elang sampai lepas kendali, apa yang akan terjadi.

“Gak beres ini sih.” Gumamnya sambil pergi ke kamarnya.

Selepas magrib, ayunda turun menuju ruang tamu untuk menunggu Elang. Sepertinya laki-laki itu belum keluar dari kamarnya.

Setelah menunggu beberapa menit, elang pun keluar.

“Yunda, kamu udah siap ternyata.”

“Iya, Mas.” Ayunda yang duduk di sofa, langsung berdiri dan membalikkan badan agar bisa berhadapan dengan Elang.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!