Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanda Tanda
Raka mulai menyadari sesuatu bukan hal besar, keajaiban yang mencolok. Hanya hal-hal kecil terlalu sering muncul untuk disebut kebetulan.
Pagi itu, di kamar mandi, ia mencium aroma yang tak mungkin ada, bunga Melati, lembut. hangat dan familiar.
Aroma losion yang selalu dipakai istri nya, campuran sabun bayi yang ia sukai. Wangi bersih yang dulu sering tertinggal di bantal, di pakaian, di kulit Raka setiap kali mereka berpelukan hangat.
Ia terdiam sesaat lalu, kamar mandi itu tanpa jendela, tanpa ventilasi tanpa ada kemungkinan bau dari luar masuk. Ia lalu menatap cermin berbisik didalam hatinya.
"Nan?" suara itu hampir tak terdengar. "Kamu ada disini?"
Sunyi.
Tak ada bayangan, tidak ada suara, tidak ada apa pun yang bisa disentuh atau dibuktikan Keberadaannya tapi aroma itu nyata menusuk hidung.
Raka menutup mata menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menangkap lebih lama, menyimpannya di dada seperti takut kehilangan lagi. Dan seperti kabut tersentuh matahari, wangi itu perlahan menghilang dibalik penciumannya.
Ia akhirnya membuka mata sembari tersenyum tipis, rapuh tapi terlihat nyata sebuah harapan terasa seperti jawaban akan kerinduan dan kehadiran.
\=\=\=
Siang itu suasana kantor terasa sibuk sebelum istirahat. Raka duduk di depan layar komputer, menatap angka-angka tanpa benar-benar membaca, pikirannya tetap berputar pada satu nama, Kinan
Tiba-tiba—peristiwa itu terjadi lagi angin
sepoi, lembut, menyentuh pipinya seperti usapan jahil yang dulu sering ia rasakan ketika malas mandi, berguling guling diatas tempat tidur.
Angin menerpa sayup sampai padahal ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tak ada celah untuk masuk.
“Sayang, fokus kerja dulu nanti Kinan gangguin lagi, mau ? "
Suara itu tidak terdengar di telinga—tapi terekam di kepalanya, begitu nyata membuatnya tertawa kecil.
Beberapa rekan kerja menoleh. Ada yang mengernyit, ada yang berbisik pelan. Tapi ia tidak peduli.
Andi salah seorang rekan kerjanya melongok dari balik Kubikel, " Raka ngapain lu ketawa sendiri ? Ada yang aneh ?"
" Eh...Ndi, gue liat Kinan."
" What ?" Laki laki itu menggelengkan kepalanya," Kamu stress Raka."
" Gak kok, gue mencium bau Kinan disini, ia malah memberi tanda."
Andi tercekat kembali duduk, " Raka mesti dibawa ke psikiater," bisiknya pelan
Namun laki laki itu tetap tidak perduli untuk beberapa detik, ia merasa bahagia. Dan itu lebih dari cukup.
\=\=\=
Malamnya, di teras rumah.
Tanaman lidah mertua yang dulu hampir mati kini berdiri tegak, hijau, hidup. Raka menyiramnya dengan takaran yang ia ingat dari istrinya, jangan terlalu banyak airnya Mas dan jangan pula terlalu sedikit, sesuaikan dengan takaran tubuh anak anak. Ia hanya mengernyit
“Pagi, anak-anak cantik, pagi ini kita minum dulu ya, nanti siang baru makan, pakai pupuk."
Ia mengulang kalimat itu pelan, malu pada dirinya sendiri bicara pada tumbuhan.
Tiba tiba matanya tercekat melihat satu tangkai bunga mawar putih di atas meja teras.Tempat itu tadinya kosong. Ia yakin betul
Mawar terlihat segar, embun masih menggantung di kelopaknya seolah baru saja dipetik di taman
Jantungnya berdebar kencang mendekat secara perlahan, seperti takut bunga itu akan lenyap jika disentuh terlalu cepat, kelopaknya lembut dan tangkainya masih kuat.
“Nan…” suaranya pecah. “Ini kamu?”
Tak ada jawaban memang tidak ada jawaban tidak mungkin bunga bisa berkata, tapi kali ini ia memang tidak butuh jawaban. Ada sesuatu di dalam dadanya tidak bisa dijelaskan oleh logika, tapi lebih jujur daripada akal sehat.
Ia membawa bunga itu masuk kedalam kamar menciumnya lalu diletakkannya diatas meja kecil tempat Kinan menyimpan anting dan lipstiknya.
“Makasih, sayang ” bisiknya sebelum tidur. “Mas tahu ini dari Kinan, cukup untuk mengobati kerinduan.”
\=\=\=
Keesokan paginya, gadis itu datang lagi seperti jarum jam yang berputar, runut dan tepat, keningnya mengernyit melihat Raka
memegang setangkai bunga mawar putih di teras depan."
“Lu beli bunga mawar itu, Ra?” tanyanya bingung.
Ia menggeleng, senyumnya berbeda hari ini lebih hidup, ringan dan ceria.
“Dari Kinan,” jawabnya sederhana.
Maya terdiam ingin membantah, Ingin mencari penjelasan secara rasional. Tapi melihat wajah Raka—cara matanya bersinar lagi—ia tak sanggup merusaknya.
“Gue percaya,” katanya pelan. “Kalau bukan bunganya, ya perasaan Kinan. Dia masih menyayangi lo”
Raka menatapnya lebih lama dari pada biasanya dan baru kali ini ia benar-benar melihat lingkar mata yang lelah, selalu datang tanpa diminta, merapikan rumah tanpa pernah mengeluh, menyembunyikan sesuatu lebih dalam dari sekadar duka seorang sahabat.
“May… lo juga kehilangan,” ucapnya lirih. “Kenapa lo masih di sini?”
Gadis itu tersenyum kecil senyuman menahan banyak hal.“Karena gue nggak bisa ninggalin lo sendirian,” jawabnya. “Dan… mungkin karena gue tahu Kinan pasti bakal ngelakuin hal yang sama.”
Mereka sama-sama tahu itu bukan seluruh kebenaran tapi untuk saat ini, itu cukup.
Raka mengangguk. “Makasih, May. Gue nggak janji bisa cepet sembuh. Tapi gue bakal coba.”
Kalimat itu sederhana.Namun bagi Maya seperti pintu yang sedikit terbuka, bukan pintu cinta, belum, tapi pintu sebuah kemungkinan.
Dan bagi Maya, itu sudah lebih dari yang ia harapkan.
\=\=\=\=
Malam itu, Raka menulis di sebuah buku catatan dibelikan Kinan. Buku yang selalu ia simpan rapi, seolah takut mengotori kenangan lama.
Tangannya gemetar saat menghias kertas dengan tinta
“Nan, Mas ngerasain kamu hari ini, bunga melati, angin dan mawar putih. Mas nggak tahu itu apakah itu beneran atau cuma Mas yang terlalu rindu, tapi rasanya nyata, Nan.
Dan kalau itu cuma imajinasi, Mas nggak peduli karena itu yang membuat Mas kuat.
Mas belajar hidup lagi, Nan, pelan-pelan ya sayang. Mas nggak janji bakal baik-baik aja. Tapi Mas bakal berusaha sebaik mungkin.
Kalau kamu bisa kasih tanda buat mas, mas ucapkan terimakasih, tapi kalau nggak pun… Mas bakal tetep jalan, ya cantik.
Karena cinta nggak selalu berarti bertahan di tempat yang sama, tapi cinta bisa memberi izin buat lanjut.”
Air matanya jatuh di kertas melipat surat itu dan menyelipkannya di bawah bantal.
“Mas sayang," bisiknya.
Kalimat itu tidak terdengar seperti jeritan kehilangan tapi doa yang tulus.
\=\=\=
Di Ruang Tunggu yang tak berbatas, Kinan merasakan sesuatu namanya dipanggil bukan dengan tangisan, tapi dengan keberanian.
Cintanya diingat tidak dengan keputusasaan, tapi dengan usaha untuk hidup.
Ia tersenyum. “Mas pinter,” bisiknya pelan. “Mas mulai ngerti.” Ia tahu tak akan bisa terus memberi tanda karena itu akan menguras energinya.
Setiap wangi melati, hembusan angin, bunga yang muncul—itu bukan sihir tanpa harga itu membantu Raka berdiri.
Cinta bukan tentang tinggal tapi mengerti kapan saat harus melepas. Dan Raka… perlahan, sangat perlahan… sedang belajar ke arah sana.
mampir 🤭