Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protokol Penghapusan
Di dalam kegelapan basemen yang sempit dan berbau kertas lembap, Genta bisa merasakan keringat dingin mengalir dari pelipisnya, jatuh tepat ke atas layar remote "The Shifter". Di atas mereka, suara langkah kaki Sang Auditor terdengar seperti palu godam yang menghantam beton. Setiap dentuman membuat debu-debu dari langit-langit jatuh ke rambut Genta.
"Aki, Sarah... kalau kita mati di sini, tolong tulis di nisan saya kalau saya itu teknisi lift terbaik, bukan teknisi yang mati di bawah tumpukan struk belanja," bisik Genta dengan suara gemetar.
"Diam, Genta! Kalau kamu terus bicara, frekuensi suaramu akan memicu sensor seismik mereka," Sarah memperingatkan sambil sibuk menghubungkan sebuah alat kecil dari sakunya ke ponsel pintar yang layarnya retak-retak.
Tiba-tiba, suara di atas berhenti. Keheningan yang menyusul jauh lebih mengerikan daripada suara berisik tadi. Genta menahan napas sampai dadanya terasa panas. Lalu, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa intonasi bergema melalui celah lantai.
"Subjek Genta Pratama. Unit Anomali 4.5. Keluarlah. Proses penghapusan akan jauh lebih efisien jika dilakukan di ruang terbuka. Kami tidak ingin merusak aset properti warga sipil lebih dari yang diperlukan."
"Waduh, penjahatnya sopan banget, Ki," gumam Genta.
"Itu bukan sopan, itu efisiensi birokrasi," balas Aki dengan nada getir. "Bagi mereka, menghancurkan bangunan itu berarti harus bikin laporan kompensasi ke pemerintah kota. Mereka benci kerja administrasi tambahan."
Sarah menarik napas panjang. "Mereka sudah menyebarkan gas pelacak partikel di atas. Begitu kita keluar, mereka akan tahu posisi kita sampai ke milimeter terkecil. Kita butuh pengalih perhatian yang sangat besar."
"Genta, lihat remotemu!" perintah Aki. "Cari menu 'Mass System Overload'. Kita harus mengacaukan semua perangkat elektronik di radius seratus meter!"
Genta menyalakan layar remotenya. Jarinya dengan cepat menggeser menu yang kini terasa lebih familiar, meskipun hatinya masih mencelos melihat angka Luck: -25 "Ketemu! Tapi di sini ada peringatan: 'Risiko Kerusakan Permanen pada Jaringan Otak Pengguna'. Ini serius, Ki?"
"Itu cuma peringatan formalitas, kayak tulisan di bungkus rokok! Sudah, tekan saja!" seru Aki.
Genta memejamkan mata dan menekan tombol Execute.
Seketika, Genta merasakan sengatan listrik statis menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Bulu kuduknya berdiri tegak. Di atas sana, terdengar ledakan-ledakan kecil. Semua lampu di jalanan Jakarta Barat tiba-tiba menyala sangat terang sebelum akhirnya pecah bersamaan. Televisi di rumah-rumah warga menyala sendiri, menampilkan gambar statis, dan alarm mobil di seluruh blok berteriak bersahutan.
"Sekarang! Lari!" Sarah mendorong pintu rahasia yang menuju ke sebuah terowongan kabel bawah tanah.
Mereka keluar ke sebuah gang di belakang toko, tepat saat area itu diselimuti kegelapan total akibat mati lampu masal. Namun, di tengah kegelapan itu, Genta melihat sosok Sang Auditor. Dia berdiri tegak, tingginya hampir dua meter, memakai jubah hitam panjang yang materialnya tampak seperti cairan karbon yang bergerak. Wajahnya tertutup topeng perak polos tanpa lubang mata.
"Anomali terdeteksi," ujar Auditor itu. Dia mengangkat tangannya, dan dari balik jubahnya keluar sebuah kabel jumper berujung tajam yang bergerak sendiri seperti ular kobra.
"Genta, gunakan 'Environmental Glitch' pada tiang listrik itu!" teriak Sarah sambil melempar sebuah obeng magnetik ke arah Auditor untuk memperlambat gerakannya.
Genta tidak sempat berpikir lagi. Dia mengarahkan remotenya ke tiang listrik beton yang sudah miring di dekat sang Auditor. "Execute: Struktur Runtuh!"
KREK !
Tiang listrik itu tumbang, tapi Sang Auditor bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dia menangkap tiang beton seberat ratusan kilogram itu hanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengincar Genta.
"Gila! Dia itu manusia atau hidrolik?!" teriak Genta sambil melompat ke balik tumpukan sampah.
"Dia adalah hasil modifikasi sistem, Genta! Dia tidak punya massa otot, isinya cuma serat optik dan cairan pendingin!" Aki menjelaskan sambil melemparkan sebuah botol bensin kecil yang dia sulut dengan korek api tua.
Ledakan kecil terjadi di depan Auditor, tapi dia hanya melangkah menembus api seolah itu hanyalah kabut pagi. Genta panik. Dia melihat sekeliling, mencari sesuatu yang bisa dia sabotase. Matanya tertuju pada sebuah mobil tua yang sedang diparkir, yang tangki bensinnya bocor sedikit.
"Sarah! Aki! Merunduk!" Genta berteriak.
Genta mengunci target pada [SISTEM PENGAPIAN MOBIL] dan [TEKANAN BAHAN BAKAR]. Dia memutar tuas di remote ke arah maksimal. "Overload! Sekarang!"
Mobil itu tidak meledak, tapi mesinnya tiba-tiba menyala dengan raungan yang sangat keras. Roda belakangnya berputar di tempat, menciptakan asap ban yang sangat tebal. Genta menggunakan celah itu untuk berlari ke arah Auditor, bukan untuk menyerang, tapi untuk melakukan apa yang biasa dia lakukan pada lift yang macet: melakukan jumper pada sirkuit utama.
Saat kabel ular milik Auditor melesat ke arah dada Genta, Genta tidak menghindar. Dia menggunakan remote "The Shifter" sebagai perisai. Kabel itu menghantam remote dengan dentang logam yang keras.
ZAPPP!
Arus listrik dari Auditor beradu dengan energi dari remote. Genta merasakan guncangan hebat yang membuatnya terpental, tapi Auditor juga tampak goyah. Sinyal biru di topeng peraknya berkedip-kedip kacau.
"Sistem... Error... Logika tidak ditemukan..." suara Auditor itu terdengar parau dan rusak.
"Ayo! Sebelum dia melakukan restart!" Sarah menarik lengan Genta.
Mereka bertiga berlari menuju sebuah mobil pick-up tua milik toko Sarah yang sudah disiapkan di ujung gang. Sarah melompat ke kursi pengemudi, Aki di tengah, dan Genta terjerembap di bak belakang bersama tumpukan karung struk belanja.
"Pegangan yang kuat, Genta! Aku akan menyetir seperti orang yang dikejar tagihan pinjol!" teriak Sarah.
Mobil itu melesat membelah kegelapan Jakarta Barat, melewati gang-gang sempit dengan kecepatan yang membuat jantung Genta hampir copot. Di belakang, Genta bisa melihat sosok Auditor yang berdiri tegak di tengah jalan, perlahan-lahan kembali stabil. Cahaya merah di matanya menyala kembali, menatap ke arah mobil mereka yang menjauh.
Genta melihat remotenya. Layarnya retak sedikit di bagian pojok, tapi angkanya kini menunjukkan sesuatu yang lebih menakutkan:
Luck: 150.
Warning: System Debt Exa Ted
"Ki... angkanya jadi minus seratus lima puluh," lapor Genta dari bak belakang, suaranya bergetar karena guncangan mobil.
Aki menoleh lewat kaca belakang, wajahnya terlihat sangat cemas. "Itu artinya mulai besok, alam semesta akan mencoba menagih hutang keberuntunganmu dengan cara yang sangat kasar, Genta. Bersiaplah, karena besok mungkin kamu akan tersedak air putih saja bisa berujung maut."
Genta hanya bisa menyandarkan kepalanya ke tumpukan struk belanja, menatap langit Jakarta yang mendung. Dia baru saja selamat dari agen pemusnah takdir, tapi sekarang dia harus menghadapi kemarahan alam semesta itu sendiri.
"Selamat datang di tim kami, Genta," suara Sarah terdengar dari depan, sedikit lebih lembut tapi tetap tegas. "Babak pertama baru saja selesai. Sekarang, kita harus cari tahu bagaimana cara mematikan server pusat sebelum 'Luck' milikmu menyentuh angka minus seribu."
Genta menghela napas panjang. "Boleh saya minta satu hal?"
"Apa?" tanya Sarah.
"Besok-besok, kalau lari, jangan lewat selokan lagi ya? Saya lebih suka dikejar Auditor daripada bau limbah kerupuk."
Sarah dan Aki tertawa kecil di tengah ketegangan malam itu. Genta menutup matanya, memegang remote "The Shifter" erat-erat, menyadari bahwa hidupnya sebagai teknisi lift sudah benar-benar tamat, dan perannya sebagai peretas takdir baru saja dimulai.