Ditinggalkan oleh suami di hari pertama pernikahan bukanlah keinginan Shakira Aisha. Sejak Fauzi sang suami tahu masalalunya, pria itu pergi entah ke mana.
Karena cinta yang Shakira Aisha miliki dan ingin mempertahankan rumahtangganya, dia mencari Fauzi ke suatu kota atas petunjuk yang ia dapatkan.
Kepindahannya ke suatu tempat justru malah mempertemukannya lagi dengan pria masa lalu, pria yang sudah menorehkan luka dan menghancurkan segala mimpinya diusia muda.
"Kita bertemu kembali? tak akan kubiarkan kamu pergi lagi."
"Sial, apa yang ingin kamu lakukan?"
"Menghamilimu!" Mario menyeringai penuh kelicikan.
"Aku sudah menikah!"
Deg.
Siapakah pria yang akan Shakira Aisha pilih? laki-laki masa depannya yang sudah menikahinya ataukah pria masalalunya?
Mampukah Mario meluluhkan Aisha-nya? Wanita yang telah ia permainan sedemikian rupa. Dan akankah Fauzi mempertahankan istrinya disaat ada laki-laki lain terang-terangan mengajaknya bersaing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 - Berkeliling
Kendaraan Vaughan sudah sampai di depan sebuah rumah, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, tergolong bagus diantara rumah lainnya. Jarak rumah ke proyek pekerjaan tidak terlalu jauh, cukup memakan waktu 15 menit menggunakan kendaraan sudah sampai.
Di depan rumahnya ada jalan tergolong ramai, bahkan di sebrang jalan ada bangunan besar ramai oleh anak-anak sekolah, bertuliskan yayasan Nurul Huda.
"Ramai juga ternyata, ada sekolah juga," kata Mario setelah memperhatikan sekitarnya.
"Itu sekolahan, katanya juga ada pondok pesantren di belakang sekolah ini, masih satu keturunan juga," jelas Vaughan seraya menurunkan koper kecil miliknya. Untuk sementara waktu dia juga akan tinggal bersama Mario karena jarak hotel dari sana terbilang jauh, butuh sekitar 1 jam menuju hotel, jadi dia memilih menyewa rumah agar tidak terlalu jauh dari proyeknya.
"Mungkin yang satu pemilik sekolah dan yang satu pemilik pondok pesantren, tapi areanya masih dalam satu lingkungan hanya terhalang pembatas tembok tinggi antara sekolah dan pondok pesantren." Mario berpikir seperti itu hanya asal nebak padahal yang dia tebak benar adanya, lalu dia juga menurunkan kopernya. Mengikuti Vaughan masuk ke dalam rumah, kesan pertama melihat rumahnya tergolong nyaman dan bersih.
"Kita harus bersilaturahmi sama pemilik yayasan depan."
"Sekarang? Baru tiba loh, istirahat dulu lah." Perjalanan yang lumayan jauh membuat Mario lumayan lelah, ingin merebahkan dirinya dulu mengusir rasa lelah mendera.
"Gak sekarang juga lah, istirahat dulu, gue juga mau ngabarin istri." Vaughan pun duduk, menyenderkan punggungnya ke sofa meraih ponselnya dan menghubungi istri kecilnya.
Sementara Mario ingin beristirahat dulu, memejamkan mata sebelum kegiatan selanjutnya menghampiri.
*******
Di hari yang sama di desa yang sama juga.
Setelah bertemu dan berbincang-bincang sama pemilik asrama, Raka dan Fauzi berniat keliling asrama.
"Mau langsung lihat kamar khusus guru dulu atau mau keliling asrama dulu?" tanya Raka pada Fauzi.
"Kayaknya keliling lebih seru, sekalian ingin tahu seluk beluk pondok di sini."
"Ok, kalau gitu kita mulai dari ruang khusus anak-anak berkumpul alias kantin sekolah."
"Terus guru-guru yang lainnya dimana?"
"Jam segini para guru sedang menikmati waktu istirahat. Bedanya, disini disediakan makan pagi, siang dan sore maupun malam, intinya bebas milih sih, mau makan siang atau mau makan cemilan, semuanya disediakan di dapur yayasan." papar Raka menjelaskan sedikit tentang kegiatan di yayasan Nurul Huda.
Sambil bercerita keduanya sampai di kantin. Banyak anak-anak pondok sedang duduk manis menikmati berbagai makanan yang disediakan di sana.
"Terus yang sedang antri makanan?" tanya Fauzi melihat banyaknya orang di bagian antrian laki-laki.
"Itu anak-anak yang mondok."
Fauzi mengangguk paham.
Yayasan itu terdiri dari dua tempat, paling depan bangunan untuk anak sekolahan sedangkan di belakang bangunan pondok pesantren. Di sebelah Timur pondok khusus laki-laki dan sebelah barat pondok khusus perempuan. Kantin pun disekat juga dengan tembok menjulang tinggi menghalangi, namun ada pintu masuk yang memudahkan para guru, ataupun yang lain untuk ke sebelah tanpa harus memutar jalan ke depan dulu.
Di tengah asyiknya berjalan melihat setiap tempat, salah satu orang disana menyapa.
"Raka! Senang sekali bisa melihatmu kembali mengajar lagi, gimana liburannya? Menyenangkan?" Panggil seseorang sesama guru.
"Eh pak Manto, senang juga bisa bertemu lagi. Ya gitulah, liburan kali ini cukup menarik. Oh iya, kenalin dia teman saya, Fauzi. Dia juga jadi guru di sini."
Manto melirik ke Fauzi, tersenyum ramah. "Assalamualaikum, senang bertemu denganmu, saya Manto tukang bersih-bersih di pondok, semoga betah mengajar disini."
Fauzi membalas uluran tangan Manto "Senang bertemu dengan Anda juga."
"Kalian mau makan juga? Kita barengan saja yuk," ajak Manto.
"Ah tidak, kita hanya ingin melihat-lihat saja keadaan disini," balas Raka.
"Oh gitu, kalau begitu saya ke sebelah sana dulu. Mau gabung sama yang lainnya."
"Silahkan." Jawab Raka dan Fauzi.
Mata Fauzi tak hentinya kesana kemari memperhatikan kondisi tempat khusus makan ala prasmanan. Hingga matanya tertuju pada satu orang, Luna.
Perempuan itu kesana kemari membawa makanan ke setiap meja. Terlihat sibuk dan sedikit kesusahan.
Rasa empatinya muncul, karena kasihan melihat Luna kesusahan dan hendak tersandung, Fauzi tergesa mendekatinya.
Ia menahan nampan berisi makanan. Tentu saja pergerakannya mengejutkan Raka dan juga Luna.
"Eh!" Luna bengong melihatnya.
"Kalau jalan hati-hati, mari saya bantu," ujar Fauzi menahan nampannya supaya tidak jatuh.
"Gak usah Mas, biar saya aja." Luna membenarkan cara berdiri, ia merasa gugup di dekap Fauzi. Pandangan ia tundukan, kaki pun kembali melangkah menghindari Fauzi.
Sayangnya ia ceroboh, kakinya tersandung kaki kursi.
"Eehh!!"
Grep.
Ada tangan kekar menahan pinggangnya.
*******
Dan di hari yang sama pula, Shakira juga masuk ke area yayasan Nurul Huda setelah mendapatkan izin dari penjaga depan.
Sepanjang jalan menuju masuk, mata Shakira memperhatikan setiap bangunan dan pergerakan orang-orang di dalam sana. Teriakan anak-anak mengusiknya.
"Oy buruan ke dapur, waktunya makan siang nih, aku gak mau ya jatah makanan kita habis sama yang lain," seru anak remaja laki-laki.
"Bentar lagi, aku lagi tanggung nih."
"Halah, tanggung apaan, yang ada kamu lagi bales chat seseorang, dasar bucin. Dah, buruan ke ruangan makan, ahh lama banget sih," serunya lagi terlihat kesal menyeret temannya.
Bibir Shakira tersenyum tipis menyaksikan keceriaan mereka.
Pergerakan Shakira diperhatikan oleh para penghuni pondok, tentunya santri pria.
"Eh, siapa tuh? Bening banget deh, sepertinya dia murid baru di sini."
"Masa murid baru wajahnya imut banget kayak anak SMP, ah paling juga saudara Apa Huda kali, atau saudaranya bunda Nurul. Bisa aja kan? Tuh dia aja tidak bawa koper, berarti dia tidak akan sekolah disini."
"Daripada pada penasaran mendingan kita samperin aja, yuk buruan."
Keduanya mendekat pada Shakira.
"Assalamualaikum!"
Shakira menoleh kebelakang. "Waalaikumsalam."
"Teteh murid baru di sini?" tanya pria jangkung berkulit sawo matang tapi ganteng.
"Kita baru lihat teteh dah, pasti murid baru kan? Tapi saudara pemilik asrama ini pun bisa jadi tuh," sahut laki-laki bertubuh gemuk namun terlihat tampan menggemaskan.
"Iya, terus sekarang aku lagi bingung mau ketemu pemilik pondok ini tapi gak tahu jalannya ke mana dan gak tahu dimana ruangannya," balas Shakira memperhatikan keduanya dengan intens.
"Tuh kan Dan, gue juga apa, dia itu pasti anak baru di sini," seru laki-laki bertubuh gemuk.
"Kalau gitu kenalin, aku Dani, salah satu penguasa pondok ini," ujarnya seraya.
Shakira tersenyum manis.
"Alamak, senyumanmu manis sekali," gurau Dani sambil tangannya memegang dada.
"Aku Shakira Aisha."
"Kalau aku Modi, si gemoy Adi," sahut si gemuk Adi sambil mengatupkan kedua tangannya di dada.
"CK, lo ya, lihat yang bening dikit langsung nyambar tuh tangan, kebiasaan lo."
"Idih, lo juga sama kali. Mata lo tuh suka keluar kalau menyangkut cewe cakep," balas Modi gak mau kalah.
"Aduh kalian ini jangan berantem dong, gini aja, berhubung aku belum tahu pondok ini gimana kalau kalian berdua bantu aku aja?"
"Bantu apa?" seru Modi dan Dani bersamaan.
"Tunjukan kantin pondoknya dimana, soalnya aku lapar." Shakira cengengesan menggaruk tengkuknya.
"Gampang itu mah, kebetulan kita sedang ingin ke dapur, bareng aja."
"Betul," sahut Modi sambil ngemil.
*************
Sampailah Shakira di dapur.
"Ini dia dapurnya dan di sini teteh bisa memilih menu apa saja, ada cemilan, ada makanan berat juga ada," ujar Dani.
"Betul," sahut Modi.
Namun sosok yang mereka ajak bicara kini tengah terpaku pada satu titik, dimana didepan sana berdiri sosok yang ia cari tengah berdiri begitu mesra bersama perempuan lain.
Dalam dekapan Fauzi, Luna menahan diri agar tidak terjatuh, kejadian itu membuat sebagian orang bersorak.
"Cie cie Teh Luna."
"Kiw kiw, calon jodoh nih."
"MAS FAUZI!!!!"
Deg.
pst s luna buat byk cara spy ga dceraikan sm fauzi...
pasti sluna drama mnt dnikahin.
baguslah syakira bs lepas dr cowok gaa tegas ky s fauzi.
jgn2 s bp manggil warga buat gerebek anak sendiri biar d nikahin fauzi.