Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.
“Kamu harus jadi pengantinku.”
Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.
Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.
Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.
Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?
Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUJAN CINTA
Atmosfer di dalam mobil mewah itu mendadak berubah menjadi padang es yang membeku. Seiring dengan kembalinya serpihan ingatan tentang pengkhianatan di rumah lama, sikap Arumi berubah drastis. Ia duduk menyamping, menatap kaca jendela dengan pandangan kosong yang dingin. Ariya, yang duduk di balik kemudi, berkali-kali melirik istrinya dengan perasaan was-was. Ia memberanikan diri meraih tangan Arumi, namun dengan gerakan secepat kilat, wanita itu menarik tangannya seolah tersengat listrik.
"Rumi, aku benar-benar minta maaf. Tolong jangan diam seperti ini," ujar Ariya dengan suara yang sarat akan penyesalan.
Arumi tetap bungkam, hanya deru mesin mobil yang mengisi keheningan. Ariya menghela napas panjang, ia merasa harus membela diri sedikit agar komunikasi mereka tidak benar-benar terputus.
"Aku tahu aku bersalah karena terpengaruh oleh sandiwara adik tirimu itu. Tapi jujur, Rumi, terkadang aku juga merasa kesal. Kenapa dulu kamu tidak berusaha memperjuangkan kebenaran di depanku? Kenapa kamu diam saja saat aku terjerumus dalam hasutan setan itu?" tanya Ariya dengan wajah yang terlihat sedih.
Mata Arumi langsung terbelalak. Ia menoleh cepat ke arah Ariya dengan tatapan yang menghujam. "Kau menyalahkanku sekarang? Aku sudah mencoba memberitahumu berkali-kali, Ariya! Tapi kau sendiri yang menutup telinga dan lebih percaya pada Mak Lampir itu daripada aku yang tumbuh bersamamu!"
Bukannya marah karena diprotes, Ariya justru tersenyum lebar. Ia merasa lega karena setidaknya dinding es itu mulai retak oleh amarah Arumi yang meledak.
"Akhirnya aku bisa mendengar suaramu lagi," sahut Ariya lembut. "Iya, aku tahu aku bodoh. Aku terlalu mentah menelan rekaman palsu itu dan menanamkan kebencian yang sebenarnya hanya menyiksa diriku sendiri selama lima tahun. Tapi aku berjanji, Rumi, aku akan menebus semuanya. Aku akan memberikan cinta yang sempat hilang dulu."
Mendengar nada suara Ariya yang begitu tulus dan tidak lagi mengandung keangkuhan, hati Arumi sedikit goyah. Ia membuang napas kasar, berusaha menenangkan debaran jantungnya yang mulai tidak beraturan.
"Aku akan melihat dulu bagaimana perlakuanmu," ujar Arumi dengan nada yang masih sedikit ketus. "Kalau perkataanmu benar-benar terbukti, aku akan mempertimbangkan hubungan kita. Tapi kalau kau melakukan satu saja kesalahan lagi, aku akan pergi sejauh mungkin dan tak akan pernah kembali."
Ariya terkekeh kecil, ia merasa mendapatkan harapan baru. "Itu tidak akan terjadi, Tuan Putri. Karena aku sudah mempersiapkan ribuan peluru cinta yang akan meluluhkan hatimu setiap hari."
"Berhenti menggombal, itu tidak mempan padaku," sahut Arumi, meski sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis.
Melihat senyuman itu, Ariya tiba-tiba melepaskan satu tangannya dari kemudi dan memegangi dadanya. Wajahnya meringis kesakitan seolah sedang mengalami serangan jantung yang hebat. Arumi yang melihat itu langsung panik.
"Ariya! Ada apa? Kau baik-baik saja? Apa kau terkena serangan jantung?" tanya Arumi dengan nada suara yang sangat khawatir.
Ariya menoleh padanya sambil tersenyum jahil. "Iya, aku terkena serangan jantung karena melihat senyumanmu yang terlalu manis, Rumi. Jantungku tidak kuat menanggung pesonamu."
"Ariya! Kau ini!" seru Arumi kesal. Ia langsung mendaratkan cubitan keras di lengan Ariya, membuat pria itu berteriak kesakitan namun diakhiri dengan tawa yang lepas.
Tak berapa lama kemudian, mereka sampai di kediaman besar milik keluarga Ferdiansyah. Begitu turun dari mobil, Arumi langsung menghampiri Nenek yang sedang duduk santai di teras menikmati semilir angin sore. Sang Nenek tersenyum senang melihat kepulangan mereka, namun ia menyadari sesuatu pada wajah Arumi.
"Syukurlah sudah pulang, Ndok. Tapi kenapa wajahmu merah begitu? Apa kamu demam?" tanya Nenek dengan nada cemas.
Ferdiansyah yang sedang berjalan keluar untuk menyambut mereka langsung menatap Ariya dengan pandangan menyelidik. Ia berkacak pinggang di depan putranya. "Ariya, jawab Papa dengan jujur. Apa yang kau lakukan pada Arumi sampai wajahnya memerah begitu, hah?"
Arumi yang merasa malu langsung menengahi. "Tidak ada apa-apa, Pa. Ariya tidak melakukan apa-apa padaku."
Ariya langsung menyambar dengan nada jenaka. "Tuh, Papa dengar sendiri kan? Mana berani Ariya melakukan sesuatu pada Tuan Putri kesayangan Papa. Palingan Ariya cuma bisa menggombal sedikit saja."
Ariya melirik Arumi sambil menaik-turunkan alisnya, membuat wajah Arumi kembali memanas dan ia menatap suaminya dengan mata yang terbelalak tajam. Ferdiansyah hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah putranya yang kini berubah menjadi sangat ekspresif.
Heni yang berdiri di samping Ferdiansyah segera menengahi perdebatan kecil itu. "Sudah-sudah, kalian ini seperti kucing dan tikus saja. Ariya, sebaiknya bawa Arumi masuk ke kamar. Dia baru saja keluar dari rumah sakit, jadi butuh banyak istirahat."
Ariya menurut, ia segera merangkul pundak Arumi dengan lembut. Meskipun Arumi sempat ingin menghindar, ia akhirnya membiarkan suaminya menuntunnya masuk ke dalam kamar mereka di lantai atas.
Sesampainya di dalam kamar, suasana kembali terasa canggung bagi Arumi. Setiap kali ia berbalik, ia selalu mendapati mata Ariya yang menatapnya dengan binar cinta yang sangat dalam. Arumi mendorong wajah Ariya pelan dengan telapak tangannya.
"Berhenti menatapku seperti itu, Ariya. Itu membuatku risih," protes Arumi pelan.
Bukannya menjauh, Ariya justru memberanikan diri mendekat dan mengecup pipi Arumi dengan cepat. Arumi terpaku di tempatnya, matanya membulat sempurna karena terkejut. Ia baru saja ingin membuka mulut untuk melayangkan protes keras, namun Ariya lebih dulu memotongnya.
"Kenapa memangnya? Tidak boleh seorang suami mencium istrinya sendiri, hm?" tanya Ariya dengan suara rendah yang terdengar sangat menggoda tepat di dekat telinga Arumi.
Arumi mendadak kehilangan kata-kata. Jantungnya kini benar-benar berdendang dengan irama yang kacau. Ia tidak tahan dengan kedekatan ini. Dengan sisa tenaganya, ia mendorong dada bidang Ariya dengan kedua tangannya.
"Aku... aku mau istirahat! Pergilah!" ujar Arumi dengan suara yang terdengar sedikit gagap.
Ariya tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi istrinya. Ia membantu Arumi membaringkan tubuh di atas ranjang dan menyelimutinya hingga sebatas dada dengan penuh perhatian. Ia duduk di pinggir ranjang, menunggu hingga napas Arumi mulai teratur menandakan wanita itu sudah memasuki alam mimpi.
Ariya mengulurkan tangannya, membelai lembut kepala Arumi yang masih tertutup hijab. Ia menatap wajah cantik itu dengan perasaan haru yang luar biasa. Kenangan saat Arumi hilang di sungai Sumatera kembali terlintas, membuatnya bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini.
"Bersiaplah, Istriku," bisik Ariya sangat lirih agar tidak membangunkan Arumi. "Karena mulai besok, suamimu ini akan terus menghujanimu dengan cinta, agar kau tidak punya alasan lagi untuk pergi dariku."
Ariya kemudian memberikan kecupan sayang pada dahi Arumi sebelum ia bangkit berdiri untuk memberikan ketenangan bagi istrinya. Ia tahu, perjalanan untuk menyembuhkan luka Arumi masih panjang, namun ia tidak akan menyerah sedikit pun.
🍃
Malam semuanya, selagi menunggu Ramanda Update kembali. Yuk singgah ke karya baru Ramanda spesial ramadhan ini. Jangan lupa berikan dukungannya juga ya guys. Terimakasih 🙏🏻😘. 👇🏻
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra