Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa Kakak Percaya?
Pertemuan itu akhirnya benar-benar selesai.
Max berdiri lebih dulu, merapikan jas hitamnya dengan gerakan rapi dan tegas. “Kami pulang.”
Naomi ikut berdiri di sampingnya. Ia terlihat santai, bahkan masih tersenyum kecil.
Clay yang melihat itu langsung menyeringai. “Sudah mau kabur lagi, Tuan Muda Atlas? Setidaknya biarkan adik manisku pamit dengan layak.”
Max menatapnya datar. “Dia bukan adik manismu.”
Clay tertawa. “Santai saja. Aku cuma mau satu hal kecil.” Ia menoleh pada Naomi. “Naomi, boleh minta kontakmu?”
Ruangan langsung terasa lebih dingin.
Zane menutup mulutnya menahan tawa. Volkov menggeleng pelan, sudah bisa menebak reaksi Max.
Max berbicara pelan, tapi suaranya mengandung tekanan. “Clay.”
“Apa?” Clay pura-pura polos. “Untuk urusan bisnis masa depan. Dia tadi banyak tanya soal kehancuran dunia, siapa tahu suatu hari dia benar-benar bikin negara baru.”
Naomi justru tersenyum. Inilah yang ia tunggu.
Sebelum Max sempat menolak, Naomi melangkah cepat ke arah Clay. Dengan gerakan ringan dan percaya diri, ia mengambil ponsel mahal dari tangan Clay.
Clay tertegun. “Eh?”
Naomi mengetik sesuatu dengan cepat. “Kode bukaannya ulang tahunmu ya? Terlalu mudah.”
Volkov tertawa pendek. “Playboy ceroboh.”
Naomi menyimpan nomornya sendiri, lalu mengembalikan ponsel itu. “Sudah.”
Max menatapnya tajam. “Naomi.”
Naomi pura-pura tidak mendengar. Ia berbalik ke arah Zane. “Tuan Muda Zane, boleh juga?”
Zane tersenyum hangat dan menyerahkan ponselnya tanpa ragu. “Tentu. Tapi jangan hanya hubungi saat dunia kiamat saja.”
Naomi tertawa kecil. “Siapa tahu justru saat itu yang paling penting.”
Setelah menyimpan nomor Zane, ia menoleh pada Volkov.
Volkov menyilangkan tangan. “Kau ini berani sekali.”
“Jadi?” Naomi mengangkat alisnya ringan.
Volkov mendengus pelan, tapi tetap menyerahkan ponselnya. “Kalau kau menyalahgunakannya, aku tahu harus menagih ke siapa.”
“Ke kakakku?” Naomi melirik Max.
“Baiklah,” jawab Volkov singkat.
Max jelas sudah berada di ambang kesabaran.
Setelah selesai, Naomi memandang ketiganya bergantian. Wajahnya tidak lagi sepenuhnya bercanda.
“Aku boleh minta satu hal lagi?”
Clay menyeringai. “Sudah ambil nomor, sekarang mau ambil hati juga?” godanya.
Max melangkah maju sedikit.
Naomi cepat-cepat berbicara sebelum suasana memanas. “Bukan itu. Kalau … di masa depan aku meminta bantuan kalian. Dalam jumlah yang cukup besar. Apa kalian bersedia?”
Ketiganya terdiam.
Zane memiringkan kepala. “Bantuan seperti apa?”
Volkov menyipitkan mata. “Dana? Distribusi? Infrastruktur?”
Clay menatapnya lebih serius dari sebelumnya. “Atau … revolusi?”
Max langsung memotong, suaranya tegas. “Naomi tidak perlu meminta bantuan kalian.”
Semua menoleh padanya.
“Ada aku,” lanjut Max dingin. “Apapun yang dia butuhkan, aku yang akan menyediakannya.”
Naomi berdecak pelan. “Kak .…”
Nada suaranya terdengar kesal, bibirnya mengerucut.
Volkov tiba-tiba berbicara. “Boleh.”
Semua menatapnya.
“Apa pun itu,” lanjut Volkov. “Kalau memang masuk akal dan bukan sesuatu yang bodoh, aku akan bantu. Tapi—” ia menatap Naomi tajam, “untuk apa sebenarnya?”
Naomi tersenyum tipis. “Beberapa tahun lagi,” katanya pelan, “kalian akan berterima kasih padaku.”
Clay menaikkan alis. “Wah, percaya diri sekali Nona.”
Zane tertawa lembut. “Baiklah. Kalau itu benar-benar terjadi, aku penasaran.”
Naomi melangkah mundur mendekati Max. “Dan saat itu tiba kalian akan paham maksudku.”
Max tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung meraih pergelangan tangan Naomi dan menariknya perlahan tapi tegas ke arah pintu.
“Pulang.”
“Eh, kak—”
Namun Naomi masih sempat menoleh ke belakang. Ia melambaikan tangannya ceria.
“Dadah, Tuan Muda Volkov. Tuan Muda Zane. Tuan Muda Clay. Kita akan bertemu lagi.”
Clay melambai balik dengan senyum lebar. “Hubungi aku duluan ya!”
Zane tersenyum hangat. “Hati-hati di jalan.”
Volkov hanya mengangguk singkat. “Jangan main-main dengan kata-katamu, Nona Naomi.”
Pintu tertutup.
Di lorong, Max akhirnya berhenti. Ia menatap Naomi dengan tatapan dalam. “Kau sedang merencanakan apa?”
Naomi menatapnya balik, matanya jernih. “Tidak ada, kak.”
“Kau pikir aku tidak melihatnya?” suara Max datar. “Kau seperti sedang mengatur sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar basa-basi.”
Naomi tersenyum kecil. “Kalau suatu hari dunia benar-benar berubah kakak akan tetap di sisiku, kan?”
Tatapan Max langsung melunak. “Selalu.”
Naomi menunduk sedikit, menyembunyikan senyum tipisnya. “Baiklah. Nanti setelah sampai di rumah, aku akan menceritakan semuanya.”
*
Malam itu suasana mansion Atlas sudah tenang.
Naomi berjalan di lorong lantai dua dengan piyama berbulu warna pastel dan bando telinga kelinci di kepalanya. Rambutnya tergerai santai, wajahnya terlihat bersemangat seperti anak kecil yang baru menemukan rahasia besar.
Ia berhenti di depan kamar Max.
Tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka pintu. “Kak!”
Kamar itu terlihat sunyi. Kamar itu gelap, hanya lampu tidur menyala redup. Ranjang terlihat rapi dan Max tidak ada.
Naomi mengerutkan kening. “Ke mana dia?”
Ia melangkah masuk beberapa langkah. “Kak Max?”
Tetap tidak ada jawaban. Saat ia berjalan melewati area tempat tidur menuju walk-in closet, pintu kaca buram di sudut ruangan terbuka sedikit.
Naomi mendorongnya tanpa curiga. Dan mata Naomi langsung membelalak lebar, begitu melihat pisang besar bergelantungan .
“Aaahhh!!”
Teriakannya menggema.
Di dalam, Max yang baru saja selesai mandi terlonjak kaget. Handuk masih tergantung di bahunya.
Naomi refleks menutup pintu dengan keras.
“Maaf! Maaf! Maaf!”
Jantungnya berdebar kencang. Wajahnya merah sampai ke telinga.
“Kenapa aku nggak ketuk dulu sih?! Aduh Naomi, dasar bodoh!” gumamnya sambil menepuk kening sendiri.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka lagi.
Max keluar sudah mengenakan kaos hitam dan celana pendek rumah. Rambutnya masih sedikit basah. Wajahnya setenang biasa, tapi telinganya terlihat memerah.
Ia menatap Naomi yang masih berdiri kaku seperti patung.
“Lain kali, sebelum masuk, ketuk pintu dulu,” ujarmya datar.
Naomi langsung menoleh dengan wajah memerah. “Harusnya kakak yang kunci pintunya dulu!”
Max terdiam satu detik. “Kau yang masuk tanpa izin.”
“Kakak juga tidak menjawab waktu dipanggil!”
“Kau bahkan tidak memberi waktu orang menjawab.”
Naomi mengerucutkan bibir. “Ya … pokoknya salah kakak juga.”
Max menghela napas panjang. “Ada apa malam-malam begini?”
Naomi yang tadi memerah mendadak teringat tujuannya. Wajahnya langsung berubah serius. Tanpa banyak bicara, ia berjalan cepat, meraih tangan Max, lalu menariknya ke arah ranjang.
“Kak, duduk.”
Max mengangkat alis. “Naomi.”
“Duduk dulu.”
Nada suara Naomi terdengar berbeda.
Max akhirnya duduk di tepi ranjang. Naomi ikut duduk di depannya, masih memegang tangannya.
Tatapan Naomi lurus dan dalam. “Kakak percaya padaku?”
Max menatapnya balik tanpa ragu. “Ya, tentu saaja.”
Jawabannya langsung dan tegas.
Naomi terdiam sesaat. Dadanya terasa berat. “Kalau … aku bilang … setahun lagi dunia akan terkena badai salju yang sangat dahsyat. Sampai melumpuhkan negara, menghancurkan sistem distribusi, membuat listrik mati, makanan langka dan banyak orang mati membeku.”
Naomi menggenggam tangan Max lebih erat. “Apa kakak percaya?”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....