Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Energi yang Menelan
Malam semakin larut.
Halaman Paviliun Batu Tua telah kembali sunyi, hanya menyisakan suara angin yang menyentuh dedaunan kering. Qiu Liong masih berdiri di tempat duel itu berakhir.
Kata-kata pria tanpa nama tadi terngiang di benaknya.
Itu bukan qi biasa.
Ia menatap pedangnya dalam cahaya bulan yang pucat.
Benar.
Apa yang mengalir di dalam dirinya bukan qi yang hangat dan hidup seperti milik murid lain. Itu bukan energi yang tumbuh, berkembang, lalu meledak.
Itu adalah ruang.
Kosong.
Dan justru karena kosong ia menelan.
Qiu Liong memejamkan mata.
Ia ingin memahami lebih dalam.
Perlahan, ia duduk bersila di tengah halaman batu. Napasnya diatur stabil. Ia membiarkan kesadarannya tenggelam ke dalam tubuhnya sendiri.
Ia “melihat” meridian- meridiannya.
Retakan yang dulu ia benci kini tidak lagi tampak seperti cacat.
Mereka seperti celah gelap yang menghubungkan pada satu pusat
Inti Kekosongan.
Di dalam pusat itu, tidak ada cahaya.
Tidak ada bentuk.
Namun saat ia mendekatkan kesadarannya, ia menyadari sesuatu yang membuatnya menegang.
Ada aliran tipis qi asing di dalamnya.
Qi milik Zhao Ming.
Qi milik pria tanpa nama.
Jejak-jejak kecil dari setiap benturan pedang.
Ia terkejut.
“Apa ini…?” bisiknya dalam hati.
“Energi yang kau sentuh tidak hilang,” suara itu menjawab pelan. “Ia ditelan.”
Qiu Liong membuka mata sejenak, napasnya sedikit terganggu.
“Ditelen? Maksudmu… aku menyerapnya?”
“Tidak sepenuhnya menyerap. Tidak pula menghancurkan. Kau membuatnya kehilangan bentuk, lalu menyimpannya.”
Rasa dingin menjalar di punggungnya.
Ia kembali memejamkan mata.
Kehampaan itu memang terasa sedikit… lebih padat dari sebelumnya.
“Apakah ini berbahaya?” tanyanya.
“Segala sesuatu yang berlebihan akan berbahaya.”
Jawaban itu tidak pernah benar-benar menenangkan.
Qiu Liong mencoba mengalirkan sedikit kehampaan ke telapak tangannya.
Bukan untuk menyerang.
Hanya untuk merasakan.
Saat energi itu bergerak, ia menyadari
ia bisa memanggil kembali jejak qi asing itu.
Ia membiarkannya keluar perlahan.
Udara di sekitarnya bergetar tipis.
Batu kecil di depannya retak halus tanpa ia sentuh.
Ia terdiam.
Itu bukan hanya kehampaan.
Itu campuran.
Energi yang ditelan… bisa ia bentuk ulang.
Namun saat ia mencoba menarik lebih banyak
dadanya terasa sesak.
Seperti tekanan dari dalam.
Gambaran kilat melintas di pikirannya.
Bukan miliknya.
Potongan ingatan samar.
Gerakan pedang Zhao Ming.
Teknik langkah pria tanpa nama.
Fragmen kecil yang bukan bagian dari dirinya.
Ia tersentak, membuka mata dengan napas memburu.
“Aku tidak ingin menjadi wadah orang lain,” katanya pelan, ada nada ketegangan dalam suaranya.
“Kau bukan wadah,” suara itu menjawab. “Kau adalah jurang.”
Perbandingan itu membuatnya terdiam.
Jurang tidak menyimpan sesuatu untuk menjadi sesuatu yang lain.
Jurang hanya… menelan.
Dan segala yang jatuh ke dalamnya kehilangan identitasnya.
Namun apakah ia juga akan kehilangan identitasnya sendiri?
Pertanyaan itu menghantui.
Ia berdiri perlahan.
Menatap telapak tangannya sekali lagi.
Kekuatan ini bukan sekadar menghancurkan.
Ia menelan.
Mengurai.
Menyimpan.
Dan mungkin… suatu hari, mengembalikan dalam bentuk berbeda.
Ia teringat rasa hampa setelah mengalahkan Zhao Ming.
Tidak ada kepuasan.
Tidak ada amarah.
Apakah itu efek dari energi yang ia gunakan?
Atau karena sebagian emosinya ikut terkikis?
Angin malam berembus lebih kencang.
Qiu Liong memandang langit.
“Aku tidak ingin menjadi monster,” gumamnya lirih.
Untuk pertama kalinya sejak menerima kekuatan itu, ada keraguan yang lebih dalam dari sekadar rasa sakit fisik.
Ia ingin kuat.
Namun tidak ingin kehilangan dirinya.
“Selama kau ingat mengapa kau melangkah,” suara itu berkata pelan, “kau belum tersesat.”
Jawaban itu samar.
Namun cukup.
Qiu Liong menarik napas panjang.
Energi yang menelan itu memang miliknya.
Namun bagaimana ia menggunakannya
itu tetap pilihannya.
Dan malam itu,
di bawah cahaya bulan yang dingin,
ia menyadari bahwa kekuatan tanpa batas
bukan hanya tentang seberapa banyak yang bisa ia ambil
melainkan seberapa banyak
yang mampu ia tahan
tanpa kehilangan jiwanya sendiri.
jangan bikin kecewa ya🙏💪