"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - Amarah Bima
Begitu motor besar Arfan meluncur keluar dari gerbang sekolah, Bima langsung memacu motornya sekuat tenaga dan memotong jalan Arfan dengan kasar.
Citttt!
Ban motor mereka hampir bersentuhan. Arfan mengerem mendadak, tubuhnya tetap seimbang dengan sangat tenang. Ia membuka kaca helmnya, menatap Bima dengan tatapan yang teduh, tanpa ada jejak amarah.
"Ada apa, Bim? Ada barang Aura yang ketinggalan?" tanya Arfan lembut.
Bima turun dari motor dengan napas memburu. Ia melangkah maju dan langsung mencengkeram kerah jaket Arfan, memaksa pria itu untuk turun dari motornya.
"Nggak usah banyak tanya lo! Gue udah muak liat tampang sok suci lo itu!" bentak Bima tepat di depan wajah Arfan.
Arfan tidak melawan. Ia hanya membiarkan Bima mencengkeramnya, matanya menatap Bima dengan sabar. "Kalau ada masalah, kita bicara baik-baik, Bim. Jangan di pinggir jalan begini."
"Bicara baik-baik? Sama orang bermuka dua kayak lo?!" Bima tertawa sinis, matanya merah karena emosi yang meluap. "Gue liat dengan mata kepala gue sendiri, Fan! Kemarin lo jalan bareng Mawar, kan? Temen deket Aura sendiri lo embat juga?"
Bima mendorong bahu Arfan dengan kasar. Ia tidak ingin Arfan menghancurkan hati Aura, karena Bima yakin jika Aura pasti memiliki perasaan kepada orang sangat ia benci, yaitu Arfan.
"Di rumah lo lagak kayak malaikat penolong, bawain bubur, beliin obat buat Bunda, sok jagain Aura. Tapi di belakang, lo malah mainin cewek lain? Lo sebenernya mau apa, hah?! Mau ngerusak keluarga gue atau cuma mau numpang eksis jadi pahlawan?"
Arfan terdiam sejenak. Ia merapikan jaketnya yang sedikit kusut akibat tarikan Bima. Tidak ada nada tinggi saat ia menjawab, suaranya tetap rendah dan sangat tenang.
"Soal Mawar... itu nggak seperti yang kamu bayangkan, Bim," ucap Arfan lirih. "Dia cuma minta bantuan saya soal persiapan ujiannya, karena dia tahu saya sering bantu Aura belajar. Saya nggak ada perasaan apa pun sama dia."
"Halah! Alasan klasik laki-laki kayak lo!" potong Bima sengit. "Pinter banget susun kata-kata. Tapi gue nggak bakal ketipu. Bunda sama Aura mungkin bisa lo kibulin pake bantuan-bantuan sampah lo itu, tapi gue nggak akan pernah percaya sama lo. Jauhin keluarga gue, dan jauhin Mawar!"
Arfan menatap Bima dengan tatapan yang sangat dalam. Ia bisa merasakan ada luka lain di balik kemarahan Bima, meski Bima tidak mengatakannya.
"Bim, saya mengerti kamu protektif. Itu tugas kamu sebagai kakak," jawab Arfan tulus. "Tapi tolong, jangan biarkan kebencian kamu menutupi niat baik saya ke keluarga kalian. Saya beneran cuma pengen jagain Aura dan Bunda."
Bima meludah ke samping, benar-benar tidak sudi menerima penjelasan itu. "Simpan omong kosong lo! Sekali lagi gue liat lo macem-macem, gue nggak akan tinggal diam. Lo bukan siapa-siapa di rumah gue!"
Bima berbalik dan naik ke motornya, lalu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan debu yang berterbangan. Arfan hanya berdiri mematung di pinggir jalan, menatap punggung Bima yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Sabar, Fan... Bima cuma belum paham," gumam Arfan pada dirinya sendiri, sebelum kembali menghidupkan mesin motornya dengan tenang.
...****************...
Di salah satu sudut koridor sekolah yang cukup teduh, Aura duduk bersama dua sahabatnya, Zahra dan Mawar. Suasana di antara mereka selalu terasa unik karena perbedaan karakter yang sangat mencolok.
"Gila sih, Ra! Kak Arfan itu bener-bener spek malaikat. Gue kalau jadi lo, udah gue kurung di kamar biar nggak diambil orang," celetuk Zahra sambil sibuk memoles kuku jarinya. Rambutnya yang pirang kecokelatan terurai bebas, dan seragamnya tampak lebih ketat di bandingkan siswi-siswi yang lain. "Tapi ya gitu, cowok alim biasanya ngebosenin. Mending kayak pacar baru gue, anak band, seru!"
Aura hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Zah, kamu ini gonta-ganti pacar terus. Nggak capek apa?"
"Hidup cuma sekali, Aura sayang! Dinikmati dong," sahut Zahra tertawa lepas tanpa beban.
Mawar, yang duduk di samping Aura, tetap menunduk. Jemarinya yang lentik sedang merapikan lipatan kerudung panjangnya. Ia hampir tidak pernah mendongak jika ada siswa laki-laki yang lewat di depan mereka. "Zahra, lisanmu dijaga. Tidak baik bicara seperti itu tentang laki-laki yang bukan mahram," tegur Mawar dengan suara yang sangat lembut nya.
"Iya, iya, Ustazah Mawar... maaf deh," ucap Zahra dengan menyengir, lalu menoleh ke arah gerbang sekolah yang terlihat dari koridor. "Eh, Ra, itu bukannya Kak Bima ya?"
Aura terlonjak, ia langsung menoleh ke arah gerbang. "Hah? Mana? Kak Bima nggak mungkin ke sini, dia tadi nggak bilang apa-apa."
Mawar perlahan mendongak, matanya yang teduh mengikuti arah telunjuk Zahra. "Iya, Aura. Itu Kak Bima. Tapi sepertinya... dia baru saja pergi dengan terburu-buru. Wajahnya terlihat sangat tegang."
Aura mengerutkan kening, jantungnya tiba-tiba berdegup tidak beraturan. "Kak Bima di sini? Ngapain?"
"Mungkin kangen sama adeknya yang manja ini," goda Zahra, tapi wajah Aura tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bercanda.
"Aura," panggil Mawar lembut, menyentuh punggung tangan Aura. "Tadi sebelum Kak Bima pergi, aku melihat dia berbicara dengan seseorang di pinggir jalan. Sepertinya... dengan Kak Arfan."
Aura tertegun. "Kak Arfan? Bukannya Kak Arfan sudah jalan pulang setelah antar aku tadi?"
"Sepertinya Kak Bima mencegatnya di sana, Ra," lanjut Mawar lagi, suaranya mengandung nada khawatir yang samar. Ia kembali menunduk, seolah ada sesuatu yang ia simpan sendiri dalam diamnya yang tenang itu.
Aura merasa dunianya seakan berhenti sejenak. Jika benar Bima mencegat Arfan di depan sekolah, berarti perang dingin di meja makan tadi pagi belum benar-benar berakhir. Ada rasa cemas yang merayap di hati Aura, cemas akan amarah kakaknya yang meledak-ledak, dan cemas akan ketenangan Arfan yang mungkin saja terusik karena dirinya.
"Zah, War... aku ke kelas duluan ya," pamit Aura tiba-tiba. Ia merasa perlu menyendiri untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau, sementara Mawar hanya menatap punggung Aura dengan tatapan yang sulit diartikan, penuh rahasia yang terkunci rapat di balik kelembutannya.
Aura menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian kencang. Ia tidak bisa menunggu sampai jam pulang sekolah untuk mendapatkan jawaban. Dengan tangan sedikit gemetar, ia merogoh tas, mengambil ponselnya, dan segera mencari nama Kak Arfan di kontak.
Tak butuh waktu lama bagi Arfan untuk mengangkat telepon itu.
"Assalamualaikum, Aura? Ada apa? Apa ada barang yang tertinggal?" suara Arfan terdengar sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa di luar gerbang tadi.
"Waalaikumsalam, Kak... Kak Arfan sudah di mana?" tanya Aura, berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil.
"Saya sudah di jalan menuju galeri, Ra. Kenapa? Kamu terdengar cemas."
Aura menggigit bibir bawahnya. "Tadi... tadi kata Mawar sama Zahra, mereka lihat Kak Bima di depan gerbang. Mereka bilang Kak Bima mencegat motor Kakak. Apa benar? Apa Kak Bima marah lagi sama Kakak?"
Hening sejenak di seberang sana. Arfan terdengar menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan, suara tawa yang sangat meyakinkan.
"Oh, itu? Sepertinya teman-teman kamu salah lihat, Ra," jawab Arfan santai. "Saya tadi langsung jalan kok setelah kamu masuk. Mungkin itu motor orang lain yang mirip dengan punya saya. Lagipula, kalau Kak Bima memang ada di sana, kenapa dia tidak menyapa saya?"
Aura mengernyitkan dahi. "Tapi Mawar bilang dia yakin itu Kak Bima, Kak. Wajahnya juga kelihatan marah banget."
"Mawar mungkin salah sangka, Ra. Kamu tahu sendiri kan, di depan sekolah jam segini sangat ramai. Bisa saja orang lain yang sedang berselisih paham, lalu mereka mengira itu saya dan Bima," Arfan berkata dengan nada yang sangat lembut, seolah sedang menenangkan anak kecil. "Sudah, jangan dipikirkan ya. Fokus saja belajar untuk ujian. Jangan sampai pikiran kamu terganggu hanya karena salah lihat orang."
Aura terdiam. Logikanya ingin percaya, karena Arfan tidak pernah berbohong padanya. Tapi perasaannya berkata lain.
"Beneran bukan Kak Bima, Kak?"
"Bukan, Aura. Sudah ya, saya harus fokus berkendara. Nanti sore saya jemput lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Aura perlahan menurunkan ponselnya. Ia menatap layar yang sudah gelap itu dengan tatapan kosong. Di satu sisi, ia lega mendengar suara Arfan yang begitu tenang. Tapi di sisi lain, bayangan wajah Mawar yang begitu yakin saat bercerita tadi terus mengusik pikirannya.
Mawar bukan tipe orang yang suka mengarang cerita atau salah bicara. Ketenangan Mawar biasanya sejalan dengan ketelitiannya.
Kenapa Kak Arfan harus berbohong? batin Aura ragu.
Sementara itu, Arfan yang baru saja menutup teleponnya, menatap lurus ke aspal jalanan. Senyum ramahnya menghilang, digantikan oleh sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan. Ia tahu Bima tidak akan berhenti, tapi ia juga tahu bagaimana cara menjaga dunia sempurna yang sudah ia bangun untuk Aura.
Bersambung......
Assalamualaikum, jangan lupa like dan komen ya kalau kalian suka cerita nyaa🫶🏻.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰