NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Benang Merah yang Berdarah

Foto itu tergeletak di atas meja kaca apartemenku seperti kartu mati yang baru saja ditaruh oleh seorang bandar judi profesional. Aku menatap gambar kusam yang warnanya sudah mulai menguning itu dengan rahang yang mengeras. Di sana, seorang wanita cantik sedang menggendong bayi kecil sambil tersenyum ke arah kamera, dan di sampingnya berdiri seorang pria dengan sorot mata yang sangat kukenali.

"Rian, kau sudah memastikan keaslian benda ini?" tanyaku sambil melepaskan jas jasku.

"Sudah, Yansya. Itu asli. Tidak ada manipulasi digital atau tanda-tanda penipuan pada kertasnya," sahut Rian dari balik sambungan telepon dengan nada yang sangat serius.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan gemuruh di dadaku yang mendadak muncul tanpa izin. Pria di foto itu adalah Tuan Gautama di masa mudanya, dan wanita yang didekapnya adalah ibuku yang sudah meninggal belasan tahun lalu. Kenyataan ini tidak pernah muncul dalam ingatanku di masa depan, seolah-olah sejarah ini telah dihapus secara paksa oleh seseorang yang sangat berkuasa.

"Apa pesannya, Rian?" tanyaku lagi.

"Tidak ada tulisan, hanya koin emas singa yang kau temukan kemarin dan foto ini saja," jelas Rian dengan suara yang terdengar sedikit khawatir.

Aku berjalan menuju jendela, menatap kerlap-kerlip lampu kota yang kini terasa sangat mengancam. Gautama tidak hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, dia ingin memberitahuku bahwa aku memiliki ikatan darah dengan musuh terbesarku sendiri. Ini adalah kartu as yang dia simpan untuk menjatuhkan mentalku sebelum pertempuran yang sesungguhnya dimulai.

"Cari tahu semua catatan rumah sakit tempat ibuku meninggal, Rian. Jangan lewatkan satu detail pun," perintahku dengan nada suara yang sangat tegas.

"Siap, Bos. Aku akan masuk ke server arsip nasional malam ini juga," balas Rian dengan semangat yang kembali berkobar.

Ponselku bergetar tepat saat aku hendak meletakkan gawai itu di meja. Nama Seeula muncul di layar, membuat ekspresiku yang semula dingin mendadak sedikit melunak. Aku segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan dari wanita yang baru saja menjadi direktur utama itu.

"Yansya, kau sudah sampai di rumah?" tanya Seeula dengan nada yang sangat tulus.

"Sudah, Seeula. Kau sendiri bagaimana? Masih di kantor?" tanyaku balik.

"Aku baru saja akan pulang. Rasanya aneh melihat semua orang mendadak sangat sopan kepadaku," celetuk Seeula disertai tawa kecil yang sangat merdu.

"Biasakan dirimu, Seeula. Kau adalah pemilik baru di sana. Jangan biarkan mereka melihat celah sedikit pun," pesanku dengan penuh kehangatan.

"Terima kasih, Yansya. Oh ya, besok ada undangan makan malam dari asosiasi pengusaha kota. Apakah kau akan menemaniku?" tawar Seeula dengan suara yang sedikit ragu.

Aku terdiam sejenak, memikirkan risiko yang akan kami hadapi jika muncul bersama di depan publik saat ini. Namun, aku tahu bahwa menghindar hanya akan membuat lawan-lawanku merasa menang. Aku harus menunjukkan bahwa Seeula berada di bawah perlindunganku sepenuhnya.

"Tentu saja. Aku akan menjemputmu jam tujuh malam," jawabku dengan kepastian yang mutlak.

Setelah menutup telepon, aku kembali memandangi foto di atas meja. Jika benar Gautama memiliki hubungan dengan masa laluku, maka rencana penghancurannya harus diubah menjadi sesuatu yang lebih personal dan menyakitkan. Aku tidak akan membiarkan hubungan darah menjadi penghalang bagi kebahagiaan Seeula yang sedang aku bangun dengan susah payah.

Aku segera menghubungi tim keamanan pribadiku untuk memperketat penjagaan di sekitar apartemen. Aku tidak ingin ada penyusup yang bisa masuk dan meletakkan benda-benda aneh seperti ini lagi. Keamanan informasiku harus menjadi prioritas utama sebelum aku melangkah ke acara makan malam besok.

"Pastikan tidak ada lalat pun yang bisa masuk ke lantai ini tanpa izin saya," sergahku pada kepala pengawal lewat interkom.

"Dimengerti, Tuan Yansya. Lantai ini sudah steril sepenuhnya," jawab pengawal itu dengan sigap.

Malam semakin larut, namun mataku sama sekali tidak mau terpejam. Aku duduk di depan komputer, memindai grafik pergerakan saham yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda manipulasi dari pihak ketiga. Sepertinya Gautama mulai menggunakan pengaruh politiknya untuk menekan Widowati Group secara perlahan.

"Rian, kau lihat pergerakan saham sektor properti kita?" tanyaku melalui pesan singkat.

"Ya, ada aksi jual besar-besaran dari akun-akun anonim. Mereka mencoba menjatuhkan harga kita sebelum penutupan pasar besok," balas Rian dalam hitungan detik.

"Biarkan saja. Siapkan dana cadangan dari Bank Artha Kencana untuk memborong semuanya di menit-menit terakhir," perintahku dengan senyum yang mulai mengembang.

Aku mematikan monitor dan berjalan menuju balkon untuk menghirup udara malam yang dingin. Rencanaku harus sempurna tanpa ada cacat logika sedikit pun. Gautama boleh merasa memiliki kota ini, tapi aku memiliki masa depan yang sudah pernah aku lalui. Aku tahu setiap langkah yang akan dia ambil, bahkan sebelum dia memikirkannya sendiri.

Tepat saat aku hendak masuk kembali ke dalam ruangan, sebuah cahaya laser merah mendadak melintas di dinding balkon apartemenku. Cahaya itu bergerak cepat, mencari titik koordinat yang tepat di dadaku. Aku segera menjatuhkan diri ke lantai, merasakan desingan peluru yang memecahkan kaca jendela tepat di atas kepalaku.

"Yansya! Ada serangan di apartemenmu!" teriak Rian dari ponsel yang masih menyala di meja.

Aku merangkak menuju meja kerja, mengambil senjata yang selalu aku siapkan di laci tersembunyi. Sepertinya Gautama sudah tidak sabar untuk menungguku di acara makan malam besok. Dia memutuskan untuk menyelesaikan urusan ini lebih awal dengan cara yang paling kasar.

"Panggil tim evakuasi sekarang, Rian! Dan jangan beri tahu Seeula tentang kejadian ini!" seruku tegas sambil bersiap membalas tembakan dari arah gedung seberang.

"Yansya, kau masih bernapas?" tanya Rian dengan nada panik yang menembus speaker ponsel.

"Berhenti berteriak dan lacak posisi panas itu sekarang," perintahku sambil menarik pelatuk senjata untuk memberikan tembakan balasan demi mengalihkan perhatian penembak runduk tersebut.

"Koordinat terkunci! Lantai dua puluh dua, Gedung Grand Skyline, tepat di seberang balkonmu!" lapor Rian dengan kecepatan mengetik yang luar biasa.

Aku berguling ke arah sisi sofa yang lebih tebal, menghindari peluru kedua yang kini menghantam lantai kayu apartemenku hingga menciptakan lubang kecil yang berasap. Aku tahu penembak ini bukan amatir. Dia menunggu gerakanku dengan sangat sabar.

"Matikan seluruh lampu di lantai ini, Rian. Sekarang," pintaku dengan nada rendah.

Dalam sekejap, seluruh apartemen menjadi gelap gulita. Kegelapan ini adalah sekutuku. Aku sudah memetakan setiap jengkal ruangan ini dalam kepalaku, sementara penembak di sana akan kehilangan referensi visualnya selama beberapa detik yang sangat krusial.

"Tim evakuasi sudah di lobi, mereka akan naik lewat lift barang," lapor Rian kembali.

"Jangan biarkan mereka masuk sebelum aku memberi tanda. Aku tidak ingin ada saksi mata tambahan di ruangan ini," sahutku sambil merayap menuju arah dapur.

Aku mengambil sebuah botol minuman keras dari rak dan melemparkannya ke arah balkon dengan tenaga yang cukup besar. Pecahan kaca botol itu menciptakan suara gaduh yang langsung memicu tembakan ketiga dari penembak runduk tersebut.

"Kena kau," gumamku setelah melihat kilatan cahaya moncong senjata dari gedung seberang.

Aku mengarahkan senjataku melalui celah kecil di bawah jendela, membidik koordinat yang sudah dipetakan oleh sistem Rian di tablet yang kini menyala redup di tanganku. Aku menarik pelatuk dua kali dalam jeda yang sangat singkat. Suara tembakanku diredam sempurna oleh alat peredam yang terpasang, namun dampaknya di gedung seberang pasti sangat mematikan.

"Tembakan tepat sasaran! Sinyal panas di gedung seberang menghilang!" pekik Rian dengan nada penuh kemenangan.

Aku berdiri perlahan, memastikan tidak ada lagi cahaya laser yang mencari tubuhku. Apartemenku kini berantakan dengan pecahan kaca yang berserakan, namun aku tidak peduli dengan kerugian materi ini. Pikiranku justru tertuju pada foto ibu dan Gautama yang masih tergeletak di atas meja.

"Bersihkan semuanya sebelum matahari terbit, Rian. Aku tidak ingin ada jejak sedikit pun yang tersisa di sini," perintahku sambil memungut foto itu kembali.

"Bagaimana dengan acara makan malam besok? Kau masih berniat datang setelah serangan ini?" tanya Rian dengan nada ragu.

Aku menatap foto kusam di tanganku dengan sorot mata yang semakin dingin. Serangan ini justru memberikan kepastian padaku bahwa Gautama sedang dalam kondisi panik. Dia mulai menggunakan kekerasan karena trik psikologisnya tidak berhasil memengaruhi mentalku.

"Justru aku akan datang dengan persiapan yang jauh lebih besar. Aku ingin melihat langsung wajah pria yang baru saja gagal membunuh putranya sendiri," jawabku dengan nada yang sangat tajam.

Aku melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan debu dari pakaianku. Aku harus tetap terlihat sempurna saat menjemput Seeula besok. Di duniaku sekarang, tidak boleh ada setitik pun kelemahan yang terlihat oleh musuh maupun oleh wanita yang sangat aku cintai.

"Jangan lupa amankan rekaman CCTV di sekitar apartemen ini. Pastikan tidak ada wajahku yang terekam saat memegang senjata," tambahku lagi.

"Serahkan padaku. Semua data digital di radius satu kilometer akan segera menjadi sejarah," janji Rian dengan penuh percaya diri.

Aku menatap pantulan diriku di cermin. Wajah pemuda di depanku ini tampak sangat tenang, seolah baru saja menyelesaikan permainan catur yang menyenangkan. Namun, di balik ketenangan itu, ada badai yang siap menghancurkan seluruh kekaisaran Gautama tanpa sisa.

"Kita lihat siapa yang akan berlutut di akhir makan malam besok, Gautama," bisikku sambil menyimpan foto itu di dalam laci yang paling aman.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!