NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#24

Mungkin Ayunda tidak bisa membalas perlakuan Jumirah. Selain karena Ayunda sadar diri bahwa dia memang hanya menumpang hidup, Jumirah pun sudah tidak muda lagi. Bagi Ayunda, melawan orang tua bukan lah hal yang baik.

Meski demikian, Ayunda tidak ingin hanya berdiam saja membiarkan dirinya diperlakukan tidak baik oleh orang yang bahkan hanya dikenal lewat agen oleh Elang.

“Bahkan jika aku mau, aku bisa menjadi nyonya di rumah ini. Dia gak tau aja apa jadinya kalau aku ngadu langsung ke pusat. Apa gak diamuk itu sama Pak aceng?”

Ayunda terus bergumam sembari berpakaian dan berdandan usai mandi pagi hari.

Dia turun menuju dapur dan mulai menyiapkan sarapan untuk elang dan Alex. Gadis itu sengaja bangun lebih pagi dan ke dapur mendahului Jumirah.

Mendengar suara berisik di dapur, pembantu itu segera keluar dari kamar dan menghampiri ayunda.

“Sini neng sama bibi aja.”

“Gak perlu, Bi. Biasanya juga kan aku yang masak. Bibi rebahan aja di kamar nonton dracin.”

Mendengar hal tersebut, Jumirah merasa tidak enak. Bukan pada Ayunda tapi pada Elang. Dia takut tuan nya akan mendengar apa yang diucapkan Ayunda.

“Jangan gitu, Neng. Kalau di dengar pak Elang, gimana?”

“Ya gak gimana-gimana? Mending bibi gak usah masak lagi deh, takut make garem nya sekilo. Kasian Mas Elang dan Kak Alex.”

Jumirah semakin kikuk mendengar ucapan Ayunda.

“Denger ya, Bi. Oke, aku terima kalau bibi gak suka sama aku terlebih saat tahu kalau akau ini bukan adik kandung Mas elang, cuma tolong jangan berbuat jahat sampai memfitnah aku dengan bibi mencampurkan garam ke pepes ikan yang aku buat. Bibi tau gak? Mereka belum makan saat pulang kerja, sengaja pulang lebih awal karena kami mau makan bersama. Setidaknya pikirkan Mas Elang, bukan aku.”

“Neng, kata siapa bibi masukin garem ke pepes ikan nya? Neng jangan nyruh sembarang.”

“Hantu! Hantu gitu yang masukin? Di sini cuma ada kita berdua dan aku gak mungkin membuat masakan untuk Mas elang dengan garam yang banyak!”

Tangan jumira bergetar melihat Ayunda yang marah. Bahkan suaranya terdengar sampai kamar Alex dan Elang.

“Aku gak pernah ngomong apa-apa loh sama mas Elang atas perlakuan bibi sama aku selama ini. Karena aku pikir bibi butuh pekerjaan untuk mencari nafkah. Bahkan aku masih mau sabar saat bibi telponan sama siapa gak tau, dan bilang kalau di rumah ini ada wanita numpang hidup, bukan sodara bukan keluarga tinggal satu rumah dan bilang kalau aku ini wanita gak punya harga diri. Aku masih terima. Tapi bibi malah—“

Brak!

Ayunda yang sedang meluapkan emosi terperanjat kaget saat mendengar pintu kamar Elang dibuka dengan kasar.

Alex yang mendengar hal itu pun langsung keluar dari kamarnya.

“Keluar.” Ujar Elang menahan emosi. Tangannya mengepal dengan rahang yang sangat terlihat tegas. Menandakan bahwa dia benar-benar emosi.

“Bibi minta maaf, Pak. Bibi khilaf.”

“Keluar, SEKARANG JUGA!”

“Lang, tenang dulu.” Alex berusaha menenangkan sahabatnya.

”jangan sampai aku melihat wajah wanita tua ini lagi di rumah.”

Elang kembali masuk ke kamar. Sementara Alex dan Ayunda hanya bisa saling menatap.

...***...

“Mas ….” Ayunda merengek. Elang tetap diam.

“Jangan marah, ya. Ayolah ….” Ayunda mengguncang-guncang tangan Elang yang sedang asik main PS bersama Alex.

“Mas, ih!”

Ayunda balik marah. Dia berdiri lalu berjalan ke depan Elang dan Alex yang sedang duduk.

Televisi pun mati.

“Yundaaa!”

“Suruh siapa aku di diemin dari tadi. Aku udah minta maaf dari dua hari lalu, tapi mas gak peduli. Malah lebih mempedulikan ps. Sebel!”

Ayunda segera pergi ke kamarnya. Selain memang karena kesal, dia juga takut Elang akan marah.

“Ck, lagian lo sih. Bukan nya udah marah nya.”

“Gue kesel sama dia. Masa diperlakukan kayak gitu sama pembantu malah diem aja. Setidaknya ngomong lah sama gue.”

“Dia pasti punya alasan sendiri.”

“Gue tahu, tapi tetep aja gue kesel sama dia. Kadang gue ngerasa kalau dia itu bego banget jadi anak.”

“Lah kan emang.”

Elang meninju lengan Alex. “Sembarangan”

“Kan lo sendiri yang bilang. Gue hanya mempertegas.”

“Dahlah, gue tidur duluan.”

Elang bangkit, lalu pergi menuju kamarnya meninggalkan Alex sendirian.

Setelah merapikan PS dan cemilan, pria itu pergi menuju kamar Ayunda. Pintu kamar itu terbuka setelah diketuk beberapa kali.

“Ada apa, Kak?”

“Bisa kita ngobrol?”

“Di balkon kamar aku aja ya.”

Alex mengangguk.

Mereka berdiri sambil menikmati pemandangan malam.

“Sudah tahu mau kuliah di mana?”

“Udah. Aku mau kuliah di ANSA.”

“Jauh loh itu dari sini. Gak cape bolak balik?”

“Ada asramanya katanya. Aku mau tinggal di asrama aja.”

“Elang tahu?”

Ayunda menggelengkan kepalanya pelan.

“Dia pasti akan kecewa.”

“Kasian Mas elang kalau aku di sini terus. Orang di kampung pasti banyak bergunjing. Belum lagi kalau nanti dia punya pacar, pasti aku akan jadi masalah buat mereka. Ya, bagaimana pun mas Elang sayang sama aku, tetep aja orang akan berpikir lain. Menurut kakak sendiri masuk akal gak sih dia sayang sama aku layaknya adik sendiri? Aneh kan?”

“Sulit dimengerti kalau orang itu tidak tahu siapa Elang.”

“Tapi kan memang gak semua orang deket sama dia.”

Hening.

“Sudah malam, tidurlah. Aku kembali ke bawah.”

“Iya.”

Alex berbalik badan hendak pergi keluar dari kamar, namun tiba-tiba dia kembali berbalik karena ingin mengatakan sesuatu.

Di saat yang bersamaan, Ayunda pun berbalik karena akan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

Di moment dan tempat yang kebetulan, mereka bertabrakan. Melihat Ayunda yang hendak jatuh, refleks Alex mencoba menarik tubuhnya. Namun sayang, dia malah ikut terjatuh tepat di atas tubuh Ayunda.

Alex hanya bisa menyelamatkan kepala Ayunda yang dia tahan dengan tangan agar tidak mengenai lantai.

Syok. Mereka hanya saling diam dan saling menatap.

Pernah dengar tubuh bergerak mendahului otak?

Itulah yang terjadi pada mereka. Entah kenapa dan apa tujuan Alex, pria itu tiba-tiba saja mencium bibir Ayunda.

Gadis desa yang baru pertama kali merasakan sensasi itu, hanya bisa diam. Dia menerima rasa yang membuatnya seperti melayang. Namun, kesadarannya segera pulih. Sekuat tenaga dia mendorong tubuh Alex, hingga pria itu terjerembap ke samping.

Ayunda segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi tanpa mengatakan apapun.

Dia marah? Tentu saja. Dia marah atas apa yang dilakukan Alex terhadapnya nya.

Namun, rasa malu lebih mendominasi. Itulah alasan kenapa dia pergi begitu saja tanpa memarahi Alex.

Ayunda menikmati moment saat bibirnya beradu dengan bibir Alex.

“Gue ngapain?” Bisik Alex kesal pada dirinya. Sementara ayunda membasuh wajahnya berkali-kali. Berharap wajahnya yang terasa panas karena malu, bisa sedikit reda.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!