NovelToon NovelToon
Doctor Mafia

Doctor Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duniahiburan / Mafia / Dark Romance / Enemy to Lovers / Obsesi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yuan La

Elaine seorang mahasiswi kedokteran memiliki perasaan yang mendalam pada seorang pria adi kuasa, Killian. Salah satu pria dari kaum elite global. Yang bekerja sama dengan para mafia untuk menjalankan bisnis kotornya.

Damian. Kakaknya bekerja di interpol untuk menyelidiki masa lalu kematian orang tua mereka. Saat ia mengetahui adiknya memiliki hubungan khusus dengan anggota elite global dan mafia. Elaine harus memutuskan akan berdiri melindungi kekasihnya atau kakaknya, keluarga satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuan La, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Dinas luar bersama

“Kau menyesal karena pergi bersama ku?” Tanya El tak semangat.

“Bukan begitu.” Kesal Mia.

“Kalian masuk dalam tim profesor Gian.” Tebak Zayn. Profesor yang sama gilanya dengan profesor Alan.

“Aku yang urus pria tua itu nanti Mi.” El memainkan pulpennya. Ia sungguh ingin pulang.

Killian sedari tadi menatap Elaine yang terlihat tak semangat. Ia tahu wanita itu cukup lelah. Rapat ini terjadi karena ulah Killian. Ia perlu ke kota Asgard untuk menyelesaikan suatu masalah dan tentunya dia ingin Elaine ikut serta.

“Bukan soal itu…” Mia semakin kesal, “Kita akan ke kota Asgard. Ini musim dingin. Di sana pasti dingin sekali.”

“Apa?! Asgard?!”

Sontak El terperanjat menghentikan permainan pulpennya. Ia menoleh ke la sudah lama tak lagi datang ke kota itu. Ia enggan menginjakkan kakinya di sana. Terlalu banyak kenangan pahit disana. Kejadian ayah dan kakeknya yang terbunuh berada di kota itu.

Killian yang melihat ekspresi Elaine mendadak berubah menjadi tanda tanya tersendiri untuknya.

“Apa kita harus kesana?” Tanya El.

“Kau juga tidak suka bukan?” Balas Mia.

Tidak. Ia tidak suka. Tapi semua bukan karena cuaca disana. Sorot mata El kini menangkap dua bola mata Lian yang sejak tadi melihatnya. Ia tahu semua ini pasti karena usul pria itu.

Rapat telah usai. Tidak ada usul penolakan. Semua ini demi kepentingan kemanusiaan. Semua orang mulai keluar dari ruangan itu. Namun tidak dengan Elaine dan Killian.

Lian tidak beranjak dari kursinya. Ia tahu wanita itu akan tinggal, Elaine perlu menyampaikan sesuatu hal padanya.

“Apa pemilihan ini kau yang tentukan?” Tanya El yang masih duduk di kursinya.

“Aku hanya menerima data nama dan mereka perlu aku untuk menandatanganinya.” Jawab Lian santai.

“Dari banyaknya dokter residen…” El tak melanjutkan ucapannya, ia masih tak mengerti. Selama ini dia difavoritkan banyak rumah sakit. Tapi hanya dirumah sakit ini ia merasa dilepas begitu saja.

“Kenapa kau yang terpilih?” Lanjut Lian. Pria itu melangkah mendekati Elaine dan duduk bersandar dimeja.

El terdiam. Ia meredam kekesalannya. Sama seperti Mia tadi.

“Katakan alasannya? Kenapa kau tidak ingin kesana?” Tanya Lian melunak.

El masih terdiam menatap layar desktop di depannya. Ia tidak mungkin mengatakan alasan nya sendiri. Terlebih jika beralasan di kota itu sangat dingin. Sungguh bukan seperti dirinya yang tidak profesional jika beralasan sepele.

“Jika tidak ada alasan, pulanglah. Kemas barangmu. Besok pagi kita akan berangkat.”

“Kita?” Tanya El bingung menarik lengan Lian yang hendak beranjak dari ruangan itu, “Kau juga akan ke kota itu?”

“Ada yang salah?” Lian tak menarik lengannya dari cengkraman Elaine. Ia senang jika wanita itu berada didekatnya.

“Kau sengaja.” El menghempas lengan pria itu dengan kasar.

“Sengaja?”

“Kau hanya ingin menyulitkan ku.” Kesal El dan kini membereskan barang-barangnya, “Setelah masa residensi ku berakhir tahun ini. Aku akan melemparkan surat pengunduran diri ku tepat di meja mu. Kau akan lihat sesulit apa mendapatkan tenaga medis yang handal, banyak diluar sana menanti jadwal kosong ku.”

Lian menghela nafasnya. Ia membiarkan wanita itu pergi meninggalkannya. Ia tetap harus membawa Elaine disisinya. Setidaknya sampai Lyxan keluar dari kota Malice.

...****************...

“Siapa pria itu?”

“Tampan sekali dia?”

“Dia ingin berobat? Sakit apa dia?”

“Bukankah ini sudah malam. Tidak ada jadwal dokter dimalam hari bukan?!”

“Ah… dia membawa bunga.”

“Manis sekali. Aku mau jadi wanitanya.”

Suara-suara sumbang terdengar saat Elaine kembali ke departemen penyakit dalam. Ia hendak kembali ke ruangannya untuk berganti pakaian dan pulang.

“El ada yang mencarimu.” Ucap Mia yang sudah melepas jas dokternya untuk bergegas pulang, “Kau memiliki pacar baru kenapa tidak katakan padaku. Dia lebih tampan dari Sam.”

El tak percaya dengan apa didengarnya, namun matanya juga tak percaya saat Lyxan ada disana. Datang menghampirinya.

“Lyxan…” Ujar El tak percaya pria itu nekat menemuinya.

Tak ingin dilihat banyak orang, El bergegas menarik tangan pria itu dan masuk kedalam ruang praktik kerjanya.

“Apa yang kau lakukan?” Marah El.

“Bunga. Untuk mu.” Lyxan menaruh bunga itu diatas meja kerja Elaine.

“Lyxan.” Nada El masih terdengar kesal.

“Aku hanya rindu pada mu. Kau memblokir nomor ku?” Tanya Lyxan dan duduk di kursi dokter.

“Kenapa kau datang menemuiku?”

“Sudah kukatakan tadi.” Lyxan meraih ponsel Elaine diatas meja, “Kenapa diblokir nomorku? Aku kesulitan menghubungi mu.” Tanyanya lagi saat mengecek nomor Lyxan ternyata memang diblokir oleh El.

El merampas kembali ponselnya.

“Jangan kira kau sudah membayar lunas semua biaya perbaikan itu, kau bisa…”

“Membayar?” Bingung El.

“Apa bukan kau yang membayarnya?” Tanya Lyxan dengan senyum nakalnya, ia melemparkan mastercard dan buku tabungannya.

“Cara mu sungguh tidak sopan El. Kau melukai harga diri ku.”

El terdiam melihat kartu dan buku tabungan itu. Yang mengetahui masalah ini hanya Killian. Pria itu terlalu ikut campur masalah pribadinya.

“Sekarang apa mau Xan?” Tanya El. Ia sudah lelah. Tak mungkin berdebat dengan pria itu.

“Kau sudah selesai?”

“Ya… aku ingin pulang.” Ucap El lelah dan melepaskan jas dokternya.

“Aku akan mengantarmu.”

“Tidak perlu.”

“Aku memaksa.” Suara Lyxan mulai terdengar dingin, wanita itu terlihat mulai berani dengannya. “Kau tahu aku senekat apa. Rumah sakit ini bisa ku beli atau aku bisa merobohkannya.”

Elaine menghela nafas. Tak ingin ambil pusing ia bergegas keluar dari tempat itu. Mengikuti Lyxan ke parkiran. Dari kejauhan Hansen melihat kehadiran Lyxan untuk menjemput Elaine. Ia bingung apa perlu menyampaikan hal ini pada Killian, sedangkan situasi hati Lian beberapa hari terakhir ini terlihat tidak baik.

“Motor?” Ujar El tak percaya.

Lyxan memakaikan jaket miliknya untuk wanita itu. Beserta helm nya.

“Aku buru-buru kesini hanya untuk menjemputmu.” Jawab Lyxan beralasan, “Naiklah atau perlu aku mengangkatmu?”

“Aku membawa mobil kesini.”

“Naik atau aku tabrakan mobil mu Elaine.” Lyxan masih berusaha menahan kesabarannya.

Tak ingin gaduh, El terpaksa menaiki motor itu.

WROOOMM

Lyxan memainkan gas membuat tubuh El tersentak maju.

“Pegangan El atau kau akan jatuh.”

El menarik erat pakaian Lyxan sebelum akhirnya pria itu menarik kedua tangan Elaine agar melingkarkan tangannya di perutnya. Memeluknya dengan erat.

Tak menunggu lama. Lyxan segera memacu motor sportnya secepat mungkin. Semakin cepat laju kendaraannya, semakin erat pula Elaine memeluknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!