Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komedi Pagi yang Mengejutkan
Pagi harinya, Aruna terbangun karena sinar matahari yang menembus jendela apartemen mewah itu. Ia menggeliat, merasakan kelembutan kaos Javier yang menyentuh kulitnya dan aromanya sangat Javier, perpaduan parfum mahal dan kenyamanan. Namun, kenyamanannya terusik saat ia menyadari ada beban berat yang menindih kakinya.
Aruna meloncat duduk dan hampir berteriak. Javier tidak tidur di sofa. Rupanya, di tengah malam pria itu berjalan dalam tidur atau memang sengaja menyelinap masuk. Dia tidak tidur di ranjang, melainkan tidur di atas karpet bulu di samping ranjang dengan posisi tangan memegang ujung selimut Aruna, seolah takut asistennya itu kabur lewat jendela.
Dan yang paling parah, Javier tidur dengan kacamata renang biru yang sudah melenceng menutupi sebelah pipinya, sementara mulutnya sedikit terbuka.
CEKREK!
"WAAAAAAH! SKANDAL ABAD INI!"
Aruna dan Javier meloncat bangun secara bersamaan. Javier yang kaget langsung berdiri tegak seperti robot yang baru di-restart paksa, membuat kacamata renangnya melorot ke leher. Di ambang pintu kamar, berdiri Rian dan Satya dan member Luminous lainnya, sambil memegang ponsel yang lampunya masih menyala dan piring berisi roti panggang yang aromanya menggoda.
"Javier! Kamu bilang dia asisten baru, kenapa asisten tidurnya pake kaos pribadimu dan kamu malah tidur di lantai kayak penjaga toko bangunan?!" seru Rian sambil tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan absurd itu.
"Sistem terdeteksi! Gangguan keamanan tingkat tinggi!" teriak Javier panik.
Ia segera menyambar handuk dan mencoba menutupi Aruna yang masih memakai kaos oversize miliknya agar tidak terlihat oleh mata-mata jahil rekan setimnya.
"Rian! Satya! Keluar dari area privasi saya! Ini adalah bagian dari simulasi perlindungan aset!"
"Simulasi atau memang asistennya merangkap jadi bos hati?" goda Satya sambil lari menghindari lemparan sandal rumah yang dilempar Javier.
"Aruna, selamat ya! Kamu asisten pertama yang bikin Javier rela tidur di karpet daripada di kasur empuk!"
Aruna hanya bisa menutup wajahnya dengan selimut, merutuki nasibnya yang harus terjebak di markas Luminous dalam kondisi seberantakan ini. Identitasnya sebagai mahasiswi DKV yang tenang benar-benar hancur lebur di tangan member Luminous yang bermulut ember.
"Jangan khawatir, Majikan," bisik Javier sambil membenarkan kacamata renangnya dengan bangga, meskipun wajahnya sendiri masih merah padam karena malu.
"Data rekaman mereka akan saya enkripsi sebelum mereka sempat mengunggahnya. Dan jika mereka tetap nakal, saya akan pastikan jatah makan steak mereka diganti dengan lele rebus pemberian Bambang selama satu kuartal."
Aruna hanya bisa menghela napas panjang. Hidup bersama Javier memang penuh dengan revisi konyol, tapi melihat sang idola rela tidur di lantai hanya untuk menjaganya tetap merasa pantas, membuat Aruna sadar bahwa pelarian malam tadi adalah keputusan paling gila sekaligus paling manis yang pernah ia ambil.
Setelah pintu kamar tertutup dengan debuman keras yang diikuti suara tawa Rian dan Satya yang masih terdengar sayup-sayup dari balik koridor, keheningan mendadak jatuh menyelimuti ruangan. Keheningan yang jauh lebih berat daripada sebelumnya, karena sekarang Aruna sadar sepenuhnya bahwa dia sedang memakai kaos Javier yang panjangnya menutupi paha, dan Javier sedang berdiri di depannya dengan kacamata renang melingkar di leher.
Javier berdeham, mencoba mengembalikan wibawa Idola Asia-nya yang baru saja runtuh ke titik nol.
"Sistem melaporkan bahwa privasi kita baru saja mengalami kebocoran data tingkat tinggi," ujar Javier datar, namun telinganya terlihat memerah, tanda bahwa prosesornya sedang overheat karena malu.
Aruna masih meringkuk di balik selimut, hanya matanya yang mengintip.
"Javi, ini gawat. Kalau mereka lapor ke Manajer Han, aku bisa dipecat sebelum sempat dapet gaji pertama buat bayar hutang."
Javier tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat ke arah ranjang. Alih-alih menjauh, ia duduk di pinggir kasur, tepat di samping Aruna. Ia meraih kacamata renang birunya, memainkannya sebentar, lalu menatap Aruna dengan tatapan yang sangat lembut, tatapan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan kamera.
"Aruna," panggilnya lirih.
"Tentang yang tadi malam... saat Anda bilang Anda tidak pantas."
Aruna menunduk, memainkan ujung kaos oversize yang ia kenakan. Aroma parfum Javier yang tertinggal di kain itu seolah terus-menerus mengingatkannya pada jarak di antara mereka.
"Javi, itu kenyataannya—"
"Tidak," potong Javier. Ia meraih tangan Aruna, menggenggamnya erat.
"Apakah Anda tahu kenapa saya tidur di lantai semalam? Padahal sofa di ruang tamu itu harganya setara dengan biaya kuliah Anda sepuluh semester?"
Aruna menggeleng bodoh.
"Kenapa? Karena sistem kamu error?"
Javier tersenyum tipis, senyum tulus yang sanggup membuat jutaan fans pingsan, tapi kali ini hanya untuk Aruna.
"Karena saya ingin memastikan bahwa di dunia yang penuh dengan orang yang ingin memiliki saya, ada satu tempat di mana saya yang melindungi. Tidur di lantai itu bukan hukuman, itu adalah prosedur sinkronisasi untuk mengingatkan saya bahwa setinggi apa pun panggung saya, dasar saya adalah Anda."
Javier menarik tangan Aruna dan menempelkannya di dadanya yang bidang. Aruna bisa merasakan detak jantung Javier yang stabil namun kuat.
"Dengar detakannya, Majikan. Apakah ini terdengar seperti detak jantung idola internasional yang tidak pantas untuk Anda? Ataukah ini detak jantung pria konyol bernama Ujang yang hanya butuh Anda untuk tetap berfungsi?"
Wajah Aruna memanas.
"Javi, kamu gombalnya udah level radiasi nuklir ya..."
"Ini bukan gombal. Ini adalah pembacaan data sensorik yang jujur," bisik Javier.
Ia perlahan mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Aruna.
Tepat saat suasana sudah sangat intim, di mana hidung mereka hampir bersentuhan, kacamata renang yang melingkar di leher Javier mendadak tersangkut di kancing kaos yang dipakai Aruna.
"A-aduh! Javi, nyangkut!" seru Aruna kaget.
Javier yang tadi sudah siap melakukan adegan romantis malah jadi sibuk melepaskan tali kacamata renangnya dari benang kaosnya.
"Sistem mengalami kegagalan mekanis! Mohon tetap tenang, Majikan! Jangan bergerak atau kaos ini akan robek!"
"Tuh kan! Baru juga mau baper, kacamata renang kamu udah bikin masalah!"
Aruna tertawa di tengah kepanikannya.
Mereka berdua akhirnya bergelut dengan tali kacamata renang yang tersangkut di dada Aruna. Posisi mereka yang sangat dekat dengan Javier yang membungkuk di atas Aruna dan tangan yang saling bertautan di depan dada yang membuat suasana jadi campur aduk antara komedi konyol dan ketegangan romantis.
"Sudah terlepas," gumam Javier setelah beberapa saat. Namun, alih-alih menjauh setelah tali itu lepas, ia tetap berada di posisi itu, menatap bibir Aruna dengan intensitas yang lebih kuat dari sebelumnya.
Javier melepas kacamata renang itu sepenuhnya, melemparkannya ke lantai dengan bunyi pluk.
"Kali ini, tidak ada lagi penghambat sinyal."
Ia mengecup pelan sudut bibir Aruna, sangat singkat namun penuh perasaan, seolah sedang memberikan segel rahasia yang mengunci seluruh keraguan gadis itu. Javier menjauhkan wajahnya hanya beberapa inci, namun tangannya tetap melingkar santai di pinggang Aruna, seolah enggan melepaskan pusat gravitasinya.
"Mulai hari ini, asisten pribadi saya punya satu tugas tambahan, berhenti berpikir bahwa Anda tidak pantas," bisik Javier, suaranya kini terdengar lebih jernih dan tulus.
"Karena bagi saya, asisten yang paling hebat adalah dia yang berani memakai kaos saya saat tidur dan berani menertawakan kacamata renang saya saat saya sedang serius mencintainya."
Javier memperhatikan Aruna yang tenggelam dalam kaos oversize-nya. Kerah kaos yang lebar itu merosot di satu bahu, memperlihatkan tulang selangka Aruna yang putih dan halus. Rambut Aruna yang berantakan karena bangun tidur justru menambah kesan alami yang membuat Javier tertegun selama beberapa detik.
"Dan satu lagi informasi sensorik yang perlu Anda ketahui, Aruna," gumam Javier, matanya menyisir penampilan Aruna dari kepala hingga kaki.
"Anda terlihat... sangat berbahaya bagi stabilitas sistem saya saat ini."
"Berbahaya gimana?" tanya Aruna polos.
Javier tersenyum tipis, jenis senyuman yang biasanya ia simpan untuk momen paling intim.
"Anda terlihat sangat cantik dan... menggoda saat memakai kaos saya. Ukurannya yang terlalu besar justru membuat Anda terlihat mungil dan harus saya lindungi dalam dekapan 24 jam. Jika sistem saya tidak memiliki kontrol diri yang kuat, saya mungkin akan membatalkan semua jadwal hari ini hanya untuk menatap Anda dalam balutan kaos ini di ranjang saya."
"J-javi! Ngomong apa sih!"
Aruna tertegun, jantungnya benar-benar melakukan dance break diiringi dentuman musik EDM imajiner. Wajahnya kini bukan lagi merah merona, tapi sudah seperti kepiting rebus yang siap saji. Ia menarik kaos Javier lebih rapat ke tubuhnya, mencoba menutupi segala bagian yang menurutnya menggoda versi Javier, meski itu justru membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
"Iya, iya, asisten bawel paham," gumam Aruna malu-malu, menyembunyikan wajahnya di balik kerah kaos yang harum aroma tubuh Javier itu.
"Udah sana, keluar! Aku mau ganti baju!"
"Bagus,"
Javier berdiri dengan gerakan elegan, kembali ke mode robotiknya yang menyebalkan tapi manis. Ia membetulkan posisi kacamata renangnya yang kini sudah melingkar manis di dahi, siap untuk menghadapi dunia lagi.
"Sekarang, lakukan prosedur pembersihan unit. Kita harus kembali ke kosan Mbak Widya sebelum dia melaporkan kehilangan mahasiswa ke tim SAR. Dan saya harus memastikan Rian menghapus foto tadi dengan imbalan tidak akan saya bocorkan rahasianya tentang hobi dia koleksi daster emak-emak."
"Rian koleksi daster?!"
Aruna tertawa terbahak-bahak, bayangan member Luminous yang keren itu memakai daster bunga-bunga seketika menghapus kecanggungannya.
Hidupnya mungkin memang sudah tidak normal lagi semenjak bertemu kloningan gila ini, tapi di dalam dorm mewah ini, ia baru saja menemukan bahwa pantas atau tidak pantas hanyalah masalah persepsi. Dan bagi Javier, Aruna dengan segala kekurangannya dan kaos oversize-nya adalah satu-satunya realitas yang ia butuhkan di tengah panggung dunia yang penuh kepalsuan.