Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10: pelajaran tambahan dari sang raja
Seminggu telah berlalu sejak insiden kemunculan serentak Crimson Eclipse di tiga benua, dan dunia masih terjebak dalam histeria massal. Namun, di dalam gerbang SMA Gwangyang, kecemasan global itu seolah teredam oleh hiruk-pikuk persiapan Festival Budaya tahunan. Spanduk-spanduk warna-warni digantung di koridor, aroma makanan dari stan-stan kelas memenuhi udara, dan suara latihan musik terdengar dari setiap sudut gedung. Bagi sebagian besar siswa, ini adalah pelarian yang sempurna dari kenyataan dunia yang semakin berbahaya. Namun bagi Arkan, keriuhan ini hanyalah tabir asap bagi ancaman yang lebih licik.
Arkan sedang berdiri di atas tangga lipat, membantu Liora memasang dekorasi bunga kertas di langit-langit kelas. Kacamata tebalnya sedikit melorot karena keringat, dan ia berpura-pura kesulitan menjaga keseimbangan.
"Arkan, geser sedikit ke kanan! Bunga yang itu tidak simetris!" teriak Liora dari bawah sambil memegangi ujung tangga. Wajahnya tampak sedikit lebih cerah hari ini, meski ada kantung mata tipis akibat obsesinya menelusuri forum-forum tentang 'Sovereign' setiap malam.
"Begini?" Arkan menggeser hiasan itu, namun matanya tidak tertuju pada kertas krep.
Melalui pandangan Sanguine Vision yang ia aktifkan secara minimal, Arkan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Di sudut kelas, di dekat bayangan lemari buku, sebuah serat hitam tipis merayap di lantai. Serat itu bergerak seperti cacing, memancarkan aura dingin yang dikenal sebagai energi 'Parasite Abyss'. Makhluk ini tidak menyerang secara fisik; mereka masuk ke dalam pori-pori manusia, memakan emosi mereka, dan perlahan mengubah inangnya menjadi boneka monster dari dalam.
'Julian, lapor,' batin Arkan.
'Ayah, Seer benar. Titik retakan mulai meluas di bawah fondasi gimnasium sekolah. Parasite yang Anda lihat adalah pengintai kelas bawah. Inti gerbang akan meledak saat puncak acara festival sore ini, tepat saat emosi kebahagiaan siswa mencapai titik jenuh,' suara Julian terdengar jernih melalui Blood-Link.
'Berapa banyak siswa yang sudah terinfeksi?' tanya Arkan.
'Sejauh ini ada tiga orang. Rian adalah salah satunya. Karena trauma psikologis yang diberikan Hana sebelumnya, pertahanan mentalnya sangat lemah. Parasite itu kini bersarang di tulang belakangnya, menunggu perintah untuk bermutasi.'
Arkan menatap Rian yang sedang duduk diam di sudut kelas. Pemuda yang biasanya sombong itu kini tampak kuyu, matanya kosong dengan urat-urat kehitaman yang samar di sekitar lehernya. Arkan mendengus dalam hati. Ironis sekali; orang yang paling membencinya justru menjadi orang pertama yang akan menjadi monster di hadapannya.
Pukul 16.00, puncak Festival Budaya dimulai di gimnasium. Ratusan siswa, guru, dan beberapa orang tua berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan drama dan musik. Liora berdiri di samping Arkan di barisan belakang, wajahnya penuh kegembiraan.
"Lihat, Arkan! Pertunjukannya akan dimulai! Aku senang kita bisa menyelesaikan dekorasi tepat waktu," ucap Liora sambil menyenggol lengan Arkan.
Arkan hanya tersenyum tipis. 'Waktunya sudah tiba.'
Tiba-tiba, lampu di gimnasium berkedip hebat. Suara speaker mengeluarkan dengungan yang menyakitkan telinga. Di tengah panggung, Rian yang sedang ikut dalam kelompok drama tiba-tiba terjatuh dan kejang-kejang. Tubuhnya melengkung ke belakang dengan sudut yang mengerikan, dan jeritan parau keluar dari mulutnya yang mulai mengeluarkan cairan hitam.
"Rian! Kamu kenapa?!" teriak salah satu guru yang mencoba menolong.
Namun, sebelum guru itu menyentuhnya, punggung Rian meledak. Sepuluh tentakel hitam berduri keluar dari tulang belakangnya, menghancurkan kostum dramanya. Matanya berubah menjadi putih total, dan wajahnya terbelah menjadi rahang raksasa yang mengerikan.
Pekik ketakutan pecah di seluruh gimnasium. Gerbang Parasite di bawah lantai meledak, melepaskan ratusan spora hitam yang langsung terbang mencari inang baru.
"SEMUANYA LARI!" teriak Liora, secara insting ia mencoba mengaktifkan mana Kelas C-nya untuk membentuk perisai di depan para siswa. Namun, energi Parasite ini terlalu licik; mereka menembus perisai mana biasa seperti air yang melewati saringan.
Arkan menarik Liora ke balik pilar besar. "Liora, tetap di sini! Jangan biarkan spora itu menyentuh kulitmu!"
"Tapi Arkan! Mereka akan terinfeksi semua!" Liora mencoba meronta, namun Arkan memegang bahunya dengan kekuatan yang sangat stabil—kekuatan yang membuat Liora tiba-tiba merasa tenang meskipun di tengah kekacauan.
"Dengar," bisik Arkan, matanya berkilat merah di balik kacamata. "Tutup matamu dan hitung sampai tiga puluh. Jangan buka sampai aku bilang."
"Apa?! Arkan, apa yang mau kamu—"
"TUTUP MATAMU!" perintah Arkan dengan suara Sovereign-nya yang mutlak. Liora tersentak dan secara otomatis memejamkan matanya, tubuhnya kaku karena perintah yang tak bisa ia lawan.
Arkan melangkah keluar dari bayangan pilar. Waktunya bermain peran telah usai untuk sementara. Ia melepaskan sedikit segel pada jantungnya.
Sanguine Domain: Absolute Purification.
Dalam sekejap, seluruh gimnasium yang tadinya dipenuhi kepanikan seolah-olah membeku dalam waktu. Arkan tidak bergerak cepat; ia hanya berjalan dengan tenang di antara kerumunan manusia yang terhenti gerakannya. Dari setiap langkahnya, gelombang energi merah merambat di lantai, memburu setiap spora hitam Parasite dan menghancurkannya hingga menjadi abu sebelum sempat masuk ke tubuh siswa lain.
Ia sampai di depan Rian yang kini sudah berubah menjadi monster setinggi tiga meter. Makhluk itu meraung, mencoba mencakar Arkan dengan tentakelnya.
"Pelajaran pertama dalam hidup, Rian," ucap Arkan, menatap monster itu dengan jijik. "Jangan pernah mengundang sesuatu yang tidak bisa kau kendalikan ke dalam tubuhmu."
Arkan mengangkat satu jarinya. Darah hitam di dalam tubuh monster Rian dipaksa berhenti bergerak. Arkan tidak membunuhnya; ia justru menarik paksa parasit itu keluar dari tulang belakang Rian melalui lubang pori-pori secara mikro. Rasanya pasti sangat menyiksa, tapi itu adalah harga yang harus dibayar Rian atas kelemahannya.
Parasite itu terkumpul di tangan Arkan menjadi sebuah bola hitam yang meronta-ronta. Arkan meremasnya hingga hancur menjadi partikel mana murni yang kemudian ia sebarkan ke seluruh gimnasium untuk memurnikan udara.
Gerbang di bawah lantai mencoba menutup kembali untuk melarikan diri, namun Arkan menghentakkan kakinya. "Kau pikir bisa pergi begitu saja?"
Arkan menyuntikkan energi Sovereign-nya ke dalam gerbang tersebut, menghancurkan inti dimensi Parasite dari dalam hingga gerbang itu meledak dalam keheningan total.
Hanya dalam waktu dua puluh detik, seluruh ancaman musnah. Arkan kembali ke belakang pilar, menyesuaikan kacamatanya, dan kembali ke postur membungkuknya.
"...dua puluh sembilan... tiga puluh," Liora membuka matanya.
Ia terengah-engah, melihat ke arah panggung. Rian tergeletak pingsan dengan tubuh manusia normal kembali. Spora-spora hitam telah hilang. Suasana gimnasium masih kacau, namun tidak ada satu pun siswa yang terinfeksi.
"A-apa yang terjadi? Dimana monsternya?" tanya Liora bingung.
"Sepertinya para Hunter sekolah bertindak cepat," jawab Arkan sambil menunjuk ke arah beberapa guru yang memiliki lisensi Hunter yang baru saja tiba dengan senjata terhunus. "Lihat, mereka sudah di sana."
Liora menatap para guru itu, lalu menatap Arkan. Ia mencium sesuatu di udara—bau besi yang sangat tipis, bau yang sama dengan yang ia rasakan saat serangan Gerbang SSS. Ia menatap telapak tangan Arkan yang sedikit memerah.
"Arkan... kamu..."
"Ayo pergi dari sini, Liora. Terlalu ramai," Arkan memotong perkataannya, menarik tangan Liora menuju pintu keluar.
Malam harinya, di markas Sanguine Throne.
Lima bawahan Arkan berdiri dalam posisi hormat. Mereka telah melihat seluruh kejadian melalui sistem pemantauan Julian.
"Tuan, tindakan Anda di sekolah hari ini sangat berisiko," Julian memulai dengan nada khawatir. "WHA mulai mendeteksi anomali energi di area sekolah Anda."
Arkan duduk di singgasananya, menyesap cairan merah dari cawan emas. "Biarkan mereka mendeteksi. Mereka akan mengira itu adalah sisa energi dari Gerbang SSS minggu lalu. Tapi pelajaran hari ini penting."
Arkan menatap Bastian dan Hana. "Dunia ini dipenuhi parasit. Bukan hanya monster, tapi juga manusia yang ingin memanfaatkanku. Kita akan memulai Arc baru. Julian, aktifkan identitas publik kalian sebagai 'Pahlawan Global'. Mulai besok, aku ingin Crimson Eclipse mengambil alih setiap zona konflik di bumi. Buatlah kegaduhan yang begitu besar sehingga mata dunia benar-benar berpaling dari sekolah ini."
"Segala kemuliaan bagi Sang Sovereign!" teriak mereka.
Arkan menatap ke arah bayangan di sudut markas. "Dan satu hal lagi. Liora mulai tahu terlalu banyak. Elara, awasi dia. Jangan sakiti dia, tapi pastikan tidak ada agen KHA yang mendekatinya untuk menggali informasi tentangku."
"Dimengerti, Ayah," jawab Elara.
Arkan menutup matanya. Fase bayangan telah berakhir. Kini, pasukannya akan mengguncang dunia, sementara ia tetap akan menjadi hantu yang paling berbahaya—murid kelas 1-A yang selalu membawa buku catatan dan duduk di pojok kelas.